RSS

Jangan (Lagi) Mau Dibodohi

01 Dec

Belakangan ini, saya melihat pemberitaan di televisi maupun media massa yang lain diramaikan dengan (salah satunya) profesi dokter. Saya tidak tahu apakah karena saya kebetulan menemui media yang ‘salah’, karena tiba-tiba setelah melihat berita-berita tersebut saya membayangkan dokter itu seperti monster haus darah berperut buncit, dengan jarum suntik dan pisau bedah yang digunakan untuk membunuh (?), berfokus pada kantong pasien, kemudian tanpa hati nurani memaksa pasien untuk menuruti semua perkataannya.

Okay, ini terlalu berlebihan, salahkan imajinasiku.

Melihat berita yang simpang siur, mencampuradukkan fakta dan opini sehingga keduanya buram, komentar entah-siapa di media online yang mulai menggunakan kata-kata kasar, yang entah berdasar ‘kata orang’, asumsi tak berdasar, praduga atau bisa saja memang fakta, semua sudah tak jelas lagi, kemudian para dokter sendiri yang sebagian memilih diam, sebagian tersulut emosinya, dan sebagian mengutarakan pendapat dan fakta secara santun dan jelas.

Pertanyaannya, di antara berjenis-jenis orang dengan berbagai reaksinya tersebut, bagaimana komposisinya muncul dalam pemberitaan? Idealnya, yang dipertemukan adalah media yang objektif, masyarakat yang dapat memberikan fakta yang dihadapinya di lapangan (sebagai pasien mungkin), dan dokter yang dengan kepala dingin dapat meluruskan berbagai polemik tentang profesinya. Akan tetapi, apakah kenyataannya seperti itu? Silakan pikir dan jawab sendiri.

Saya sendiri sudah lama kehilangan kepercayaan terhadap media massa, baik televisi, apalagi media online. Saya yang berharap kebebasan pers dapat menunjukkan fakta dengan jelas, sehingga masyarakat tak lagi hanya puas didoktrin dan dibodohi, malah melihat pembodohan massal atas nama ‘jualan berita’.

Media sekarang senang sekali menjual polemik dan spekulasi. Sesuatu yang bisa diluruskan dengan dua kali wawancara dengan dua orang dari kedua sisi, malah diperpanjang dengan mewawancarai orang-orang yang tak berhubungan (tapi bisa menjual) yang tak menyelesaikan polemik tersebut. Masalah-masalah politik, ekonomi, hukum, kesehatan, yang biasanya muncul di program berita ‘serius’, bisa muncul di infotainment (yang notabene awalnya bertujuan memberitakan masalah selebritis, terutama di bidang seni/hiburan), kemudian meminta pendapat dari selebritis yang tak mengerti bidang tersebut, yang berbicara seolah-olah mereka ahli di bidang tersebut.

Sebelum menuliskan ini, saya ‘khilaf’ menonton sebuah acara yang katanya dakwah. Sebelum orang yang disebut ustadz itu bicara, ada sebuah tayangan tentang pasien-pasien yang katanya korban malpraktek, kemudian orang yang disebut ustadz itu bicara tentang amanah yang dipikul oleh dokter, tanggung jawab dan kewajiban-kewajibannya, di depan peserta pengajian yang notabene adalah orang awam. Pertanyaan saya, apakah orang yang katanya ustadz itu sudah melaksanakan tugas dan amanahnya secara pas? Kenapa tidak berbicara seperti itu di depan para dokter saja, apa yang bisa masyarakat umum ambil dari ‘dakwah’ semacam itu?

Buat yang kebetulan membaca, siapa pun Anda, jadilah orang cerdas yang tidak terseret dengan arus media yang sudah tak jelas objektivitasnya. Bahkan kalimat-kalimat saya pun harus kalian kritisi. Jangan mentang-mentang orang yang katanya ahli dikutip kata-katanya di media kemudian langsung dipercaya, lihatlah konteksnya, situasinya. Di dunia ini tidak ada hal yang mutlak, apalagi di era ‘kebebasan’ seperti sekarang, dimana yang benar bisa jadi salah dan yang salah bisa terlihat benar.

Sadarkah jika setiap kata yang Anda keluarkan sekarang dapat didengar dan dibaca oleh jutaan orang tanpa Anda sadari? Saat Anda menghujat orang tanpa fakta, hanya berdasar praduga atas secuil kejadian, tanpa berusaha melihat kembali dari sisi seberang Anda, ada orang yang bisa tersakiti, ada jiwa yang bisa disesatkan, dan ada otak yang ikut terbodohi.

Last but not least, saya ingin mengutip sebuah adegan dari sebuah mini seri.

don't talk out loud

Mari menjadi cerdas dan mencerdaskan dengan menjaga kata-kata dan tulisan kita.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on December 1, 2013 in My Thoughts

 

One response to “Jangan (Lagi) Mau Dibodohi

  1. erdeaka

    December 1, 2013 at 7:32 PM

    yah, itulah media jaman sekarang. ga obyektif, ngomong sak karepe udele dewe padahal blm tentu benar. aku sendiri dah ga percaya media lagi sejak mempelajari seluk-beluknya jaman kuliah, haha!

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: