RSS

Monthly Archives: June 2017

Berberes Kamar dengan Konmari Modifikasi (Part 2)

Setelah menceritakan proses berberes pakaian dan buku di sini berakhir dengan berberes kertas, sebelumnya masih ada yang terlewat, yaitu tas. Menurut Konmari, tas termasuk dalam pakaian, bersama dengan sepatu dan aksesoris lainnya. Namun, karena sepatu dan aksesoris saya lebih sedikit dan terpisah, saya belum mulai mengumpulkannya. Salah satu alasan utama saya tidak bisa mengikuti sistematika Konmari adalah ruang yang terbatas. Sebisa mungkin saya mengembalikan barang ke tempatnya sekali sudah terkumpul dan terpilah, karena saya hanya punya satu kamar untuk melakukan itu semua sekaligus beraktivitas dengan normal. Saya tidak bisa menggunakan ruangan lain di rumah karena semua digunakan bersama, jangankan di ruang lain, di kamar saya sendiri saja yang melihat sudah protes. Sulit dibayangkan memang ternyata segala sesuatu yang tertumpuk rapi di sudut, bila dikeluarkan ke lantai bisa terlihat begitu banyak dan memakan tempat. Mungkin hampir mirip dengan kota di saat musim liburan, tiba-tiba jalanan, mal, restoran, dan pusat perbelanjaan penuh dalam waktu yang bersamaan.

Little schoolgirl in a messy room royalty-free stock vector art

Kembali ke tas, setelah saya kumpulkan, ada beberapa tas yang masih saya pertahankan untuk menyimpan beberapa barang koleksi. Sebenarnya ini sangat terlarang pada Konmari. Semua barang diharapkan punya tempat yang terlihat. Namun, untuk sementara, saya biarkan saja dulu, saya tangguhkan proses membuangnya terakhir, atau, kalau toh nantinya tidak terbuang, barang koleksi ini memang sudah tidak akan saya tambah lagi. Tas yang masih bisa dipakai untuk sehari-hari saya kumpulkan, ternyata banyak tote bag yang saya beli, hadiah, atau properti acara tertentu yang rasanya sayang dibuang. Kondo mengatakan bahwa barang dari perusahaan, universitas, atau promosi tidak akan membawa kebahagiaan, tetapi dia tidak menyebutkan barang dari komunitas atau fandom, yang pastinya akan selalu bertambah dan sulit dibuang. Sedangkan tote bag dari pabrik obat maupun seminar biasanya punya kelebihan masing-masing, entah ukuran yang sangat berdaya guna, bahan yang bagus, atau model yang unik, yang membuat saya ingin sekali waktu memakainya, atau memang sekali waktu saya perlukan, serta toh tas seperti itu akan rusak dan usang dalam waktu relatif lebih cepat. Jadi, sekali lagi, modifikasi Konmari saya mungkin bisa membuat Kondo frustrasi, yah, inilah ternyata kelemahan kalau berberes tidak disupervisi langsung oleh konsultan ini.

Akhirnya, beberapa tas memang ada yang saya singkirkan, sisa yang lain saya kumpulkan dalam kategori seperti yang disarankan Konmari. Yang jelas sebisa mungkin semua tas muat dalam satu rak saja, kecuali tas kondangan yang terpaksa masuk ke rak bersama pakaian kondangan, dan tas yang sedang saya pakai sehari-hari masih selalu di luar. Dalam proses berberes berikutnya, saya menemukan beberapa pouch yang tersembunyi, jadi nanti di rak khusus tas rencananya akan ada yang dikeluarkan kembali. Lagi-lagi menyalahi aturan, sehingga tampaknya saya memang harus mereview kembali proses pembuangan setelah semua proses pembuangan dan penataan kasar dilakukan (kecuali pakaian mungkin). Saya membayangkannya lebih mudah, karena sebagian sudah saya buang, dan rasanya juga tidak akan memakan waktu lama.

Masuk ke kertas, bagian ini menjadi sangat sulit karena Konmari menyarankan untuk membuang semua makalah dan berkas seminar maupun pelatihan yang sudah dilakukan. Alasannya masuk akal, karena kita bisa mendapatkan informasinya di sumber lain—buku teks, jurnal, internet—dan inti dari kegiatan itu adalah saat kita mendapatkan ilmu langsung dari pakarnya. Saya sempat mengalami kegalauan dan berkonsultasi pada beberapa teman. Akhirnya saya putuskan untuk mempertahankannya terlebih dahulu. Alasannya, profesi saya menuntut saya untuk menjadi pembelajar seumur hidup, sumber informasi memang banyak, tetapi yang terpilih sudah di tangan saya, kenapa mencari masalah lagi dengan melepaskannya. Saya kumpulkan kertas materi menjadi satu, dan sebenarnya tak terlalu banyak juga, jadi saya menempatkannya di lemari buku dalam kamar.

messy-room-cartoon-s-33e44d7c0d46d30b

Setumpuk kertas yang tersimpan atas nama keteraturan dan dokumentasi yang sudah tidak penting saya buang. Sebagian bisa langsung masuk ke tempat sampah, sebagian saya kelompokkan menjadi dua lagi, yang akan dibuang ke tempat daur ulang (rosok), dan yang perlu dimusnahkan karena mengandung informasi rahasia. Satu lagi alasan saya tidak bisa mengikuti metode Konmari secara total adalah masalah sampah. Sistem pengolahan sampah di Indonesia tidak sebaik di Jepang, ini menjadi beban mental bagi saya untuk membuang sampah begitu saja. Biasanya memang saya suka mendaur ulang sendiri, membuat-buat barang DIY, yang berakhir dengan setumpuk sampah di sudut. Kali ini, bahan DIY itu bisa dimanfaatkan sambil berberes, dan nanti terakhir akan benar-benar saya buang jika masih ada sisa. Kecuali beberapa kardus dan plastik, masih saya pertahankan untuk mengirim paket yang masih rutin saya lakukan, baik untuk berjualan, atau untuk teman. Bahan ini sudah saya pisahkan di tempat tersendiri dan tidak tersebar lagi seperti sebelumnya.

Masih ada sisa beberapa pernak-pernik catatan, hasil karya yang bertebaran di sembarang kertas yang ingin saya salin dulu, lalu dokumen-dokumen yang belum dipilah, dan barang-barang acak lainnya. Secara keseluruhan, lebih dari separuh barang saya sudah terpilih. Sisanya memang tinggal barang sulit yang membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Saya cukup optimis bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari sebulan, sehingga saya tidak harus dengan terpaksa menumpuk barang tak tersortir lagi dan menumpuk sampah lagi. Saya sudah merasakan sedikit kelegaan, sembari membuang dan menata, ruangan yang saya bayangkan mulai mewujud. Selanjutnya akan saya ceritakan di post berikutnya, jika sudah ada perkembangan yang signifikan.

 
Leave a comment

Posted by on June 4, 2017 in Zee's Space

 

Berberes Kamar dengan Konmari Modifikasi (Part 1)

Beberapa waktu yang lalu, buku-buku saya mendapat rumah baru, di luar kamar dengan lemari yang lebih luas dan layak. Buku-buku yang selama ini tersusun rapat di lemari pakaian dan tersembunyi di berbagai sudut, kini sudah mendapatkan rumah baru. Tapi, masih ada yang salah dengan proses ini, alih-alih menjadi lebih lapang, kamar saya masih saja terkesan berantakan. Lalu entah angin dari mana, mungkin saat itu kebetulan saya membaca review tentang buku Marie Kondo ini, dan saya terfokus pada mengubah hidup, saya memutuskan mulai membaca buku itu.

Illustration by Andrew Joyner (source)

Setelah membaca sendiri bukunya, saya sadar bahwa ada banyak hal di kehidupan saya yang harus dibuang. Segala detail yang saya simpan tak akan ada habisnya memakan waktu yang terasa semakin sempit. Segala yang selama ini saya pikir sebagai teratur dan sempurna harus diubah. Saya siap untuk mengubah hidup, jadi saya membulatkan tekad menuntaskan buku itu dan segera mulai berberes.

Di metode Konmari, berberes dimulai dari mengumpulkan barang sejenis, memilah mana yang harus dibuang dan mana yang perlu disimpan. Kata kuncinya adalah pada perlu, bukan ingin. Barang yang mulai dibuang-buang juga sistematis, mulai dari yang mudah hingga yang sulit. Semakin ke belakang semakin sulit bagi saya, hanya dengan membayangkannya saja. Namun, karena saya sudah bertekad, saya tidak mau menyerah dengan bayangan, saya perlu mencobanya sendiri.

Pertama pakaian. Saya pikir memang ini yang paling mudah. Saya sudah mempunyai catatan batin pakaian mana saja yang akan saya buang dan akan disumbangkan. Saya mengumpulkan semua pakaian di satu tempat, kecuali yang masih kotor dan dicuci. Di Konmari, kita harus memegang satu per satu pakaian itu, dan merasakan apakah kita merasa bahagia saat memegangnya.

Saya tidak bisa merasakannya.

Entah karena terburu-buru, atau memang saya jarang memiliki ikatan batin dengan pakaian saya. Hanya beberapa saja pakaian yang saya miliki yang membuat saya bahagia saat memakainya, yang terasa pas dengan postur saya, dan membuat saya merasa cantik saat memakainya. Sisanya, ya, entah itu seragam yang mau tak mau harus dipakai, pakaian yang warna dan modelnya saya butuhkan untuk momen tertentu tetapi tidak menimbulkan perasaan apa-apa, atau sebenarnya tidak terlalu saya suka, tapi tidak ada pilihan lain karena saya memang punya masalah sendiri dengan belanja pakaian. Kalau saya suka modelnya, yang tersedia hanya ukuran Hobbit, kalau ada ukuran manusia, modelnya sangat membosankan. Jadi, saya berakhir memilih baju yang memang benar-benar perlu saya simpan meski tidak menimbulkan kebahagiaan, juga menyingkirkan baju-baju tua yang sudah bertahun-tahun saya pakai meski masih bagus dan masih saya suka, untuk alasan sosial. Hasilnya lumayan, saya menyingkirkan dua plastik besar pakaian, sebagian masih layak dipakai, sebagian memang harus dibuang.

Di buku, Kondo menyebutkan bahwa proses membuang harus diselesaikan sebelum mulai menata. Namun, tidak dijelaskan apakah yang dimaksud per kategori atau semua sekaligus. Dengan pertimbangan ruang yang terbatas, dan pakaian harus dipakai setiap hari, sedangkan untuk menyelesaikan proses Konmari dikatakan bisa memakan waktu sekitar enam bulan, maka saya menata dulu pakaian di tempatnya semula. Masalah baru muncul saat saya tidak bisa mengikuti metode penyimpanan pakaian Konmari, karena karakteristik lemari maupun pakaian kami berbeda. Sempat saya coba paksakan, tetapi tidak berhasil dan malah terkesan berantakan. Saat proses itu berjalan, saya sudah mulai berberes untuk dua kategori selanjutnya, jadi begitu ada ruang kosong di tempat yang lebih cocok untuk pakaian, saya menata ulang di tempat tersebut dengan penyesuaian, dan hasilnya jauh lebih baik.

Kategori kedua dari metode Konmari adalah buku. ‘Membuang’ buku sebenarnya sudah saya lakukan sejak tahun lalu, bukan membuang dalam arti sebenarnya, hanya memindahkan sebagian koleksi saya ke tempat yang bisa dibaca banyak orang. Jadi secara status itu masih koleksi saya, tetapi secara manfaat bisa bebas dipergunakan orang lain, dan secara tempat agak membantu melonggarkan lemari saya. Dan sejak saya menata ulang buku di tempat yang baru, ada beberapa buku yang saya putuskan bisa benar-benar keluar dari koleksi saya, yaitu buku yang tampaknya tidak akan/ingin saya baca, atau kalaupun ingin membacanya, saya lebih memilih edisi yang lain dari yang saya miliki itu (biasanya yang terjemahan), dan relatif mudah didapat kembali suatu saat nanti. Jumlahnya tidak signifikan sebenarnya, tetapi saya memang tidak bertujuan merampingkan koleksi saya seperti yang disarankan Konmari.

Saat Konmari menyuruh pembacanya membayangkan ruang seperti apa yang diinginkan, yang tidak saya hilangkan adalah sebuah perpustakaan besar dengan koleksi yang sudah saya cicil hari ini. Saya ingin punya lebih banyak waktu membaca dan mengkajinya. Jadi hendak merampingkan koleksi menjadi seratus dua ratus itu sudah tidak perlu menjadi pertimbangan. Karena alasan itu, saya tidak terlalu selektif untuk kategori buku ini, asal mereka mendapat tempat saja, toh jumlah dan posisinya masih sangat dinamis karena saya menempatkannya berdasar sudah dan belum dibaca. Saya menyatukan buku-buku dari berbagai kolong dan sudut, meski ada yang belum mendapat tempat karena alasan kedinamisan tadi, saya melanjutkan ke kategori berikutnya.

Saya langsung menuju ke kertas. Dan ini memakan waktu paling lama, setidaknya sampai saat ini, lebih dari tiga minggu setelah saya mulai, belum selesai. Cerita lebih detailnya, lanjut ke post berikutnya ya.

 
1 Comment

Posted by on June 4, 2017 in My Thoughts

 
 
%d bloggers like this: