RSS

Kenapa Dunia Harus Berjalan Singular?

14 Nov

Beberapa hari yang lalu, pasca menonton Interstellar, terlepas dari hal-hal mencengangkan yang membuat saya kagum dan terpesona, ada beberapa hal yang mengganjal di benak saya mengenai film ini. Mungkin memang masih ada yang terlewatkan oleh saya, tetapi dalam satu kali menonton, ada salah satu kesan penting yang tidak saya dapatkan di film itu: seantero bumi sedang dalam bahaya kelaparan. Memang disebutkan, lalu ditunjukkan ladang-ladang yang gagal panen, tetapi bagi saya terkesan hanya di sebagian Amerika saja. Kenyataannya, seluruh dunia ini tidak hanya ada satu iklim dan satu jenis ladang, bukan?

Karena hal itu pula, saya jadi tidak melihat signifikansi kenapa NASA harus ditutup. Kenapa pengembangan teknologi luar angkasa seolah-olah hanya membuang sumber daya manusia dan sumber dana. Enam milyar manusia! Kalau memang tinggal sedikit lahan yang bisa ditanami, mengapa enam milyar manusia harus menjadi petani?

Di sini saya tidak akan membahas filmnya, tetapi aspek itu mengingatkan saya pada suatu ketika saya pernah membaca komentar seseorang di internet (lupa tepatnya di mana dan sedang membahas apa). Seseorang itu berkomentar pada berita tentang perkembangan ilmu dan teknologi medis, dia bilang–intinya–untuk apa mengembangkan ini (kalau tidak salah sesuatu yang berhubungan dengan kosmetik), membuang-buang uang saja sementara di luar sana orang sekarat karena kanker dan HIV. Dan pikiran saya saat itu sama dengan saat melihat adegan Interstellar yang sebut di atas.

Constellation Fornax, EXtreme Deep Field

Mengapa dunia harus berjalan singular? Sekian milyar manusia punya bidangnya masing-masing. Ada orang yang mengembangkan hal yang bagi seseorang penting, tetapi sia-sia untuk sebagian orang yang lain. Tetapi kepentingan sebagian orang yang lain itu pasti ada yang mengembangkan juga, oleh orang-orang yang lain. Mengapa memaksakan semua manusia mengurus hal-hal yang penting untuk standar pribadi, padahal kepentingan orang bermacam-macam?

Itulah mengapa saya tidak suka dengan komentar orang-orang di internet, sebagian besar mereka tidak peka, hanya asal bicara tanpa tanggung jawab. Padahal di sisi lain komputer mereka adalah manusia juga yang punya perasaan dan emosi. Dengan berkomentar seperti itu mereka seolah menggampangkan teknologi bedah plastik, misalnya, padahal para pengembang ilmu itu tak hanya mengurusi orang-orang yang ingin cantik. Ada orang-orang yang hidupnya terselamatkan berkat kulit tambahan yang dipasangkan pada luka bakar mereka, ada anak-anak yang masa depannya kembali terang karena mereka sudah tak dipandang aneh secara fisik, banyak hal di luar pemikiran sempit orang-orang yang hanya bisa bicara saja.

Saya sendiri juga pernah mendapatkan komentar tak menyenangkan mengenai pilihan pekerjaan saya. Saya memang terlihat berada di zona nyaman dengan pilihan saya ini, dibandingkan jalur-jalur ‘umum’ yang dilalui para teman sejawat saya, tetapi ada beberapa alasan yang tak akan pernah saya sebutkan, apalagi pada orang-orang sinis yang hanya bisa bicara. Saya tidak marah, karena saya tahu orang itu tidak bermaksud buruk (saya cukup mengenalnya), tetapi bukan berarti saya tidak boleh sakit hati. Saya punya pilihan, saya punya tujuan, saya punya prioritas, latar belakang dan konsekuensi yang berbeda dengan orang-orang lain.

Rasanya sulit sekali menghargai perbedaan, menyadari bahwa kreativitas berarti menembus batas-batas yang ‘biasa’ atau ‘sewajarnya’ dilakukan oleh orang-orang. Bayangkan seandainya semua orang menghabiskan waktunya untuk mengurusi hal yang sama, untuk memikirkan masalah yang sama, entahlah, rasanya sulit dibayangkan. Kembali ke Interstellar, semua orang harus menjadi petani, insinyur dianggap tidak penting, padahal insinyur bisa mengembangkan teknologi pertanian untuk mengakali lahan yang tidak subur lagi. Sebagian orang yang lain bisa saja mendistribusikan hasil pangan dari satu tempat ke tempat yang lain, mungkin juga perlu pengolahan hasil pangan yang lebih memadai untuk membuat hasil yang sedikit menjadi cukup untuk dikonsumsi, dan lain sebagainya.

Walaupun posting ini tidak dimaksudkan untuk mereview Interstellar, tetapi karena saya membahas kelemahannya, agak kurang adil jika saya cukupkan sampai di situ. Sejujurnya, sampai hari ini saya masih mengalami ‘movie hangover’, saya masih terbayang-bayang dengan film itu, adegan-adegannya, settingnya, efek audiovisualnya dan dialognya. Tema antariksa itulah yang membuat saya tetap cinta pada film ini. Dan satu hal yang paling membuat saya terkesima adalah planet ini:

Miller's Planet

Miller’s Planet

Yah, bagaimana cara membayangkan sebuah dunia di luar dunia kita? Dan sebuah gambaran planet ‘sederhana’ itu saja bisa membuat saya terbayang-bayang hingga berhari-hari. Berbagai ‘bagaimana jika…’ dan beragam ‘apa yang ada di…’.

Bahkan di film ini pun, yang saya kritik karena terlalu terpaku pada satu hal, sebenarnya menunjukkan keberagaman yang sangat. Para pencinta antariksa seperti saya boleh kagum dengan ketelitian ilmiah dan imajinasi perjalanan antarplanet ini, para penyuka drama bisa menikmati konflik keluarga yang mewarnai keputusan manusia dalam masa-masa sulit itu, para penggemar aktor dan aktris pemerannya bisa memuaskan hasrat melihat akting hebat idola mereka, para pegiat lingkungan bisa bertepuk tangan dengan sebuah bahan kampanye baru, para fisikawan bisa meramu sebuah hipotesis untuk dikaji, dan lain sebagainya.

Betapa kayanya satu hal jika kita bisa melihatnya secara paralel.

A Different Point of View

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 14, 2014 in My Thoughts

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: