RSS

Menghargai Buku

24 Dec

Ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya, mungkin sebagian orang menganggapnya hal kecil, tapi tidak bagi saya.

Hal yang sering terjadi, di antara tumpukan buku di toko buku, terutama saat bazar buku, dan seringkali menyangkut buku-buku yang didiskon habis-habisan: mengacak-acak tatanan buku.

Sebenarnya hal ini tidak hanya terjadi pada buku, tapi saya akan membahas tentang hal ini khusus mengenai buku.

Toko buku merupakan salah satu pusat perbelanjaan ‘swalayan’, artinya, kita bebas memilih sendiri dari rak-rak buku dan tinggal membayar di kasir sesuai dengan harga yang telah tertera. Ya, tentu saja harus dibuat seperti itu. Bayangkan betapa tidak nyamannya toko buku kalau kita ditunggui oleh penjaganya, memintanya mengambilkan sebuah buku, baca sinopsis, kurang cocok, ambil yang satu lagi, sinopsis tak sesuai judul, kembalikan lagi, ambil lagi, dan tentunya tak ada yang mau menjadi penjaga toko buku jika kejadiannya seperti itu.

Sebuah toko buku yang bagus dalam versi saya adalah yang menata buku-bukunya sedemikian rupa sehingga semua buku tersusun menurut kategori dan temanya, dan menampilkan cover-covernya dengan jelas, minimal satu untuk tiap judul, sehingga mudah untuk dicari. Akan tetapi, kadang-kadang penataan toko yang sudah bagus itu ‘dirusak’ oleh pengunjungnya sendiri. Yang sering saya temukan: tiap judul buku tersusun dalam satu tumpukan, ambil sebuah judul (katakanlah A), baca sinopsis (atau bahkan keseluruhan isi buku), kembalikan di tumpukan buku B. Apa hasilnya? Pengunjung lain yang tidak teliti tidak akan pernah melihat buku B, padahal bisa jadi buku B adalah buku yang berpotensi akan dibelinya. Lantas, siapa yang akan dirugikan?

1. Penulis : berkuranglah satu atau mungkin lebih pembacanya

2. Pembeli yang batal : kehilangan kesempatan membeli buku yang diinginkannya

3. Toko buku : penjualan buku B berkurang

4. Penjaga toko : menambah tugasnya merapikan kembali tumpukan buku itu

Mungkin masih ada pihak lain yang belum saya sebutkan, seperti penerjemah buku itu, ilustrator covernya, teman pembeli yang batal yang biasanya sering pinjam buku dari dia, anak sang penulis yang batal mendapat uang saku tambahan, penjaga toko yang dimarahi supervisornya karena kurang teliti dalam merapikan, dan lain-lain. (LOL)

Belum lagi dalam bazar buku seringkali pada hari kesekian, buku-buku sudah seperti barang yang tidak berharga. Tumpukan tidak teratur, tidak rapi, kadang bahkan ada yang rusak, dan sebagainya. Padahal, saya sering membayangkan di bawah sana, jauh tertimbun di antara buku-buku itu ada sebuah masterpiece yang tak terjamah.

Apa susahnya sih menyempatkan waktu beberapa detik sekedar memastikan bahwa buku yang kita kembalikan berada di tumpukan yang benar. Selain untuk mengurangi ketidaknyamanan pihak lain, juga sebagai apresiasi kita pada sebuah buku. Sebagai wujud penghargaan kita bahwa buku juga patut mendapatkan tempat yang layak, yang terlihat oleh semua orang, seburuk apapun menurut Anda masih akan ada yang akan membelinya.

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on December 24, 2011 in My Thoughts

 

Tags: ,

2 responses to “Menghargai Buku

  1. nana radhiana

    December 25, 2011 at 10:15 AM

    inspiratif,,untungnya aku yg termasuk cinta buku, i put, i read, i cancel buy, then i put them back to the right place hihihihi… bubuuuuu ke gramednya senin sore apa malem…? 😀

     
    • bzee

      December 29, 2011 at 6:38 PM

      Sipp…haha, blsnya telat

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: