RSS

Teman Kecilku

19 May
Sudah lama sekali ingin menulis cerita anak-anak, akhirnya jadi juga cerita ini. Cerita ini sangat bermakna buatku. Semoga inspirasi yang kuberikan tidak menyesatkan anak-anak yang membacanya 🙂

Teman Kecilku (by B-Zee)

Namaku Chira, umurku tujuh tahun, dan aku suka sekali bersepeda bersama ayahku. Tapi itu dulu, sebelum ayah menjadi sangat sibuk. Beruntung aku memiliki teman yang baik, namanya Mimi. Dia juga senang sekali mengajakku bersepeda. Dulu kami bertetangga, tetapi sekarang dia sudah pindah. Meski begitu dia masih sering menjemputku untuk bersepeda bersama. Kami sudah berteman sejak kecil, aku tidak ingat saat itu umurku berapa, yang jelas dia termasuk salah satu teman bermainku yang pertama.

Lima bulan sejak kepindahan Mimi, aku mendapat tetangga baru yang juga seumuran denganku, namanya Rara. Dia juga suka bersepeda, dan sepedanya bagus sekali. Awalnya kami sering bersepeda bertiga, tapi semakin lama kami semakin jarang bisa bersama. Kadang-kadang bila Mimi tak ada yang mengantar, maka aku bersama Rara saja. Kadang-kadang aku berdua saja dengan Mimi karena Rara harus les.

Orang tua Rara sangat sayang  sekali padanya, karena Rara anak tunggal, maka semua yang diinginkan Rara pasti diberikan. Tak jarang pula sifat manja Rara ditampakkan padaku, misalnya saat dia ingin bertukar sepeda denganku, tapi aku tak mau karena aku sangat sayang dengan sepedaku. Meski milikku tak sebagus dan semahal milik Rara, tapi aku lebih menyukai milikku sendiri. Kemudian Rara mulai marah-marah padaku dan kami pun saling mendiamkan. Akan tetapi tidak lama kemudian dia akan minta maaf padaku, dan pada kesempatan lain dia mengatakan bahwa dia ingin bertukar sepeda supaya aku terlihat lebih gaya dengan sepeda mahal.

Lama-lama aku tahu juga sifat Rara, yang meski manja dan keras kepala, dia sangat baik dan tak jarang dia mengalah dariku. Misalnya waktu ulang tahun teman kami, dia bersedia mendapatkan jatah kue yang lebih sedikit supaya aku bisa menikmati kue tart kesukaanku lebih banyak.

Sebenarnya dia juga sangat baik pada Mimi, Rara pernah memberikan boneka beruangnya untuk Mimi, karena tahu Mimi menyukainya. Waktu itu sebenarnya aku ingin marah, karena aku yang meminta boneka beruang itu lebih dulu. Rara bilang dia sudah punya boneka yang sama, orang tuanya lupa bahwa Rara sudah memiliki boneka seperti itu. Tetapi karena dia memberikannya pada Mimi yang juga teman baikku, dan juga karena Rara sudah sering baik padaku, aku tidak jadi marah. Tetapi entah kenapa, suatu hari saat kami tidak sedang bersama Mimi, Rara berkata padaku, “Kita tidak usah bersepeda bersama Mimi lagi ya.”

“Memangnya kenapa?”, tanyaku heran.

“Dia itu jahat, masa kemarin dia bilang belum pernah makan roti isi yang dijual di depan rumahku, padahal aku tahu dia pernah makan. Dia bilang begitu supaya aku berikan jatahku, karena hari itu rotinya habis tinggal sepotong milikku.”

Sewaktu dia bilang seperti itu, aku langsung teringat pada boneka beruang yang diberikannya untuk Mimi. Aku jadi berpikir bahwa Mimi benar-benar jahat, karena saat itu dia pasti tahu bahwa aku juga menyukai boneka itu dan aku yang memintanya lebih dulu. Karena itulah aku menyetujui usulan Rara untuk tidak bersepeda lagi bersama Mimi. Sekarang aku dan Rara yang menjadi jahat dengan berpura-pura memberi alasan saat Mimi mengajak kami bersepeda bersama, sampai pada akhirnya Mimi bosan sendiri dan tidak pernah mengajak kami bersepeda bersama. Dia juga sudah punya teman baru untuk bersepeda bersama, jadi kami tidak merasa bersalah.

Sekarang aku hanya bersepeda bersama Rara saja, kami sering berbagi mainan dan makanan, kalau orang tua Rara mengajaknya piknik, maka aku akan diajak juga, begitu pula sebaliknya. Seringkali aku mengingat Mimi, dan saat itu aku merasa bersalah juga, aku jadi berpikir hanya karena masalah sepele kemudian aku tidak berteman lagi dengan Mimi. Tapi karena Mimi sudah jauh, dan kupikir dia sudah marah pada kami, maka aku pun melupakannya lagi.

Tahun demi tahun berjalan, aku dan Rara sudah berumur sepuluh tahun. Pelajaran di sekolah menjadi cukup sulit sehingga aku mulai sering mengikuti les. Rara juga yang sebelumnya sudah ikut les bermacam-macam semakin bertambah kesibukannya. Kami sudah jarang bersepeda dan bermain bersama, paling banyak kami bersepeda seminggu sekali saat akhir pekan. Kadang juga tidak selalu sempat karena sebulan sekali aku mengunjungi nenekku yang ada di kota lain, biasanya kami sekeluarga naik mobil hingga tiga jam untuk sampai ke tempat nenek.

Suatu sore saat aku baru pulang dari tempat nenek, aku melihat Rara sedang bersepeda bersama teman barunya. Aku tidak tahu namanya, yang aku tahu dia adalah teman sekelas sekaligus teman les Rara juga, jadi mereka sering bersama-sama. Rara menyapaku, tetapi tidak berhenti seperti biasanya. Awalnya aku tidak apa-apa, tetapi beberapa minggu kemudian saat aku di rumah tanpa kegiatan, aku melihat Rara bersepeda bersama teman barunya itu. Padahal sebelumnya aku sudah mengatakan bahwa aku tidak ada les hari itu. Sudah hampir dua bulan lebih Rara tidak mengajakku bersepeda. Terakhir kali aku mengajaknya sebulan yang lalu, katanya dia ada les tambahan, dan kalau sempat dia akan bersepeda dengan teman barunya saja karena mereka les bersama. Sejak saat itu aku tidak pernah mengajaknya lagi, dan Rara pun tak pernah mengajakku.

Tak lama setelah itu, Mimi bersama orang tuanya berkunjung ke rumahku. Aku merasa senang sekali bisa bertemu lagi dengannya. Mimi tidak marah padaku, dia bahkan membawa mainannya yang paling baru untuk dimainkan denganku. Ternyata dia masih baik seperti dulu, dan kami pun berteman lagi. Meski aku tetap tidak bisa bersepeda bersama Mimi lagi, tapi karena orang tuaku dan orang tua Mimi sekarang sering bertemu untuk masalah pekerjaan, seringkali kami diajak sehingga kami bisa bermain bersama.

Aku sadar bahwa aku tidak bijaksana dengan mengatakan bahwa Mimi jahat karena masalah sepele. Setelah berteman dengannya lagi, aku semakin sadar bahwa bukannya Mimi jahat, tetapi kadang-kadang orang memang ingin sesuatu dan berjuang untuk mendapatkannya. Seperti kalau aku merengek-rengek pada ayah supaya dibelikan sepatu baru. Mungkin Mimi salah dengan tidak mendengarkan keinginanku waktu itu, tapi itu terjadi hanya saat itu saja. Semua orang bisa saja salah, tidak ada manusia yang sempurna. Aku pun belajar untuk menghormati keinginan orang lain, karena tidak segala yang berharga bagi orang lain, berharga untuk kita juga. Kita tidak tahu kalau masalah sepele untuk kita bisa sangat berharga untuk orang lain, begitu pula sebaliknya. Karena itu, tidak baik untuk mengatai orang lain tanpa tahu mengapa mereka berbuat seperti itu.

Mungkin Rara pun juga seperti itu. Aku tidak tahu mengapa Rara jadi tidak suka bersepeda denganku, mungkin dia mengira aku jahat, seperti waktu dia mengatakan padaku bahwa Mimi jahat. Atau mungkin juga aku tidak sadar sudah berbuat jahat pada Rara. Aku tidak pernah tahu, karena sebelum aku bisa mencari tahu, aku sudah pindah rumah. Rumah baruku jauh dari rumah kami dulu. Aku hampir tak pernah lagi bertemu dengan Rara, dan semakin jarang bertemu Mimi karena hubungan pekerjaan orang tua kami sudah selesai. Akan tetapi aku tetap mengingat mereka dalam kenanganku, kebaikan dan kejahatan mereka adalah pelajaran yang sangat berharga untukku.

Sekarang umurku sudah dua belas tahun, kata orang-orang aku sudah besar, sudah harus mulai mandiri. Dan Mimi serta Rara tetap ada dalam hatiku, teman-teman baik yang menemaniku beranjak dewasa.

B-Zee, Mei 2011

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 19, 2011 in My Short Stories

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: