RSS

A Reminder for My Future Self

It’s okay to be hurt sometimes if it makes you more cautious of what you say to others. It’s okay that your good intention is being misunderstood as long as it doesn’t make you do what you might regret later. It’s okay to be not good enough because you don’t want to be someone you are not. It’s okay to be weird because you don’t want to become someone you hate. It’s just okay.

A life that is just okay is just okay. People don’t want to see the darkness, so let the glow be your reward. Let it be the precious thing kept inside you, ready to be served when needed. People can come and go. In the end, you will thank yourself for being real, because if you lose it, you will have nothing left.

Feel the sadness, feel the anger, feel the hollow. At that very moment, you can also feel the happiness, the relief, the love. Hold yourself tight, so when everything else is faded, you will never be alone.

 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2024 in Zee's Space

 

Intuisi

Beberapa tahun lalu, saya membaca sebuah kisah detektif yang pengarangnya sangat ternama (agar tidak spoiler saya tidak sebut nama dan judulnya). Dalam buku itu, ada sebuah karakter perempuan yang mengatakan sesuatu yang rasanya agak-agak ngawur, tapi konsisten dia pikirkan. Singkat cerita, terkuaklah di bagian akhir bahwa kata-kata yang tampaknya ngawur itu ternyata memang benar, fakta-fakta yang secara tidak sadar dikumpulkan oleh pikiran perempuan itu dari tanda-tanda yang samar. Dia sendiri pun heran, bahkan rasanya sulit diterima, bahwa apa yang diharapkan sebagai suatu prasangka tak berdasar adalah kenyataan.

Setelah membaca buku itu, saya kerap kembali merenungi apa yang ada dalam prasangka saya, intuisi saya. Saya tak lagi mengabaikan perasaan tidak nyaman akan seseorang atau sesuatu, meski tak berdasar sekalipun. Karena tak jarang, perasaan tak berdasar itu sesungguhnya punya dasar kuat, hanya saya saja yang tak sampai menghubungkannya dalam satu rangkaian yang benar. Ibarat seorang detektif, saya sering menangkap petunjuk, tetapi terlalu malas untuk mencari petunjuk lain yang menghubungkan satu petunjuk dengan yang lain hingga masalah terpecahkan.

Di dalam kehidupan, kita selalu dipertemukan orang-orang baru. Orang dengan segala sifat dan karakter yang bermacam-macam. Begitu pula waktu pertemuan itu, terkadang kita dalam kondisi senang hingga semua orang tampak baik, terkadang saat kita sedang terpuruk, sehingga rasanya butuh tenaga ekstra untuk beramah-tamah dengan orang baru. Orang-orang yang kita temui pun mungkin punya lebih dari satu wajah. Mungkin orang itu cocok sehingga hubungan yang terjalin baik. Kadang karakternya tidak sesuai sehingga cukup berhubungan untuk hal-hal yang penting saja. Tak jarang pula kita tertipu dan dikhianati, bahkan dijatuhkan, karena kepentingan yang bertentangan. Kita tak pernah tahu jika tidak ada interaksi, tetapi dengan adanya interaksi, ada energi yang dicurahkan dan ada risiko disakiti.

Pada hubungan yang berlangsung relatif lama, terkadang kita bisa melihat wajah lain dari orang itu. Di satu titik, ada kalanya kita meragukan wajah mana yang sesungguhnya dari orang tersebut, dan mana yang sengaja dibuat untuk ditampilkannya. Saya pernah percaya pada orang lalu dikhianati. Namun, saya juga pernah merasa tak nyaman dengan seseorang, tapi sampai bertahun-tahun tak ada alasan yang baik untuk tidak menyukai orang tersebut. Pernah pula ada orang yang di satu titik saya sangat percaya, tetapi di titik lain orang itu sangat diragukan keasliannya, kemudian tak beberapa lama saya kembali lagi percaya padanya.

Mungkin memang intuisi itu perlu dibuktikan dengan petunjuk-petunjuk lain yang berhubungan. Akan tetapi, dalam banyak situasi, mungkin lebih baik membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Dengan menyadari bahwa ada risiko seseorang mengkhianati kita, tak perlu terlalu terikat pada setiap orang yang tampak baik. Secukupnya saja, sampai terbukti benar bahwa hubungan itu tulus.

Saya tidak tahu apakah hidup manusia memang semenyedihkan ini, tak bisa benar-benar percaya, tak bisa dengan impulsif mencintai. Untuk hari ini, begitulah adanya.

 
Leave a comment

Posted by on June 23, 2022 in My Thoughts

 

Mengapa Pengobatan Medis Membutuhkan Bukti Ilmiah

Kita tahu bahwa ilmu kedokteran di Indonesia mengacu pada Kedokteran Barat, yang menjadikan bukti ilmiah menjadi syarat mutlak untuk diperbolehkannya dokter melakukan suatu tindakan, baik itu diagnostik maupun terapeutik. Semua dokter yang berpraktik di Indonesia terikat oleh aturan tersebut, jika terbukti melakukan sesuatu yang tidak ilmiah, ada konsekuensi yang harus dihadapi.

Sebetulnya, kenapa sih harus ada aturan ini-itu? Kenapa tidak dibebaskan saja dokter berkreasi? Toh dulu kemajuan ilmu kedokteran juga dimulai dari hal-hal yang melanggar etika, bahkan hukum, mulai dari mencuri mayat di kuburan, membedah manusia tanpa bius, hingga menyuntikkan obat berbahaya ke orang sehat.

Jawaban singkatnya, karena semua orang berhak untuk dimanusiakan.

Bayangkan kalau besok, saat kamu sakit kepala, doktermu bilang “Sebetulnya dari hasil pemeriksaan saya tidak ada masalah, tapi rasanya ada yang menarik di kepala Anda, bagaimana kalau saya bedah saja untuk melihat, siapa tahu ada apa-apa. Yah, meski tidak serius, tapi mungkin saya bisa menemukan diagnosis baru.”

Apakah kamu akan langsung membuat janji operasi, atau pindah ke dokter lain (sambil memviralkan si dokter di media sosial)? Atau jangan-jangan kamu tidak sempat berbuat apa-apa, karena di masa lalu, persetujuanmu tidak mutlak ada.

Itu adalah contoh ekstrem. Contoh lain yang sering terjadi di masyarakat, terutama di pedesaan, adalah suntik vitamin. Konon, mereka yang pegal-pegal, sakit kepala, batuk pilek, masuk angin, atau sakit apa pun, sembuh jika disuntik vitamin di dokter A, atau mantri B, atau bidan C. Padahal kita tahu sebagian kondisi itu mungkin memang benar bisa di-boost dengan vitamin, atau sebenarnya bisa sembuh dengan sendirinya.

Suatu ketika, seseorang dengan serangan jantung (yang kadang-kadang sering dianggap masuk angin biasa) yang disarankan dokter untuk segera melakukan kateterisasi jantung, memilih untuk pulang dan singgah ke dokter A untuk suntik vitamin saja, toh biasanya juga sembuh. Ternyata, karena kebetulan sumbatan pasien ini belum menyumbat total, didukung dengan sugesti, sedikit efek obat yang sudah diberikan dokter sebelumnya, dan faktor-faktor keberuntungan lain, dia merasa agak baikan. Beberapa hari pasien ini tidak merasakan gejala berat, lalu mengklaim bahwa dia sembuh berkat suntikan di dokter A. Kemudian si dokter (yang lupa kode etik dan tanggung jawab profesi) mulai melakukan promosi sana-sini, sambil menaikkan tarif suntikannya (dan mungkin mulai menambahkan sedikit antinyeri dan antiradang di suntikannya). Banyak yang sembuh, katanya. Indikatornya apa? Yang pusing jadi tidak pusing, yang lemas jadi bugar, yang nyeri jadi tidak nyeri.

Apakah itu cukup? Apakah kalau seseorang itu pusing karena kekurangan nutrisi dengan pusing karena sumbatan pembuluh darah otak perlakuannya sama? Dari evidence-based medicine jelas tidak. Tetapi kalau dari testimoni, atau pengobatan “kira-kira”, atau “kata orang bisa kok”, mungkin saja iya. Kembali ke pasien serangan jantung sebelumnya, ternyata beberapa minggu kemudian dia mengalami serangan kembali, kali ini total, dan kebetulan dokter A sedang tidak ada di tempat. Dia ‘terpaksa’ ke rumah sakit, lalu meninggal karena sudah sangat terlambat untuk dilakukan tindakan. Setelahnya, keluarganya mungkin akan bilang, “Dulu berobat di dokter A sembuh, ke rumah sakit malah meninggal.”

Apakah pasien dan keluarganya salah? Menurut saya tidak sepenuhnya salah mereka. Mereka sudah mendatangi dokter, yang berpraktik dengan izin yang legal, tentu saja mereka berhak mendapatkan penanganan yang benar. Jika pasien tidak bisa menerima diagnosis dokter X, dia berhak meminta pendapat kedua dari dokter A. Masalahnya, dokter A berpraktik tanpa mengindahkan kode etik dan tanggung jawab profesi. Dia tahu sesungguhnya pasien memerlukan terapi yang lebih dari sekadar “suntik vitamin”, tapi tidak dia lakukan karena ingin merawat kepercayaan pasien terhadapnya.

Orang awam tentu sulit membedakan dokter mana yang mempraktikkan evidence-based medicine dengan dokter yang asal meresepkan obat. Di sinilah negara, dengan bantuan organisasi profesi yang memahami tentang keilmuan di bidangnya, berperan sebagai kontrol. Jika diaudit, dokter A jelas melakukan kesalahan dan patut mendapatkan sanksi karena membahayakan (sebagian) pasiennya. Seorang dengan sumbatan pembuluh darah jantung tidak seharusnya dibiarkan begitu saja hanya dengan suntikan vitamin meski keluhannya mereda. Pun jika pemerintah (dalam hal ini dinas kesehatan), membiarkan saja praktik semacam ini, mereka juga melakukan kesalahan, karena membiarkan praktik yang tidak aman seolah-olah legal.

Singkat cerita, karena ketidaktahuannya, keluarga dari pasien serangan jantung (yang sudah meninggal di rumah sakit itu) membela dokter A karena dulu sudah ‘disembuhkan’. Diikuti pasien-pasien dokter A lain yang beramai-ramai memberikan testimoni. Sebelumnya, saya pernah menulis tentang pengujian obat di sini.

Dengan dilarangnya praktik dokter A oleh pejabat berwenang dan organisasi profesi, kita bisa yakin bahwa fungsi pengawasan berjalan. Tak peduli seberapa banyak pasien dokter A yang ‘merasa sembuh’ dan membelanya mati-matian. Itu artinya, siapa saja yang mendapat izin untuk berpraktik di negara ini (seharusnya) melakukan prosedur yang benar, memastikan bahwa masyarakat mendapat pelayanan yang standar dan optimal. Tak perlu khawatir ‘salah pilih’, karena yang ada sudah pilihan.

Kewajiban dokter melakukan pengobatan dengan bukti ilmiah adalah salah satu cara melindungi pasien, melindungi orang yang awam medis dari praktik yang tidak bertanggung jawab.

 
Leave a comment

Posted by on March 30, 2022 in Medic's Space

 

How to not be a “Boomer”

Seiring pertambahan usia dan pengalaman, kita tentu mengalami perubahan pola pikir dan wawasan. Pendewasaan cara memandang kehidupan merupakan suatu pencapaian yang tidak mudah. Namun, setelah mencapainya, ada sesuatu yang kerap kita lupakan; bagaimana rasanya berada di fase sebelumnya.

Kita mengalami banyak tantangan di setiap fase kehidupan. Hal sesederhana berjalan dengan dua kaki adalah tantangan yang membutuhkan kerja keras saat usia kita masih bayi. Mengeja huruf mungkin sulit saat kita masih balita. Menemukan bahwa seorang teman berbohong pada kita pernah menjadi suatu pengalaman yang sangat menyakitkan. Lama-kelamaan, dengan kerja keras dan kesadaran, kita bisa melaluinya, kita punya memori tentang rasa sakit dan kecewa, pengalaman yang sama akan kita hadapi dengan cara yang berbeda. Tidak hanya soal usia, posisi dan kondisi kita bisa jadi membuat cara pandang dan sikap yang berbeda.

Seiring dengan itu, kita akan menemui lebih banyak orang, dalam fase masing-masing yang berbeda-beda. Orang yang kita kenal dari kecil juga akan mengalami perubahan, yang mungkin berbeda arah dengan kita. Anak-anak yang kita kenal beranjak usia menjadi remaja dan dewasa. Anak-anak yang baru dilahirkan berada di dunia yang berbeda dari yang dulu kita tinggali. Di sinilah kadang kita lupa, dan sering kali muncul dari pikiran, bahkan perkataan kita, “Dulu kami tidak begitu.”

“Dulu kami begini saja bisa.”

“Dulu seperti ini tidak menjadi seperti itu.”

Mental seperti ini memang tidak eksklusif ada pada satu generasi, makanya saya menyebut “boomer” dalam tanda petik. “Boomer” beberapa waktu belakangan identik dengan generasi tua yang dengan arogansinya merasa bahwa generasinya yang terbaik dan mengecilkan generasi yang lebih muda. Tentu sekarang Gen X dan milenial sudah ada yang memiliki mental seperti itu. Tulisan ini saya buat untuk menjadi pengingat bagi diri saya sendiri utamanya, dan mungkin bisa menjadi bahan diskusi untuk siapa saja yang membacanya.

Saya tidak ingin menjadi satu dari generasi tua yang ‘menyebalkan’ bagi generasi yang lebih muda, karena sok tahu, sok bijak, sok paling ini dan paling itu, tanpa memahami posisi mereka. Karena sesungguhnya saya pernah berada di posisi mereka, meski dalam kondisi yang tentu berbeda. Dan karena kondisi yang berbeda itulah, seharusnya saya mendengarkan mereka, bagaimana rasanya berada di posisi itu (yang dulu saya alami) tetapi dalam kondisi berbeda. Saya ingin bisa menempatkan nasihat dalam konteks yang benar, karena kalau tidak nasihat saya akan percuma dan saya hanya sok tahu saja. Saya ingin saat ada seseorang yang lebih muda mengkhawatirkan sesuatu–sesuatu yang pernah saya lewati–saya bisa memberi mereka semangat dan harapan, bukannya mengecilkan hal itu karena saya tidak lagi khawatir akan hal itu.

Kita perlu ‘mencatat’ apa yang kita rasakan hari ini dan kemarin. Menerima bahwa apa pun emosi dan pendapat kita nyata adanya. Ya, kita pernah naif. Ya, kita pernah bodoh. Lalu kita berkembang, kita berubah. Dengan demikian, saat melihat orang lain sebagai ‘naif’ dan ‘bodoh’, kita tidak terlalu cepat menghakimi. Banyak mendengar, menyimak, banyak melihat, mengamati. Berbekal hal-hal tersebut, kebijaksanaan yang kita punya tidak lagi sempit. Apa yang kita sampaikan kemudian bisa lebih relate dengan banyak sudut pandang yang kita punya. Mungkin ada jalan pintas untuk mengetahui sesuatu, tetapi perlu kerja lebih untuk memahami sesuatu.

 
Leave a comment

Posted by on January 21, 2022 in My Thoughts

 

Apa yang Sebenarnya Diperjuangkan?

Beberapa tahun lalu, saya membaca berita tentang sepasang kekasih yang diarak telanjang keliling kampung karena diduga (akan) berbuat mesum.
Diduga.
Akan.
Keduanya memang berduaan di dalam rumah, tetapi sedang berpakaian lengkap. Lalu para warga sekitar tersebut memaksa masuk, menelanjangi mereka, mengarak berkeliling, sambil direkam, lalu rekaman itu disebar.

Lalu saya berpikir, kenapa? Kalaupun memang benar mereka (akan) melakukan hubungan seksual, apa yang membuat mereka layak dan boleh diperlakukan seperti itu? Apakah yang sedang diperjuangkan warga kampung tersebut?

Apakah mereka hendak melindungi kehormatan wanita? Tentu tidak, karena pihak perempuannya juga ditelanjangi dan dipermalukan.

Apakah mereka ingin melindungi anak-anak mereka dari perbuatan yang tidak bermoral? Tentu saja bukan itu, karena pasangan yang tadinya berada di ruang tertutup diarak di ruang terbuka, di mana anak-anak justru lebih bisa melihat.

Apakah mereka tidak tahan dengan perbuatan dosa? Oh, saya yakin tidak, karena kabarnya mereka tertawa-tawa merekam pasangan telanjang itu dan dengan suka-cita menyebarkannya. Pornografi (ilegal) gratis. Apa itu menjaga pandangan (QS 24:30) bagi mereka?

Kadang-kadang, kita merasa begitu hebat dengan hal baik yang kita lakukan atau hal tidak baik yang kita cegah, hingga melupakan esensi dari hal tersebut. Terlalu ingin orang mengakui bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, tapi menyampaikannya dengan ancaman dan umpatan. Marah pada orang yang menghina Rasulullah SAW, tetapi ikut mengolok-olok agama lain padahal Allah jelas melarang memaki sembahan yang lain (QS 6:108). Tidak ingin zina merajalela, tetapi mengancam akan memerkosa orang yang berbeda pendapat. Sibuk ‘menyadarkan’ orang bahwa pandemi ini hanya akal-akalan, tetapi saat ada yang tiba-tiba pingsan enggan/takut menolong. Kampanye bahwa masker itu tidak perlu, covid tidak seberbahaya itu, tapi penderitanya dikucilkan dan jenazahnya ditolak.

Jika kata-kata dan perbuatan tak sejalan, niat dan perilaku saling bentur, apa yang sebenarnya ingin diperjuangkan?

 
Leave a comment

Posted by on November 14, 2021 in My Thoughts

 

My Idea of a Happy Life

If someone tried to guilt-trip me for haven’t married yet in my 30s, I always remember that this is the best life I ever have. In my early 20s, I stopped asking God what I wanted about ‘that’ future. I asked Him to give me the best due to His Judgment. That saved me from the disappointment of not meeting the right man at the right time. It also allows me to dedicate my time to my parents while my other siblings had their businesses. It gave me time to accompany my mom in her last time of life.

I’m grateful for my life, for my choices in the past. I don’t have any regret about my long-term decisions. Yes, I tend to feel I keep making wrong decisions about short-term matters, but not about long-term things. If I am unhappy now, it is because I just lost one that was dear to my heart, the one that had me in her womb for more than nine months and had given me consolation in this cruel world. I don’t know how much time will take for this grief to end (or will it ever?), but I think it is normal to be sad for months. If one lost their boy/girlfriend can be broken-hearted for months, or even years, why wouldn’t one lost their mother.

Apart from this sadness, I’m living my life to the fullest. I finished my undergraduate study on time. I worked in the same field for seven years while still having time (and money) to do my hobby. Then, I take graduate study and specialization in the area that I’m willing to devote my life, at my own expense. God knows what happened if I took different decisions in the past. What if I married ‘that’ guy I didn’t really like, what if I gave up my dream for continuing my education, and other ‘what if’s I believe will lead me to a different life not sure I will be satisfied.

I had a good time buying books, reading my books, thinking about humanity, doing things for others, sleeping a lot, giving myself rewards, and making friends. What other people think about not married and not having children shouldn’t degrade the way I value myself. It doesn’t matter, though I know it may bother people that are dear to me. So, all these efforts to be happy are for the people that matter, not for random people who tried to pity me. So that they will also be glad for me, with me, not saddened because of other people’s opinions.

 
Leave a comment

Posted by on September 15, 2021 in Zee's Space

 

Penerimaan

Tidak semua orang ingin tahu kita sedang tidak baik-baik saja. Saat bertanya “apa kabar?” sebagian besar orang mengharapkan jawaban yang baik-baik saja, atau kalaupun agak sedikit tidak baik, cukup sakit yang ringan-ringan saja yang bisa dibalas dengan “semoga cepat sembuh”, atau kalau memang sedang sakit, mereka mengharapkan jawaban bahwa kita sudah lebih baik.

Padahal, hidup tidak mungkin selalu baik-baik saja. Keadaan yang tidak baik itu tidak lantas menjadi lebih baik dengan ucapan basa-basi, atau dorongan untuk bersyukur karena masih ada yang lebih tidak beruntung dari kita, atau cerita-cerita malang lain yang tidak kita minta. Karena itu, tidak semua orang siap dengan jawaban yang tidak baik-baik saja, dan tidak semua orang perlu diberi tahu bahwa kita tidak sedang baik-baik saja.

Mungkin karena itu juga, mengakui bahwa kita tidak sedang baik-baik saja–bahkan pada diri kita sendiri–itu menjadi perkara yang cukup besar. Tuntutan bahwa orang dewasa harus bisa mengatasi permasalahannya sendiri, tuntutan untuk selalu menjadi kuat, tuntutan untuk selalu sabar, selalu bersyukur, selalu positif, kadang membuat kita lupa bahwa menerima segala perasaan dan emosi itu penting. Kita lupa bahwa penerimaan, pengakuan bahwa sesuatu itu ada, adalah langkah awal untuk mengatasi sesuatu itu.

Ternyata, penting juga untuk mengenali orang yang bisa menerima bahwa kita tidak sedang baik-baik saja. Yang akan menepuk bahu kita saat keadaan tidak baik tanpa perlu berucap kata penuh semangat. Yang akan mengulurkan tisu saat kita perlu menangis. Yang siap menerima bahkan ikut menambah sumpah serapah saat kita sedang marah. Yang tidak perlu banyak kata, tapi tahu apa yang melegakan untuk diungkapkan.

Seperti permainan puzzle, tidak semua kepingan dapat masuk ke kepingan yang lain. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memahami keadaan kita. Pun sebaliknya, hanya orang-orang tertentu pula yang bisa kita pahami dan terima apa pun keadaannya. Tak perlu merasa bersalah karena tak bisa melegakan semua orang. Tak perlu merasa kecewa karena tak bisa dipahami oleh semua orang. Hargai dan rayakan mereka yang ada saat ini.

 
Leave a comment

Posted by on August 29, 2021 in Zee's Space

 

Kerja dan/atau Sehat?

Kebetulan media sosial sedang ramai membahas work-life balance, saya jadi teringat beberapa hal. Suatu malam di UGD, datang pasien yang tampak baik-baik saja, katanya mau berobat karena batuk pilek sudah tiga hari. Ketika ditanya kenapa berobat malam-malam, tidak pagi atau sore saja di poliklinik, katanya tidak sempat karena masih harus bekerja. Sebagai informasi, pasien ini dari penampilannya termasuk kalangan menengah, dan sepertinya pekerja kantoran. Pertanyaannya, jika sakit, kenapa masih masuk bekerja?

Di sisi lain, (sebelum pandemi) bank-bank selalu terlihat ramai. Kalau tidak datang pagi-pagi sekali, bersiap untuk antre berjam-jam. Padahal sebagian besar yang antre itu juga punya pekerjaan, tapi mereka bisa izin karena memang bank hanya buka di jam kerja. Lalu mengapa urusan yang lain tidak bisa seperti itu? Mengapa tidak bisa izin di jam kerja untuk ke Puskesmas, misalnya, karena rujukan BPJS nya di sana. Kenapa harus menunggu sampai parah dulu, lalu berkunjung ke UGD (yang tidak memerlukan rujukan). Padahal pada beberapa kondisi perlu kontrol secara rutin agar tidak timbul komplikasi. Pasien semacam ini sering beralasan lupa atau tidak sempat untuk kontrol karena sibuk dengan pekerjaan, atau sulit untuk izin. Akibatnya, dari yang tadinya cukup izin sehari untuk kontrol (atau dua hari jika perlu minta rujukan dahulu), jadi istirahat lebih lama dengan produktivitas yang terganggu karena kondisinya memberat. Belum bicara masalah komplikasi jangka panjang yang memakan biaya besar dan menurunkan produktivitas secara permanen.

Saya setuju ada yang salah pada budaya kerja kita. Kalau sakit tidak parah, tidak boleh izin atau cuti. Kalau izin sakit harus pakai surat dokter, padahal ada beberapa sakit yang obatnya cukup istirahat, tak perlu pergi ke dokter (apalagi kalau biayanya tidak di-reimburse oleh kantor). Ini juga agak menjadi dilema buat dokter, kadang harus memberikan surat sakit padahal si pasien sudah sembuh. Surat dokter yang tidak pada tempatnya ini juga merembet sampai ke urusan transportasi di era pandemi ini, yang akan panjang jika mau dikupas satu per satu, tapi itu bahasan tersendiri.

Tenaga kesehatan, maupun pekerja lain yang bekerja dalam shift juga hampir serupa. Kadang di atas kertas, jam kerja mereka sudah disesuaikan, dengan waktu istirahat yang cukup dan manusiawi. Namun, tak jarang juga di pagi hari, selepas shift malam, masih dibebani rapat atau urusan ini-itu, yang menyesuaikan jam kerja atasan mereka. Belum lagi jika tugas mereka termasuk piket atau konsultasi on call, kadang sistem tidak memperhitungkan jam kerja yang ‘tidak tercatat’ ini. Hal ini serupa dengan pekerja kantoran yang dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan di akhir minggu, atau membawa pulang pekerjaan untuk diselesaikan di rumah.

Tubuh manusia itu sejatinya sudah diprogram dengan sempurna. Sebelum rusak, dia memberi alarm. Kantuk, lapar, lelah, pegal-pegal, adalah alarm tubuh yang berteriak supaya kita tidur, makan, dan beristirahat. Namun, sebagian besar orang, karena pengaruh lingkungan, dengan bangga mengabaikan alarm itu demi terlihat kuat dan produktif. Tentunya ada orang-orang yang tidak memiliki pilihan untuk itu. Ada yang dipaksa oleh kondisi tidak dapat merespon alarm itu. Tetapi untuk orang-orang yang punya pilihan, ada baiknya berpikir dua kali untuk menyia-nyiakan tubuh dengan mengabaikan alarm itu. Siapa tahu, dengan menormalkan jam kerja yang manusiawi, kita juga bisa membentuk iklim kerja yang sehat, termasuk bagi mereka yang tidak punya pilihan itu.

 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2021 in My Thoughts

 

Testimoni yang ‘Menjebak’

“Minum aja obat ini, aku dulu disarankan operasi oleh dokter, tapi minum obat ini sembuh.”

“Sakit lutut ya, ibu dan tanteku minum ini sembuh lho.”

“Omku sudah bolak-balik ke dokter ga sembuh-sembuh, setelah minum obat ini langsung sehat.”

Kalimat-kalimat di atas tentu pernah kita dengar, setidaknya sekali setiap kita atau orang dekat kita sakit. Obat herbal atau alternatif X dengan testimoni yang mengilap, mujarab untuk segala jenis penyakit. Tanpa membahas mengenai apakah pernyataan itu jujur atau dilebih-lebihkan, saya akan membahas mengenai mengapa testimoni tidak pernah digunakan sebagai dasar terapi medis.

Sebelum menuju ke sana, perlu saya tekankan lagi bahwa ilmu kedokteran yang digunakan di Indonesia adalah ilmu kedokteran Barat. Salah satu prinsip dari ilmu kedokteran Barat adalah adanya bukti ilmiah (evidence based), yang akan saya jelaskan di tulisan ini. Berbeda dengan ilmu kedokteran Timur yang bersifat filosofis dan empiris. Tidak ada yang salah dengan pengobatan Timur, selama benar dan tidak mengada-ada, tetapi karena tidak mempelajarinya, maka saya tidak dapat berkomentar banyak mengenai hal itu.

Bukti ilmiah dalam ilmu kedokteran memiliki berbagai prasyarat, tidak semua penelitian dapat digunakan hasilnya untuk mengambil keputusan medis. Misalnya untuk penelitian suatu obat; siapa saja yang dapat menjadi sampel penelitian, apa saja riwayat penyakit yang dimilikinya, bagaimana sampel diambil–apakah dari populasi yang sama atau berbeda, semua harus dicatat untuk mendapatkan kesimpulan yang benar, jangan sampai obat tersebut hanya diuji pada satu populasi saja, lalu digeneralisasi untuk semua populasi, padahal belum teruji di populasi lain. Belum lagi cara melakukan penelitian itu; berapa dosis yang digunakan, bagaimana cara minumnya, apakah subjek tahu obat yang diminum, apakah peneliti tahu siapa mendapatkan obat apa. Perlu diketahui juga bahwa untuk penelitian obat, selain subjek penelitian yang diberikan obat tersebut, ada juga kolompok subjek yang tidak diberikan obat itu. Dapat diberi obat yang tidak berisi apa-apa (plasebo), atau diberi obat lain dengan efek serupa. Hal ini dilakukan untuk menghindari bias dan mengukur keefektifan obat yang baru.

Saya beri contoh sebuah penelitian obat X dengan 900 orang sampel, 300 orang diberi obat X, 300 orang diberi obat Y, dan 300 orang diberi plasebo. Dengan obat X adalah obat yang baru, sedangkan obat Y adalah obat lama yang sudah teruji efektif. Hasilnya, yang sembuh dengan obat X ada 100 orang, yang sembuh dengan obat Y ada 270 orang, sedangkan yang sembuh dengan plasebo ada 50 orang.

Jika demikian, apakah kita perlu beralih ke obat X? Jika dilihat secara kasar, tentunya kita cenderung untuk tetap menggunakan obat Y saja. Namun, jika penelitian ini tidak dilakukan dengan benar, dan 10 saja orang yang sembuh dengan obat X mengeluarkan testimoni, maka akan terlihat seolah-olah obat X sangat bagus. Apalagi jika testimoni itu dibesarkan di media sosial, dikencangkan oleh orang yang terkenal, dan diiklankan sedemikian rupa. Orang bisa meninggalkan obat Y dan beralih ke obat X, karena tak mengetahui penelitian yang sebenarnya, dan hanya mendengar testimoni dari 10 orang. Padahal bisa kita lihat, ada 50 orang yang sembuh bahkan tanpa diberi obat apa-apa, yang dapat dijelaskan juga, mungkin pada pembahasan lain.

Ini adalah gambaran jika obat tersebut diuji. Jika obat tersebut tidak diuji, kita tidak pernah tahu. Ini baru berbicara mengenai efektif tidaknya, belum melihat efek sampingnya. Belum juga kita berbicara mengenai variabel apa saja yang diuji, serta bagaimana hasil sebuah penelitian dapat digeneralisasi untuk populasi tertentu. Karena bisa kita lihat, bahkan obat yang terbukti efektif masih ada peluang untuk tidak bermanfaat bagi sebagian kecil orang.

Itulah mengapa testimoni tidak bisa membuktikan apa-apa. Termasuk sebuah pengobatan yang dilakukan seorang dokter yang sangat terkenal, yang katanya menyembuhkan ribuan orang, tapi dokter itu justru mendapat sanksi etik dari organisasi profesi. Kita tidak pernah tahu, ribuan orang ini apakah semua mengalami sakit yang sama, apakah derajat keparahannya sama, apakah ada efek plasebo atau sugesti di situ. Lalu, apakah ada yang tidak berhasil dengan metode itu, dan berapa jumlahnya, apakah hanya segelintir, apakah ada puluhan, ratusan, atau ribuan orang juga? Tentu maknanya akan berbeda. Namun, selama data itu tidak ada, tidak ada pula yang bisa dibuktikan, dan dokter yang menjunjung etik tentu tidak akan merekomendasikannya.

 
1 Comment

Posted by on November 27, 2020 in Medic's Space

 

COVID-19 dan Buruknya Komunikasi Kita

Hari ini, 4 April 2020, lebih dari 3 bulan setelah kasus pertama covid-19 (penyakit akibat coronavirus baru) dilaporkan di Tiongkok, dan sebulan setelah kasus pertama resmi diumumkan di Indonesia, apa saja yang (sudah) terjadi di Indonesia?

Kasus pertama Indonesia ada di Depok, kontak ditelusur, lalu ditemukan kasus baru lagi. Orang dengan riwayat bepergian ditelusur, ditemukan kasus baru lagi. Kebanyakan di wilayah Jabodetabek. Lalu dengan mobilitas manusia yang tinggi, kasus baru ditemukan di daerah, dengan riwayat bepergian ke Jabodetabek. Lalu polanya sudah mulai acak, sekarang siapa pun bisa terkena, siapa pun bisa positif tanpa kita sadari.

Sejak awal, saya tidak habis pikir dengan sikap pemerintah Indonesia. Sejak diumumkan oleh WHO bahwa covid-19 adalah pandemi global, seharusnya pemerintah sudah menyiapkan apa pun yang bisa disiapkan. Tetapi, yang beredar di media justru pernyataan pejabat yang terkesan mengentengkan penyakit ini. Lalu, setelah kasus pertama diumumkan, tidak tampak ada gerak cepat untuk menangani dan mengendalikannya. Orang-orang tetap bebas bepergian, wisatawan keluar masuk, rumah sakit tak dipastikan kesiapannya.

Katanya semua dilakukan untuk menghindari kepanikan. Kepanikan siapa yang dihindari? Orang Indonesia itu beragam, mulai dari tingkat pendidikan, sosial ekonomi, budaya, yang kesemuanya membentuk sikap yang beragam pula terhadap suatu isu. Bagi orang-orang dengan pendidikan rendah, dan dengan akses rendah ke media sosial, mungkin benar, mereka tetap santai saja dan percaya bahwa mereka jauh dari covid-19. Tapi bagi masyarakat menengah yang bisa mengakses media sosial, mereka jauh lebih panik melihat sikap pemerintah ketimbang covid-19 itu sendiri. Apalagi dokter, kepanikan mereka adalah melihat kasus nyata di lapangan, yang ditutup-tutupi oleh pemerintah. Mereka melihat realitas di lapangan, dan tak bisa berbuat banyak, atau terpaksa melakukan terlalu banyak.

Bagi sebagian orang, panik terjadi karena mengetahui sesuatu yang buruk, tapi bagi sebagian yang lain, tak bisa mengantisipasi sesuatu yang buruk karena tidak tahu itu lebih meresahkan. Adanya penimbun dan panic buyers itu sebagian karena mereka tak tahu seburuk apa yang sebenarnya, tetapi mereka memilih untuk mengantisipasi jika yang terburuk terjadi. Tak ada gunanya meyakinkan mereka bahwa keadaan tidak seburuk itu, jika mereka tak mendapat kepastian apa skenario terburuknya.

Saya memang awam sekali soal politik, ekonomi, atau apa pun yang sedang dikendalikan pemerintah saat ini. Namun, sebagai rakyat, sebagai warga negara, yang beruntung memiliki akses ke pendidikan tinggi, saya ingin sedikit membagi sudut pandang.

Dengan beragamnya profil rakyat Indonesia, tentu pendekatan yang dilakukan tak bisa seragam. Sebagaimana dokter saat menghadapi pasien yang berbeda dengan penyakit yang sama pun, tak bisa mengedukasi dengan cara yang sama. Karena penerimaan dan kekhawatiran masing-masing orang berbeda. Membuka satu pintu untuk akses informasi mungkin jadi kurang efektif.

Pertama-tama, apa saja yang perlu diketahui masyarakat?

Terkait penyakitnya sendiri

Apa itu covid-19, bagaimana penyebaran/penularannya, sehingga paham pencegahannya, harus bagaimana jika kontak dengan penderita, harus bagaimana jika muncul gejala, lalu apa yang harus dilakukan jika diduga sakit, untuk melindungi diri sendiri dan orang lain.

Selama ini, yang sering diumumkan hanya sebatas pencegahan saja, padahal antisipasi jika ada kontak atau ada gejala juga baiknya dirinci. Misalnya pelindung apa yang digunakan, jika harus ke RS melalui jalur apa, sebaiknya menggunakan kendaraan apa. Dan pernyataan itu tidak harus presiden sendiri yang merinci, bisa staf kemenkes yang memang memahami masalah kesehatan dan tahu cara efektif untuk menyampaikan ke masyarakat.

Baiknya, pernyataan ini disampaikan sejak awal, dalam satu sesi edukasi, sehingga pemahaman masyarakat utuh, tidak terpotong-potong. Edukasi juga perlu diulang-ulang, karena manusia bisa lupa, dan keadaan bisa berkembang. Namun, sekali lagi, edukasi ini perlu disampaikan utuh, sehingga pemahaman tetap utuh, dan jika ada perubahan kebijakan, misalnya, masyarakat tidak bingung.

Yang sering terjadi, media mendapatkan sepotong pernyataan dari presiden atau pejabat yang bukan ahli kesehatan, lalu diklarifikasi ke ahlinya, mereka tentu akan mendapatkan informasi yang benar, tetapi informasi itu mungkin tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah. Lalu ada pendapat ahli lain yang sedikit berbeda (yang dalam forum ilmiah sebenarnya berbeda itu sah asal ada dasarnya), tetapi masyarakat awam bingung, mana yang benar, mana yang harus diikuti. Padahal belum tentu perbedaan itu benar-benar penting untuk diperdebatkan.

Terkait dampak dan kebijakan non-medis

Apa yang bisa terjadi selama wabah ini, bagaimana jual-beli yang aman dilakukan, bagaimana kerja yang aman bisa dilakukan, apa kebijakan pemerintah untuk menekan penularan, bagaimana dengan anak-anak sekolah, pekerja sektor formal, informal, sampai buruh lepas.

Sama halnya dengan informasi kesehatan yang disampaikan ahli kesehatan, maka informasi ini perlu disampaikan oleh ahlinya masing-masing. Misalnya masalah sekolah, terkait belajar-mengajar, penilaian, jam kerja guru, remunerasi guru, bisa disampaikan oleh mendikbud atau salah satu staf kemendikbud, untuk menyampaikan informasi secara berkala sesuai situasi. Cukup pada hal terkait wewenangnya saja, tak perlu meluas ke mana-mana, karena informasi kesehatan sudah disampaikan yang berwenang.

Lalu kementan bisa berbicara soal pengadaan pangan, kemendag bisa berbicara masalah distribusi bahan pokok, kemenpan bicara mengenai kebijakan perusahaan dan pembiayaan pekerja, kemenparekraf bicara mengenai pembatasan wisatawan dan bagaimana pengusaha pariwisata perlu bersikap, masing-masing kementerian bisa berbicara hal dalam kewenangannya sendiri.

Jika dituliskan dalam satu artikel seperti ini, kesannya pasti heboh sekali, tetapi jika diterapkan di lapangan, kita bisa memilih memberikan informasi yang sesuai, untuk pemirsa yang sesuai, oleh informan yang sesuai, di waktu yang sesuai. Dan yang terpenting, adanya perwakilan dari pihak berwenang memastikan informasi yang tidak bertolak belakang dan membingungkan masyarakat. Dengan informasi yang jelas, masyarakat akan melihat bahwa pemerintah sigap dan siap menghadapi apa pun yang terjadi, bahkan hingga yang terburuk, sehingga diharapkan bisa menghindari kepanikan.

Lalu bagaimana dan melalui apa informasi itu disampaikan? Mari kita mulai dari sumber informasi yang biasa diakses masyarakat kita:

  1. Televisi dan media cetak, media ini mulai ditinggalkan generasi milenial ke bawah dan orang-orang yang bisa mengakses internet, jadi sasaran untuk media ini adalah generasi usia 40 tahun ke atas, atau yang tidak memiliki akses internet.
  2. Media online, didapatkan oleh orang yang memiliki akses internet, dari semua kalangan. Masalahnya, kredibilitas media online hari ini perlu dipertanyakan karena tuntutan untuk menulis sekian banyak artikel per hari. Sebagian orang sudah menyadari perlunya bersikap skeptis dan kritis terhadap media online tertentu, tetapi sayangnya lebih banyak lagi yang menelan berita ini mentah-mentah.
  3. Youtube, biasanya ada materi yang ditayangkan televisi akan muncul juga di youtube, ada juga materi dari media online. Pemirsanya adalah orang dengan akses internet dan kuota yang lumayan besar, sehingga bisa diasumsikan ekonominya relatif baik (menengah ke atas).
  4. Grup whatsapp/broadcast, sumber biasanya tidak jelas, bisa diubah sesuka hati, sehingga kredibilitasnya sangat diragukan. Tetapi bagi generasi tua, media ini cukup banyak dipercaya dan diyakini sebagai sumber yang benar. Apalagi jika di dalam grup tersebut berisi orang dengan pemikiran seragam.
  5. Mulut ke mulut, merupakan media tertua di dunia yang masih menjadi budaya kita. Diakses oleh semua kalangan, tetapi efektivitas dan kredibilitas penyebaran informasi sangat tergantung tingkat pendidikan, sosial ekonomi, budaya, maupun kepentingan.
  6. Media sosial, merupakan gabungan dari semua media di atas, dengan kecepatan dan jangkauan yang lebih luas daripada mulut ke mulut. Bisa diakses siapa saja dengan koneksi internet, yang paling lambat dan minim kuota sekali pun. Kredibilitasnya sama dengan dari mulut ke mulut, tetapi dampaknya jauh lebih besar.

Tentunya masih banyak media lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Poinnya adalah, masing-masing punya pemirsanya sendiri. Kita bisa mulai dari situ untuk mengedukasi masyarakat yang berbeda-beda. Informasi dari atas bisa diteruskan secara berjenjang ke bawah, oleh orang yang memiliki kredibilitas di bidang tersebut, sehingga informasi yang disampaikan tidak terdistorsi saat sampai ke bawah.

Satu lagi yang memprihatinkan, di era digital seperti sekarang, tak perlu lagi pejabat mengumpulkan wartawan untuk memberi keterangan pers. Selain tidak efektif (lihat saja berita yang naik ke media sekarang), di saat sekarang wartawan menjadi rentan sekali tertular covid-19. Keterangan pers bisa disampaikan secara daring, sebagaimana rapat kabinet bisa dilakukan secara daring juga. Tidak ada alasan bahwa komunikasi tidak bisa dilakukan dengan alasan karantina atau isolasi. Saatnya membuktikan bahwa pemerintah benar-benar bisa mengendalikan ini, jangan hanya memberi harapan palsu ke masyarakat.

Terakhir, tulisan ini tidak bermaksud mengecilkan segala upaya yang sudah dilakukan oleh semua pihak. Karena kritik tidak harus menghilangkan apresiasi atas suatu hal, melainkan sebagai upaya perbaikan, dan menunjukkan bahwa masih ada yang peduli. Saya tidak paham segala hal, sama halnya dengan presiden juga tidak menguasai segala bidang. Bedanya, saya hanya bisa memberi masukan dari satu sudut pandang, diterima tidaknya, tak banyak pengaruhnya. Namun, sudut pandang presiden bisa mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Oleh karenanya, presiden perlu juga mendapatkan masukan dari orang dengan berbagai sudut pandang, lalu menugaskan orang yang tepat, untuk membantu mengambil keputusan yang tepat.

 
5 Comments

Posted by on April 4, 2020 in My Thoughts

 
 
Design a site like this with WordPress.com
Get started