RSS

Malam Sabtu di TBJ

09 Mar

Atas undangan dari mas Yudhi Herwibowo, malam ini (9 Maret 2012) di Taman Budaya Jawa Tengah, saya menghadiri peluncuran (atau apa istilahnya) Antologi Cerpen Joglo 12 dengan judul Tahun-Tahun Penjara. Berhubung besok saya tidak akan bisa mem-posting ini, dan saya merasa harus menuliskannya, maka saya akan membaginya malam ini. Mengapa harus? Karena saya jarang menghadiri acara semacam ini, dan harus saya katakan, bahwa inilah salah satu dunia yang saya cintai. Meskipun karena satu dan lain hal saya tidak bisa fokus ke bidang ini.

Karena sesuatu di luar rencana, saya datang terlambat dan tiba saat pembacaan setengah terakhir dari cerpen-cerpen yang masuk dalam antologi tersebut. Cukup mengesankan, walaupun hanya sepenggal, tapi saya dapat menangkap apa yang ingin disampaikan sang penulis melalui cerpennya tersebut.

Seusai pembacaan oleh penulis, dilanjutkan dengan acara diskusi yang diisi oleh mba Nusya Kuswatin dan mba Dewi Candraningrum. Mba Nusya pertama-tama membagi pengalamannya menulis, yang diawali dari menjadi seorang wartawan, sehingga beliau mau tidak mau harus menuliskan fakta, dan tentu saja sesuai dengan EYD. Berbeda dengan karya sastra dimana kita tidak mengacu pada fakta, sehingga untuk tata bahasa tidak harus selalu baku. Ketika ditanya mengenai bagaimana menghasilkan tulisan dengan keterbacaan tinggi, beliau menjawab bahwa suatu tulisan itu harus komunikatif, dapat dimengerti, membuat penasaran, dan yang terpenting adalah bagaimana membuat paragraf awal yang ‘memaksa’ pembaca agar melanjutkan hingga akhir. Untuk mengakhirinya pun perlu teknik yang pas, sehingga tulisan itu menggantung dengan pas juga. Beliau juga membagi ‘kegagalan’ novel pertamanya, yang setelah digali sendiri, ternyata memiliki dua kekurangan. Untuk memperbaiki dua kekurangan tersebut adalah, yang pertama, membuat bagaimana agar tokohnya harus bisa melakukan sesuatu yang ‘gila’, dan yang kedua adalah setting yang harus bisa membuat kegilaan sang tokoh menjadi masuk akal.

Sedangkan dari mba Dewi, saya tidak berani mengutip kata-katanya yang sangat indah dan bermakna mendalam. Yang jelas, beliau menyinggung mengenai kemiskinan yang menjadi akar dari karya sastra yang lahir di Jawa Tengah ini. Selain itu yang mengesankan saya adalah pernyataan kecintaannya pada kata-kata dan kalimat. Saya juga pernah menyatakan ini, tapi tentu saja saya tidak sebanding dengan beliau, tetapi saya selalu merasa kagum dengan orang-orang yang memiliki cara pandang yang sama dengan saya.

Pada sesi diskusi, ada pertanyaan dari mas Bandung Mawardi, atau mungkin tepatnya sanggahan. Beliau tidak menyetujui bahwa cerpen/sastra harus dirasionalkan dengan EYD dan lain sebagainya. Kemudian dijawab oleh mba Nusya bahwa memang cerpen/sastra tidak harus rasional, tetapi ada kaidah dalam EYD yang harus tetap dipegang teguh, aturan yang baku dan umum, sehingga kita dihargai sebagai penulis. Pertanyaan selanjutnya justru sebaliknya, apakah cerpen itu harus imajinatif? Kembali mba Nusya menjawab bahwa, ya, kalau tidak berimajinasi sama saja dengan membuat berita. Justru dengan menulis cerpen itu kesempatan kita untuk menjadi Tuhan. Setelah itu, beliau memberi kesempatan bagi para penulis untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi sayangnya saya harus pulang, karena sudah melewati jam malam, terpaksa saya meninggalkan ‘arena’ yang sedang seru-serunya itu.

Seandainya masih ada kesempatan, sebenarnya saya ingin sekali berpendapat. Walaupun tidak merasa selevel dengan mereka yang hadir di sana, tetapi rasanya saya punya pendapat mengenai sebuah cerpen atau karya sastra di mata saya sebagai pembaca yang hobi menulis. Pada intinya, menurut saya, antara imajinatif dan rasional itu sama-sama bisa berjalan, tergantung dari apa tujuan kepenulisan itu sendiri. Dan yang paling penting adalah bagaimana tulisan, baik yang imajinatif maupun yang rasional, bisa hidup dan menyampaikan pesannya kepada pembaca.

Ah, rasanya sebagai penulis saya masih jauh, tetapi jujur sangat menikmati sudut pandang orang-orang yang sudah seumur hidupnya berkecimpung di dunia sastra maupun tulis-menulis. Buku adalah jendela dunia, tetapi tanpa penulis, tidak akan lahir sebuah buku. Jika sudah sedemikian banyak dunia yang masuk dalam kepala kita, tentunya ada saatnya kepala kita mengeluarkan sesuatu. Itulah saat untuk menulis.

*Sekedar berbagi kesan. Nanti setelah antologi (yang tadi dibagikan secara gratis) saya baca, akan saya buat review-nya di blog buku saya.*

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on March 9, 2012 in My Thoughts

 

2 responses to “Malam Sabtu di TBJ

  1. yudhiherwibowo

    March 10, 2012 at 8:53 AM

    sepertinya baru sekali ini ada yang menulis repiu acara di tbjt… ๐Ÿ™‚

     
    • bzee

      March 11, 2012 at 10:07 AM

      hehe, berbagi kesan aja, sayang klo ga direkam, acaranya bagus ๐Ÿ™‚

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: