RSS

[Spoiler-Free] Mengapa Harus Nonton Fantastic Beasts

23 Nov

Sebelum kecewa, saya peringatkan bahwa ini bukan resensi film Tapi kalau kalian perlu pertimbangan untuk menonton film Fantastic Beasts and Where to Find Them, silakan baca sampai akhir, karena saya jamin tulisan ini bebas spoiler. Sebagai informasi, standar spoiler saya tinggi, jadi jangan khawatir.

Pertama-tama, saya harus mengakui bahwa saya bukan Potterhead. Ya, saya sukaaa sekali buku Harry Potter, saya juga menonton semua filmnya. Saya memahami dan mengagumi konsep besar dunia Harry Potter, saya masih sesak dan menangis membaca/menonton kematian karakter-karakter di buku kelima dan seterusnya. Namun, jika ditanya buku atau film terfavorit, bukan Harry Potter jawaban nomor satu saya. Saya juga tidak hafal detail isi bukunya karena saya baru membaca dua kali.

Saya adalah fans berat madam Rowling, hampir semua karya utamanya sudah saya baca, dan saya suka semuanya. Saya suka gaya penulisannya, saya suka karakter-karakter rekaannya, saya suka dunia yang dibangunnya, saya suka dunia yang digambarkannya, saya suka jalan ceritanya, saya suka dikejutkan dengan segala plot twistnya, saya puas dengan bagaimana dia mengakhiri buku-bukunya. Singkat cerita, saya adalah fans karya-karya J.K.Rowling. Dan, saya rasa ini adalah alasan yang lebih dari cukup mengapa saya harus menonton Fantastic Beasts. Terlebih naskahnya langsung ditulis oleh J.K.Rowling, tak perlu berpikir dua kali.

Hal pertama yang saya rasakan saat memasuki bioskop adalah bersemangat, gugup, tidak sabar, penasaran, yah, rasanya mungkin seperti hendak bertemu cinta pertama yang belum pupus. Antara bersemangat karena sudah rindu, gugup apakah masih sekeren yang dulu, tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama lagi, dan penasaran akan seperti apakah dia saat ini.

Sepanjang film, saya merasa seperti berada di acara reuni teman yang sudah lamaaa sekali tidak berjumpa. Mereka membawa kisah-kisah baru yang membuat saya terpesona, tetapi sekali waktu ada kisah lama atau orang-orang yang familiar juga, yang membuat saya ingin menyeletuk, “Ah, iya…, pasti itu dia…. ya, aku ingat…”, dan seterusnya.

Setelah film berakhir, saya merasa bahagia, saking bahagianya hingga saya ingin menangis. Saya menangisi keindahan cinta lama bersemi kembali ini. Perasaan yang hampir sama seperti saat saya kembali menengok dunia Harry Potter, baik melalui buku atau film, seperti terperangkap dalam sihir sang penulisnya.

Baiklah, itu perasaan saya, sekarang coba kita bahas sedikit saja filmnya.

Nama Newt Scamander, sang penulis buku pelajaran tentang hewan-hewan ajaib yang berjudul sama seperti film ini beberapa kali muncul dalam buku Harry Potter. Namun, saya tidak membayangkan bahwa Scamander bisa semenawan itu. Mungkin karena Newt muda, penyayang binatang, dan gelagatnya yang canggung itu memang cukup menggemaskan. Selain Newt, karakter lain juga sama kuatnya dalam hal meninggalkan kesan. Masing-masing karakter bisa langsung kita nilai sifat permukaannya. Pun ikatan antarkarakter sudah mulai nampak cukup kuat. Kita bisa melihat bibit persahabatan dan percintaan tumbuh di sini.

Namun, bukan J.K.Rowling kalau tidak penuh kejutan. Para karakter itu bisa saja berbeda dari apa yang terlihat di awal, mereka punya luka, punya masa lalu, punya rahasia. Oleh karena film ini masih akan ada empat sekuel lagi, jadi masih banyak yang bisa dan akan digali dan diungkapkan oleh mereka. Seperti masa lalu dan posisi Newt yang masih banyak sekali belum diungkapkan. Termasuk karakter-karakter kejutan yang dimunculkan, baik itu nama yang familiar, atau wajah yang familiar.

Secara visual, film ini cukup memanjakan mata. Terutama bagian-bagian yang menunjukkan fantastic beasts and where to find them in this movie.

Secara plot dan alur, film ini sudah menjanjikan kisah kompleks yang penuh dengan twist. Khas madam Rowling, kita bisa melihat realitas sosial melalui bingkai kecilnya. Konflik besarnya sendiri belum muncul. Jika dianalogikan dengan Harry Potter, film ini seperti seri pertama atau kedua yang sudah mulai memunculkan tanda-tanda jahat Voldemort, tetapi suasana kisah masih relatif menyenangkan. Dan memang film ini menyenangkan, lucu, masih ada humor di sana-sini, walaupun tidak mengurangi ketegangan yang muncul saat ada tanda-tanda kegelapan.

Film ini menurut saya menyasar penonton remaja-dewasa, tetapi anak-anak (terutama pembaca Harry Potter) dengan bimbingan mungkin masih bisa. Labelnya 13+, adegan seksual hanya ciuman, tidak ada kata-kata kotor, adegan kekerasan sedang.

Yang jelas, jangan berharap banyak karena tampaknya sang kreator masih menyimpan banyak ‘amunisi’ untuk dikeluarkan di film-film berikutnya. Bersiaplah untuk bernostalgia, terkagum-kagum, tergelak geli, serta terharu dengan para teman baru kita.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 23, 2016 in My Thoughts

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: