RSS

#5BukuDalamHidupku : Topeng Kaca Menemaniku Dewasa

14 Nov

Suatu hari sekitar dua puluh tahun yang lalu–mungkin kurang, mungkin lebih–saat saya baru bisa membaca kalimat-kalimat kompleks dan memahaminya, ayah membawakan dua buah komik untuk saya dan kakak perempuan saya. Salah satunya adalah Topeng Kaca. Saya rasa saat itu beliau asal saja memilihkan kedua komik tersebut, tapi salah satu dari komik itu telah mengisi hampir keseluruhan kehidupan membaca saya.

TK1coverTopeng Kaca seri pertama, menceritakan seorang gadis SMP bernama Maya Kitajima. Dia tinggal di sebuah rumah makan mi, tempat ibunya bekerja. Ayahnya sudah tiada. Di sekolah, Maya adalah anak yang sangat biasa–jika tidak bisa dikatakan bodoh, dia tak menguasai satu pun pelajaran yang diajarkan di sekolah. Di luar sekolah, Maya membantu di rumah makan, mengantarkan pesanan-pesanan. Seringkali sifat ceroboh membuatnya dimarahi, namun yang paling parah adalah saat dia lupa segalanya jika melihat pertunjukan drama, teater, film, dan sebagainya.

Saat melihat pertunjukan tersebut, Maya seperti tersedot dalam dunia yang ‘lain’ tersebut. Namun dia bukan hanya menikmatinya, dia menyerapnya, hampir seluruhnya. Dalam sekali lihat, dia bisa menirukan semua gerakan dan dialog dari para pemain tersebut, nyaris tanpa kesalahan. Hal itulah yang menarik Mayuko Chigusa, aktris yang telah mengasingkan diri karena kecelakaan, untuk mendidik Maya sebagai salah satu calon penerusnya, mewarisi karya besar di zamannya, Bidadari Merah.

Pertunjukan perdana Maya di sekolah menimbulkan rasa percaya diri dan kesadaran akan bakatnya. Sayangnya, ibunya urung menonton pertunjukan tersebut karena tak yakin Maya akan berhasil melakukannya. Pujian yang disampaikan orang-orang kepada ibunya pun tak lantas membuat ibu Maya merestui tawaran beasiswa sekolah akting yang diberikan oleh Mayuko. Maya harus menentukan sendiri jalannya.

BBJ5Kisah Maya Kitajima baru saja dimulai, entah berapa lama saya baru bisa mendapatkan kelanjutan serinya–itu pun tak berurutan. Saat kecil, saya bukan tipe penuntut. Saya menerima apa pun yang diberikan kepada saya, namun saya tak pernah berhasrat untuk meminta apa pun. Setidaknya itu terjadi sampai saya membaca beberapa seri, dan merasa sangat terikat pada seri ini, tak bisa berhenti sampai saya membaca kata tamat di buku tersebut.

Beranjak sekolah menengah, orang tua saya menginginkan anak-anaknya untuk lebih fokus pada pelajaran dan ilmu pengetahuan umum. Akses untuk novel fiksi maupun komik ditutup, hanya ada buku pelajaran, buku agama, ensiklopedia umum, kisah-kisah Nabi dan Sahabat, pengetahuan populer, dan lain-lain, yang tetap saja bisa saya nikmati. Namun kami (saya dan kakak) masih memiliki urusan yang belum selesai.

Kakak saya sampai menjual seluruh komiknya, untuk modal membeli kelanjutan serial Topeng Kaca. Kami menyisihkan uang jajan kami sedikit demi sedikit, dan masing-masing membayar setengah untuk satu komik Topeng Kaca baru. Edisi yang telah ‘hilang’ dari toko buku namun belum kami miliki, kami usahakan untuk mencarinya di toko buku bekas atau barter, atau dari mana saja. Menelusuri kios demi kios, menyisir tumpukan komik bekas, sampai membujuk pemilik rental menjual koleksinya, semuanya kami lakukan, sampai seluruh komik Topeng Kaca kami lengkapi.

Ada masa vakum yang lumayan lama (sekitar empat-lima tahunan) kelanjutan Topeng Kaca tidak diterbitkan. Namun, penantian panjang tidak menyurutkan kerinduan saya terhadap kelanjutan serial tersebut.

Topeng Kaca sudah menjadi bagian hidup saya.

BM6

Saya melihat bagaimana Maya–seorang yang memiliki bakat alami, bersaing dengan Ayumi Himekawa, yang seusia dengan Maya namun memiliki pengalaman yang jauh di atasnya karena dilatik sejak kecil. Persaingan yang sangat sehat karena keduanya tak ada yang menempuh jalan instan. Bahkan meski kita mengharapkan Maya yang menang, kita tak bisa membenci Ayumi, karena kita melihat usaha, pengorbanan, juga kerendahan hati Ayumi yang tak memungkiri Maya sebagai saingan terberatnya. Ayumi tak pernah sekali pun merendahkan Maya, Ayumi bisa melihat Maya yang sesungguhnya.

Kemudian ada Masumi Hayami, direktur sebuah perusahaan drama. Si dingin dan gila kerja yang (pada mulanya) sangat dibenci oleh Maya, karena ambisinya untuk mendapatkan hak pementasan Bidadari Merah hingga menekan Mayuko. Masumi juga bersalah atas kematian ibu Maya. Namun di balik sikapnya yang selalu menyebalkan, dia memendam kekaguman yang dia rasakan atas semangat Maya. Masumi dengan kisah sedih masa kecilnya, merasa ‘hidup’ dengan kehadiran Maya. Topeng ‘dingin dan gila kerja’ membuatnya hanya bisa menunjukkan kekaguman tersebut melalui bayangan mawar ungu.

BBJ6Komik ini panjang–saat ini sudah hampir lima puluh seri–sudah ditulis selama hampir tiga puluh tahun, tetapi penantian ini tidak sia-sia. Suzue Miuchi–sang komikus–tidak hanya menceritakan satu episode kehidupan, beliau menceritakan kehidupan yang sangat kompleks. Setiap karakter penting dalam komik ini memiliki kisahnya sendiri, latar belakang masa lalu, yang seringkali membutuhkan satu buku untuk mengeksplorasinya. Karakter-karakternya dihidupkan secara mendalam, membuat saya paham hakikat berbagai jenis sifat manusia. Siapa sangka sebuah komik bisa melakukan itu?

Konfliknya pun sangat kaya, mulai dari mengejar mimpi, cinta, persahabatan, hubungan keluarga, pasang-surut popularitas seseorang, dendam, persaingan–baik yang sehat maupun yang tidak, dan banyak hal lain, yang membuka mata saya akan dunia.

SP5Topeng Kaca membuat saya mengenal berbagai karya sastra klasik, karena diangkat menjadi pertunjukan teater, layar lebar atau televisi. Tak berhenti di situ, Topeng Kaca membuat keinginan saya untuk membaca karya klasik tersebut semakin besar. Saya bahkan membaca A Midsummer Night’s Dream karya William Shakespeare, edisi asli–first folio, karena Puck adalah salah satu peran Maya yang paling saya sukai.

Menceritakan kisah saya bersama komik ini bagaikan membuat buku kehidupan saya. Hari-hari libur yang saya habiskan dengan melahap ulang buku ini seharian, malam-malam yang saya lewatkan untuk memuaskan rasa penasaran saya akan kelanjutan kisah ini. Teman-teman yang tiba-tiba menjadi dekat pasca mengetahui bahwa kami sama-sama membaca dan menggemari Topeng Kaca. Jam-jam yang saya habiskan di warung internet sekadar mencari bocoran tentang kelanjutan yang lama tak kunjung terbit. Gambar-gambar yang saya unduh demi menjadi wallpaper di komputer atau di ponsel. Berburu serial drama maupun animenya (yang sepertinya belum lengkap). Bahkan merasa cukup seperti saat ini, menanti dan membaca yang telah diterbitkan saja.

Tidak akan ada habisnya saya ceritakan, dan ‘perjalanan’ ini belum juga berakhir.

#5BukuDalamHidupku

Mudik hari ketiga, lihat juga hari pertama dan hari kedua.

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on November 14, 2013 in BookShelf

 

4 responses to “#5BukuDalamHidupku : Topeng Kaca Menemaniku Dewasa

  1. Gisella Galla

    March 24, 2014 at 6:34 PM

    Me too… I admire glass mask until now… Keep spirit Suzue Miuchi

     
    • bzee

      March 26, 2014 at 6:43 PM

      *highfive*

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: