RSS

Sampai Kapan Bumi Kita Kuat Menanggungnya

15 Feb

Masih terinspirasi dari Billions & Billions karya Carl Sagan, kali ini saya akan menyinggung isu lingkungan yang dibahas di buku tersebut. Bumi kita adalah suatu sistem tertutup yang ‘mendaur ulang’ dirinya sendiri, secara alami. Hewan menghirup oksigen, mengeluarkan karbon dioksida; tumbuhan, dengan energi dari matahari, mengubah karbon dioksida menjadi oksigen; ada rantai makanan yang menjaga keseimbangan ekosistem; dan seterusnya. Namun, sistem ini berubah saat manusia ikut campur.

Those organisms that did not cooperate, that did not work with one another, died. Cooperation is encoded in the survivors’ genes. It’s their nature to cooperate. It’s a key to their survival.
But we humans are newcomers, arising only a few million years ago. Our present technical civilization is just a few hundred years old. We have not had much recent experience in voluntary interspecies (or even intraspecies) cooperation. We are very devoted to the short-term and hardly ever think about the long-term. There is no guarantee that we will be wise enough to understand our planetwide closed ecological system, or to modify our behavior in accord with that understanding.
(p.80)

Salah satu isu yang masih hangat saat buku ini ditulis di tahun 1990an adalah CFC yang berperan sangat besar pada pemanasan global. Molekul yang merupakan penemuan besar yang menjadikan alat pendingin dalam bentuk apapun dapat diproduksi secara murah dan menguntungkan, ternyata membawa bencana tersendiri bagi bumi kita. Unsur klorida yang dibebaskan dari proses penggunaannya mengikat molekul ozon dan, berdasarkan perhitungan para ilmuwan, akan membawa malapetaka dalam beberapa dekade saja. Molekul-molekul yang pada saat itu tersebar di atmosfer tak akan hilang dalam satu abad, yang artinya, jika penggunaannya diteruskan, kita tak akan sempat menghentikan kerusakan yang sedang berjalan.

Namun, pada masa itu, ketergantungan akan teknologi ternyata menimbulkan sikap acuh tak acuh, atau mungkin denial akan prediksi para ilmuwan tersebut. Industri akan rugi besar, pemangku kebijakan akan kehilangan popularitas, dan konsumen akan kesulitan mendapatkan produk yang terjangkau. Siapa yang peduli dengan prediksi jika kita sudah merasa nyaman dengan sesuatu hal?

So what? Who cares? Some invisible molecules, somewhere high up in the sky, are being destroyed by some other invisible molecules manufactured down here on Earth. Why should we worry about that? (p.103)

Yah, sejujurnya, hal seperti ini sering sekali terjadi, dan sangat sering saya temui. Tidak hanya tentang lingkungan, bahkan tentang kesehatan dan keselamatan diri mereka sendiri. Banyak yang tidak mengerti pentingnya pencegahan. Banyak yang tidak tahu bahwa pada banyak hal, kata terlambat itu ada. Mungkin mereka berpikir, mengapa harus meninggalkan kenyamanan atas sesuatu yang tidak bisa dilihatnya (atau dipahaminya), mereka butuh bukti yang bisa mereka lihat (dan pahami). Di situlah letak masalahnya, tak semua orang bisa memahami hal-hal teknis yang ditekuni oleh orang-orang tertentu. Seperti tak semua orang bisa memahami reaksi molekul ozon, meski mereka sudah diberi tahu. Kemudian semua orang berlagak pandai, berlagak tahu, padahal sejatinya mereka hanya ingin memuaskan diri mereka sendiri, menghibur diri dalam penyangkalan atas sesuatu yang mengancam kenikmatan hidup mereka.

In all these cases, the lesson is clear: We are not always smart or wise enough to foresee all the consequences of our actions. The invention of CFCs was a brilliant achievement. But as smart as those chemists were, they weren’t smart enough. Precisely because CFCs are so inert, they survived long enough to reach the ozone layer. The world is complicated. The air is thin. Nature is subtle. Our capacity to cause harm is great. We must be much more careful and much less forgiving about polluting our fragile athmosphere. (p.116)

Mungkin, kita memang makhluk pandai, tetapi seringkali, kita kurang bijaksana. Di saat kita menciptakan suatu teknologi, ternyata imbasnya buruk untuk bumi kita. Di waktu kita mencoba memanfaatkan kekayaan alam kita, ternyata perhitungan kita meleset. Kita berkembang, jumlah manusia berlipat-lipat, yang artinya, berlipat pula kerusakan yang kita timbulkan. Kini saat CFC sudah dihentikan, masih ada bahan bakar fosil yang mengancam atmosfer kita. Pembakaran minyak yang menghasilkan karbon dioksida, pada mulanya masih bisa ditanggung bumi kita. Hingga semakin lama, semakin banyak ladang minyak dikeruk, semakin banyak penggunaan bahan bakar fosil, semakin banyak karbon dioksida dilepaskan, dan gawatnya, semakin banyak juga pohon dan hutan yang dimusnahkan. Bagaimana keseimbangan bisa tercapai?

It should not be impossibly difficult. Birds—whose intelligence we tend to malign—know not to foul the nest. Shrimps with brains the size of lint particles know it. Algae know it. One-celled microorganisms know it. It is time for us to know it too. (p.81)

Kita butuh rehat sejenak, berpikir sejenak, apa yang bisa terjadi beberapa dekade ke depan jika kita terus seperti ini. Jika tak bisa mengubah dunia, setidaknya kita bisa mengubah diri kita, sedikit saja. Terkadang, saya berpikir bahwa satu alat saja (yang saya gunakan), tak akan berefek besar pada lingkungan. Tetapi, bagaimana jika semua orang berpikir demikian?

We’ve benefitted from our global civilization; can’t we modify our behavior slightly to preserve it? (p.147)

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on February 15, 2015 in BookShelf

 

Tags:

One response to “Sampai Kapan Bumi Kita Kuat Menanggungnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: