RSS

Cerpen Pertama

13 Aug

Hobiku menulis ternyata jarang menghasilkan karya yang utuh. Keajaiban cerpen ini kuselesaikan karena ada deadline, hoho, diikutkan ke sebuah kompetisi, tapi sayang hanya lolos penyisihan… Berbaik hatilah untuk membaca dan berkomentar… ^^

Wajah Masa Lalu

Oleh : Busyra (Des 07)

Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke rumah ini. Rumah yang besar dan nyaman. Rumah yang diisi oleh perabot-perabot mahal yang tampak terawat. Rumah yang dinding-dindingnya dihiasi oleh wajah yang tidak asing. Wajah yang menemani masa-masaku di bangku sekolah. Wajah yang selalu ada untukku dalam suka, duka, sampai … .

”Hei, ngelamun…itu lho kakakku, Linda, yang sering kuceritakan. Yang di samping fotoku itu,” kata Meta mengagetkanku.

“Ya, aku tahu,” sahutku sambil mengambil buku yang diberikannya kepadaku.

Lho, kok bisa tahu?” katanya dengan nada tak percaya.

”Ehm, ya, kan mirip,” kataku agak kikuk, aku hampir lupa peranku di sini.

”Ah, kamu sok tahu aja, masa mirip sih. Orang juga sering bilang kami mirip, tapi menurutku ya nggak juga….Eh, duduk dulu ya, kuambilin minum dulu.”

Nggak usah, Met. Aku langsung aja. Mau bersih-bersih rumah. Dah ya, bukunya minggu depan kubalikin, thanks.”

”Ok. Hati-hati ya, Sher,” katanya, yang kubalas dengan senyum dan lambaian tangan.

* * *

Fuuh, aku menghela napas panjang. Aku terduduk di tempat tidurku, pikiranku melayang kemana-mana. Aku masih merasa baru kemarin aku bermain, jalan-jalan, belanja dan pergi sepanjang hari dengan Linda. Linda sahabatku di masa lalu. Yang membuat jiwaku berakhir di panti rehabilitasi.

Seberapapun pahit semuanya, mataku sudah tak kuasa lagi untuk menangis. Sherly yang dulu sudah mati bersama hilangnya shabu-shabu dari daftar belanjanya. Sekarang yang tertinggal hanyalah tubuh yang terduduk lemas, dihantui oleh bayang-bayang masa lalu.

”Ini bukan salahmu, bukan, bukan. Ini takdir. Semua ada hikmahnya,” kuulang-ulang kata-kata itu seperti mantera. Aku menarik napas panjang lagi dan berdiri.  Sepanjang siang itu kuhabiskan dengan membersihkan rumah, mencuci pakaian dan membuat daftar belanja untuk besok.

* * *

Namaku Sherly, aku tinggal di sebuah rumah sederhana warisan orang tuaku. Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Orang tua dan kakakku meninggal tujuh tahun yang lalu dalam sebuah kebakaran. Banyak orang bilang aku beruntung karena selamat dari bencana itu, tapi aku tidak sependapat. Jika aku boleh memilih, aku lebih suka mati bersama keluargaku daripada hidup seperti ini.

Kebakaran tujuh tahun lalu melahap rumah, keluargaku, dan seluruh hatiku. Tak ada yang tersisa selain rumah sederhana yang kutempati sekarang, yang dulunya dipakai ayahku sebagai gudang, dan beberapa rekening bank yang cukup untuk seluruh sisa hidupku.

Tujuh tahun lalu, aku masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Di sekolah mahal, dengan teman yang nakal. Ya, Linda memang bukan tipe anak kesayangan guru. Dia sering membolos, mencontek, tidur saat pelajaran dan membuat masalah di sekolah. Tapi aku senang berteman dengannya, dia baik, enak diajak bicara dan sahabat yang menyenangkan. Aku tetap belajar di sekolah, berperan jadi anak yang baik dan meraih sepuluh besar di kelas. Tapi di luar sekolah aku tetap menemani Linda jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama-sama dengan berbelanja, menggosip, dan semua kegiatan yang dilakukan oleh gadis SMA, selain belajar.

Pertama kali aku tahu Linda memakai shabu-shabu saat dia sakau di kelas. Hari sebelumnya dia dihukum tidak boleh keluar rumah oleh orang tuanya, karena nilai ulangannya merah. Mungkin saat itu persediaannya habis, dan ia tidak bisa keluar rumah untuk membeli barang terkutuk itu. Aku mengantarnya pulang, tidak ada guru yang menyadari apa yang diderita Linda, mereka sudah tidak terlalu peduli saat aku memintakan izin untuknya. Mungkin tak akan ada bedanya untuk para guru apakah Linda benar-benar sakit atau hanya berpura-pura, toh Linda sudah sangat ahli bila ia ingin melarikan diri dari sekolah tanpa surat izin keluar.

Aku sangat cemas, aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Saat kami naik ke taksi, Linda memaksaku untuk tidak mengatakan pada siapa pun apa yang terjadi. Dia juga tidak mau pulang, dan mengajakku ke suatu tempat asing. Dia bertransaksi, menghirup benda yang baru dia beli, dan warna di wajahnya pun kembali.

Aku tidak bisa berbuat apa-apa, meski aku tidak pernah ambil pusing dengan kenakalannya, tapi yang ini tidak bisa ditolerir. Berkali-kali aku membujuknya, berkali-kali aku mencarikannya jalan keluar, tapi aku  terlalu bodoh. Aku tidak bisa, aku tidak membayangkan melaporkan keadaan Linda ke orang tuanya, atau ke guru. Aku terlalu takut, dan terlalu bodoh.

Linda memang dibesarkan di keluarga yang berada. Orang tuanya memiliki tiga orang anak. Tapi mereka terlalu sibuk untuk memperhatikan ketiga orang anaknya. Kedua saudaranya tampaknya tidak memandang hal itu sebagai masalah. Tapi Linda, si anak kedua tampaknya berbeda. Dia memiliki watak yang berbeda dari kakak dan adiknya, dia ingin diperhatikan, terlalu kekanak-kanakan, dan tidak ingin dihalangi bila ia ingin melakukan atau mendapatkan sesuatu. Itulah mengapa Meta si bungsu terlihat lebih dewasa daripadanya.

Orang tua Linda tidak mengenalku, karena mereka terlalu sibuk untuk sekedar mengetahui dengan siapa anak-anaknya bergaul. Begitu pula kedua saudaranya yang tidak pernah dianggap ada oleh Linda. Orang tua Linda mencukupi seluruh kebutuhan materi, dan menganggapnya cukup menggantikan waktu bersama keluarga yang tidak pernah ada. Sebagian besar waktunya dihabiskan bersamaku.

Hal itulah yang menyempurnakan peranku saat ini. Peran sebagai sahabat Meta, berpura-pura tidak pernah mengenal Linda, juga tidak mengenal keluarganya.

Setelah lulus SMA dan menjalani berbulan-bulan di panti rehabilitasi, aku melanjutkan studiku di luar negeri. Dengan beasiswa dari sebuah yayasan sosial internasional, yang terfokus pada anak-anak mantan pecandu narkoba. Saat berangkat, aku sudah segar bugar, tidak ada yang mengetahui masa lalu kelamku. Dan takdir mempersatukanku kembali dengan masa lalu. Setelah takdir mamisahkanku dengan Linda, takdir mempertemukanku dengan Meta, adik Linda. Kami belajar di satu negeri, satu kota, satu kampus, dan satu jurusan. Kami pun berteman, meski sebenarnya aku baru mengetahui bahwa ia adik Linda setelah enam bulan pertemuan kami.

Aku tidak berniat dan mungkin tidak akan pernah menceritakan masa laluku kepada Meta. Biarlah semuanya terkubur dalam-dalam. Biarlah perih ini kusimpan sendiri. Meta selalu bersemangat bila menceritakan keluarga dan kehidupannya, dia bisa membuat semua lebih indah dari kenyataannya. Dia bisa menceritakan kenakalan kakaknya dan membuatnya menjadi wajar dan indah. Hanya kenakalan anak-anak, itulah yang akan kupikirkan seandainya aku tidak mengenal Linda.

Aku tidak pernah menyalahkan Linda, tidak pula merasa dendam kepadanya, apalagi menyesal berteman dengannya. Aku sudah menerima takdirku, setidaknya itulah yang kupelajari di panti rehabilitasi. Tempat itulah yang membesarkan hatiku, sekaligus menghancurkannya. Tempat itu pula yang mengurangi dukaku, sekaligus mengeringkan air mataku. Dan yang tersisa saat ini hanyalah Sherly yang jiwanya hancur berkeping-keping.

Kujalani kehidupan baruku bersama Meta, kuhabiskan masa studiku bersama Meta, dan kubawa pulang gelarku bersama Meta. Dia teman yang baik, seperti Linda. Tapi dia tidak sama dengan Linda, aku tidak bisa memutuskan dengan siapa aku lebih senang berteman, mereka berdua jauh berbeda. Linda sangat bebas, terbuka dan keras kepala. Sementara Meta dewasa, berpikir ke depan dan apa adanya. Seandainya bisa, aku ingin bersahabat dengan keduanya. Tapi takdir telah memutuskan, dan yang tertinggal hanya satu pilihan yang harus kujalani.

* * *

Aku tidak tahu apa yang merasukiku saat itu. Ketika menemani Linda, aku tergoda untuk mencoba. Linda sudah memperingatkanku, tapi peringatan darinya tidak berarti apa-apa, dia bukan ahlinya. Dia bukan ahli menasehati. Tak ada satu kata pun dari mulutnya yang bisa menghalangiku, dia tidak sebijaksana itu.

Mungkin benar kalau pergaulan bisa mempengaruhi seseorang, dan saat itu aku terjatuh ke jurang itu. Berkali-kali kucoba keluar dari jurang itu, tapi terus gagal. Hingga akhirnya aku menyerah, dan menjalani beberapa bulan kehidupan yang hina seperti Linda.

Aku lebih beruntung, orang tuaku menyadari perubahanku. Setelah melalui proses interogasi dan penggeledahan dari mereka, ’barang bukti’ shabu-shabu pun didapat. Dan aku dimasukkan dalam ’penjara’ panti rehabilitasi. Saat di panti itulah bencana maut yang melahap seluruh keluargaku terjadi. Dan jiwaku semakin terguncang sehingga memperpanjang masa penyembuhanku. Panjang dan tak sempurna, setidaknya itulah yang aku rasakan. Mungkin aku telah sembuh, tapi aku tetaplah bukan Sherly yang dulu. Bukan Sherly yang utuh. Tapi siapa yang peduli, bahkan kini sudah tak akan ada lagi yang menyadarinya.

Buanglah sampah pada tempatnya. Mungkin kini aku menemukan arti lain dari himbauan itu. Meski aku sudah menjadi sampah, tapi aku dibuang pada tempat yang benar. Diterima oleh tangan-tangan yang benar dan dirawat dengan benar. Jadilah ’daur ulang’ diriku saat ini. Seorang sarjana dari luar negeri, dari universitas ternama di dunia, gelar yang bergengsi, pekerjaan yang mapan, dan segala yang bisa membuat bangga semua orang. Tapi tak tersisa apapun dari diriku selain itu. Aku tak punya orang tua, tak punya keluarga, dan tak punya hati, semuanya telah pergi.

Berbeda dengan Linda, dia bagai sampah yang dibuang sembarangan, diinjak-injak, dan tetap hanya menjadi sampah. Orang tuanya baru mengetahui setelah sekian lama. Dengan alasan kehormatan keluarga, dia disembunyikan dari banyak orang, tanpa pertolongan dari tangan-tangan yang benar. Rasa kasihan, celaan, tangisan, hanya itu yang dia dapat, bukannya perawatan medis dan sosial. Dia berakhir sebagai pecandu yang over dosis. Yang tidak meninggalkan apapun kecuali kebohongan yang disiarkan orang tuanya dengan alasan kehormatan keluarga. Dan kehormatan yang dikenang adiknya dengan alasan kasih sayang.

* * *

Aku masuk ke rumah itu lagi, dengan dinding-dinding yang sama. Dengan wajah gadis yang sama, sahabatku di masa lalu.

“Bukunya bagus kan, Sher.”

”Ya, bagus,” sahutku pendek.

”Kamu senang ya lihat foto kakakku, kelihatan nggak kalo dia nakal?” katanya dengan nada bercanda.

”Sama sekali nggak. Dia cantik, kelihatannya baik,” jawabku sambil memandangi foto Linda.

”Berarti aku nggak bohong, kan.”

”Ya, dan setelah kulihat-lihat lagi memang benar kamu nggak mirip dengannya,” kataku sambil tersenyum.

S E L E S A I

Sebenarnya cerpen ini bisa dibilang campuran dari berbagai ide yang lama ada di kepalaku, dan setelah tiba saatnya aku harus membuat sebuah cerpen, ide-ide yang tak berhubungan itu menjadi satu dan menjelma menjadi sebuah “Wajah Masa Lalu”.

Jangan lupa, tinggalkan ‘jejak’ di kolom komentar… terima kasih…^^

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on August 13, 2009 in My Short Stories

 

Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: