RSS

Love Gives Love Takes – I Love You

22 Jun

Another story, kali ini coba buat combo dua lagu, kebetulan bisa nyambung.

Love Gives Love Takes (by The Corrs)

Just when I thought I was safe
You found me in my hiding place
I’d promised never again
I wouldn’t give my heart, but then
Closer, closer I moved near you
The way I want you makes me fear you

Love breaks and love divides
Love laughs and love can make you cry
I can’t believe the ways
That love can give
And love can take away

I find it hard to explain
It’s crazy but it’s happening
And I’m falling again
Much further than I’ve ever been
I’m falling deeper than the ocean
I am lost in this emotion

Love breaks and love divides
Love laughs and love can make you cry
I can’t believe the ways
That love can give
And love can take away

I Love You (by Avril Lavigne)

I like your smile
I like your vibe
I like your style
But that’s not why I love you

And I, I like the way
You’re such a star
But that’s not why I love you
Hey
Do you feel, do you feel me?
Do you feel what I feel, too?
Do you need, do you need me?
Do you need me?

You’re so beautiful
But that’s not why I love you
I’m not sure you know
That the reason I love you is you
Being you
Just you
Yeah the reason I love you is all that we’ve been through
And that’s why I love you

I like the way you misbehave
When we get wasted
But that’s not why I love you
And how you keep your cool
When I am complicated
But that’s not why I love you

Even though we didn’t make it through
I am always here for you

LOVE GIVES LOVE TAKES – I LOVE YOU

“Hai,” sapaku pada seorang pria asing di sampingku.

“Ya?” balasnya ramah.

“Hmm, maaf bisakah aku meminta bantuanmu dengan barangku ini?” kataku menunjuk tumpukan empat kardus di belakang tempat kami berdiri, “Kalau nanti bus jurusan jalur utara tiba, maukah anda membantuku mengangkatnya. Aku takut satu menit tak cukup bagiku untuk mengangkat semua ini sendiri.”

Dia mengangguk, “Kebetulan sekali, aku juga akan naik bus jurusan jalur utara.”

Setidaknya kini aku bisa lega. Seandainya ada pilihan lain selain bus otomatis berpengaturan waktu ini, aku tak mau susah-susah. Lagipula barang-barang sialan ini juga bukan milikku, dan pemiliknya yang berjanji menjemputku tidak bertanggung jawab dengan tiba-tiba membatalkan janji dan membiarkanku naik bus dengan bawaan seberat dua kali berat badanku. Kalau bukan karena kasihan, aku akan meninggalkannya di sini sampai berjamur.

Pria di sampingku menengok jam tangannya, kemudian berkata, “Masih sepuluh menit hingga bus jurusan jalur utara tiba. Dan karena kamu meminta bantuanku, aku harus tahu namamu. Namaku Jona”

“Chira,” jawabku sambil menyambut uluran tangannya. “Maaf ya, aku merepotkan, aku tak tahu lagi harus minta tolong pada siapa, semua orang yang kuhubungi sedang sibuk, jadi terpaksa aku naik bus dengan bawaan tak wajar ini.”

“Tak apa, aku senang bisa membantu.”

“Terima kasih.”

Tepat waktu, bus jurusan jalur utara akhirnya datang. Berpacu dengan satu menit, kami mengangkut barang-barang sialan itu. Di dalam ternyata kosong, hanya kami berdua dan dua orang pasangan tua bersama dua orang cucunya yang masih sangat kecil.

“Kamu turun dimana?” tanyanya tak lama setelah kami duduk.

“Blok D jalur tujuh.”

“Aku turun di blok B, Chira, apakah ada yang bisa menjemputmu di halte?”

“Ah, tidak” aku baru menyadari adanya masalah baru, “Ehm, mungkin nanti akan ada yang naik lagi yang bisa membantuku.”

“Jangan ambil risiko, hmm, apakah barang ini akan segera dipakai?”

“Tidak juga, aku hanya mengamankannya saja. Aduh, seharusnya aku menyadarinya sejak tadi. Sudahlah, tak apa, kalau kamu turun di blok D akan memakan waktu lebih lama untukmu pulang. Aku sudah cukup merepotkanmu.”

“Kalau kubawa dua kardus ini bagaimana?”

“Ha?”

“Kalau dua kardus ini pasti kamu bisa mengangkatnya sendiri, kamu bisa mengambilnya di rumahku kapan saja, ini alamat dan nomor teleponku.”

Tanpa menunggu persetujuanku, dia telah menuliskan alamat dan nomor teleponnya di secarik kertas dan memberikannya padaku. Aku menerima kertas itu sambil memandangnya heran, belum bisa berkata apa-apa.

“Oh, ya, ini,” dia menyerahkan sebuah kartu yang ternyata adalah KTP miliknya, “Ini sebagai jaminan, kamu bisa mempercayaiku.”

“Tapi…”, antara bingung dan tak berdaya, aku tak punya pilihan lain selain menyetujui idenya. Entah bagaimana aku percaya pada pria yang kukenal belum sampai satu jam itu. Sebenarnya aku ingin mengembalikan KTP-nya, tapi kuurungkan niatku, aku tak punya alasan yang masuk akal untuk mempercayai pria itu. Dan KTP itulah satu-satunya hal yang bisa membuatnya masuk akal, jadi aku menyimpannya bersama kertas alamat dan nomor teleponnya.

Bus sudah tiba di blok B, dia turun membawa dua kardus, dan sempat berdiri sambil melambaikan tangan ke arahku.

***

Cinta itu menghancurkan dan mencincangku. Memang cinta bisa membuat kita tertawa, tapi cinta juga membuatmu menangis. Aku tak percaya bagaimana bisa cinta memberi, dan cinta juga bisa mengambilnya kembali.

Aku masih mengingat senyum dan wajahnya, meski hanya beberapa saat kami berbincang, tapi semuanya sangat membekas di hatiku. Aku terpesona sejak aku melihat lambaian tangannya saat bus yang kutumpangi melaju menuju blok D. Terlalu cepat untuk mengatakan bahwa aku jatuh cinta pada Jona. Lagipula aku sudah berjanji tak akan menyerahkan hatiku pada siapapun, tidak untuk disakiti lagi. Mungkin lebih baik tak pernah mengenal cinta. Bertahun-tahun sudah aku menjaganya tak terusik, tak tersakiti, dan tetap bisa bahagia. Dan tanpa cinta, aku merasa aman dan baik-baik saja.

Aku tiba di blok D, dan berhasil menurunkan kedua kardus itu tepat waktu. Jona benar, seandainya dia tidak membawakannya, pastilah barang-barang itu tertinggal di dalam bus. Aku masuk ke apartemenku, meninggalkan kedua kardus itu di lobi, menitipkannya pada satpam dan langsung naik lift ke kamarku di lantai lima.

Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, mengambil ponsel dari tasku dan menelepon Valva, si pemilik empat kardus sialan itu.

“Hallo, Chira, bagaimana bisa bawa semuanya kan? Kamu sekarang dimana? Maaf ya aku tadi ada panggilan mendadak dari bosku dan…”

“Iya, iya, berisik. Aku sudah di apartemen. Kalau mau ambil saja di lobi kapanpun kamu bisa, sudah kutitipkan pada satpam. Tapi baru dua yang kubawa, yang dua lagi kutitipkan pada temanku.”

“Wah, terima kasih Chira, kamu titipkan dimana? Nanti kuambil sekalian.”

“Hmm, ambil yang dua dulu aja ya, Valva. Kamu belum kenal dengan temanku yang ini.”

“Emang siapa?”

“Hmm, ceritanya panjang. Sudahlah, yang penting barangmu selamat, kan. Pokoknya kamu berutang pizza padaku ya, hehe.”

“Iya, iya, Chira sayang, temanku yang paling cantik dan baik hati, besok kita makan siang ya, Dex mau ke luar kota malam ini, jadi besok statusku single, hehe.”

“Lihat besok ya.”

“Okay, dah.”

Aku menutup teleponku, kemudian aku teringat dengan kertas serta KTP Jona. Aku mengambilnya dari sakuku, dan sudah menekan nomornya di ponselku. Aku ragu, tapi akhirnya aku menelepon juga.

“Hallo, Jona?”

“Iya betul, maaf ini siapa?”

“Ini Chira.”

“Oh, Chira, iya, ada apa?”

“Ehm, kamu besok siang ada di rumah?”

“Ada setelah jam sepuluh, aku pergi pagi-pagi sekali besok.”

“Mungkin aku akan mengambil barangku saat jam makan siang.”

“Bisa, aku tunggu ya.”

“Okay, terima kasih Jona.”

“Sama-sama Chira.”

Aku menutup teleponku dan merasakan perasaan yang aneh. Aku tak pernah merasa perlu menelepon seseorang karena urusan semacam ini. Biasanya aku akan menelepon sesaat sebelum aku datang dengan keperluanku, cukup memastikan dia ada di tempat. Aku tak pernah berjanji jauh-jauh waktu seperti ini, apalagi Valva juga belum tentu jadi menjemputku untuk makan siang, seperti biasa, dia bukan tipe pemegang janji.

***

Keesokan paginya, aku berangkat ke tempat kerja seperti biasanya. Untungnya kali ini Valva menepati janjinya, dia menjemputku ke tempat kerjaku dan mampir ke apartemenku untuk mengambil barangnya. Kami melaju ke selatan, menuju blok B, aku menelepon Jona untuk mengabarkan padanya bahwa kami menuju ke sana.

Sesampai kami di alamat yang tertulis di kertas, kulihat Jona sudah berada di beranda rumahnya, kedua kardus itu pun sudah di depan pintu. Ketika melihatku, dia mengangkat kardus itu menuju mobil Valva. Dia tak banyak bicara, tapi senyumnya masih senyum ramah seperti saat aku bertemu dia pertama kali. Aku menyerahkan KTP-nya, dan segera setelahnya aku merasa kami kembali seperti dua orang asing, tak ada lagi pengikat, tak ada lagi alasan bagiku untuk menghubunginya. Kuakui, aku sedikit kehilangan.

Aku dan Valva meluncur kembali ke jalanan, menuju tempat makan siang favorit kami. Tiba-tiba Valva berkata, “Chira, yang tadi itu siapa? Ganteng juga.”

“Teman,” jawabku singkat mengabaikan tatapannya menggodaku.

“Iya, dari kemarin juga kamu bilang gitu, kamu ketemu dimana, dia sepertinya asing gitu.”

Aku menceritakan kejadian kemarin pada Valva. Dan komentarnya singkat tapi menyakitkan, “Tumben kamu percaya pada orang asing, pasti karena dia ganteng.”

Aku tahu Valva hanya bercanda, tapi benarkah senaif itu aku di matanya. Ah, mungkin aku hanya sedang terlalu sensitif saja.

***

Seminggu berlalu, tetapi pikiran tentang Jona masih sangat membekas di benakku. Percuma saja, sekeras apapun aku mencoba membohongi diriku sendiri, aku peduli pada Jona, aku ingin menghubunginya, aku ingin bertemu dengannya lagi, aku ingin mengenalnya lebih dekat. Aku tak tahu, dia bisa membuatku merasa sangat nyaman, kanyamanan yang tidak pernah kutemukan sebelumnya, tidak pada siapapun.

Setelah kukumpulkan segenap keberanian dan kubunuh gengsiku, aku mengirim sebuah pesan singkat yang berbunyi, “Hallo, Jona, ini Chira. Masih ingatkah? Kamu sibuk?”. Dan setelah mengirimnya rasanya aku ingin ditelan bumi saja. Apa-apaan aku mengirim pesan seperti itu, dia pasti berpikir macam-macam, dan aku hampir yakin dia tidak akan membalasnya. Ah, dasar Chira genit.

Beberapa menit kutunggu, tidak ada balasan, dan aku semakin menyesal. Dia pasti tidak mau berurusan lagi denganku, siapa aku, ah bodoh. Tapi tanpa disangka, sepuluh menit kemudian kuterima balasan dari Jona. Aku takut membukanya, tetapi setelah membacanya aku sangat lega, dia membalas, “Oh, hai Chira, bagaimana kabarmu? Aku sedang di tempat kerjaku, mungkin dua jam lagi aku pulang. Ada apa?”.

Aku membalas lagi, “Aku ingin membicarakan sesuatu. Kalau kamu ada waktu, sore ini bisakah kita bertemu untuk minum kopi?”

“Oke, jam 3 di Seventh Coffee Shop bagaimana?”

“Boleh, sampai nanti. Thanks ya.”

“See you.”

Rasanya aku mau terbang saja, aku tak menyangka dia mau meluangkan waktunya untuk bertemu denganku, dan yang paling membuatku melayang adalah, dia sama sekali tak menanyakan hal apa yang ingin kubicarakan. Dia menyediakan waktu untukku. Aku merasa seperti remaja saja, sungguh, aku merasa sangat kekanak-kanakan dengan perasaan ini. Mungkin karena aku sudah lupa namanya.

***

Aku menunggu di Seventh Coffee Shop, jam di tanganku baru menunjukkan pukul tiga kurang lima menit, tapi aku sudah di sini sejak sepuluh menit yang lalu. Tepat pukul tiga, aku melihat Jona masuk dan langsung menghampiriku.

“Ada apa Chira, kamu tiba-tiba ingin bertemu denganku.”

“Sebenarnya bukan tiba-tiba, hmm, aku hanya butuh seseorang untuk bicara. Ini tentang Valva, jadi aku bingung harus bercerita pada siapa.”

“Ah, aku mengerti. Kamu bisa bercerita padaku.”

Dan aku pun bercerita, segala hal dari Valva yang menggangguku, semua hal yang tak mungkin kuceritakan pada temanku yang lain, yang notabene juga mengenal Valva. Jona mendengarkanku, dia tidak menyela, tidak mengecilkan masalahku, tetapi tetap tenang menyimak hingga aku berhenti. Dia tidak banyak berkomentar, hanya beberapa patah kata saja, dan semua beban yang kusimpan rasanya sudah tak berarti apa-apa lagi.

***

Setahun sudah aku mengenal Jona, dan pada kenyataannya aku yang selalu mengambil langkah maju itu. Aku yang menghubunginya lebih dulu, aku menceritakan banyak hal tentang masalahku, aku menawarkan diri untuk mendengarkan masalahnya. Aku semakin mendekatinya, tetapi kini justru aku takut dengan caraku mendekatinya. Dulu aku telah berjanji tak akan pernah menyerahkan hatiku, tetapi Jona telah menemukanku di tempat persembunyianku. Tak bisa kupungkiri lagi, aku mencintainya. Aku suka senyumnya, aku suka perasaan aneh yang muncul saat bersamanya, aku suka gayanya, aku suka saat dia berani bersikap buruk ketika kami disepelekan, aku suka bagaimana dia tetap tenang di antara kepanikanku atau saat aku berapi-api dengan luapan emosiku. Tetapi bukan karena itu aku mencintainya.

Dia seperti bintang, penuh rahasia. Bukan karena itu pula aku mencintanya. Sampai kini pun aku tak bisa mengetahui apakah dia merasakan hal yang sama dengan yang kurasakan. Aku tak tahu apakah dia membutuhkanku juga, waktu-waktu kami, atau dia hanya seorang sahabat yang baik. Dan kini kuakui dia memang tampan, tetapi bukan karena itu aku mencintainya. Aku mencintainya atas apa yang telah kami lalui bersama, atas semua yang ada pada dirinya, hanya dirinya, apa adanya. Aku tak yakin dia menyadarinya. Karena itulah aku mencintainya.

Akan tetapi perasaan ini seperti tak boleh ada. Aku sudah terjatuh lagi, lebih jauh dari yang pernah kurasakan sebelumnya. Aku terjatuh lebih dalam daripada jurang, lebih dalam daripada lautan, aku telah tersesat dalam perasaan ini. Sungguh aku takut untuk mengakuinya. Karena jauh di dasar hatiku aku yakin, bila kamu merasakan hal yang sama, maka bukan aku yang akan bergerak sejauh ini, dan bukan aku yang akan terlebih dahulu menunjukkannya.

“Chira”, katanya suatu saat, aku selalu suka caranya menyebut namaku.

“Ya?”

“Besok kamu mau kan menemaniku mencari agen baru? Kantorku menugaskanku berkeliling ke beberapa kampus untuk memilihkan calon agen yang cocok. Mungkin bisa seharian, dan tak ada yang bisa menemaniku. Pekerjaanmu kan bisa ditinggalkan sehari. Bisa?”

Aku mengangguk mantap. Meski perasaanku tak berbalas, meski semua hanya boleh ada dalam mimpi dan rahasiaku, meski kami tak selalu melalui semua hal bersama-sama, tetapi aku akan selalu ada di sini untuk Jona. Dia tak perlu menjelaskan sepanjang itu untuk meminta bantuanku, aku pasti bersedia. Seperti dia yang tak pernah menanyakan ataupun mempertanyakan sikap dan kata-kataku.

Biarlah cinta itu menghancurkan dan mencincangku. Karena cinta bisa membuat kita tertawa, meski cinta juga membuat kita menangis. Aku masih tak habis pikir bagaimana cinta memberi dan cinta merenggutnya kembali, tetapi aku masih tetap jatuh cinta.

Ceritanya agak aneh dan terputus-putus, tetapi semoga maksudnya tersampaikan dengan baik :). Ada beberapa hal yang sengaja belum dijelaskan, karena takutnya jadi cerpan alias cerita panjang, bukan cerpen, hehe.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2011 in Song's Story (My Version)

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: