RSS

The Three Faces of Eve

08 Sep

Buku ini adalah kisah nyata yang ditulis oleh dua orang psikiater yang menangani pasien yang oleh penulis diberi nama Eve. Kedua dokter ahli penulisnya adalah Corbett H. Thigpen dan Hervey M. Cleckley. Buku ini diterbitkan pada tahun 1957.

Sebelum membahas tentang bukunya, saya ingin membahas tentang bagaimana buku ini bisa saya baca *penting ya?*. Bagi yang hanya ingin membaca tentang bukunya bisa melewatkan tulisan berwarna ungu di bawah dan melanjutkan kembali ke yang berwarna hitam.

Jadi, bertahun-tahun yang lalu, waktu status saya masih anak sekolah, saya iseng-iseng membuat sebuah cerita fantasi yang tak jelas arahnya tapi tiba-tiba berakhir menjadi kisah tentang dual personalities. Meskipun itu hanya rekaan saya sendiri, tetapi rasanya kurang mantap kalau saya ‘mengarang’ sesuatu yang sudah ada begitu saja. Apalagi seingat saya, akhir kisah itu kutulis saat saya sudah mulai kuliah, jadi ada sense of responsibility sebagai calon orang medis.

Akhirnya saya googling tentang multiple personalities, yang ternyata istilah medis yang terbaru adalah dissosiative identity disorders. Dan cerita yang sudah saya tulis menjadi terlalu menyesatkan untuk sebuah tulisan yang ditulis oleh orang medis, kemudian saya kubur saja dalam folder tulisan-tulisan tak jelas saya yang lain.

Diawali dari itulah saya menjadi tertarik dengan bahasan ini. Dari sebuah situs, saya menemukan beberapa buah judul novel yang ditulis dengan mangangkat tema ini, yang sebagian besarnya adalah kisah nyata. Waktu itu, setahu saya belum ada dari novel-novel tersebut yang terbit di Indonesia. Kemudian suatu hari di sebuah pameran buku, seperti biasa, saya mengaduk-aduk tiap tumpukan buku, apalagi saat itu ada stand buku impor, banyak sekali yang ingin saya temukan di situ. Kemudian takdir mempertemukan saya dengan buku ini –> Jadi ini adalah kumpulan enam novel yang dipersingkat, disarikan, dan disatukan menjadi satu: Reader’s Digest. Ada beberapa buku sejenis ini, dengan berbagai judul yang berbeda, tetapi saya dengan mantap mengambil buku yang ini karena judul ketiganya adalah The Three Faces of Eve, buku yang sudah saya cari begitu lama. Walaupun cuma condensed book, yang penting sudah dapat!

Tetapi kesibukan ternyata bisa mengalahkan rasa penasaran, buku yang saya cari selama bertahun-tahun, setelah saya temukan pun hanya duduk manis di rak selama bertahun-tahun. Sempat baca beberapa halaman, tetapi waktu tidak mengizinkan saya untuk melanjutkannya hingga selesai. Saya hanya berlanjut mempelajari teorinya, yang hanya saya pahami secara sangat dangkal sekali. Saat diberi kesempatan untuk bertemu sendiri dengan pasien-pasien dengan gangguan jiwa pun, tak ada yang mengalami gangguan ini.

Kemudian tiba saat saya sudah mengakhiri kesibukan itu. Ditambah lagi saya secara tidak sengaja bertemu dengan seorang anak yang mengalami beberapa gejala disosiatif ini, lalu keluarlah Reader’s Digest dari rak buku saya (akhirnya!).

Awal membaca kembali, saya mendapatkan pemahaman yang lebih baik dari sebelumnya mengenai apa yang dituliskan, karena saya sudah memiliki bekal teori dan istilah-istilah medis (karena buku itu dalam bahasa Inggris, kadang saya tidak tahu kalau itu istilah medis jika belum mendengar sebelumnya). Hasilnya, mengagumkan, buku singkat itu membuka wawasan saya lebih dari buku, artikel dan jurnal apapun yang pernah saya baca.

Baiklah, sekarang kita menginjak pada bukunya *akhirnya*.

Kisah ini diawali dari seorang ibu rumah tangga yang mengalami kegoncangan dalam rumah tangganya setelah dia mengalami keguguran pada kehamilannya yang kedua. Dia sering mengalami sakit kepala dan pingsan, kadang terjadi pertengkaran yang tidak jelas antara dia dan suaminya. Eve White (EW), sebagai pasien dari penulis, sempat membuat kebingungan bagi kedua psikiater itu. Hingga suatu ketika, saat sedang menjalani sesi hipnotis, EW yang dikenal sebagai pribadi yang kalem, dengan ekspresi sedih dan tertekan karena penyakitnya, tiba-tiba menjelma menjadi seorang wanita yang sangat berbeda. Perubahan drastis yang terjadi di depan mata sang psikiater ini tidak dapat dimanipulasi, wanita yang tadi duduk menyandar pada kursi, dengan kedua lutut berimpitan dan kedua tangan pada pegangan kursi, kini tiba-tiba duduk tegak, menyilangkan kedua kakinya, dan matanya bersinar. Dia menyebut dirinya sebagai Eve Black (EB), yaitu nama EW sebelum dia menikah.

Perbedaan EW dan EB benar-benar mencolok, EB adalah wanita yang bebas, menarik dan menggoda. EB memiliki kontrol atas kemunculan dan bisa mengakses memori EW. Sebaliknya, EW sama sekali tidak menyadari keberadaan EB. Sang psikiaterlah yang menjadi penghubung antara dua kepribadian itu, yang merekam suara maupun video keduanya hingga masing-masing bisa saling melihat. Selama berbulan-bulan dokter mengamati dan mencari apa yang dialami oleh Eve. Pada saat itu, konsep multiple personalities masih dianggap kontroversial, hingga dokter itu belum secara pasti memutuskan diagnosis yang tepat untuk Eve.

Sampai di situ, pembahasan tentang konflik masih seputar kedua Eve dan psikiater. Bagaimana EW merasa stabilitas kehidupannya terganggu dengan hadirnya EB yang mengacaukan pekerjaannya, berpesta pada malam hari, menghambur-hamburkan uang untuk pakaian mahal, yang semuanya tak pernah dilakukan oleh EW. Sementara itu EB merasa dia harus ‘keluar’ lebih sering, karena dia bosan melihat rutinitas EW yang sama sekali bukan jiwanya. Bagaimana EW mempertahankan rumah tangga dan putri satu-satunya dengan keadaannya yang demikian. Sang dokter pun terus menggali riwayat Eve, yang ternyata keadaan ini sebenarnya sudah dialaminya sejak kecil.

Setelah lebih dari setengah condensed book itu, saya masih penasaran dengan kepribadian ketiga, yang ternyata baru muncul lama setelahnya. Kemunculannya yang dramatis juga terjadi di depan mata sang psikiater, sebuah pribadi tanpa memori, tetapi lebih stabil dari kedua Eve, bisa dikatakan sifatnya adalah gabungan sifat-sifat baik kedua Eve dan mengeliminasi sifat-sifat buruk keduanya. Dia menyebut dirinya Jane, entah mengapa. Jane pun memulai perannya sebagai asisten EW, dia bisa melihat apa yang dilakukan kedua Eve, meski tetap tak bisa mengakses memorinya. Akan tetapi, baik EW maupun EB tak menyadari keberadaan Jane.

Ketiga kepribadian ini oleh penulis dibawa ke forum psikiater, dan mendapat komentar yang beragam. Meski demikian, bukti serta penelitian yang dilakukan tetap mengarah kepada multiple personalities. Masalah yang muncul kemudian adalah siapa yang berhak untuk dipertahankan, dan siapa yang harus ‘dibunuh’, masing-masing kepribadian memiliki hak, dan mereka juga punya pemikiran yang berbeda-beda.

Awas, lewati satu paragraf di bawah jika tidak ingin terkontaminasi spoiler!

Akhirnya sebuah pengalaman yang dialami Jane mengungkapkan semuanya. Di depan sang psikiater pula, Jane yang baru saja menceritakan pengalaman anehnya saat di rumah orang tuanya, mengalami kegoncangan. EB yang muncul pun tidak seperti biasanya. Kemudian muncullah sebuah pribadi yang mirip Jane, tapi jauh lebih stabil, dengan memori dan perasaan yang mewakili ketiga kepribadian tersebut. Itulah akhirnya, kesimpulannya adalah keadaan disosiatif ini bermula saat kejadian traumatis Eve kecil melihat neneknya yang baru saja meninggal dunia, dan sampai buku itu ditulis, pribadi yang stabil itu sudah bertahan selama dua tahun dan mungkin selamanya.

Mungkin sedikit sinopsis di atas kurang bisa menggambarkan ataupun menambah pemahaman seperti yang dilakukan oleh buku ini. Tetapi saya mendapatkan pengertian yang baru, bahwa keadaan disosiatif itu sebagian adalah karakter yang ditekan oleh alam bawah sadar seseorang. Seperti EW dengan tingkah laku yang sempurna karena kejadian traumatis itu, tetapi di sisi lain ada jiwa pemberontak yang dimanifestasikan sebagai EB.

Buku ini sangat bagus menurut saya, terutama versi singkat yang saya baca sudah menjawab beberapa pertanyaan yang muncul di benak saya sejak lama. Mungkin suatu saat saya akan mencari versi aslinya yang lebih lengkap, tentunya dengan pembahasan yang lebih terinci sehingga pemahaman yang saya dapat bisa lebih lengkap.

Ini salah satu cover versi asli yang saya dapat di google –> Worth hunting!

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on September 8, 2011 in BookShelf

 

Tags: , , , ,

4 responses to “The Three Faces of Eve

  1. jasa penerjemah

    March 13, 2012 at 3:29 AM

    wahhh boleh tuh ceritanya…kalau pngin dapat bukunya, dimana ya??salam kenal n sukses selalu.thanks

     
    • bzee

      March 13, 2012 at 8:22 PM

      Kalo buku yg sy baca dpt dari stand buku impor di pameran buku (kebetulan buku bekas, jadi cuma ada 1 itu). Kalo berminat coba cari di toko buku impor atau di toko online.
      Salam kenal, terima kasih sudah mampir.

       
  2. oviphie

    October 11, 2014 at 9:53 AM

    saya tertarik dengan buku ini, saya tertarik dengan psikologi klinis.. dikampus kami sedang membahas dengan banyaknya kepribadian ganda ini.. saya baru melihat film Sybli yang memiliki 16 kepripadian… saya belum melihat Eve ini saya sedang mencari filmnya juga untuk di analisis

     
    • bzee

      October 11, 2014 at 10:42 AM

      Kalau buku ada lagi 24 Wajah Billy karya Daniel Keyes, kurang tahu sudah difilmkan atau belum.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: