RSS

Goresan Mentari Senja

02 Nov

“Bagaimana jika salah satu di antara kita mati?”

Empat puluh tahun yang lalu, mungkin keduanya tak pernah memikirkan hal itu. Memilih untuk hidup bersama dengan jarak usia tiga belas tahun bukan sesuatu yang luar biasa. Dulu. Tapi sekarang, di usia senja Sam yang hampir delapan puluh tahun dengan tubuhnya yang melemah, serta Ros yang juga sudah tak bisa disebut muda lagi, ketakutan itu menjelma atas nama kesendirian.

Sudah lima belas tahun kedua pasangan ini hidup berdua saja, di sebuah rumah mungil di pedesaan, sebagaimana angan-angan Ros sejak dulu. Setiap pagi, saat matahari baru menorehkan guratan-guratan jingga di langit, keduanya sudah duduk bersisian di teras timur. Terkadang Sam membacakan beberapa bab buku, kebiasaannya sejak anak-anak mereka masih kecil, kebiasaan yang sangat disukai Ros. Tiga puluh tahun lalu, Ros menikmati saat-saat menidurkan putra-putrinya, demi mendengarkan Sam membacakan dongeng, kemudian tidur sejam lebih terlambat karena pekerjaan rumah yang ditundanya untuk itu. Setelah anak-anak mereka sudah terlalu besar untuk didongengi, Sam akan membaca untuk Ros saat mereka berdua saja.

Di teras timur ini juga, jika sedang tidak membaca, keduanya masih suka berbincang mengenai mimpi. Bukan mimpi-mimpi masa muda yang ingin mereka gapai, hanya mimpi tentang dunia, dunia tempat anak-anak dan cucu-cucu mereka hidup. Akan tetapi, pada akhirnya mereka lebih sering diam. Berkomunikasi melalui sentuhan tangan, gesekan lengan, atau tatapan mata sudah cukup memberi rasa aman dan damai.

“Sam, bagaimana jika salah satu di antara kita mati? Aku tak bisa membayangkan hidup tanpamu.”

Sam merangkulkan lengannya ke bahu istrinya. Matahari sudah cukup tinggi, menerangi ladang yang hijau di bawah kehangatannya. Cericip burung mengisi kesunyian di antara mereka.

“Aku tak tahu, Ros. Lima belas tahun, dan aku masih tak tahu.”

Bayangan lima belas tahun yang lalu hadir di antara kesunyian yang tersisa pagi itu. Sam terbaring di ruang perawatan intensif di rumah sakit. Hari-hari itu, jika sedang tidak ada dokter atau perawat yang melakukan pemeriksaan atau tindakan medis, hanya suara mesin, dan terkadang isak Ros, yang terdengar. Sam yang sejak muda adalah seorang pekerja keras, yang tak pernah terlihat lelah, yang selalu bergerak, saat itu terbaring lemah karena infeksi di parunya.

“Kau terlalu memaksakan diri,” kata Ros suatu ketika. “Kau sudah tak muda lagi.”

“Aku hanya sakit,” jawabnya terengah.

“Kau tak perlu sesakit ini,” Ros kembali terisak pelan.

Sam membayangkan kematian. Tubuhnya panas, dadanya sesak, dan dia bisa merasakan jantungnya memukul-mukul dinding dadanya. Tapi dia merasakan genggaman kuat istrinya, dan membayangkan wanita itu duduk sendirian di rumah besar mereka. Putra sulungnya tak akan pulang sebelum tengah malam, sementara putrinya berjarak lima puluh kilometer darinya, sibuk dengan tugas mengajar di sekolah dasar dan anaknya yang masih kecil. Putra bungsunya akan berkutat di laboratorium pribadinya, dengan kabel-kabel dan komputer yang selalu menyala.

“Kemarin anak-anak ke sini, tapi mereka tak bisa berlama-lama. Kau masih tidur dan aku tak tega membangunkanmu. Mereka janji akan datang lagi hari ini, tapi entahlah.”

“Tak apa, biarkan mereka dengan hidup mereka.”

“Aku tahu kau akan bicara begitu. Kurasa mereka juga tahu, bagaimanapun juga, mereka anak-anakmu.”

“Mereka bahagia.”

Ros ingat bagaimana Sam membebaskan putra sulungnya untuk memilih sekolah tinggi di luar kota. Itu perpisahan pertama Ros dengan anaknya, dan Sam melarangnya menangis di depan putra-putrinya. Satu per satu Sam mendewasakan keturunannya dan menguatkan ibu mereka. Hingga satu per satu ketiganya menunjukkan prestasi, menjalani hidup yang luar biasa, dan meraih apa yang mereka inginkan.

“Sam, istirahatlah.”

Sore itu, hanya putri dan putra bungsunya yang datang. Sam bicara sedikit dan terpatah-patah, meyakinkan bahwa mereka tak harus menungguinya setiap saat. Ros tak mengeluarkan air mata setitik pun.

“Kewajiban kalian terhadap generasi orang tua kalian adalah hidup yang bermanfaat, membuktikan bahwa kalian adalah hasil didikan terbaik. Lemah, sakit, dan kematian akan datang pada waktunya. Tak ada gunanya ratapan dan belas kasihan kalian.”

Sam berusaha tak terlihat lemah, dan Ros mempersembahkan senyumnya yang paling tenang.

Setelah mereka pulang, Ros sudah tak ingin menangis. Dia hanya menggenggam erat lengan suaminya dengan kedua tangannya hingga keduanya tertidur. Beberapa hari kemudian, kondisi Sam dinyatakan membaik, dan dia bisa pulang.

Sejak saat itu, atas permintaan Ros, Sam berhenti dari segala kesibukannya—yang sebenarnya hanya lima jam per minggu untuk mengabdikan sisa energinya—dan menikmati masa pensiun di rumah peristirahatan yang jauh dari putra-putri mereka. Sekali dalam beberapa minggu, akan ada yang mengunjungi mereka. Kadang-kadang keduanya yang akan berkunjung ke tempat anak-anak mereka.

Matahari mulai terik, kedua cangkir kopi mereka telah kosong. Ros masuk dan bekerja di depan mesin ketik kuno kesayangannya, peninggalan kakeknya yang seumur-umur belum pernah dipergunakannya sebelum meninggalkan segala teknologi di kota. Sedangkan Sam membaca lembaran-lembaran yang sudah selesai diketik, sambil sesekali memberi komentar. Suara ketukan mesin ketik semakin teratur seiring berlalunya pagi. Sekali dua kali terdengar goresan pensil yang menari di antara jari-jari Sam. Nanti, saat cahaya bulan sudah menembus jendela rumah mungil itu, menemani angin sejuk yang membelai kedua pasangan itu di sofa, keduanya akan mendiskusikan hasil tulisan itu.

***

Pertemuan Sam dan Ros empat puluh tahun yang lalu bukanlah pertemuan romantis yang meyakinkan mereka bahwa keduanya akan mengisi hidup satu sama lain. Sam sudah hampir berusia empat puluh tahun dan, agak menimbulkan spekulasi bagi pria semapan dia, belum menikah. Ros tahu pasti bahwa Sam pernah menjalin hubungan dengan wanita-wanita yang lebih cantik dan menarik daripada dirinya, dan gagal entah dengan alasan apa dan atas keputusan siapa.

“Kenapa kau memilihku? Apakah aku salah satu dari eksperimenmu?”

Sam tertawa, “Eksperimen! Dari mana kau mendapat ide itu?”

Kemudian wajahnya berubah serius, “Ros, kau bisa menanyakan pada siapa pun dan tak akan menemukan jawabannya. Kau hanya perlu menatap mataku dan percaya bahwa aku ingin kau yang menjadi istriku.”

Ros jatuh cinta, tapi memutuskan pernikahan bukan perkara mudah baginya saat itu. Dia sudah tak memiliki orang tua yang bisa dimintai pertimbangan, tak ada kerabat kecuali bibinya yang sudah sakit selama bertahun-tahun dan berada dalam perawatannya. Dia juga sudah tak bergaul dengan banyak orang. Bibinya yang seorang janda tanpa anak sudah menganggap Ros seperti anaknya sendiri, terlebih saat Ros kehilangan orang tua dan saudara satu-satunya saat usianya dua belas tahun. Sang bibi menyukai Sam, meski itu tak banyak mempengaruhi keputusan Ros. Bagaimanapun, Ros sudah jatuh cinta, dan cintanya semakin besar seiring waktu yang mereka lewatkan.

“Ros, aku sadar aku sudah tidak muda lagi.”

“Kau bicara apa?”

“Saat kau memutuskan untuk mengiyakan permintaanku, kau harus memastikan bahwa kau tak akan menyesal jika suatu saat kau bertemu dengan pria seusiamu yang jauh lebih menarik daripada aku.”

“Aku yang harus khawatir dengan wanita-wanita yang lebih menarik di luar sana.”

Sam tersenyum simpul, “Tampaknya kita sudah mencapai kesepakatan.”

Sebulan kemudian mereka menikah, dan dua bulan kemudian, bibi Ros meninggal dunia karena sakitnya.

“Dulu aku tak pernah memikirkan risiko ini, bahwa aku harus melihatmu lemah terlebih dahulu. Sedangkan sekarang aku sudah sangat tergantung padamu, terlalu mencintaimu,” kata Ros suatu pagi di teras timur.

Sam tak mengomentari kalimat istrinya, dia terus membacakan sebuah kisah detektif favoritnya. Bagian yang dibacanya menceritakan pertemuan sang detektif dengan musuh bebuyutannya. Di akhir kisah, sang detektif meninggalkan kawannya yang juga menjadi narator kisah itu, menghilang bersama musuhnya. Ros selalu merasa dicurangi oleh kisah ini, bagaimana mungkin sang detektif tega meninggalkan kawan baiknya dengan cara seperti itu Konon, beratus-ratus tahun yang lalu, penggemar kisah detektif ini juga merasa dicurangi oleh sang penulis.

Teras timur seolah menjadi saksi percakapan pagi mereka. Dan percakapan pagi itu seolah berulang seperti musim-musim sepanjang tahun. Hamparan rumput yang mengering, dedaunan yang menghijau, dahan-dahan yang meneteskan air hujan semalam, dan bunga-bunga yang membawa aroma pagi, memiliki kisahnya masing-masing.

Di suatu pagi yang dingin dan mendung, Sam dan Ros menanti segaris sinar matahari yang tak tampak juga. Mereka duduk merapat dalam balutan jaket tebal dan selembar selimut. Dua cangkir kopi masih mengepul panas, tapi suasana hati keduanya terlalu kelabu untuk menyesapnya sampai habis. Keduanya memutuskan untuk beranjak ke dalam rumah saat rintik pertama hujan turun. Sam menutup pintu dan jendela rapat-rapat, tanpa menguncinya. Di rumah kecil itu mereka tak pernah mengunci pintu. Ros duduk di tepi tempat tidur dalam kamar mereka yang hangat, membaca lembar-lembar kisah hidupnya yang sudah selesai direvisi dan diketik ulang. Sam duduk di sampingnya, mengikuti ritme baca Ros yang semakin cepat.

Hujan sudah mereda ketika mereka tiba di halaman terakhir. Ros berhenti sesaat, membuka tirai jendela kamarnya dan menemukan sesuatu yang diharapkannya, cahaya matahari. Sam masih memegang lembar terakhir ketikan Ros, sambil mencari-cari alat tulis di meja samping tempat tidurnya.

“Aku lelah,” kata Ros.

“Berbaringlah.” Sam meletakkan lembaran-lembaran hasil ketikan Ros di meja, dan meletakkan penanya di atas lembaran-lembaran itu, masih dalam kondisi terbuka.

“Bagaimana sakit kepalamu?” tanya Ros saat Sam ikut berbaring di sampingnya.

“Parah,” jawabnya sambil mendekat dan memeluk istrinya.

Mereka tertidur. Hingga matahari terbenam dan hujan kembali turun, lampu-lampu di rumah itu belum dinyalakan.

Keesokan paginya langit cerah, matahari menembus jendela di kamar yang tirainya masih terbuka. Di tempat tidur, dua orang penghuninya masih terpejam sambil berpelukan. Tak ada tanda kelelahan atau kesakitan di wajah mereka. Seberkas sinar matahari yang masuk membuat wajah mereka seperti sedang tersenyum. Sementara di meja samping tempat tidur, lembaran-lembaran kertas masih tertumpuk rapi. Di baris terbawah, sebuah kalimat terketik:

“Bagaimana jika salah seorang di antara kita mati?”

Kemudian di bawahnya, dengan tinta biru yang sudah mengering, sebuah tulisan tangan yang tegak tampak ditambahkan:

”Kita akan mati bersama-sama.”

*****

Solo, November 2014

PS: Ini adalah cerpen X yang pernah saya singgung di sini. Butuh waktu lama untuk terbit di sini karena sempat saya kirimkan ke media massa. Do me a favour by commenting.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2015 in My Short Stories

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: