RSS

KU HARUS

09 Dec

Lagu ini yang pertama kali  membuatku ingin menulis sebuah cerita. Idenya adalah berusaha menguraikan lirik menjadi sebuah cerita pendek. Cerita ini murni imajinasiku, sama sekali tidak berhubungan dengan ide pembuatan lagu maupun pengalaman siapapun. Jangan lupa tinggalkan saran dan kritik. Enjoy! (B-Zee)

KU HARUS (by 6nam 9embilan Band)

Terlanjur ku mencintaimu,
detik demi detik kuberkhayal kau kembali di pelukku.
Tapi semua itu hanya mimpiku,
tuk hadirkan dirimu yang dulu bermesra.

Sungguh ku tlah jatuh cinta dan terbelit kekacauan,
cinta yang berujung dusta,
meremukkan sgala perasaan.
Tak kukira, semua kenangan indah kan berakhir perih,
namun ku harus kuat menghadapinya.
Ku harus.

Hampir saja ku mengakhiri,
tuk hentikan nadi kulupakan sgala yang menekan jiwa.
Bersyukur Tuhan masih menolongku,
merasuk ke jantung hati sadarkan diriku.

KU HARUS

Awalnya aku tak mengira akan bertemu dengan seseorang seperti ‘dia’. Bukan tipe yang bisa mempesonaku, bukan juga seorang yang sempurna untuk dikagumi. Hanya sebuah pertemuan kecil dengan perbincangan yang membosankan, awal pertemuan kami. Saat aku hendak mencari seorang teman di tempat kerjanya, sebuah pabrik sepatu dimana temanku adalah salah seorang karyawan bagian pemasaran, dan takdir mempertemukanku dengan ’dia’, dari bagian pengawasan mutu. Temanku sedang tidak ada di tempat, lalu ’dia’ membantuku dengan beberapa urusan, lalu dimulailah kisah kami.

Saat itu aku hendak mempromosikan sebuah produk olahraga dari tempat kerjaku, kebetulan perusahaan tempatku bekerja adalah supplier untuk beberapa barang impor. Dan aku ditugaskan untuk mencari pasar untuk sebuah alat olahraga. Aku ingat dengan temanku itu, bukan teman dekatku, aku mengenalnya di bangku kuliah dulu, kebetulan kami pernah mengambil mata kuliah yang sama. Dia biasa memasarkan sepatu olahraga ke tempat-tempat terbaik yang sudah memiliki supplier tetap, sedangkan perusahaanku termasuk baru dalam bidang ini.

’Dia’ yang dengan ramah menanyakan maksud kedatanganku, lalu aku menceritakan tugasku dan apa yang kuharapkan bisa kudapat dari sini. ’Dia’ kemudian mengatur segalanya hingga bisnisku dan temanku akhirnya berjalan, dan akhirnya secara resmi kedua perusahaan kami bekerja sama.

Sejak kejadian itu kami masih sering berhubungan. Bukan sesuatu yang istimewa, aku melakukannya karena kesopanan, karena aku membutuhkan bantuannya untuk menyelesaikan beberapa urusan yang telah kumulai itu. ’Dia’ terlanjur masuk dalam bisnisku dan temanku, dan sepertinya ’dia’ yang menjadi begitu penting peranannya. Lalu tanpa kusadari, kami telah menjadi teman yang cukup dekat.

Kami sering pergi bersama, kadang ’dia’ mengajakku bila ada acara dengan teman-temannya, begitu pula sebaliknya. Kami sering membicarakan banyak hal, tentang masalah pribadi, masalah pekerjaan, masalah keluarga, ataupun hal-hal tak penting lain. Aku merasa nyaman bersamanya, tak ada tekanan, tak ada beban, tak ada yang perlu dikhawatirkan.

Bulan demi bulan hingga akhirnya ’dia’ menyatakan cintanya, yang kemudian kusambut tanpa ragu, karena aku yakin sekali aku telah merasakan hal yang sama. Cinta itu semakin lama semakin bertumbuh, rasa yang tak pernah kualami sebelumnya, rasa yang berbeda dari yang sudah-sudah. ’Dia’ membuatku merasakan cinta yang sesungguhnya, setidaknya itulah yang kurasakan saat itu.

Akan tetapi, cinta sejati itu masih misteri, tak sempat kumiliki ’dia’ seutuhnya, seseorang yang kukira adalah cintaku yang sesungguhnya. Suatu hari yang mendung, ’dia’ datang dengan seikat bunga favoritku, tetapi arti dari bunga itu semendung langit di atasku. Sebuah kartu perpisahan menyertainya, kata-kata menyakitkan keluar dari bibirnya, bahwa cintanya selama ini tak serius. ’Dia’ meninggalkanku, yang bahkan belum sempat meneteskan air mata.

Hari itulah terakhir kali aku menemuinya, aku terbelit dalam kekacauan perasaanku, dan tak menyadari apa yang kemudian terjadi. Sebuah berita datang dari temanku, yang juga adalah temannya, bahwa ’dia’ telah meninggal dunia. Sifat egoisnya yang telah kukenal sejak lama, sifat yang selalu berhasil kuhadapi, sifat yang menurutku buruk tapi tetap kuterima karena rasa cintaku yang sangat dalam itu, sifat yang membuatku mengakhiri semua kenangan indah kami dengan perih.

’Dia’ sakit, bertahun-tahun dan aku tak pernah tahu bahwa nafasnya yang selalu tersengal-sengal saat kami bercanda berlarian, bibirnya yang sering menjadi pucat bila kelelahan, dan kenyataan bahwa tubuhnya tak terlalu kuat, adalah pertanda dari penyakit jantung yang dideritanya sejak lahir. Penyakit yang tak membiarkan penderitanya berumur panjang, penyakit yang membunuh kekasihku.

Dan kebenaran ternyata lebih menyakitkan daripada apa yang terlihat. Pada akhirnya kuketahui juga bahwa ’dia’ masih dan selalu mencintaiku sampai akhir nafasnya. Egonya untuk tak melihat air mataku, egonya untuk menutupi semuanya dariku, membuatku menyesal karena tak berada di sampingnya saat ’dia’ meregang nyawa. ’Dia’ mengakhiri kisah kami dengan dusta, bahwa perasaannya adalah palsu, tetapi yang palsu adalah kata-kata dustanya, bukan perasaannya. Dan dusta itulah yang terakhir kali diucapkannya padaku.

Hari-hari berikutnya giliranku menjadi sakit. Aku tak tahu apa yang terjadi pada tubuhku, yang jelas adalah perasaanku remuk redam. Aku ingin marah padanya, tapi ’dia’ sudah tak di sini, aku ingin melepaskannya dengan tenang, tapi aku begitu sedih. Aku meratapi takdirku, aku menghabiskan detik-detik dengan berkhayal tentang ’dia’. Tentang apa yang terjadi bila aku mengetahui fakta sebelum ’dia’ pergi, tentang apa jadinya bila penyakitnya bisa disembuhkan, tentang apa yang bisa kulakukan seandainya ’dia’ tidak begitu egois. Aku berkhayal ’dia’ kembali, tapi itu semua hanya mimpiku, ’dia’ tak akan pernah kembali.

Aku sakit, sungguh aku sakit, tubuh dan jiwaku. Sebuah pisau yang beberapa saat sebelumnya kuambil dari dapur, kini kugenggam di tangan kananku. Kugoreskan beberapa kali di lengan kiriku. Aku berputar-putar dalam kamar, mengumpulkan segenap keberanian untuk menempuh jalan menyusulnya, untuk meminta kembali janjinya dan menarik semua kata dustanya. Atau bila ternyata aku tak bisa bertemu ’dia’ di sana, paling tidak aku ingin mengakhiri rasa sakit ini, perasaan yang menyiksa dan menekan jiwaku.

Aku sudah menempatkan pisau di leherku, tepat di atas nadi terbesar yang kurasakan denyutannya. Kemudian mataku terpaku di sebuah buku yang kubiarkan di sudut rak yang ada di hadapanku. Sebuah buku yang sudah lama kuabaikan di sana. Dulu aku sering menulis di dalamnya, tentang ajaran agama, tentang kebesaran Tuhan, tentang setiap pelajaran yang kudapatkan saat aku masih sering belajar agama. Seketika itu juga perasaan hangat menjalar di seluruh tubuhku, aku merasa ada kekuatan agung yang masuk ke dalam jantungku dan mengalir melalui nadi-nadiku.

Aku tersadar dari kegilaan ini, aku ingat aku masih memiliki Tuhan. Aku menyadari bahwa ini adalah bagian dari ujian hidupku. Aku bukanlah orang yang paling menderita di muka bumi ini. Semua orang memiliki masalah, dan bunuh diri bukanlah jawaban. Semua perih, sakit hati dan perasaan yang hancur lebur ini harus bisa kuhadapi. Aku harus kuat menghadapinya, KU HARUS.

B-Zee

Akhir November 2010

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2010 in Song's Story (My Version)

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: