RSS

Legitimasi untuk Membenci

11 Nov

Pekan ini, sebuah kejadian penting terjadi di sebuah negara (yang katanya) adikuasa. Negara (yang katanya) menjunjung kebebasan dan demokrasi, Namun, bukan hanya itu, sudah bertahun-tahun sebenarnya saya merasa bahwa kebanyakan manusia tidak hidup dengan idealismenya sendiri, kebanyakan kita hidup dengan apa yang dianggap banyak orang sebagai benar atau layak.

Contoh kecil saja, di tingkat lingkungan tempat tinggal, seberapa banyak orang mau mendobrak kebiasaan atau tradisi yang dirasanya tak perlu dan menghadapi omongan orang/tetangga? Terlebih jika seseorang itu ‘berbeda’, dalam artian asal-usul, status sosial, ataupun kondisi ekonomi, tantangan yang dihadapinya semakin berat. Orang membangun rumah dengan pagar tinggi untuk menghindari pencuri justru dibilang tak mau bersosialisasi. Orang tak mau hadir arisan dengan alasan pekerjaan dikatakan sombong tak mau bergaul. Cap semacam ini biasanya muncul sepihak, praduga, asumsi, lalu disebarluaskan dan menjadi semacam ‘sabda’ bahwa masyarakat yang ideal adalah yang sama seperti ‘kami’.

Dalam tatanan yang lebih luas, akan ada istilah pribumi dan nonpribumi yang sebenarnya sudah usang tetapi tetap dipergunakan hingga hari ini. Etnis tertentu yang kebetulan memiliki ciri fisik berbeda dengan kebanyakan orang disebut nonpribumi dan dianggap bukan bagian dari bangsa Indonesia. Padahal KTP mereka jelas Warga Negara Indonesia, bahkan mungkin kakek-kakek mereka berjuang memerdekakan Indonesia, bahkan mungkin rasa nasionalisme mereka lebih tinggi daripada yang mengaku-aku sebagai pribumi. Saya tidak bicara upacara bendera, menggunakan bahasa daerah, atau hal-hal remeh semacam pakaian. Bagi saya, nasionalisme itu adalah saat cintanya pada Indonesia diwujudkan dengan mendukung kemajuan bangsa; tidak korupsi, berkarya untuk bangsa bukan hanya menikmati kekayaan bangsanya saja, mendukung berkembangnya produk dalam negeri berkualitas bukan sekadar membabi buta menyuburkan produk-produk tidak bermutu.

Sebagian orang Indonesia ada yang secara terang-terangan membenci etnis yang berbeda ini karena berbagai alasan yang sesungguhnya tak bisa dibenarkan. Karena sejak kecil mereka diperkenalkan dengan ‘golongan kita’ dan ‘bukan golongan kita’ dengan cara yang tidak benar. Anak-anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang merasa mendapatkan pembenaran untuk membenci, karena orang-orang tua mereka juga membenci, meski mereka tak tahu alasan sesungguhnya.

Saya ingin percaya bahwa dunia kita (masih) baik-baik saja, bahwa cinta masih menang di atas kebencian. Bahwa para pembenci itu hanyalah sebagian kecil oknum saja. Kemudian di belahan dunia lain saya melihat orang-orang mengeluh tentang kebebasan dan kedamaian mereka. Ada orang-orang yang membantai orang lain karena agamanya. Ada negara-negara yang (katanya) beradab, tetapi saat negara memunculkan pilihan tentang masalah ekonomi dan politik, mereka memilih diri mereka sendiri. Ketika negara memberi pilihan untuk membatasi imigran, membatasi ras yang berbeda dengan mereka, membatasi gaya hidup yang berbeda, orang-orang ini merasa mendapatkan legitimasi, lalu mereka memunculkan sisi yang selama ini mereka sembunyikan.

Kebencian tak lagi disembunyikan, karena negara seolah memberi mereka hak untuk membenci.

Mungkin memang sulit untuk menanamkan bahwa manusia tak boleh dibedakan berdasarkan warna kulit atau ciri fisik lainnya. Nyatanya, di negara yang heterogen sekalipun, orang masih bisa membenci saat diberi kesempatan untuk itu. Mereka mampu secara terang-terangan menebarkan teror untuk orang lain saat mereka menjadi mayoritas, saat mereka merasa kebanyakan orang berada di posisi yang sama dengan mereka. Yang lebih menyakitkan adalah, sebagian dari mereka adalah orang yang selama ini (kita kira) kita kenal.

Saya jadi ingat sejarah. Mungkin revolusi, renaisans, atau apapun yang terjadi abad lalu juga seperti ini. Mereka beralih dari idealisme A ke idealisme B, dunia kemudian menganut idealisme B dan orang-orang yang bertahan dengan idealisme A akan menyembunyikan ide mereka. Hari ini, mungkin orang-orang dengan idealisme A sudah cukup kuat untuk bangkit kembali, menggeser idealisme B yang dulu begitu diagungkan, dan mungkin besok akan menjadi usang. Bumi ini berputar, sejarah berulang. Ah, bahkan bentuk bumi pun sekarang diperdebatkan kembali.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 11, 2016 in My Thoughts

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: