RSS

#5BukuDalamHidupku : Berkat BBI

16 Nov

Sampai juga di hari terakhir proyek yang digagas oleh Irwan Bajang ini. Bagi saya, tantangan terbesar dalam proyek ini adalah mengalahkan waktu. Sifat moody saya terkadang membuat pekerjaan yang seharusnya bisa saya kerjakan hari ini tertunda hingga esok dengan alasan klasik; tidak ada ide, buntu, suntuk, bad mood, dan pembenaran-pembenaran lain. Selama lima hari ini, saya hanya bisa menuruti mood saya beberapa jam saja, karena waktu tak akan berhenti di pukul sebelas malam untuk menunggu saya. Jika saya sudah mengalahkan ‘kemalasan’ itu, maka menuliskannya tidak akan sulit, toh ini jauh lebih mudah daripada membuat resensi buku–hal yang sehari-hari saya lakukan.

Jika ditanya sekarang, apa yang membuat saya memulai proyek yang ‘mengikat’ saya selama lima hari ini, saya bingung. Ada dorongan sebagai blogger, sebagai pecinta buku, bahkan sebagai blogger buku, untuk menjawab tantangan si empunya proyek. Di hari pertama, saya sudah memiliki dua buku dalam bayangan saya, yang saya pergunakan untuk hari pertama dan hari kedua. Mungkin inilah pendorong dan inisiasi yang memberanikan saya untuk maju–di samping rasa penasaran terhadap kemampuan saya sendiri. Saya juga sempat memikirkan buku ketiga untuk hari terakhir, namun ternyata lebih pas untuk hari ketiga saja, buku yang lumayan ‘penting’. Menjelang hari keempat, saya bingung. Beberapa kandidatnya adalah buku dari penulis favorit, namun satu dan lain hal membuat saya ragu, sampai tiba-tiba saya memikirkan buku-buku nonfiksi dan menemukan buku yang pas untuk hari keempat. Memikirkan buku terakhir memakan waktu agak lama, sampai saya menemukan buku yang benar-benar pas, pamungkas yang tak terpikir sejak awal, tapi secara mengejutkan, cukup sempurna untuk saya pilih.

Buku itu belum lama saya baca, pada pertengahan tahun lalu, tepatnya September sampai awal November 2012. Dua bulan, untuk buku setebal lebih dari seribu halaman, yang saya baca secara tandem dengan beberapa buku lain–kebiasaan saya supaya tidak bosan, atau menyesuaikan situasi. Yang membuat buku itu istimewa bukan karena tebalnya, toh sebelumnya saya pernah membaca buku setebal itu. Namun, buku ini memberikan saya pengalaman pertama sebagai co-host dari sebuah read along yang digagas oleh mba Fanda, teman sesama blogger (di Blogger Buku Indonesia dan Classics Club). Karena merasa terintimidasi dengan tebal bukunya–namun merasa perlu membaca buku ini–mba Fanda mengajakku mengadakan read along, padahal saya belum menyiapkan bukunya, pun saya belum pernah mengikuti proyek baca semacam ini sebelumnya–apalagi mengelolanya. Terlebih belum setahun saya bergabung dalam Blogger Buku Indonesia dan menjadi blogger aktif, pengalaman saya masih sangat sedikit. Keberanian saya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut, yang berlanjut dengan kisah pencarian buku ini yang tak kalah berkesannya.

GWTWTernyata buku ini tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Mba Fanda yang merasa terganggu oleh karakter utama buku ini, sedangkan saya sangat tersiksa dengan pengulangan-pengulangan deskripsi yang menurut saya tak perlu. Namun apa yang sudah dimulai harus diselesaikan, apalagi kami yang memiliki ‘hajat’ dalam proyek tersebut. Para peserta yang sudah mendaftar ada sebagian yang mundur dari awal, sebagian tumbang di tengah jalan, ada yang masih berjuang keras seperti kami, ada pula yang tak menduga bisa sangat menikmatinya. Semua dengan alasan masing-masing. Kami membuat update post tiap bagian, dan saling membagi komentar dan pendapat, serta berdiskusi–baik lewat blog, twitter, dan SMS curhat tentang ‘penderitaan’ masing-masing saling menguatkan dan menyemangati.

Saya bahkan rela membawa ransel kemana-mana, demi bisa membaca buku ini saat waktu senggang di tempat kerja. Halaman demi halaman yang bagi saya bertambah berat, seiring informasi-informasi tak perlu, dan adegan-adegan tak penting yang membuat saya tak sabaran, saya ‘kunyah’ sebisa mungkin.

Bukan hanya perjuangan dalam membaca, saya yang sejak mengikuti Classics Club Project berusaha membuat review dalam dua bahasa–meski bahasa Inggrisnya hanya sepintas, saat itu tertantang untuk membuat update post dalam bahasa Inggris seluruhnya (karena sebagian besar peserta yang aktif berasal dari luar Indonesia). Saya bahkan menjadi akrab dengan google translate karena tak ingin pembahasan saya terlalu dangkal akibat keterbatasan kosakata bahasa Inggris saya–yang tentunya melipatgandakan pekerjaan saya juga karena masih dibutuhkan penyuntingan kembali. Ada juga saatnya saya memutuskan ‘bercerai’ dengan google translate dan mempergunakan cara konvensional.

Novel yang menceritakan Perang Saudara di Amerika ini–terlepas dari unsur yang tidak saya sukai–memberikan banyak sekali informasi baru bagi saya. Saya baru menyadari tentang sistem perbudakan kala itu, bagaimana penduduk Selatan memandang dan memperlakukan para budak, dan mengapa mereka berpendapat bahwa orang Utara salah jika menginginkan pembebasan para budak. Pun dari sisi orang-orang kulit hitam, tak semuanya menganggap pembebasan itu menguntungkan mereka. Mungkin ada sedikit bias karena novel ini diceritakan dari sudut pandang orang Selatan, namun tetap saja hal ini mengubah cara pandang saya.

Saya juga bertemu dengan karakter bernama Scarlett O’Hara yang…hmm, bisa dikatakan dia menjengkelkan, egois, dan banyak tindakannya yang sulit dimaafkan. Namun, Scarlett O’Hara juga merupakan potret, potret perjuangan seorang wanita yang berusaha mendobrak tradisi, demi hidup lebih layak dengan mengandalkan dirinya sendiri.

I’m a proud member BBI 1301044 (not this blog, though)

Saya mendapatkan banyak hal dari Gone with the Wind, baik opini maupun fakta. Perjuangan saya selama dua bulan tak saya anggap sia-sia, saya lega telah menyelesaikan satu ‘buku bantal’ dalam daftar baca. Dan yang tak kalah berharganya, adalah pengalaman mengelola sebuah proyek baca. Read along ini membuat saya lebih percaya diri dalam mengadakan sebuah proyek baca, hingga saya akhirnya memutuskan untuk membuat reading challenge tahunan saya sendiri. Dan semuanya ini–termasuk bergabung di Classics Club, bahkan aktif blogging tentang bukutak akan pernah terjadi jika saya tak mengenal dan bergabung dalam BBI, Blogger Buku Indonesia.

Judul buku : Gone With The Wind (Lalu Bersama Angin)
Penulis : Margaret Mitchell (1936)
Penerjemah : Sutanty Lesmana
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Juni 2009 (cetakan kedua)
Tebal buku : 1124 halaman
Review saya di sini.

 

#5BukuDalamHidupku

 

Sama seperti proyek ini, saat kita memiliki kemauan kuat, hal yang kita anggap sulit akan bisa kita lakukan. Tinggal bagaimana kita bisa mengelola motivasi yang ada dalam diri kita. Saya tak tahu apakah proyek lima hari ini bisa membuat saya lebih konsisten lagi, saya belum tahu. Namun saya puas, berbagi kisah tentang lima buku dalam lima hari, memberi ‘napas’ baru bagi blog ini, memilih menggunakan blog ini yang berarti memberi kesempatan bagi blog buku untuk menetapkan ‘aturannya’ sendiri.

Terima kasih.

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 16, 2013 in BookShelf

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: