RSS

Hidup Ini Masalah Persepsi

29 May

Beberapa hari lalu saya memeriksakan kembali mata minus saya setelah sekitar sepuluh tahun tidak membeli kacamata baru. Sebelumnya saya sudah merasakan keanehan mengenai persepsi saya akan jarak, saya pikir ini karena pengaruh silindris. Setelah dilakukan pemeriksaan kembali, pandangan saya menjadi lebih jelas dengan perubahan (bertambah sebelah dan berkurang sebelah) seperempat minus dan pergeseran sudut lensa silinder.

geometric-1204384_960_720

Ada yang aneh saat memakai kacamata baru ini, memang suatu hal yang lumrah, dan biasanya dalam beberapa jam saya sudah bisa beradaptasi. Namun setelah dua hari, saya tidak bisa meninggalkan perasaan aneh ini. Saya merasakan perubahan persepsi kembali, kali ini persepsi jarak yang berkebalikan dengan kacamata yang lama. Lalu saya berpikir, normal itu seperti apa? Di saat visus sudah sama-sama mendekati 6/6, ternyata tidak menjamin persepsi jarak yang sama, dan saya tidak tahu apakah ada ukuran yang pasti tentang itu. Hal yang hampir mirip pernah saya tulis dalam post tentang buku yang mengubah pandangan saya tentang persepsi di sini.

Mungkin hidup juga seperti itu. Saat kita melihat dengan kacamata kita masing-masing, kita mempersepsikan sesuatu yang normal itu seperti yang kita lihat. Padahal, belum tentu ukuran kita sama. Sebagian mempersepsikan cantik itu adalah pipi yang tirus, sebagian yang lain merasa pipi berisi lebih menawan. Padahal tak ada ukuran pasti tentang tirus dan berisi itu, tak ada patokan berapa sentimeter pipi dikatakan tembam, semuanya relatif.

a_woman_looking_in_the_mirror_at_her_wrinkled_face_royalty_free_clipart_picture_100224-119323-928053

Seperti juga saat kita memandang orang lain, mungkin bagi kita dia baik, tulus, tetapi orang yang melihatnya dari sisi yang berbeda akan menemukan kelemahannya dan menghakiminya sebagai orang yang suka memanfaatkan orang lain. Atau mungkin sebuah permasalahan, yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, bergantung pada latar belakang dan pola pikir si pengamat. Masalah naiknya harga daging mungkin menjadi anugerah bagi peternak dan penjual daging, masalah bagi konsumen dan pengusaha restoran, tetapi tidak berpengaruh banyak pada vegetarian. Namun perubahan sudut pandang lagi, jika mahalnya harga daging menyebabkan penurunan konsumsi, masalah kembali muncul di pihak peternak dan penjual daging.

Era sosial media hari-hari ini seringkali membuat perbedaan persepsi ini menjadi besar, debat tak berujung yang ujung-ujungnya malah mempermasalahkan perbedaan alih-alih masalah itu sendiri. Sosial media saat ini, yang kiranya merupakan perpanjangan dari kebebasan berpendapat pasca reformasi, membuat kita belajar, tak hanya membuat argumentasi cerdas, tetapi tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Berbeda itu biasa, siapa tahu ada astigmatisma di mata normal kita yang membuat pergeseran beberapa derajat saja memberi persepsi yang berbeda tentang hidup yang sama.

2013-03-23-18.30.50.jpg.jpeg

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on May 29, 2016 in My Thoughts

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: