RSS

Berberes Kamar dengan Konmari Modifikasi (Part 1)

04 Jun

Beberapa waktu yang lalu, buku-buku saya mendapat rumah baru, di luar kamar dengan lemari yang lebih luas dan layak. Buku-buku yang selama ini tersusun rapat di lemari pakaian dan tersembunyi di berbagai sudut, kini sudah mendapatkan rumah baru. Tapi, masih ada yang salah dengan proses ini, alih-alih menjadi lebih lapang, kamar saya masih saja terkesan berantakan. Lalu entah angin dari mana, mungkin saat itu kebetulan saya membaca review tentang buku Marie Kondo ini, dan saya terfokus pada mengubah hidup, saya memutuskan mulai membaca buku itu.

Illustration by Andrew Joyner (source)

Setelah membaca sendiri bukunya, saya sadar bahwa ada banyak hal di kehidupan saya yang harus dibuang. Segala detail yang saya simpan tak akan ada habisnya memakan waktu yang terasa semakin sempit. Segala yang selama ini saya pikir sebagai teratur dan sempurna harus diubah. Saya siap untuk mengubah hidup, jadi saya membulatkan tekad menuntaskan buku itu dan segera mulai berberes.

Di metode Konmari, berberes dimulai dari mengumpulkan barang sejenis, memilah mana yang harus dibuang dan mana yang perlu disimpan. Kata kuncinya adalah pada perlu, bukan ingin. Barang yang mulai dibuang-buang juga sistematis, mulai dari yang mudah hingga yang sulit. Semakin ke belakang semakin sulit bagi saya, hanya dengan membayangkannya saja. Namun, karena saya sudah bertekad, saya tidak mau menyerah dengan bayangan, saya perlu mencobanya sendiri.

Pertama pakaian. Saya pikir memang ini yang paling mudah. Saya sudah mempunyai catatan batin pakaian mana saja yang akan saya buang dan akan disumbangkan. Saya mengumpulkan semua pakaian di satu tempat, kecuali yang masih kotor dan dicuci. Di Konmari, kita harus memegang satu per satu pakaian itu, dan merasakan apakah kita merasa bahagia saat memegangnya.

Saya tidak bisa merasakannya.

Entah karena terburu-buru, atau memang saya jarang memiliki ikatan batin dengan pakaian saya. Hanya beberapa saja pakaian yang saya miliki yang membuat saya bahagia saat memakainya, yang terasa pas dengan postur saya, dan membuat saya merasa cantik saat memakainya. Sisanya, ya, entah itu seragam yang mau tak mau harus dipakai, pakaian yang warna dan modelnya saya butuhkan untuk momen tertentu tetapi tidak menimbulkan perasaan apa-apa, atau sebenarnya tidak terlalu saya suka, tapi tidak ada pilihan lain karena saya memang punya masalah sendiri dengan belanja pakaian. Kalau saya suka modelnya, yang tersedia hanya ukuran Hobbit, kalau ada ukuran manusia, modelnya sangat membosankan. Jadi, saya berakhir memilih baju yang memang benar-benar perlu saya simpan meski tidak menimbulkan kebahagiaan, juga menyingkirkan baju-baju tua yang sudah bertahun-tahun saya pakai meski masih bagus dan masih saya suka, untuk alasan sosial. Hasilnya lumayan, saya menyingkirkan dua plastik besar pakaian, sebagian masih layak dipakai, sebagian memang harus dibuang.

Di buku, Kondo menyebutkan bahwa proses membuang harus diselesaikan sebelum mulai menata. Namun, tidak dijelaskan apakah yang dimaksud per kategori atau semua sekaligus. Dengan pertimbangan ruang yang terbatas, dan pakaian harus dipakai setiap hari, sedangkan untuk menyelesaikan proses Konmari dikatakan bisa memakan waktu sekitar enam bulan, maka saya menata dulu pakaian di tempatnya semula. Masalah baru muncul saat saya tidak bisa mengikuti metode penyimpanan pakaian Konmari, karena karakteristik lemari maupun pakaian kami berbeda. Sempat saya coba paksakan, tetapi tidak berhasil dan malah terkesan berantakan. Saat proses itu berjalan, saya sudah mulai berberes untuk dua kategori selanjutnya, jadi begitu ada ruang kosong di tempat yang lebih cocok untuk pakaian, saya menata ulang di tempat tersebut dengan penyesuaian, dan hasilnya jauh lebih baik.

Kategori kedua dari metode Konmari adalah buku. ‘Membuang’ buku sebenarnya sudah saya lakukan sejak tahun lalu, bukan membuang dalam arti sebenarnya, hanya memindahkan sebagian koleksi saya ke tempat yang bisa dibaca banyak orang. Jadi secara status itu masih koleksi saya, tetapi secara manfaat bisa bebas dipergunakan orang lain, dan secara tempat agak membantu melonggarkan lemari saya. Dan sejak saya menata ulang buku di tempat yang baru, ada beberapa buku yang saya putuskan bisa benar-benar keluar dari koleksi saya, yaitu buku yang tampaknya tidak akan/ingin saya baca, atau kalaupun ingin membacanya, saya lebih memilih edisi yang lain dari yang saya miliki itu (biasanya yang terjemahan), dan relatif mudah didapat kembali suatu saat nanti. Jumlahnya tidak signifikan sebenarnya, tetapi saya memang tidak bertujuan merampingkan koleksi saya seperti yang disarankan Konmari.

Saat Konmari menyuruh pembacanya membayangkan ruang seperti apa yang diinginkan, yang tidak saya hilangkan adalah sebuah perpustakaan besar dengan koleksi yang sudah saya cicil hari ini. Saya ingin punya lebih banyak waktu membaca dan mengkajinya. Jadi hendak merampingkan koleksi menjadi seratus dua ratus itu sudah tidak perlu menjadi pertimbangan. Karena alasan itu, saya tidak terlalu selektif untuk kategori buku ini, asal mereka mendapat tempat saja, toh jumlah dan posisinya masih sangat dinamis karena saya menempatkannya berdasar sudah dan belum dibaca. Saya menyatukan buku-buku dari berbagai kolong dan sudut, meski ada yang belum mendapat tempat karena alasan kedinamisan tadi, saya melanjutkan ke kategori berikutnya.

Saya langsung menuju ke kertas. Dan ini memakan waktu paling lama, setidaknya sampai saat ini, lebih dari tiga minggu setelah saya mulai, belum selesai. Cerita lebih detailnya, lanjut ke post berikutnya ya.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on June 4, 2017 in My Thoughts

 

One response to “Berberes Kamar dengan Konmari Modifikasi (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: