RSS

Hujan Bulan Juni di November

Selama ini, tak banyak buku sastra Indonesia diangkat menjadi film layar lebar (tanpa mendebat definisi ‘sastra’ yang mungkin berbeda-beda). Hujan Bulan Juni, yang dirilis pada 2 November 2017 lalu ini, adalah salah satunya. Pada saat membaca novel karya Sapardi Djoko Damono ini, saya merasa berada di tengah pertunjukan sastra yang ‘memamerkan’ bentuk-bentuk narasi. Hal ini membuat saya penasaran, ke mana adaptasi filmnya akan dibawa.

Di detik pertama, film ini sudah menyuguhkan pemandangan bunga sakura Jepang yang sangat indah, awal yang cukup menjanjikan, pikir saya saat itu. Menyusul kemudian muncul ketiga tokoh sentral dalam kisah ini; Sarwono (Adipati Dolken), Pingkan (Velove Vexia), dan Katsuo (Koutaro Kakimoto) dalam beberapa adegan perkenalan yang sudah memancarkan chemistry kuat di antara mereka. Hujan Bulan Juni berkisah mengenai Sarwono dan Pingkan yang saling jatuh cinta terhalang oleh perbedaan. Mulai dari perbedaan latar belakang keluarga, hingga jarak yang pada suatu ketika terancam memisahkan mereka. Pingkan yang seorang dosen sastra Jepang akan ditugaskan ke Negeri Sakura itu selama dua tahun, ditemani Katsuo, yang pernah berkuliah di UI juga, dan tampak memendam rasa pada dosen cantik itu. Porsi terbesar kisah ini terjadi sebelum keberangkatan Pingkan, yaitu saat Sarwono memintanya menemani tugasnya ke Manado, tempat asal ayah gadis itu.

Secara garis besar, kisah dalam film ini cukup setia dengan bukunya. Meski demikian, tentunya ada perbedaan dalam alur dan detail, karena bagaimanapun, kisah Sarwono dan Pingkan dalam film sudah menjadi milik sang sutradara, Reni Nurcahyo Hestu Saputra, yang—seperti pernah dikatakan Pak Sapardi sendiri dalam sebuah acara yang saya hadiri—bebas menjadikan film ini seperti apa saja yang dimauinya. (Meski saya agak heran mengapa nama keluarga Pingkan harus diganti). Alur film ini sangat rapi, mudah diikuti, dengan banyak kalimat serta dialog yang cukup familiar yang diambil dari bukunya—tanpa terasa kaku ataupun berlebihan. Salut untuk sang penulis naskah, Titien Wattimena, yang juga berhasil memasukkan kalimat-kalimat dalam bahasa Jawa, Jepang, dan Manado dengan cukup natural. Perasaan para karakternya sangat tersampaikan, ada bagian yang mengharukan, ada bagian yang mengundang senyum sampai tawa, dan untuk hal ini, pujian saya untuk akting para karakternya yang pas sekali. Bahkan peran Pak Tumbelaka (Surya Saputra), yang menjadi salah satu ‘pengincar’ Pingkan, meski menurut saya terlalu komikal sehingga tak terlalu menjadi ‘ancaman’ bagi Sarwono, mungkin dimaksudkan menjadi penyeimbang yang tak berlebihan juga.

Dari segi visual, film ini sangat memanjakan mata, mulai dari bunga sakura di Jepang–yang saya sampaikan di awal tadi, perpustakaan UI, keindahan alam di Manado dan Gorontalo—meliputi pegunungan, pantai, sungai, bahkan ladang—dan hujan. Ya, hujan tak digambarkan dengan main-main di sini, ada hujan rintik-rintik, ada hujan deras, yang masing-masing membawa suasana yang berbeda, menyampaikan perasaan yang tak perlu diucapkan.

Selain hujan, Hujan Bulan Juni tak bisa dipisahkan dari puisi. Sarwono memang gemar menulis puisi, tapi Hujan Bulan Juni sendiri awalnya adalah sebuah puisi yang ditulis oleh penulis yang sama. Puisi berjudul sama ini diterjemahkan menjadi kisah cinta Sarwono dan Pingkan.
Novel Hujan Bulan Juni sendiri dimaksudkan menjadi trilogi, sehingga dia belum memiliki ending. Sedangkan film—yang sulit dipastikan akan lanjut atau tidak—harus memiliki ending. Seperti sudah saya singgung, keindahan dari film ini ada pada chemistry antar karakter, visualisasi, dialog, dan narasi, sedangkan kisahnya sendiri tidak memiliki banyak plot twist yang mencengangkan. Memberikan sebuah akhir yang klise bukanlah dosa besar untuk film ini, tetapi ending semacam itu tampaknya akan mempersulit peluang memfilmkan buku lanjutannya. Meski demikian, saya agak kagum juga dengan adanya (paling sedikit) dua adegan yang memiliki napas Pingkan Melipat Jarak, buku kedua trilogi ini. Entah disengaja atau tidak, atau mungkin sebenarnya itu hanyalah terjemahan dari bagian lain yang tidak saya sadari.

Terlepas dari buku dan puisinya, film ini menampilkan makna perbedaan yang cukup dalam. Perbedaan suku dan agama dari dua sejoli ini ditampakkan dengan cukup apik, tanpa terkesan merendahkan satu sama lain. Dalam satu bagian, Benny (Baim Wong)–saudara sepupu Pingkan berusaha menekankan perbedaan ini untuk mengubah pikiran Pingkan, dan di bagian lain Pingkan yang mengkonfrontasi Sarwono mendapat jawaban yang (mungkin) bisa menghangatkan hati gadis itu. Meski saya bukan pendukung pernikahan beda agama, saya rasa sebuah pesan persahabatan (dalam arti luas) tercakup dengan baik pada dialog-dialog riskan ini.

Akhirnya, saya harus mengakui bahwa film ini di atas ekspektasi saya. Dialog yang kadang terlalu gombal tapi sangat natural, setting yang memukau, para pemain yang cukup mendalami perannya, penampilan Pak Sapardi sendiri sebagai ayah Sarwono, dan, yah, kecuali ending-nya.

Katsuo, apa itu cinta?

Aku tidak tahu, …

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on November 12, 2017 in BookShelf

 

Tentang Penulis, Katanya

​Sehubungan dengan ramainya permasalahan pajak penulis yang diletupkan seorang penulis bestseller, saya tergelitik sesuatu yang saya baca di media sosial. Sebenarnya bukan hal besar dan tidak secara langsung berkaitan dengan permasalahan pokoknya. Awalnya saya hanya ingin nyinyir saja di twitter, tetapi saya sadar kalau saya menuangkannya dalam wadah terbatas 140 karakter, akan banyak potensi kesalahpahaman di situ. Karena sedikit banyak hal ini mungkin akan menyinggung para penulis dan calon penulis (dan mungkin juga orang-orang di penerbitan), yang merupakan profesi sebagian besar teman-teman saya, dan juga profesi yang sangat dekat di hati saya, karena saya adalah pembaca.

Akhirnya saya memilih menulis di blog ini, yang di samping memudahkan menyampaikan maksud saya sebenarnya, juga karena di sini lebih sedikit pembacanya, sehingga meminimalkan dibaca oleh orang-orang yang tidak saya harapkan membaca (contohnya yang bukan pembaca), yang kemungkinan besar akan memaknainya dengan berbeda dari yang saya maksudkan. Dari pembaca blog saya yang sudah sedikit ini, mungkin sampai baris ini juga sudah berkurang karena pendahuluannya yang sangat panjang.

Baiklah, jadi ini bermula dari komentar yang saya baca di berbagai media sosial yang menyoal pajak penulis. Bukan hanya sekali saya membacanya, meski saya tidak menilik lebih lanjut apakah orangnya sama. Ada yang menyatakan, kurang lebihnya, pajak tinggi ini akan membuat para penulis menjadi malas menulis dan minat baca yang sudah rendah akan semakin rendah karena sedikitnya penulis yang mau menerbitkan buku. Ada yang tertawa? Saya tertawa.

Ada banyak hal yang bisa dikritisi dari kalimat itu, tetapi saya akan berfokus pada satu hal, supaya tidak terlalu panjang. Penulis yang sesungguhnya, menulis karena panggilan hati. Dari dulu memang tak ada anggapan bahwa pekerjaan menulis adalah pekerjaan yang bisa menghidupi orang, mungkin baru beberapa dekade terakhir saja menulis menjadi profesi yang begitu populer serta memunculkan para jutawan dan miliuner yang lahir dari buku-buku yang laris di pasaran. Sejak zaman sejarah, manusia menulis untuk mengikat ilmu, untuk menyampaikan pesan, untuk menyebarkan ideologi, untuk mengekalkan eksistensi. Para penulis zaman dahulu sudah kenyang dengan ancaman, celaan, pengekangan, bahkan dipenjara karena apa yang mereka tulis. Namun, apakah hal itu menjadikan mereka berhenti menulis? Tidak, mereka tetap menulis dalam diam, dalam kurungan, dalam ketidakamanan, menyembunyikan idenya dalam alegori dan satir, semata-mata karena mereka perlu menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Sebagian tidak melihat karya mereka dikagumi, apalagi menerima royalti atau penghasilan dari situ.

Bukan hanya penulis zaman dahulu, penulis saat ini pun mengalami tantangan yang sama. Jangankan royalti dipotong pajak penghasilan sampai empat layer (eh, ini ilmu baru yang didapat dari keramaian kemarin, ada manfaatnya juga), yang royaltinya setelah diberikan masih di bawah PTKP pasti ada juga, tapi mereka tidak berhenti menulis. Ada yang bukunya berakhir di obralan, yang otomatis tidak ada lagi royalti, tapi mereka tidak patah semangat. Ada yang menerbitkan bukunya sendiri meski keuntungan tak sebanding dengan modalnya, ada yang mencuri waktu menulis di tengah kesibukan profesi utama yang lain, ada yang riset dan kerja kerasnya dikalahkan oleh penulis ala-ala yang hanya memanfaatkan tema dan judul sensasional, tetapi mereka tak pernah mati, mereka selalu menghasilkan karya meski tahu (saat ini) mungkin tak banyak yang akan membacanya. Bahkan penulis bestseller yang protes dan memutuskan menghentikan penerbitan bukunya pun, menyatakan tak akan berhenti menulis.

Jadi, komentar di atas adalah komentar yang layak ditertawakan, argumen tidak berdasar yang hanya menunjukkan bahwa dirinya tak mengerti betapa sudah sangat banyaknya buku di muka bumi ini, betapa penerbit saat ini sudah membuat pembaca seperti saya menangis meraba dompet setiap ada buku baru terbit, dan bahwa seorang penulis yang sesungguhnya tidak cengeng seperti yang dipikirkannya.

PS: Soal pajak penulis sendiri sepertinya sudah mulai dijernihkan dan sudah mendapat solusi yang (semoga) cukup adil.

PSS: Terlepas dari kenyataan yang ada di Indonesia dan di dunia tentang penulis, saya mendukung penuh peningkatan kesejahteraan penulis dan pekerja penerbitan (juga pembaca, berkenaan dengan beban pajak yang dimasukkan ke harga buku).

 
Leave a comment

Posted by on September 8, 2017 in Zee's Space

 

Berberes Kamar dengan Konmari Modifikasi (Part 2)

Setelah menceritakan proses berberes pakaian dan buku di sini berakhir dengan berberes kertas, sebelumnya masih ada yang terlewat, yaitu tas. Menurut Konmari, tas termasuk dalam pakaian, bersama dengan sepatu dan aksesoris lainnya. Namun, karena sepatu dan aksesoris saya lebih sedikit dan terpisah, saya belum mulai mengumpulkannya. Salah satu alasan utama saya tidak bisa mengikuti sistematika Konmari adalah ruang yang terbatas. Sebisa mungkin saya mengembalikan barang ke tempatnya sekali sudah terkumpul dan terpilah, karena saya hanya punya satu kamar untuk melakukan itu semua sekaligus beraktivitas dengan normal. Saya tidak bisa menggunakan ruangan lain di rumah karena semua digunakan bersama, jangankan di ruang lain, di kamar saya sendiri saja yang melihat sudah protes. Sulit dibayangkan memang ternyata segala sesuatu yang tertumpuk rapi di sudut, bila dikeluarkan ke lantai bisa terlihat begitu banyak dan memakan tempat. Mungkin hampir mirip dengan kota di saat musim liburan, tiba-tiba jalanan, mal, restoran, dan pusat perbelanjaan penuh dalam waktu yang bersamaan.

Little schoolgirl in a messy room royalty-free stock vector art

Kembali ke tas, setelah saya kumpulkan, ada beberapa tas yang masih saya pertahankan untuk menyimpan beberapa barang koleksi. Sebenarnya ini sangat terlarang pada Konmari. Semua barang diharapkan punya tempat yang terlihat. Namun, untuk sementara, saya biarkan saja dulu, saya tangguhkan proses membuangnya terakhir, atau, kalau toh nantinya tidak terbuang, barang koleksi ini memang sudah tidak akan saya tambah lagi. Tas yang masih bisa dipakai untuk sehari-hari saya kumpulkan, ternyata banyak tote bag yang saya beli, hadiah, atau properti acara tertentu yang rasanya sayang dibuang. Kondo mengatakan bahwa barang dari perusahaan, universitas, atau promosi tidak akan membawa kebahagiaan, tetapi dia tidak menyebutkan barang dari komunitas atau fandom, yang pastinya akan selalu bertambah dan sulit dibuang. Sedangkan tote bag dari pabrik obat maupun seminar biasanya punya kelebihan masing-masing, entah ukuran yang sangat berdaya guna, bahan yang bagus, atau model yang unik, yang membuat saya ingin sekali waktu memakainya, atau memang sekali waktu saya perlukan, serta toh tas seperti itu akan rusak dan usang dalam waktu relatif lebih cepat. Jadi, sekali lagi, modifikasi Konmari saya mungkin bisa membuat Kondo frustrasi, yah, inilah ternyata kelemahan kalau berberes tidak disupervisi langsung oleh konsultan ini.

Akhirnya, beberapa tas memang ada yang saya singkirkan, sisa yang lain saya kumpulkan dalam kategori seperti yang disarankan Konmari. Yang jelas sebisa mungkin semua tas muat dalam satu rak saja, kecuali tas kondangan yang terpaksa masuk ke rak bersama pakaian kondangan, dan tas yang sedang saya pakai sehari-hari masih selalu di luar. Dalam proses berberes berikutnya, saya menemukan beberapa pouch yang tersembunyi, jadi nanti di rak khusus tas rencananya akan ada yang dikeluarkan kembali. Lagi-lagi menyalahi aturan, sehingga tampaknya saya memang harus mereview kembali proses pembuangan setelah semua proses pembuangan dan penataan kasar dilakukan (kecuali pakaian mungkin). Saya membayangkannya lebih mudah, karena sebagian sudah saya buang, dan rasanya juga tidak akan memakan waktu lama.

Masuk ke kertas, bagian ini menjadi sangat sulit karena Konmari menyarankan untuk membuang semua makalah dan berkas seminar maupun pelatihan yang sudah dilakukan. Alasannya masuk akal, karena kita bisa mendapatkan informasinya di sumber lain—buku teks, jurnal, internet—dan inti dari kegiatan itu adalah saat kita mendapatkan ilmu langsung dari pakarnya. Saya sempat mengalami kegalauan dan berkonsultasi pada beberapa teman. Akhirnya saya putuskan untuk mempertahankannya terlebih dahulu. Alasannya, profesi saya menuntut saya untuk menjadi pembelajar seumur hidup, sumber informasi memang banyak, tetapi yang terpilih sudah di tangan saya, kenapa mencari masalah lagi dengan melepaskannya. Saya kumpulkan kertas materi menjadi satu, dan sebenarnya tak terlalu banyak juga, jadi saya menempatkannya di lemari buku dalam kamar.

messy-room-cartoon-s-33e44d7c0d46d30b

Setumpuk kertas yang tersimpan atas nama keteraturan dan dokumentasi yang sudah tidak penting saya buang. Sebagian bisa langsung masuk ke tempat sampah, sebagian saya kelompokkan menjadi dua lagi, yang akan dibuang ke tempat daur ulang (rosok), dan yang perlu dimusnahkan karena mengandung informasi rahasia. Satu lagi alasan saya tidak bisa mengikuti metode Konmari secara total adalah masalah sampah. Sistem pengolahan sampah di Indonesia tidak sebaik di Jepang, ini menjadi beban mental bagi saya untuk membuang sampah begitu saja. Biasanya memang saya suka mendaur ulang sendiri, membuat-buat barang DIY, yang berakhir dengan setumpuk sampah di sudut. Kali ini, bahan DIY itu bisa dimanfaatkan sambil berberes, dan nanti terakhir akan benar-benar saya buang jika masih ada sisa. Kecuali beberapa kardus dan plastik, masih saya pertahankan untuk mengirim paket yang masih rutin saya lakukan, baik untuk berjualan, atau untuk teman. Bahan ini sudah saya pisahkan di tempat tersendiri dan tidak tersebar lagi seperti sebelumnya.

Masih ada sisa beberapa pernak-pernik catatan, hasil karya yang bertebaran di sembarang kertas yang ingin saya salin dulu, lalu dokumen-dokumen yang belum dipilah, dan barang-barang acak lainnya. Secara keseluruhan, lebih dari separuh barang saya sudah terpilih. Sisanya memang tinggal barang sulit yang membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Saya cukup optimis bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari sebulan, sehingga saya tidak harus dengan terpaksa menumpuk barang tak tersortir lagi dan menumpuk sampah lagi. Saya sudah merasakan sedikit kelegaan, sembari membuang dan menata, ruangan yang saya bayangkan mulai mewujud. Selanjutnya akan saya ceritakan di post berikutnya, jika sudah ada perkembangan yang signifikan.

 
Leave a comment

Posted by on June 4, 2017 in Zee's Space

 

Berberes Kamar dengan Konmari Modifikasi (Part 1)

Beberapa waktu yang lalu, buku-buku saya mendapat rumah baru, di luar kamar dengan lemari yang lebih luas dan layak. Buku-buku yang selama ini tersusun rapat di lemari pakaian dan tersembunyi di berbagai sudut, kini sudah mendapatkan rumah baru. Tapi, masih ada yang salah dengan proses ini, alih-alih menjadi lebih lapang, kamar saya masih saja terkesan berantakan. Lalu entah angin dari mana, mungkin saat itu kebetulan saya membaca review tentang buku Marie Kondo ini, dan saya terfokus pada mengubah hidup, saya memutuskan mulai membaca buku itu.

Illustration by Andrew Joyner (source)

Setelah membaca sendiri bukunya, saya sadar bahwa ada banyak hal di kehidupan saya yang harus dibuang. Segala detail yang saya simpan tak akan ada habisnya memakan waktu yang terasa semakin sempit. Segala yang selama ini saya pikir sebagai teratur dan sempurna harus diubah. Saya siap untuk mengubah hidup, jadi saya membulatkan tekad menuntaskan buku itu dan segera mulai berberes.

Di metode Konmari, berberes dimulai dari mengumpulkan barang sejenis, memilah mana yang harus dibuang dan mana yang perlu disimpan. Kata kuncinya adalah pada perlu, bukan ingin. Barang yang mulai dibuang-buang juga sistematis, mulai dari yang mudah hingga yang sulit. Semakin ke belakang semakin sulit bagi saya, hanya dengan membayangkannya saja. Namun, karena saya sudah bertekad, saya tidak mau menyerah dengan bayangan, saya perlu mencobanya sendiri.

Pertama pakaian. Saya pikir memang ini yang paling mudah. Saya sudah mempunyai catatan batin pakaian mana saja yang akan saya buang dan akan disumbangkan. Saya mengumpulkan semua pakaian di satu tempat, kecuali yang masih kotor dan dicuci. Di Konmari, kita harus memegang satu per satu pakaian itu, dan merasakan apakah kita merasa bahagia saat memegangnya.

Saya tidak bisa merasakannya.

Entah karena terburu-buru, atau memang saya jarang memiliki ikatan batin dengan pakaian saya. Hanya beberapa saja pakaian yang saya miliki yang membuat saya bahagia saat memakainya, yang terasa pas dengan postur saya, dan membuat saya merasa cantik saat memakainya. Sisanya, ya, entah itu seragam yang mau tak mau harus dipakai, pakaian yang warna dan modelnya saya butuhkan untuk momen tertentu tetapi tidak menimbulkan perasaan apa-apa, atau sebenarnya tidak terlalu saya suka, tapi tidak ada pilihan lain karena saya memang punya masalah sendiri dengan belanja pakaian. Kalau saya suka modelnya, yang tersedia hanya ukuran Hobbit, kalau ada ukuran manusia, modelnya sangat membosankan. Jadi, saya berakhir memilih baju yang memang benar-benar perlu saya simpan meski tidak menimbulkan kebahagiaan, juga menyingkirkan baju-baju tua yang sudah bertahun-tahun saya pakai meski masih bagus dan masih saya suka, untuk alasan sosial. Hasilnya lumayan, saya menyingkirkan dua plastik besar pakaian, sebagian masih layak dipakai, sebagian memang harus dibuang.

Di buku, Kondo menyebutkan bahwa proses membuang harus diselesaikan sebelum mulai menata. Namun, tidak dijelaskan apakah yang dimaksud per kategori atau semua sekaligus. Dengan pertimbangan ruang yang terbatas, dan pakaian harus dipakai setiap hari, sedangkan untuk menyelesaikan proses Konmari dikatakan bisa memakan waktu sekitar enam bulan, maka saya menata dulu pakaian di tempatnya semula. Masalah baru muncul saat saya tidak bisa mengikuti metode penyimpanan pakaian Konmari, karena karakteristik lemari maupun pakaian kami berbeda. Sempat saya coba paksakan, tetapi tidak berhasil dan malah terkesan berantakan. Saat proses itu berjalan, saya sudah mulai berberes untuk dua kategori selanjutnya, jadi begitu ada ruang kosong di tempat yang lebih cocok untuk pakaian, saya menata ulang di tempat tersebut dengan penyesuaian, dan hasilnya jauh lebih baik.

Kategori kedua dari metode Konmari adalah buku. ‘Membuang’ buku sebenarnya sudah saya lakukan sejak tahun lalu, bukan membuang dalam arti sebenarnya, hanya memindahkan sebagian koleksi saya ke tempat yang bisa dibaca banyak orang. Jadi secara status itu masih koleksi saya, tetapi secara manfaat bisa bebas dipergunakan orang lain, dan secara tempat agak membantu melonggarkan lemari saya. Dan sejak saya menata ulang buku di tempat yang baru, ada beberapa buku yang saya putuskan bisa benar-benar keluar dari koleksi saya, yaitu buku yang tampaknya tidak akan/ingin saya baca, atau kalaupun ingin membacanya, saya lebih memilih edisi yang lain dari yang saya miliki itu (biasanya yang terjemahan), dan relatif mudah didapat kembali suatu saat nanti. Jumlahnya tidak signifikan sebenarnya, tetapi saya memang tidak bertujuan merampingkan koleksi saya seperti yang disarankan Konmari.

Saat Konmari menyuruh pembacanya membayangkan ruang seperti apa yang diinginkan, yang tidak saya hilangkan adalah sebuah perpustakaan besar dengan koleksi yang sudah saya cicil hari ini. Saya ingin punya lebih banyak waktu membaca dan mengkajinya. Jadi hendak merampingkan koleksi menjadi seratus dua ratus itu sudah tidak perlu menjadi pertimbangan. Karena alasan itu, saya tidak terlalu selektif untuk kategori buku ini, asal mereka mendapat tempat saja, toh jumlah dan posisinya masih sangat dinamis karena saya menempatkannya berdasar sudah dan belum dibaca. Saya menyatukan buku-buku dari berbagai kolong dan sudut, meski ada yang belum mendapat tempat karena alasan kedinamisan tadi, saya melanjutkan ke kategori berikutnya.

Saya langsung menuju ke kertas. Dan ini memakan waktu paling lama, setidaknya sampai saat ini, lebih dari tiga minggu setelah saya mulai, belum selesai. Cerita lebih detailnya, lanjut ke post berikutnya ya.

 
1 Comment

Posted by on June 4, 2017 in My Thoughts

 

[Spoiler-Free] Mengapa Harus Nonton Fantastic Beasts

Sebelum kecewa, saya peringatkan bahwa ini bukan resensi film Tapi kalau kalian perlu pertimbangan untuk menonton film Fantastic Beasts and Where to Find Them, silakan baca sampai akhir, karena saya jamin tulisan ini bebas spoiler. Sebagai informasi, standar spoiler saya tinggi, jadi jangan khawatir.

Pertama-tama, saya harus mengakui bahwa saya bukan Potterhead. Ya, saya sukaaa sekali buku Harry Potter, saya juga menonton semua filmnya. Saya memahami dan mengagumi konsep besar dunia Harry Potter, saya masih sesak dan menangis membaca/menonton kematian karakter-karakter di buku kelima dan seterusnya. Namun, jika ditanya buku atau film terfavorit, bukan Harry Potter jawaban nomor satu saya. Saya juga tidak hafal detail isi bukunya karena saya baru membaca dua kali.

Saya adalah fans berat madam Rowling, hampir semua karya utamanya sudah saya baca, dan saya suka semuanya. Saya suka gaya penulisannya, saya suka karakter-karakter rekaannya, saya suka dunia yang dibangunnya, saya suka dunia yang digambarkannya, saya suka jalan ceritanya, saya suka dikejutkan dengan segala plot twistnya, saya puas dengan bagaimana dia mengakhiri buku-bukunya. Singkat cerita, saya adalah fans karya-karya J.K.Rowling. Dan, saya rasa ini adalah alasan yang lebih dari cukup mengapa saya harus menonton Fantastic Beasts. Terlebih naskahnya langsung ditulis oleh J.K.Rowling, tak perlu berpikir dua kali.

Hal pertama yang saya rasakan saat memasuki bioskop adalah bersemangat, gugup, tidak sabar, penasaran, yah, rasanya mungkin seperti hendak bertemu cinta pertama yang belum pupus. Antara bersemangat karena sudah rindu, gugup apakah masih sekeren yang dulu, tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama lagi, dan penasaran akan seperti apakah dia saat ini.

Sepanjang film, saya merasa seperti berada di acara reuni teman yang sudah lamaaa sekali tidak berjumpa. Mereka membawa kisah-kisah baru yang membuat saya terpesona, tetapi sekali waktu ada kisah lama atau orang-orang yang familiar juga, yang membuat saya ingin menyeletuk, “Ah, iya…, pasti itu dia…. ya, aku ingat…”, dan seterusnya.

Setelah film berakhir, saya merasa bahagia, saking bahagianya hingga saya ingin menangis. Saya menangisi keindahan cinta lama bersemi kembali ini. Perasaan yang hampir sama seperti saat saya kembali menengok dunia Harry Potter, baik melalui buku atau film, seperti terperangkap dalam sihir sang penulisnya.

Baiklah, itu perasaan saya, sekarang coba kita bahas sedikit saja filmnya.

Nama Newt Scamander, sang penulis buku pelajaran tentang hewan-hewan ajaib yang berjudul sama seperti film ini beberapa kali muncul dalam buku Harry Potter. Namun, saya tidak membayangkan bahwa Scamander bisa semenawan itu. Mungkin karena Newt muda, penyayang binatang, dan gelagatnya yang canggung itu memang cukup menggemaskan. Selain Newt, karakter lain juga sama kuatnya dalam hal meninggalkan kesan. Masing-masing karakter bisa langsung kita nilai sifat permukaannya. Pun ikatan antarkarakter sudah mulai nampak cukup kuat. Kita bisa melihat bibit persahabatan dan percintaan tumbuh di sini.

Namun, bukan J.K.Rowling kalau tidak penuh kejutan. Para karakter itu bisa saja berbeda dari apa yang terlihat di awal, mereka punya luka, punya masa lalu, punya rahasia. Oleh karena film ini masih akan ada empat sekuel lagi, jadi masih banyak yang bisa dan akan digali dan diungkapkan oleh mereka. Seperti masa lalu dan posisi Newt yang masih banyak sekali belum diungkapkan. Termasuk karakter-karakter kejutan yang dimunculkan, baik itu nama yang familiar, atau wajah yang familiar.

Secara visual, film ini cukup memanjakan mata. Terutama bagian-bagian yang menunjukkan fantastic beasts and where to find them in this movie.

Secara plot dan alur, film ini sudah menjanjikan kisah kompleks yang penuh dengan twist. Khas madam Rowling, kita bisa melihat realitas sosial melalui bingkai kecilnya. Konflik besarnya sendiri belum muncul. Jika dianalogikan dengan Harry Potter, film ini seperti seri pertama atau kedua yang sudah mulai memunculkan tanda-tanda jahat Voldemort, tetapi suasana kisah masih relatif menyenangkan. Dan memang film ini menyenangkan, lucu, masih ada humor di sana-sini, walaupun tidak mengurangi ketegangan yang muncul saat ada tanda-tanda kegelapan.

Film ini menurut saya menyasar penonton remaja-dewasa, tetapi anak-anak (terutama pembaca Harry Potter) dengan bimbingan mungkin masih bisa. Labelnya 13+, adegan seksual hanya ciuman, tidak ada kata-kata kotor, adegan kekerasan sedang.

Yang jelas, jangan berharap banyak karena tampaknya sang kreator masih menyimpan banyak ‘amunisi’ untuk dikeluarkan di film-film berikutnya. Bersiaplah untuk bernostalgia, terkagum-kagum, tergelak geli, serta terharu dengan para teman baru kita.

 
1 Comment

Posted by on November 23, 2016 in My Thoughts

 

Legitimasi untuk Membenci

Pekan ini, sebuah kejadian penting terjadi di sebuah negara (yang katanya) adikuasa. Negara (yang katanya) menjunjung kebebasan dan demokrasi, Namun, bukan hanya itu, sudah bertahun-tahun sebenarnya saya merasa bahwa kebanyakan manusia tidak hidup dengan idealismenya sendiri, kebanyakan kita hidup dengan apa yang dianggap banyak orang sebagai benar atau layak.

Contoh kecil saja, di tingkat lingkungan tempat tinggal, seberapa banyak orang mau mendobrak kebiasaan atau tradisi yang dirasanya tak perlu dan menghadapi omongan orang/tetangga? Terlebih jika seseorang itu ‘berbeda’, dalam artian asal-usul, status sosial, ataupun kondisi ekonomi, tantangan yang dihadapinya semakin berat. Orang membangun rumah dengan pagar tinggi untuk menghindari pencuri justru dibilang tak mau bersosialisasi. Orang tak mau hadir arisan dengan alasan pekerjaan dikatakan sombong tak mau bergaul. Cap semacam ini biasanya muncul sepihak, praduga, asumsi, lalu disebarluaskan dan menjadi semacam ‘sabda’ bahwa masyarakat yang ideal adalah yang sama seperti ‘kami’.

Dalam tatanan yang lebih luas, akan ada istilah pribumi dan nonpribumi yang sebenarnya sudah usang tetapi tetap dipergunakan hingga hari ini. Etnis tertentu yang kebetulan memiliki ciri fisik berbeda dengan kebanyakan orang disebut nonpribumi dan dianggap bukan bagian dari bangsa Indonesia. Padahal KTP mereka jelas Warga Negara Indonesia, bahkan mungkin kakek-kakek mereka berjuang memerdekakan Indonesia, bahkan mungkin rasa nasionalisme mereka lebih tinggi daripada yang mengaku-aku sebagai pribumi. Saya tidak bicara upacara bendera, menggunakan bahasa daerah, atau hal-hal remeh semacam pakaian. Bagi saya, nasionalisme itu adalah saat cintanya pada Indonesia diwujudkan dengan mendukung kemajuan bangsa; tidak korupsi, berkarya untuk bangsa bukan hanya menikmati kekayaan bangsanya saja, mendukung berkembangnya produk dalam negeri berkualitas bukan sekadar membabi buta menyuburkan produk-produk tidak bermutu.

Sebagian orang Indonesia ada yang secara terang-terangan membenci etnis yang berbeda ini karena berbagai alasan yang sesungguhnya tak bisa dibenarkan. Karena sejak kecil mereka diperkenalkan dengan ‘golongan kita’ dan ‘bukan golongan kita’ dengan cara yang tidak benar. Anak-anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang merasa mendapatkan pembenaran untuk membenci, karena orang-orang tua mereka juga membenci, meski mereka tak tahu alasan sesungguhnya.

Saya ingin percaya bahwa dunia kita (masih) baik-baik saja, bahwa cinta masih menang di atas kebencian. Bahwa para pembenci itu hanyalah sebagian kecil oknum saja. Kemudian di belahan dunia lain saya melihat orang-orang mengeluh tentang kebebasan dan kedamaian mereka. Ada orang-orang yang membantai orang lain karena agamanya. Ada negara-negara yang (katanya) beradab, tetapi saat negara memunculkan pilihan tentang masalah ekonomi dan politik, mereka memilih diri mereka sendiri. Ketika negara memberi pilihan untuk membatasi imigran, membatasi ras yang berbeda dengan mereka, membatasi gaya hidup yang berbeda, orang-orang ini merasa mendapatkan legitimasi, lalu mereka memunculkan sisi yang selama ini mereka sembunyikan.

Kebencian tak lagi disembunyikan, karena negara seolah memberi mereka hak untuk membenci.

Mungkin memang sulit untuk menanamkan bahwa manusia tak boleh dibedakan berdasarkan warna kulit atau ciri fisik lainnya. Nyatanya, di negara yang heterogen sekalipun, orang masih bisa membenci saat diberi kesempatan untuk itu. Mereka mampu secara terang-terangan menebarkan teror untuk orang lain saat mereka menjadi mayoritas, saat mereka merasa kebanyakan orang berada di posisi yang sama dengan mereka. Yang lebih menyakitkan adalah, sebagian dari mereka adalah orang yang selama ini (kita kira) kita kenal.

Saya jadi ingat sejarah. Mungkin revolusi, renaisans, atau apapun yang terjadi abad lalu juga seperti ini. Mereka beralih dari idealisme A ke idealisme B, dunia kemudian menganut idealisme B dan orang-orang yang bertahan dengan idealisme A akan menyembunyikan ide mereka. Hari ini, mungkin orang-orang dengan idealisme A sudah cukup kuat untuk bangkit kembali, menggeser idealisme B yang dulu begitu diagungkan, dan mungkin besok akan menjadi usang. Bumi ini berputar, sejarah berulang. Ah, bahkan bentuk bumi pun sekarang diperdebatkan kembali.

 
Leave a comment

Posted by on November 11, 2016 in My Thoughts

 

Hidup Ini Masalah Persepsi

Beberapa hari lalu saya memeriksakan kembali mata minus saya setelah sekitar sepuluh tahun tidak membeli kacamata baru. Sebelumnya saya sudah merasakan keanehan mengenai persepsi saya akan jarak, saya pikir ini karena pengaruh silindris. Setelah dilakukan pemeriksaan kembali, pandangan saya menjadi lebih jelas dengan perubahan (bertambah sebelah dan berkurang sebelah) seperempat minus dan pergeseran sudut lensa silinder.

geometric-1204384_960_720

Ada yang aneh saat memakai kacamata baru ini, memang suatu hal yang lumrah, dan biasanya dalam beberapa jam saya sudah bisa beradaptasi. Namun setelah dua hari, saya tidak bisa meninggalkan perasaan aneh ini. Saya merasakan perubahan persepsi kembali, kali ini persepsi jarak yang berkebalikan dengan kacamata yang lama. Lalu saya berpikir, normal itu seperti apa? Di saat visus sudah sama-sama mendekati 6/6, ternyata tidak menjamin persepsi jarak yang sama, dan saya tidak tahu apakah ada ukuran yang pasti tentang itu. Hal yang hampir mirip pernah saya tulis dalam post tentang buku yang mengubah pandangan saya tentang persepsi di sini.

Mungkin hidup juga seperti itu. Saat kita melihat dengan kacamata kita masing-masing, kita mempersepsikan sesuatu yang normal itu seperti yang kita lihat. Padahal, belum tentu ukuran kita sama. Sebagian mempersepsikan cantik itu adalah pipi yang tirus, sebagian yang lain merasa pipi berisi lebih menawan. Padahal tak ada ukuran pasti tentang tirus dan berisi itu, tak ada patokan berapa sentimeter pipi dikatakan tembam, semuanya relatif.

a_woman_looking_in_the_mirror_at_her_wrinkled_face_royalty_free_clipart_picture_100224-119323-928053

Seperti juga saat kita memandang orang lain, mungkin bagi kita dia baik, tulus, tetapi orang yang melihatnya dari sisi yang berbeda akan menemukan kelemahannya dan menghakiminya sebagai orang yang suka memanfaatkan orang lain. Atau mungkin sebuah permasalahan, yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, bergantung pada latar belakang dan pola pikir si pengamat. Masalah naiknya harga daging mungkin menjadi anugerah bagi peternak dan penjual daging, masalah bagi konsumen dan pengusaha restoran, tetapi tidak berpengaruh banyak pada vegetarian. Namun perubahan sudut pandang lagi, jika mahalnya harga daging menyebabkan penurunan konsumsi, masalah kembali muncul di pihak peternak dan penjual daging.

Era sosial media hari-hari ini seringkali membuat perbedaan persepsi ini menjadi besar, debat tak berujung yang ujung-ujungnya malah mempermasalahkan perbedaan alih-alih masalah itu sendiri. Sosial media saat ini, yang kiranya merupakan perpanjangan dari kebebasan berpendapat pasca reformasi, membuat kita belajar, tak hanya membuat argumentasi cerdas, tetapi tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Berbeda itu biasa, siapa tahu ada astigmatisma di mata normal kita yang membuat pergeseran beberapa derajat saja memberi persepsi yang berbeda tentang hidup yang sama.

2013-03-23-18.30.50.jpg.jpeg

 
Leave a comment

Posted by on May 29, 2016 in My Thoughts

 
 
%d bloggers like this: