RSS

Ku Tak Bisa

09 Dec

Lagu manis lain, sekali lagi cerita ini tidak berhubungan dengan pengarang laguya maupun inspirasi serta ide dari pembuatan lagu itu sendiri. Cerita ini merupakan inspirasi dari penulis cerita yang terinspirasi dari lagu ini.

KU TAK BISA (by De Spectrum)

T’lah lama ku memujamu,
sejak awal mengenalmu.
Kaulah penyejuk kalbuku,
terangi jiwa yang sepi.

Indahmu getarkan rasa,
bertabur cahaya cinta.
Mungkinkah mimpiku nyata,
milikimu s’lamanya.

Ku tak bisa berpaling darimu,
meski kau tak inginkan aku.
Kurelakan s’luruh jiwaku hanya demi mencintaimu.
Ku tak sanggup lupakan cerita,
yang dulu s’lalu temaniku,
Ku mencintamu lebih dari yang kau kira dan kau rasakan.

Menatap indah dirimu,
berharap balas cintamu.
Adakah kau inginkannya,
seperti ku inginkanmu.

Indahmu getarkan rasa,
bertabur cahaya cinta.
Mungkinkah mimpiku nyata,
milikimu s’lamanya.

KU TAK BISA

Sekitar dua tahun ini aku sendiri, setelah putus dengan pacarku yang terakhir. Sejak saat itu aku mulai membentengi diriku, bukan menutup diri sepenuhnya, hanya saja aku lebih berhati-hati pada setiap laki-laki yang mendekatiku. Dan mungkin karena itu pula sampai sekarang aku belum menemukan sosok yang bisa kupercaya untuk masuk dalam kehidupanku.

Tahun ini aku memulai semester baru, dimana hari-hariku dipenuhi kuliah yang semakin padat, belum lagi tugas-tugas yang seringkali menumpuk. Aku semakin jarang menghabiskan waktu bersama teman-temanku seperti semester-semester sebelumnya. Lalu aku bertemu denganmu, di depan ruang kuliah, kamu menanyakan tentang kuliah minggu sebelumnya yang tak kamu hadiri. Kamu bukan orang yang sama sekali asing, karena beberapa semester sebelumnya kita pernah sekelas juga. Tetapi baru kali itu kita saling menyapa. Aku menjelaskan materi kuliah itu dan meminjamkan catatanku. Hanya itu yang terjadi.

Keesokan harinya, saat kamu mengembalikan catatanku, kita berbincang agak lama mengenai beberapa mata kuliah yang kita ambil, tentang ujian dan tentang tugas. Aku mengagumi caramu menghadapi perkuliahan ini, sangat serius tapi tetap kamu bisa menikmati kehidupanmu, dan aku menilaimu adalah orang yang cukup bijaksana.

Akan tetapi ada satu hal yang paling membekas sejak awal aku mengenalmu. Suatu hal yang sederhana, bukan sesuatu yang besar, caramu berbicara denganku. Mungkin juga sebenarnya sama seperti kepada semua orang, tapi siapa yang peduli, yang jelas aku merasakan kehangatan itu. Setiap kata yang kamu ucapkan dalam perbincangan singkat kita seperti air hujan yang membasahi kalbu yang kering oleh kemarau panjang, atau seperti petir yang mengusir kesepian jiwa, semuanya memukauku.

Sejak itu, aku sering mencuri kesempatan untuk berbincang denganmu, mencari-cari alasan supaya dapat bertemu denganmu, semua kulakukan dengan halus, supaya kamu tidak curiga. Semakin banyak waktu yang kita habiskan, semakin aku mengagumimu. Semakin aku mengenalmu, semakin aku memujamu. Dan semua benteng yang kubangun selama dua tahun itu langsung runtuh seketika, tanpa aku berpikir jernih, karena aku tak bisa.

Semakin kita dekat, semakin banyak hal yang kita bagi. Di saat senang maupun sedih, kamu bisa mengatasi semua perasaan itu. Aku bercerita tentang masalah-masalahku, dan meski tak semua solusi yang kamu tawarkan bisa memberikan jalan keluar, tapi aku selalu merasa nyaman dengan itu. Kamu bisa menghiburku, kamu bisa membuatku tersenyum lagi, kamu bisa membuatku melepaskan semua emosi yang tertahan, dan yang terpenting adalah kamu mengerti aku. Kamu tak pernah menyalahkanku meskipun aku salah, kamu menasehatiku dengan halus, tak pernah sedetik pun kamu mengecewakanku dengan sikapmu.

Kamu mempercayaiku, kamu membagi pula ceritamu padaku. Saat kamu marah, sedih, kecewa, sakit hati, bahagia, dan semua hal yang tak bisa kamu sampaikan kepada semua orang. Kamu tak menuntut solusi dariku, kamu berbicara, dan setelah itu terlihat rautmu yang tetap tenang dan lega. Kamu menghargai setiap perkataanku meski sebenarnya kamu tak setuju. Sesekali saat kita sedikit berselisih, dan aku merasa kesal, kamu bisa membuatnya tak bertahan lama hingga akhirnya aku jatuh lagi pada kekagumanku padamu.

Sejak mengenalmu, aku menyadari bahwa selama ini aku sangat kesepian, bahwa benteng yang kubangun itu tak membuatku lebih baik. Setiap kata-kata yang kamu ucapkan bisa meruntuhkan opini yang selama ini kuyakini, dan semakin lama semakin aku menyadari bahwa setiap yang ada pada dirimu membuatku semakin mencintaimu. Tanpa sadar aku bermimpi, tentang kita, tentang hari-hari kita di masa depan. Mimpiku yang paling indah dan paling kuinginkan, memilikimu selamanya.

Meski begitu, aku tak bisa menunjukkan semua itu padamu, aku tak bisa mengungkapkannya, dan aku tak bisa memaksamu. Kita sudah banyak berbincang, kita sudah sering bertukar cerita, dan kamu pun telah menceritakan mimpimu saat itu. Kamu sedang jatuh cinta, pada temanmu yang kini sedang kuliah di jurusan lain di kampus ini juga. Aku menatap matamu, melihat jauh ke dalam hatimu, semua hal yang kukagumi darimu. Aku tahu kamu begitu menginginkannya, sama seperti aku menginginkanmu. Aku bisa melihat di matamu saat kamu membicarakan tentangnya, sinar yang sama dengan sinar yang menerangi jiwaku saat memikirkanmu.

Hari demi hari kucoba untuk melepaskan perasaanku, tapi tetap saja aku tak bisa berpaling darimu, meskipun aku tahu kamu tak pernah menginginkanku. Aku rela dengan semua perasaan ini, aku tetap merelakan waktu dan energiku untukmu, hanya karena aku begitu mencintaimu. Bantuan apapun yang kamu butuhkan, termasuk untuk mendekati dia, kuberikan meski itu harus melukaiku.

Aku pun mulai mendekatinya, kukatakan bahwa aku adalah temanmu. Dia masih mengingatmu, kami bertukar cerita tentangmu. Dia adalah seorang yang sangat baik, dia mudah bergaul, dan dia juga sering memujimu. Aku berlagak sebagai sahabat yang baik untukmu, aku membicarakan kebaikanmu dan bagaimana bahagianya aku bila kamu bisa mendapatkan orang seperti dia. Aku pun tak membutuhkan banyak waktu untuk mengetahui bahwa dia sudah merasakan hal yang sama dengan yang kamu rasakan, yang sebenarnya juga aku rasakan.

Aku ikut berbahagia demi kamu. Hari-hari yang menghancurkan jiwaku itu kujalankan dengan tulus demi kamu. Kamu sangat sempurna di mataku, dan kamu selalu menganggapku sahabat yang baik. Kamu menganggap rasa sayang yang kuberikan itu adalah rasa sayang seorang sahabat. Dan semua taburan cahaya cinta darimu hanyalah cinta seorang sahabat. Mungkin karena akulah yang sejak awal membuatnya terlihat seperti itu.

Aku mencintaimu, kamu tak pernah tahu itu, aku tak membiarkanmu untuk tahu. Sekarang kamu berbahagia dengannya, dan kamu tak akan bisa merasakan betapa dalamnya perasaanku. Aku tak akan melupakan cerita-cerita kita, canda dan tawa yang telah kita lalui. Karena aku sangat mencintamu, lebih dari yang kaukira dan kaurasakan.

B-Zee

Awal Desember 2010

Ini efek lagunya yang sangat gombal jadi ceritanya lebih gombal lagi. Love the song, anyway. Forgive me for the story.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2010 in Song's Story (My Version)

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: