RSS

Tulisan Baru

10 Nov

Sejak dulu saya suka membaca dan menulis. Saya sering meninggalkan draf-draf cerpen dan novel tanpa menyelesaikannya. Saya juga memiliki banyak potongan-potongan ide dan pemikiran di catatan pribadi maupun mini dan mikro blog saya. Semakin lama, saya bisa menyelesaikan beberapa cerpen, hingga akhirnya ada sebuah titik jenuh, dan saya kembali membaca saja. Membaca dan menulis bagaikan dua kebutuhan yang sulit dipisahkan. Membaca diperlukan untuk memperkaya bahan tulisan, sedangkan menulis diperlukan untuk ‘mendamaikan’ isi otak setelah diisi berbagai macam bacaan. Hal ini baru saya sadari beberapa tahun belakangan ini, seiring bertambahnya bacaan saya.

Sejak mulai menetapkan target bacaan di goodreads, dan aktif di BBI pada awal 2012, kegiatan menulis saya bisa dikatakan terhenti sebatas menulis review. Bukan hal yang buruk, karena semakin banyak dan bervariasi buku yang saya baca, kedalaman review saya—yang artinya juga pemahaman saya terhadap bacaan—semakin terasah. Pun jenis bacaan yang saya lahap semakin kaya, semakin banyak, dan semakin dalam. Saya rasa pada titik itu saya juga mencapai sebuah kesimpulan bahwa tulisan-tulisan saya harus mulai berubah. Saya tahu yang ingin saya tulis, tetapi saya belum mampu dan belum terdorong untuk mengeksplorasi diri.

Kemudian beberapa waktu lalu, saya sampai pada suatu titik baru. Saya punya sebuah ide kisah, saya punya plot, saya punya karakter, dan saya punya pesan. Mulailah saya menulis, entah lebih bagus dari yang dulu, sama saja, atau justru lebih buruk, yang jelas saya butuh menuliskan ide itu. Buku catatan saya menjadi sebuah tempat yang tenang untuk melampiaskannya, sampai beberapa paragraf, tulisan itu terhenti. Tulisannya belum selesai, idenya masih mengambang, saya masih harus melanjutkannya, saya hanya merasa salah menyampaikannya. Kemudian hari-hari berlalu dengan rutinitas, membuat saya melupakan tulisan saya, hingga beberapa waktu berselang, ide itu masih mengganggu saya.

Saya mulai lagi dari awal, menuliskannya dengan cara yang berbeda. Memulai lembaran baru buku catatan saya, menuliskannya kembali selama beberapa jam, dan kemudian kisah itu selesai. Saya menyelesaikan sebuah cerpen lagi setelah jangka waktu yang begitu lama. Tetapi bukan hanya itu, saya merasa mencapai sebuah pencerahan. Saya merasa menemukan ‘nyawa’ yang baru usai menuliskannya, nyawa dari karya itu sendiri.

Selama ini, tulisan-tulisan saya sangat berbau pribadi. Saya begitu protektif pada sang protagonis, karena merasa bahwa dia adalah perwujudan dari kepribadian saya, alter ego saya, sisi ideal saya, pokoknya segala sesuatu yang ingin saya citrakan positif. Namun di cerpen ini (selanjutnya saya sebut cerpen X), saya merasa mulai bisa membebaskan sang karakter untuk bertindak sesuai dengan apa yang akan dilakukannya. Mungkin saya belum sepenuhnya melepaskan sang karakter, tapi setidaknya saya tidak memberikan berbagai macam pembenaran untuk membelanya. Hal ini saya sadari saat saya tiba di satu adegan yang bisa dimaknai ganda. Saat membaca ulang adegan tersebut, saya merasakan sebuah dorongan untuk menambahkan satu-dua kalimat yang akan menegaskan maksud baik sang tokoh tersebut, untuk menghapuskan prasangka negatif yang bisa timbul dari kalimat ambigu yang diucapkannya. Batin saya bergejolak dengan dorongan itu hingga saya memutuskan bahwa saya tidak akan menambahkannya, saya akan membiarkan pembaca menilai dan menghakimi tokoh saya. Keputusan itu menyadarkan saya akan apa yang sudah saya pelajari hampir tiga tahun ini, tentang penilaian saya terhadap suatu karakter saat meresensi sebuah buku, betapa penilaian itu bisa amat sangat subjektif. Dan kini saya tahu mengapa.

Dulu saya juga selalu menghindar topik-topik atau detail-detail yang mirip dengan kehidupan saya, terlebih jika saya tidak ingin dihakimi karena keputusan yang mungkin kontroversial, memalukan, atau rahasia. Namun di cerpen X saya menepiskan semuanya. Segala unsur-unsur itu tak terelakkan menginspirasi saya. Dan karena itu adalah sebuah inspirasi, saya tidak bisa menghilangkan atau menyamarkannya begitu saja. Karena sebuah ide dasar, jika dipaksakan untuk dihilangkan, akan kehilangan esensinya. Karya saya akan jadi terlalu dipaksakan, seperti yang sudah-sudah. Saya membiarkan cerpen X berkisah sesuai yang diinginkannya, tanpa peduli apa nanti kata orang tentang saya dan pandangan hidup saya. Cerpen X adalah sebuah karya fiksi, dan karya fiksi tidak pernah terjadi. Fiksi hanya perlu untuk logis, dan untuk menjadi logis, dia harus mengandung unsur-unsur yang nyata, terlepas dari dia memang benar-benar terjadi atau tidak.

Saya belum bisa mengatakan bahwa cerpen X adalah karya terbaik saya sejauh ini, yang jelas, cerpen X menyampaikan saya pada sebuah pemahaman baru tentang menulis. Sebuah titik balik, sebuah pencapaian dan memiliki sesuatu yang selama ini saya cari. Apa adanya, tidak bermakna tunggal, tidak bebas dari prasangka dan penghakiman. Hanya satu yang masih perlu saya capai dengan cerpen X, yaitu keberanian untuk mempublikasikannya, keberanian untuk dinilai, keberanian untuk dihakimi. Kemudian bagaimana berlalu dengan X-X lain yang lebih berkembang.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on November 10, 2014 in My Thoughts

 

One response to “Tulisan Baru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: