RSS

#5BukuDalamHidupku : Menuju Fantasi Melalui Narnia

12 Nov

#5BukuDalamHidupku

Tepat di saat saya ingin ‘menghidupkan’ kembali blog ini–dengan berbagi postingan ‘acak’ dengan blog buku saya, Bacaan B.Zee–rahib Hernadi Tanzil membagi sebuah tautan tentang proyek mudik yang digagas oleh Irwan Bajang di sini. Sebenarnya saya bisa menuliskan proyek ini di blog buku saya, tapi saya memilih ‘rumah’ saya yang ini. Di ‘rumah’ buku yang itu, saya memiliki batasan, baik yang diatur oleh komunitas (Blogger Buku Indonesia/BBI) maupun yang saya tetapkan sendiri, demi kenyamanan rumah saya. Di rumah ini, saya bebas menuliskan apa pun. Rumah ini memiliki ruang baca, tetapi saya juga bisa mengalihkan pembicaraan ke ruang lain. Itulah yang saya sebut berbagi postingan ‘acak’. ‘Acak’ dengan tanda kutip, karena saya tetap memiliki batasan.

Proyek ini oleh Irwan Bajang dikatakan sebagai proyek mudik dari hiruk-pikuk media sosial, kembali ke ruang blog yang hening. Dalam proyek lima hari ini, kita akan membahas tentang lima buku yang berpengaruh dalam kehidupan kita. Satu hari satu buku. Oleh karena saya tak ingat ada buku yang benar-benar mengubah hidup saya, atau justru terlalu banyak buku yang mengubah hidup dan cara pandang saya, maka proyek ini hanya merupakan kepingan kenangan yang akan saya bagi.

image

Judul buku : [Kisah dari Narnia] Pelayaran si Penjelajah Fajar
Judul asli : [The Chronicles of Narnia] The Voyage of the Dawn Treader
Penulis : C. S. Lewis
Penerbit : Dian Rakyat

Edmund dan Lucy Pevensie terpaksa menghabiskan liburan di rumah sepupu mereka, Eustace. Eustace dan orang tuanya memiliki kebiasaan dan standar hidup yang ‘normal’, bahkan terlalu normal, sedangkan Edmund dan Lucy memiliki kisah-kisah ‘ajaib’. Dunia Narnia adalah salah satunya.

Secara tak terduga, kedua bersaudara itu kembali ke Narnia, kali ini bersama dengan Eustace. Kehadiran Eustace pada mulanya sungguh kurang menyenangkan, baik bagi para penghuni Narnia, kedua Pevensie, juga Eustace sendiri.

Namun, petualangan penuh keajaiban menunggu mereka, menyambut mereka, dan mengubah mereka.

Di antara kisah fantasi yang saya baca di masa kecil, kisah Narnia yang paling membekas dalam ingatan saya. Tentunya karena buku ini pun telah beberapa kali saya baca. Saya tidak mengenal keempat Pevensie, tak tahu awal mula negeri Narnia. Saya tahu bahwa kisah ini terdiri dari tujuh buku, tapi saya hanya membaca satu buku ini selama bertahun-tahun.

Pada waktu-waktu itu, akses bacaan saya sangat terbatas, sehingga saya harus puas dengan apa yang ada. Dan kenyataannya, Pelayaran si Penjelajah Fajar tetap memberikan kepuasan tersendiri, berapa kali pun saya baca. Saya jadi ingat dengan quote salah satu penulis favorit saya, Oscar Wilde:

“If one cannot enjoy reading a book over and over again, there is no use in reading it at all.”

Dari petualangan di kapal Penjelajah Fajar, saya mengenal genre fantasi. Imajinasi saya dimanjakan oleh naga, makhluk-makhluk tak terlihat, kolam air yang membawa malapetaka, gua yang menawarkan kengerian yang tak terbayangkan, dan lain sebagainya. Di usia sekolah dasar pun saya sudah merasakan  sebagian ‘pesan tersirat’ yang disampaikan Lewis (terutama mengenai peran Aslan, sang singa), meski saya tetap menikmatinya murni sebagai fantasi.

Kemudian di saat saya menekuni hobi menulis, pengaruh buku ini muncul. Adegan dan suasana dalam buku ini yang seringkali muncul saat saya sedang berimajinasi untuk memunculkan kisah saya sendiri. Meski belum benar-benar menghasilkan apa-apa, saya tak akan lupa betapa besar pengaruh buku ini. Buku ini bisa dikatakan merupakan gerbang bagi saya untuk menjelajahi dan mengenal genre fantasi lebih jauh.

Penerjemahan buku ini–sebagaimana pola terjemahan zaman dahulu–menggunakan kosa kata ‘ajaib’, kata-kata yang diterjemahkan secara bebas, yang menyesuaikan dengan bahasa Indonesia. Jika saya menemukan buku ini baru-baru ini, mungkin saya tak akan meliriknya. Namun terjemahan Dian Rakyat memiliki kenangan tersendiri, juga sesuatu yang sekarang dapat saya anggap sebagai keunikan, sehingga layak untuk saya koleksi, mendampingi koleksi Narnia berbahasa Inggris saya.

Advertisements
 
6 Comments

Posted by on November 12, 2013 in BookShelf

 

6 responses to “#5BukuDalamHidupku : Menuju Fantasi Melalui Narnia

  1. Dion

    November 13, 2013 at 10:49 AM

    Iya, aku juga tertawa ps baca terjemahan versi DIan Rakyat. Itu adalah buku2 yang benar2 collectible dna berkesan

     
    • bzee

      November 14, 2013 at 7:11 PM

      yap, nitip lagi ya kalo nemu 😀

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: