RSS

Somebody For Someone

09 Dec

Cerita ini terinspirasi dari lagu, bukan latar belakang dari lagu itu. Tidak menutup kemungkinan jika makna dari lagu itu berbeda dengan cerita yang dituangkan oleh penulis. Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan saran dan kritik ^^

SOMEBODY FOR SOMEONE (by The Corrs)

There’s a deep girl in the corner shop
Selling sugar for money in the dead of the night
And her soul’s in the sugar and her heart’s in the mud
And she’s crying with a stranger
For someone to love
And she sings

Look at me, see me, look at me, save me
Free me, find me ‘cos if there’s
Somebody for someone, yeah look at me
Somebody for someone

There’s a deep boy at the corner shop
Watching sugar sell for money to the dead at night
And he sees in her an angel in the cruelest of worlds
Hiding in the darkness
Screaming out for love
And he sings

Somebody’s gonna make it right

Yeah I wanna be
I know there’s gotta be
You’ve gotta be
Somebody for someone.

SOMEBODY FOR SOMEONE

Seorang pengembara, orang-orang biasa menyebutnya seperti itu. Yang terlihat hanyalah sosok seorang wanita muda biasa, dengan penampilan seadanya yang kurang menunjukkan kepribadiannya. Bila tak mengenalnya, orang hanya akan melihat seorang wanita dengan ransel kecil yang selalu dibawa kemana-mana, pakaian dan sepatunya bersih tapi sudah tak baru lagi. Padahal sesungguhnya ransel, pakaian dan sepatu itu telah membawanya berkeliling ke berbagai sudut kota di negeri ini.

Tak ada yang tahu persis dari mana asalnya dan siapa dia. Orang-orang dari kota yang telah dilewatinya mengenalnya sebagai wanita yang baik dan murah hati. Tak ada yang tahu namanya, tetapi mereka selalu menyebutnya ‘somebody for someone’.

Suatu ketika, di sebuah toko di sudut kecil pinggiran ibukota, seorang gadis belasan tahun masih menunggui dagangannya. Dia menjual gula-gula buatan rumah, demi beberapa perak uang logam. Meski malam sudah semakin larut, dia masih berharap orang-orang yang masih di jalanan untuk pulang dari tempat kerja mereka berkenan untuk mampir. Tetapi penampilan lusuh serta wajah kelelahan dari gadis itu tak menggerakkan hati banyak orang untuk sekedar membeli sebuah gula-gula beraneka warna yang masih menghiasi bagian depan toko itu.

Tampaknya hanya gula-gula itu warna cerah yang nampak. Karena semakin larut malam, semakin muram pula gadis itu. Hidupnya esok hari bergantung dari gula-gula dagangannya. Jiwanya terikat oleh gula-gula itu, sementara hatinya kini berkubang dalam lumpur perasaannya yang semakin hancur karena tak bisa mendapatkan sesuatu untuk orang tuanya yang menunggu di rumah, sambil membuat gula-gula lain untuk dijual kembali keesokan harinya.

Lalu seorang wanita muda dengan ransel berhenti di depan tokonya. Dengan penuh harapan gadis itu berusaha sepenuh hati menawarkan gula-gulanya. Wanita itu hanya diam, memandangi gadis itu dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Ekspresi itu membuat gadis itu meneteskan air matanya, bukan karena dia sedih karena dagangannya yang masih banyak, bukan pula karena takut atau khawatir. Dia melihat, dari mata itu terpancar sinar yang dicarinya selama ini. Tatapan yang mungkin sudah lama dilupakannya, cinta. Gadis itu bernyanyi, nyanyian tersedih yang bisa dinyanyikan untuk meminta cinta, rasa aman, dan kebebasan.

Di sudut kota lain, seorang bocah laki-laki duduk di sudut tokonya yang sempit. Dia memandangi manisan dagangannya dengan putus asa. Setiap orang yang lewat hanya menyerngitkan dahi melihat penjual manisan yang begitu lusuh di toko sempit yang hampir digusur. Beberapa berkata kasar bila bocah itu mencoba menawarkan manisannya, beberapa berpura-pura tak melihat, beberapa hanya tersenyum kecut bila si bocah menawarkan untuk mencicipi dulu manisan itu.

Bocah itu hidup dalam kegelapan kota di tengah malam yang semakin dingin. Kadang bila dia ingin menangis, dia akan meringkuk di sudut yang paling gelap hingga tak ada yang bisa melihat air matanya. Dia berteriak tanpa suara, dia meminta belas kasih. Dia butuh receh-receh itu, sekedar uang logam untuk bisa hidup.

Di tengah malam itu, seorang wanita muda dengan ransel berjalan pelan. Bocah itu melihatnya, di kegelapan sudut kota, dia begitu bercahaya. Sebuah senyuman dari wanita itu, perak-perak yang dikeluarkan saat menerima sekantong manisan yang tak seberapa, bocah itu melihat sosok yang sudah lama tak dilihatnya. Dia melihat malaikat penolong yang dulu sering hadir dalam mimpi-mimpi di siang yang hangat. Kini malaikat penolongnya datang, dan bocah itu menyanyikan kidung termanis yang bisa dinyanyikannya, meminta cinta, rasa aman, dan kebebasan.

Hampir seisi kota mengenalnya, ’somebody for someone’ akan datang di masa-masa tersulit mereka. Akan tetapi semakin lama semua orang semakin melupakan sosok itu, yang dulu mereka lihat berkeliling negeri ini. Kini ’somebody for someone’ bukanlah seorang wanita muda dengan ransel, dia bisa siapa saja, bisa saudara mereka, bisa tetangga mereka, bisa teman mereka, atau bahkan musuh mereka.

Nyanyian meminta cinta, rasa aman, dan kebebasan masih terdengar di sudut-sudut kota itu. ’Somebody for someone’ masih sering hadir dan terlihat, dan mereka akan hadir dengan kidung indah itu, yang menggugah siapa saja yang masih memiliki hati nurani untuk sekedar menjadi orang yang dikirimkan untuk seseorang. Seseorang untuk melihat apa yang orang lain tak bisa melihat, mendengar apa yang tak bisa didengar setiap telinga, merasakan apa yang tak semua hati bisa merasa, menemukan apa yang tak dicari oleh jiwa-jiwa yang tertutup.

B-Zee

Awal Desember 2010

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 9, 2010 in Song's Story (My Version)

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: