RSS

Apakah yang Sebenarnya Meresahkan Para Dokter?

03 Dec

Kasus yang menimpa dr. Ayu, dkk menimbulkan ombak besar dari riak-riak kecil yang selama ini muncul dalam dunia kedokteran. Dalam hal kesejahteraan, penghargaan, kebijakan, dan lain sebagainya, meski dirasa sangat mengganggu dokter dalam upaya profesionalnya, namun itu hanya dirasa sebagai ‘riak’, karena dokter tak bisa begitu saja meninggalkan kewajibannya. Riak-riak kecil ini sudah berlangsung bertahun-tahun, tetapi tak ada yang menyorotnya, masyarakat pun tak tahu, menyangka semuanya baik-baik saja.

Kemudian muncullah kasus ini, yang bagai membangunkan macan tidur, menimbulkan ombak besar, sehingga seluruh masyarakat–baik yang mengerti maupun tidak–turut bereaksi. Sayangnya, sebagian besar opini masyarakat masih dikemudikan oleh media massa, sementara media massa memutarkan fakta sesuai dengan apa yang akan menguntungkan mereka.

Jika kalangan non-dokter mau berhenti sejenak, seharusnya mereka bertanya: Mengapa sekarang? Atau jika mungkin mereka memang tak pernah menyadari riak itu, tidakkah mereka bisa berpikir : Mengapa sebagian besar dokter mengambil sikap yang sama?

Apakah mereka berpikir bahwa semua dokter yang turun ke jalan, yang melakukan aksi solidaritas itu adalah dokter yang ‘tidak baik’, ‘tidak dewasa’, egois, dan lain sebagainya? Berarti dokter yang baik itu sedikit sekali?

Atau, bukankah lebih baik kalau mereka berpikir: Apakah ada yang tidak kami mengerti?

Ini bukan hanya masalah ‘dokter malpraktek dihukum’ lalu para dokter lain protes dan minta kekebalan hukum. Ini adalah sesuatu yang dokter pandang sebagai salah diagnosis dari hakim agung.

Para dokter yang mengerti seluk-beluk kasus ini dari awal, sepakat bahwa dr. Ayu TIDAK melakukan malpraktek, tapi kenyataannya dia dihukum karena pasiennya meninggal dunia. Inilah yang menimbulkan keresahan dari para dokter, bahwa saat mereka telah melakukan prosedur dengan benar, kemudian Tuhan tetap berkehendak mencabut nyawa pasiennya, dokter akan dihukum. Apakah dr. Ayu melakukan prosedur dengan benar atau tidak, apakah dr. Ayu telah memiliki kompetensi atau belum, yang berhak menghakimi adalah orang yang mengerti prosedur tindakan medis dan pendidikan kedokteran.

Seandainya para dokter memandang kasus dr. Ayu benar-benar suatu malpraktek, tak akan ada ombak ini. Lihatlah sejarah, jadilah cerdas.

Saya tak akan memaparkan bukti atau pembenaran, semuanya bisa dicari di luar sana. Hanya tinggal membuka mata, dan gunakan pikiran jernih, bukan pikiran yang telah terkotori praduga dan opini menyesatkan.

Jika para dokter sudah dihantui oleh perasaan semacam itu, siapa yang dirugikan? Dokter itu memang manusia, tapi dokter tidak boleh melakukan kesalahan dalam tindakan medis. Itu mutlak. Namun, dokter itu manusia yang punya hati, punya perasaan, punya kekhawatiran, punya ketakutan.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 3, 2013 in My Thoughts

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: