RSS

Tujuh Belas Tahun

09 May

By : B-Zee (08 May 2011)

Aku tak percaya aku mengemudi ke tempat itu. Tujuh belas tahun yang pernah kami janjikan datang hari ini. Saat dia pergi jauh dari tempat kami dibesarkan bersama, kami berjanji akan bertemu di tempat ini, sebuah bangunan pencakar langit tempat kami sering menghabiskan sore hari menatap matahari tenggelam ditelan cakrawala kota dengan lampu berwarna-warni. Dan sesekali datang di pagi-pagi buta melihat dari sisi yang lain, menunggu matahari terbit dari balik bangunan-bangunan tinggi di seberang sana.

Sebenarnya aku telah melupakannya, kalau bukan karena aku mencatatnya di buku catatanku, yang paling banyak hanya kubuka sekali dalam beberapa bulan. Tepatnya dua bulan lalu ketika aku membuka-buka catatan-catatan lamaku, bernostalgia dengan kenangan yang kutuliskan pada masa-masa itu, mengingat kembali sosoknya, yang walaupun sering kulupakan, tetapi sekali mendengar namanya aku seolah kembali ke masa-masa itu. Aku bisa melihat gambaran jelas wajah dan suaranya, aku mengingat beberapa kenangan yang berkesan dalam benakku, dan catatan itu membuka kembali lembaran-lembaran detail yang kulupakan.

Tujuh belas tahun semenjak dia pergi, semakin lama waktu berlalu, semakin jarang aku mengingatnya. Hanya dua dari sepuluh buku catatanku selama bertahun-tahun kehidupanku yang memuat tentang dia, karena aku memang baru menghabiskan dua buku sejak aku mulai senang menulis hingga kepergiannya. Dan jika kebetulan dua buku itu yang tertangkap mataku untuk kubuka kembali, barulah aku mengingatnya. Tahun demi tahun berlalu tanpa keberadaannya, di antara kesibukan dan kepadatan yang kualami sehari-hari, sulit rasanya untuk menyimpan segalanya dalam memoriku. Kenangan yang kualami di masa-masa itu semakin memudar dan tersingkir.

”Aku akan kembali, pada tanggal 17 pada bulan yang sama tujuh belas tahun lagi. Kita akan bertemu untuk melihat matahari tenggelam pada tanggal itu. Datanglah.” Itulah yang dia katakan, tapi sekarang matahari sudah tenggelam, satu jam berlalu dan aku masih sendirian di ruangan ini. Tak ada tanda-tanda kehadiran siapapun di tempat ini. Sudah lima tahun sejak tempat ini ditutup untuk umum, tetapi tidak ditutup sama sekali. Beruntung, karena sesekali di saat aku butuh menyendiri, aku masih sering pergi ke sini, meski hal itu juga tak selalu menumbuhkan memori masa-masa bersamanya.

Dia adalah orang yang selalu menepati janji, itulah salah satu kesamaan kami. Kami sangat membenci kebohongan. Tetapi bukan itu masalahnya. Masalah yang sebenarnya adalah, jika aku saja nyaris melupakan hari ini, bukan tidak mungkin dia sudah melupakannya juga. Aku mengingatnya karena kebetulan saja, dan aku pun tak tahu apakah dia berhasil mengingat hal ini atau tidak. Buatku janji adalah janji, aku akan menunggu, paling tidak hingga tanggal tujuh belas yang dijanjikan ini berlalu. Meski aku terus menanamkan dalam pikiranku bahwa aku tak boleh terlalu berharap, karena aku takut kecewa, tetap saja aku gelisah menatap pintu masuk.

Tiga jam berlalu, aku memainkan handphone untuk menghilangkan kejenuhan dan mengurangi kecemasanku. Tetap saja rasanya waktu berjalan sangat lambat. Jika dia ingat, dia pasti datang, itulah hal yang kupercaya hingga detik ini. Jaraknya sangat jauh, masih mungkin dia terlambat, lalu lintas masa sekarang sulit ditebak, dia bisa saja terjebak kemacetan di luar sana. Aku gelisah, aku mondar-mandir tidak karuan. Semakin lama aku bisa mendengarkan detak jantungku sendiri.

Aku lelah sekali, hari ini aku sudah mengalami hari yang melelahkan selain sore yang menegangkan ini. Jam tanganku sudah menunjukkan waktu tengah malam, sia-sia saja, aku sudah berhenti berharap. Tetapi tetap saja aku tidak beranjak dari tempat itu. Aku meneguk sisa minuman dari botol yang kubawa dan melemparkannya ke tong sampah di sudut ruangan itu. Aku mulai menguap, beberapa kali. Aku masih berkeliling sesekali memandang ke jendela, menatap lampu-lampu dari rumah, mobil, dan jalanan di bawah sana.

Sudah pukul satu, dan aku sudah benar-benar lelah. Aku mengambil tempat di kursi tepat di ujung ruangan ini. Kursi panjang yang menghadap ke jendela di sebelah timur, dengan sandaran yang empuk dan nyaman. Aku terlalu lelah, tak tahu kenapa aku masih berada di sini, dan terlalu mengantuk untuk mengemudi dan pulang. Aku menaikkan kakiku di kursi itu, dan meletakkan kepala di atas lututku. Dari jendela sesekali terdengar lalu lalang mobil dari jalan, dan sorot lampu-lampu yang tampak redup dari sudut mataku.

Entah berapa lama aku menutup mataku, belum sepenuhnya tertidur kurasa, tetapi terlalu berat untuk sekedar bergerak. Aku merasakan kesadaranku semakin berkurang, tetapi suara lalu lintas di luar masih terdengar olehku. Tiba-tiba aku merasakannya, sentuhan lembut di punggungku dan suaranya memanggil namaku. Dia, aku yakin itu dia, aku mengenali suaranya dengan sangat jelas. Dia berusaha membangunkanku, mengguncang pundakku perlahan, tetapi aku tidak bergerak. Aku merasakannya, aku merindukannya, tetapi aku tidak bergerak, aku bahkan tidak membuka mataku. Aku hanya menikmati sentuhannya, aku takut bila aku membuka mataku ternyata dia tidak ada, dan ternyata aku hanya bermimpi atau mengkhayalkannya.

Aku terbangun karena silau cahaya matahari yang masuk melalui jendela di hadapanku. Tubuhku terasa kaku karena tertidur dalam posisi ini semalaman. Dalam kesadaran yang semakin terbuka, aku ingat sepenuhnya apa yang terjadi tadi malam. Aku memandang ke sekeliling ruangan ini, mengharapkan tanda-tanda kehadirannya, tetapi tak ada siapapun, mungkin benar yang semalam itu hanya mimpiku saja. Aku merenggangkan tubuhku, mengusap-usap wajahku dan bersiap untuk pergi.

Baru beberapa langkah menuju ke pintu, aku menangkap wajah itu. Wajah yang lama tak kulihat, wajah yang sudah banyak berubah, tapi aku yakin itu dia. Dia duduk di sebuah kursi yang sebenarnya dekat dengan tempatku tidur semalam, tetapi tak tertangkap oleh mataku. Dia berdiri, tersenyum, dan menghampiriku. ”Maaf, pesawatku terlambat,” katanya. Rasa terkejutku hanya bertahan beberapa detik, kami saling tersenyum dan berpelukan. Akhirnya, setelah bertahun-tahun, aku menemukannya kembali. Akhirnya semua bukanlah hanya sekedar mimpiku saja.

Kisah ini boleh dimaknai apa saja. Hanya apa yang ingin dituangkan penulis saat imajinasi sedang menghampiri.  🙂

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on May 9, 2011 in My Short Stories

 

Tags:

3 responses to “Tujuh Belas Tahun

  1. Opat

    November 3, 2015 at 8:35 AM

    Dibangunin Pak Satpam nggak gerak. Wahahahahahah *salah fokus*

     
    • bzee

      November 3, 2015 at 9:30 AM

      lol, kenapa? Familiar? 😀

       
      • Opat

        November 3, 2015 at 9:49 AM

        hahahaha enggak. Aku mbayaginnya lucu aja =)))

         

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: