RSS

#5BukuDalamHidupku : Deep Thinking, Induce My BrainWork

15 Nov

750169Judul buku : Deep Thinking (Bagaimana Seorang Muslim Berpikir)
Penulis : Harun Yahya
Penerbit : Robbani Press (2002)

Pada usia awal belasan tahun, saya mulai mengenal Harun Yahya. Sosok penuh kontroversi, namun pemikiran-pemikirannya sangat mengena. Dia menyatukan agama dan sains, menjadikan keduanya berjalan beriringan, bahkan saling mendukung.

Dimulai dari buku-bukunya, kemudian CD-CD yang kurang lebih berisi visualisasi dari buku-bukunya. Mungkin yang paling digembor-gemborkan saat itu adalah mengenai Teori Evolusi Darwin yang ditolak mentah-mentah dan dibuktikan sebaliknya oleh Harun Yahya. Pola berpikirnya masuk akal dan mudah dipahami oleh orang awam.

Buku demi buku yang ditulisnya saya baca, menelusuri ilmu dan ide baru. Namun ada satu yang paling mengena dan mengubah cara pandang saya terhadap dunia, buku ini, Deep Thinking.

Deep Thinking mungkin–seperti judulnya–memang membutuhkan pemikiran yang mendalam untuk mencerna pemikiran yang ada di dalamnya. Atau mungkin hanya karena pola pikir saya yang kala itu masih terlalu sederhana. Saya ingat saat saya bergelung di sofa sesiangan seusai sekolah, atau pada pagi hari Minggu, menjelajahi halaman demi halaman buku ini.

Ada satu bagian buku itu yang tak terlupakan. Apakah yang kita lihat, yang kita dengar, yang kita raba, yang kita cium, segala yang tertangkap oleh indra kita, benar-benar nyata? Bukankah yang sampai ke indra kita kemudian diterjemahkan menjadi sinyal-sinyal listrik, diteruskan ke otak, dan diterjemahkan oleh otak kita sendiri. Apakah yang menjadi jaminan bahwa sinyal-sinyal listrik yang dihantarkan ke otak kita nyata adanya? Apakah pasti otak kita menerjemahkan sinyal-sinyal itu sebagaimana adanya?

Nyatanya, ada orang yang mendapatkan halusinasi atau ilusi, bukti bahwa tak selamanya otak kita menerjemahkan dengan ‘benar’. Bagaimana bila sesungguhnya yang saya lihat sebagai merah adalah kuning bagi Anda, yang saya lihat sebagai kuning adalah hijau bagi Anda, yang saya lihat hijau adalah coklat bagi Anda. Oleh karena sejak kecil saya melihat warna kuning sebagai merah, maka saya menyebut semua warna merah adalah kuning. Anda yang melihat warna kuning tentunya tak tahu bahwa gambaran yang muncul di otak saya berbeda dengan Anda. Pun orang lain, bisa saja mereka melihat warna kuning Anda sebagai hijau, namun tetap menyebutnya sebagai kuning, hanya karena sejak semula mereka diperkenalkan seperti itu.

Ini bukan tentang buta warna, ini adalah tentang persepsi, kerja rumit dari otak manusia. Apakah dinding di ruangan yang kita tempati benar-benar nyata? Hanya karena saraf mata menyampaikan adanya dinding, tangan kita meraba adanya tahanan, apakah pasti dinding itu nyata, bukan sesuatu yang diciptakan oleh otak kita dan diwujudkan dalam indra-indra yang saling mendukung?

Masih banyak sekali pemikiran-pemikiran luar biasa yang tertulis di buku itu, sesuatu yang baru, namun masuk akal bagi saya. Pemikiran-pemikiran yang menjungkirbalikkan dunia yang selama ini saya lihat dan percayai. Saya sadar bahwa dunia ini, bahwa manusia, tak sesederhana pelajaran biologi anak SMP-SMA.

Saat saya kuliah, dan kebetulan masuk di jurusan yang mempelajari seluk-beluk tubuh manusia, saya menyadari bahwa organ paling rumit adalah otak. Otak dan cabang-cabangnya yang melingkupi seluruh tubuh manusia. Ilmu saraf adalah ilmu yang rumit, meski begitu mengasyikkan, terutama jika berhasil menguasainya. Dan setiap mempelajari bidang ini, saya selalu mengingat bagian dari buku Deep Thinking.

Saat bagian tertentu dari otak rusak, ada kalanya terjadi kerusakan fungsi, atau mungkin ‘hanya’ perubahan persepsi. Jika kerusakan tersebut terjadi saat dewasa, maka kita dapat dengan mudah mengenalinya, namun kerusakan saat kecil/bayi, bisa saja berakibat seperti gambaran yang saya sebutkan dalam buku Deep Thinking.

Ah, saya tak bisa menggambarkannya dengan lebih baik. Yang jelas, buku ini merupakan salah satu jembatan saya menerima apa pun yang diajarkan oleh ilmu saraf kepada saya. Bahwa dunia ini hanyalah sekumpulan persepsi hasil terjemahan dari otak kita sendiri.

#5BukuDalamHidupku

Mudik hari keempat, sila intip hari pertamahari kedua dan hari ketiga.

Advertisements
 
4 Comments

Posted by on November 15, 2013 in BookShelf

 

4 responses to “#5BukuDalamHidupku : Deep Thinking, Induce My BrainWork

  1. tezarariyulianto

    November 16, 2013 at 5:23 AM

    persepsi berarti beda dengan kebenaran?

     
    • bzee

      November 16, 2013 at 2:32 PM

      Itulah misterinya, kita ga tahu persepsi kita benar atau ga

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: