RSS

Author Archives: bzee

Berberes Kamar dengan Konmari Modifikasi (Part 2)

Setelah menceritakan proses berberes pakaian dan buku di sini berakhir dengan berberes kertas, sebelumnya masih ada yang terlewat, yaitu tas. Menurut Konmari, tas termasuk dalam pakaian, bersama dengan sepatu dan aksesoris lainnya. Namun, karena sepatu dan aksesoris saya lebih sedikit dan terpisah, saya belum mulai mengumpulkannya. Salah satu alasan utama saya tidak bisa mengikuti sistematika Konmari adalah ruang yang terbatas. Sebisa mungkin saya mengembalikan barang ke tempatnya sekali sudah terkumpul dan terpilah, karena saya hanya punya satu kamar untuk melakukan itu semua sekaligus beraktivitas dengan normal. Saya tidak bisa menggunakan ruangan lain di rumah karena semua digunakan bersama, jangankan di ruang lain, di kamar saya sendiri saja yang melihat sudah protes. Sulit dibayangkan memang ternyata segala sesuatu yang tertumpuk rapi di sudut, bila dikeluarkan ke lantai bisa terlihat begitu banyak dan memakan tempat. Mungkin hampir mirip dengan kota di saat musim liburan, tiba-tiba jalanan, mal, restoran, dan pusat perbelanjaan penuh dalam waktu yang bersamaan.

Little schoolgirl in a messy room royalty-free stock vector art

Kembali ke tas, setelah saya kumpulkan, ada beberapa tas yang masih saya pertahankan untuk menyimpan beberapa barang koleksi. Sebenarnya ini sangat terlarang pada Konmari. Semua barang diharapkan punya tempat yang terlihat. Namun, untuk sementara, saya biarkan saja dulu, saya tangguhkan proses membuangnya terakhir, atau, kalau toh nantinya tidak terbuang, barang koleksi ini memang sudah tidak akan saya tambah lagi. Tas yang masih bisa dipakai untuk sehari-hari saya kumpulkan, ternyata banyak tote bag yang saya beli, hadiah, atau properti acara tertentu yang rasanya sayang dibuang. Kondo mengatakan bahwa barang dari perusahaan, universitas, atau promosi tidak akan membawa kebahagiaan, tetapi dia tidak menyebutkan barang dari komunitas atau fandom, yang pastinya akan selalu bertambah dan sulit dibuang. Sedangkan tote bag dari pabrik obat maupun seminar biasanya punya kelebihan masing-masing, entah ukuran yang sangat berdaya guna, bahan yang bagus, atau model yang unik, yang membuat saya ingin sekali waktu memakainya, atau memang sekali waktu saya perlukan, serta toh tas seperti itu akan rusak dan usang dalam waktu relatif lebih cepat. Jadi, sekali lagi, modifikasi Konmari saya mungkin bisa membuat Kondo frustrasi, yah, inilah ternyata kelemahan kalau berberes tidak disupervisi langsung oleh konsultan ini.

Akhirnya, beberapa tas memang ada yang saya singkirkan, sisa yang lain saya kumpulkan dalam kategori seperti yang disarankan Konmari. Yang jelas sebisa mungkin semua tas muat dalam satu rak saja, kecuali tas kondangan yang terpaksa masuk ke rak bersama pakaian kondangan, dan tas yang sedang saya pakai sehari-hari masih selalu di luar. Dalam proses berberes berikutnya, saya menemukan beberapa pouch yang tersembunyi, jadi nanti di rak khusus tas rencananya akan ada yang dikeluarkan kembali. Lagi-lagi menyalahi aturan, sehingga tampaknya saya memang harus mereview kembali proses pembuangan setelah semua proses pembuangan dan penataan kasar dilakukan (kecuali pakaian mungkin). Saya membayangkannya lebih mudah, karena sebagian sudah saya buang, dan rasanya juga tidak akan memakan waktu lama.

Masuk ke kertas, bagian ini menjadi sangat sulit karena Konmari menyarankan untuk membuang semua makalah dan berkas seminar maupun pelatihan yang sudah dilakukan. Alasannya masuk akal, karena kita bisa mendapatkan informasinya di sumber lain—buku teks, jurnal, internet—dan inti dari kegiatan itu adalah saat kita mendapatkan ilmu langsung dari pakarnya. Saya sempat mengalami kegalauan dan berkonsultasi pada beberapa teman. Akhirnya saya putuskan untuk mempertahankannya terlebih dahulu. Alasannya, profesi saya menuntut saya untuk menjadi pembelajar seumur hidup, sumber informasi memang banyak, tetapi yang terpilih sudah di tangan saya, kenapa mencari masalah lagi dengan melepaskannya. Saya kumpulkan kertas materi menjadi satu, dan sebenarnya tak terlalu banyak juga, jadi saya menempatkannya di lemari buku dalam kamar.

messy-room-cartoon-s-33e44d7c0d46d30b

Setumpuk kertas yang tersimpan atas nama keteraturan dan dokumentasi yang sudah tidak penting saya buang. Sebagian bisa langsung masuk ke tempat sampah, sebagian saya kelompokkan menjadi dua lagi, yang akan dibuang ke tempat daur ulang (rosok), dan yang perlu dimusnahkan karena mengandung informasi rahasia. Satu lagi alasan saya tidak bisa mengikuti metode Konmari secara total adalah masalah sampah. Sistem pengolahan sampah di Indonesia tidak sebaik di Jepang, ini menjadi beban mental bagi saya untuk membuang sampah begitu saja. Biasanya memang saya suka mendaur ulang sendiri, membuat-buat barang DIY, yang berakhir dengan setumpuk sampah di sudut. Kali ini, bahan DIY itu bisa dimanfaatkan sambil berberes, dan nanti terakhir akan benar-benar saya buang jika masih ada sisa. Kecuali beberapa kardus dan plastik, masih saya pertahankan untuk mengirim paket yang masih rutin saya lakukan, baik untuk berjualan, atau untuk teman. Bahan ini sudah saya pisahkan di tempat tersendiri dan tidak tersebar lagi seperti sebelumnya.

Masih ada sisa beberapa pernak-pernik catatan, hasil karya yang bertebaran di sembarang kertas yang ingin saya salin dulu, lalu dokumen-dokumen yang belum dipilah, dan barang-barang acak lainnya. Secara keseluruhan, lebih dari separuh barang saya sudah terpilih. Sisanya memang tinggal barang sulit yang membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Saya cukup optimis bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari sebulan, sehingga saya tidak harus dengan terpaksa menumpuk barang tak tersortir lagi dan menumpuk sampah lagi. Saya sudah merasakan sedikit kelegaan, sembari membuang dan menata, ruangan yang saya bayangkan mulai mewujud. Selanjutnya akan saya ceritakan di post berikutnya, jika sudah ada perkembangan yang signifikan.

 
Leave a comment

Posted by on June 4, 2017 in Zee's Space

 

Berberes Kamar dengan Konmari Modifikasi (Part 1)

Beberapa waktu yang lalu, buku-buku saya mendapat rumah baru, di luar kamar dengan lemari yang lebih luas dan layak. Buku-buku yang selama ini tersusun rapat di lemari pakaian dan tersembunyi di berbagai sudut, kini sudah mendapatkan rumah baru. Tapi, masih ada yang salah dengan proses ini, alih-alih menjadi lebih lapang, kamar saya masih saja terkesan berantakan. Lalu entah angin dari mana, mungkin saat itu kebetulan saya membaca review tentang buku Marie Kondo ini, dan saya terfokus pada mengubah hidup, saya memutuskan mulai membaca buku itu.

Illustration by Andrew Joyner (source)

Setelah membaca sendiri bukunya, saya sadar bahwa ada banyak hal di kehidupan saya yang harus dibuang. Segala detail yang saya simpan tak akan ada habisnya memakan waktu yang terasa semakin sempit. Segala yang selama ini saya pikir sebagai teratur dan sempurna harus diubah. Saya siap untuk mengubah hidup, jadi saya membulatkan tekad menuntaskan buku itu dan segera mulai berberes.

Di metode Konmari, berberes dimulai dari mengumpulkan barang sejenis, memilah mana yang harus dibuang dan mana yang perlu disimpan. Kata kuncinya adalah pada perlu, bukan ingin. Barang yang mulai dibuang-buang juga sistematis, mulai dari yang mudah hingga yang sulit. Semakin ke belakang semakin sulit bagi saya, hanya dengan membayangkannya saja. Namun, karena saya sudah bertekad, saya tidak mau menyerah dengan bayangan, saya perlu mencobanya sendiri.

Pertama pakaian. Saya pikir memang ini yang paling mudah. Saya sudah mempunyai catatan batin pakaian mana saja yang akan saya buang dan akan disumbangkan. Saya mengumpulkan semua pakaian di satu tempat, kecuali yang masih kotor dan dicuci. Di Konmari, kita harus memegang satu per satu pakaian itu, dan merasakan apakah kita merasa bahagia saat memegangnya.

Saya tidak bisa merasakannya.

Entah karena terburu-buru, atau memang saya jarang memiliki ikatan batin dengan pakaian saya. Hanya beberapa saja pakaian yang saya miliki yang membuat saya bahagia saat memakainya, yang terasa pas dengan postur saya, dan membuat saya merasa cantik saat memakainya. Sisanya, ya, entah itu seragam yang mau tak mau harus dipakai, pakaian yang warna dan modelnya saya butuhkan untuk momen tertentu tetapi tidak menimbulkan perasaan apa-apa, atau sebenarnya tidak terlalu saya suka, tapi tidak ada pilihan lain karena saya memang punya masalah sendiri dengan belanja pakaian. Kalau saya suka modelnya, yang tersedia hanya ukuran Hobbit, kalau ada ukuran manusia, modelnya sangat membosankan. Jadi, saya berakhir memilih baju yang memang benar-benar perlu saya simpan meski tidak menimbulkan kebahagiaan, juga menyingkirkan baju-baju tua yang sudah bertahun-tahun saya pakai meski masih bagus dan masih saya suka, untuk alasan sosial. Hasilnya lumayan, saya menyingkirkan dua plastik besar pakaian, sebagian masih layak dipakai, sebagian memang harus dibuang.

Di buku, Kondo menyebutkan bahwa proses membuang harus diselesaikan sebelum mulai menata. Namun, tidak dijelaskan apakah yang dimaksud per kategori atau semua sekaligus. Dengan pertimbangan ruang yang terbatas, dan pakaian harus dipakai setiap hari, sedangkan untuk menyelesaikan proses Konmari dikatakan bisa memakan waktu sekitar enam bulan, maka saya menata dulu pakaian di tempatnya semula. Masalah baru muncul saat saya tidak bisa mengikuti metode penyimpanan pakaian Konmari, karena karakteristik lemari maupun pakaian kami berbeda. Sempat saya coba paksakan, tetapi tidak berhasil dan malah terkesan berantakan. Saat proses itu berjalan, saya sudah mulai berberes untuk dua kategori selanjutnya, jadi begitu ada ruang kosong di tempat yang lebih cocok untuk pakaian, saya menata ulang di tempat tersebut dengan penyesuaian, dan hasilnya jauh lebih baik.

Kategori kedua dari metode Konmari adalah buku. ‘Membuang’ buku sebenarnya sudah saya lakukan sejak tahun lalu, bukan membuang dalam arti sebenarnya, hanya memindahkan sebagian koleksi saya ke tempat yang bisa dibaca banyak orang. Jadi secara status itu masih koleksi saya, tetapi secara manfaat bisa bebas dipergunakan orang lain, dan secara tempat agak membantu melonggarkan lemari saya. Dan sejak saya menata ulang buku di tempat yang baru, ada beberapa buku yang saya putuskan bisa benar-benar keluar dari koleksi saya, yaitu buku yang tampaknya tidak akan/ingin saya baca, atau kalaupun ingin membacanya, saya lebih memilih edisi yang lain dari yang saya miliki itu (biasanya yang terjemahan), dan relatif mudah didapat kembali suatu saat nanti. Jumlahnya tidak signifikan sebenarnya, tetapi saya memang tidak bertujuan merampingkan koleksi saya seperti yang disarankan Konmari.

Saat Konmari menyuruh pembacanya membayangkan ruang seperti apa yang diinginkan, yang tidak saya hilangkan adalah sebuah perpustakaan besar dengan koleksi yang sudah saya cicil hari ini. Saya ingin punya lebih banyak waktu membaca dan mengkajinya. Jadi hendak merampingkan koleksi menjadi seratus dua ratus itu sudah tidak perlu menjadi pertimbangan. Karena alasan itu, saya tidak terlalu selektif untuk kategori buku ini, asal mereka mendapat tempat saja, toh jumlah dan posisinya masih sangat dinamis karena saya menempatkannya berdasar sudah dan belum dibaca. Saya menyatukan buku-buku dari berbagai kolong dan sudut, meski ada yang belum mendapat tempat karena alasan kedinamisan tadi, saya melanjutkan ke kategori berikutnya.

Saya langsung menuju ke kertas. Dan ini memakan waktu paling lama, setidaknya sampai saat ini, lebih dari tiga minggu setelah saya mulai, belum selesai. Cerita lebih detailnya, lanjut ke post berikutnya ya.

 
1 Comment

Posted by on June 4, 2017 in My Thoughts

 

[Spoiler-Free] Mengapa Harus Nonton Fantastic Beasts

Sebelum kecewa, saya peringatkan bahwa ini bukan resensi film Tapi kalau kalian perlu pertimbangan untuk menonton film Fantastic Beasts and Where to Find Them, silakan baca sampai akhir, karena saya jamin tulisan ini bebas spoiler. Sebagai informasi, standar spoiler saya tinggi, jadi jangan khawatir.

Pertama-tama, saya harus mengakui bahwa saya bukan Potterhead. Ya, saya sukaaa sekali buku Harry Potter, saya juga menonton semua filmnya. Saya memahami dan mengagumi konsep besar dunia Harry Potter, saya masih sesak dan menangis membaca/menonton kematian karakter-karakter di buku kelima dan seterusnya. Namun, jika ditanya buku atau film terfavorit, bukan Harry Potter jawaban nomor satu saya. Saya juga tidak hafal detail isi bukunya karena saya baru membaca dua kali.

Saya adalah fans berat madam Rowling, hampir semua karya utamanya sudah saya baca, dan saya suka semuanya. Saya suka gaya penulisannya, saya suka karakter-karakter rekaannya, saya suka dunia yang dibangunnya, saya suka dunia yang digambarkannya, saya suka jalan ceritanya, saya suka dikejutkan dengan segala plot twistnya, saya puas dengan bagaimana dia mengakhiri buku-bukunya. Singkat cerita, saya adalah fans karya-karya J.K.Rowling. Dan, saya rasa ini adalah alasan yang lebih dari cukup mengapa saya harus menonton Fantastic Beasts. Terlebih naskahnya langsung ditulis oleh J.K.Rowling, tak perlu berpikir dua kali.

Hal pertama yang saya rasakan saat memasuki bioskop adalah bersemangat, gugup, tidak sabar, penasaran, yah, rasanya mungkin seperti hendak bertemu cinta pertama yang belum pupus. Antara bersemangat karena sudah rindu, gugup apakah masih sekeren yang dulu, tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama lagi, dan penasaran akan seperti apakah dia saat ini.

Sepanjang film, saya merasa seperti berada di acara reuni teman yang sudah lamaaa sekali tidak berjumpa. Mereka membawa kisah-kisah baru yang membuat saya terpesona, tetapi sekali waktu ada kisah lama atau orang-orang yang familiar juga, yang membuat saya ingin menyeletuk, “Ah, iya…, pasti itu dia…. ya, aku ingat…”, dan seterusnya.

Setelah film berakhir, saya merasa bahagia, saking bahagianya hingga saya ingin menangis. Saya menangisi keindahan cinta lama bersemi kembali ini. Perasaan yang hampir sama seperti saat saya kembali menengok dunia Harry Potter, baik melalui buku atau film, seperti terperangkap dalam sihir sang penulisnya.

Baiklah, itu perasaan saya, sekarang coba kita bahas sedikit saja filmnya.

Nama Newt Scamander, sang penulis buku pelajaran tentang hewan-hewan ajaib yang berjudul sama seperti film ini beberapa kali muncul dalam buku Harry Potter. Namun, saya tidak membayangkan bahwa Scamander bisa semenawan itu. Mungkin karena Newt muda, penyayang binatang, dan gelagatnya yang canggung itu memang cukup menggemaskan. Selain Newt, karakter lain juga sama kuatnya dalam hal meninggalkan kesan. Masing-masing karakter bisa langsung kita nilai sifat permukaannya. Pun ikatan antarkarakter sudah mulai nampak cukup kuat. Kita bisa melihat bibit persahabatan dan percintaan tumbuh di sini.

Namun, bukan J.K.Rowling kalau tidak penuh kejutan. Para karakter itu bisa saja berbeda dari apa yang terlihat di awal, mereka punya luka, punya masa lalu, punya rahasia. Oleh karena film ini masih akan ada empat sekuel lagi, jadi masih banyak yang bisa dan akan digali dan diungkapkan oleh mereka. Seperti masa lalu dan posisi Newt yang masih banyak sekali belum diungkapkan. Termasuk karakter-karakter kejutan yang dimunculkan, baik itu nama yang familiar, atau wajah yang familiar.

Secara visual, film ini cukup memanjakan mata. Terutama bagian-bagian yang menunjukkan fantastic beasts and where to find them in this movie.

Secara plot dan alur, film ini sudah menjanjikan kisah kompleks yang penuh dengan twist. Khas madam Rowling, kita bisa melihat realitas sosial melalui bingkai kecilnya. Konflik besarnya sendiri belum muncul. Jika dianalogikan dengan Harry Potter, film ini seperti seri pertama atau kedua yang sudah mulai memunculkan tanda-tanda jahat Voldemort, tetapi suasana kisah masih relatif menyenangkan. Dan memang film ini menyenangkan, lucu, masih ada humor di sana-sini, walaupun tidak mengurangi ketegangan yang muncul saat ada tanda-tanda kegelapan.

Film ini menurut saya menyasar penonton remaja-dewasa, tetapi anak-anak (terutama pembaca Harry Potter) dengan bimbingan mungkin masih bisa. Labelnya 13+, adegan seksual hanya ciuman, tidak ada kata-kata kotor, adegan kekerasan sedang.

Yang jelas, jangan berharap banyak karena tampaknya sang kreator masih menyimpan banyak ‘amunisi’ untuk dikeluarkan di film-film berikutnya. Bersiaplah untuk bernostalgia, terkagum-kagum, tergelak geli, serta terharu dengan para teman baru kita.

 
Leave a comment

Posted by on November 23, 2016 in My Thoughts

 

Legitimasi untuk Membenci

Pekan ini, sebuah kejadian penting terjadi di sebuah negara (yang katanya) adikuasa. Negara (yang katanya) menjunjung kebebasan dan demokrasi, Namun, bukan hanya itu, sudah bertahun-tahun sebenarnya saya merasa bahwa kebanyakan manusia tidak hidup dengan idealismenya sendiri, kebanyakan kita hidup dengan apa yang dianggap banyak orang sebagai benar atau layak.

Contoh kecil saja, di tingkat lingkungan tempat tinggal, seberapa banyak orang mau mendobrak kebiasaan atau tradisi yang dirasanya tak perlu dan menghadapi omongan orang/tetangga? Terlebih jika seseorang itu ‘berbeda’, dalam artian asal-usul, status sosial, ataupun kondisi ekonomi, tantangan yang dihadapinya semakin berat. Orang membangun rumah dengan pagar tinggi untuk menghindari pencuri justru dibilang tak mau bersosialisasi. Orang tak mau hadir arisan dengan alasan pekerjaan dikatakan sombong tak mau bergaul. Cap semacam ini biasanya muncul sepihak, praduga, asumsi, lalu disebarluaskan dan menjadi semacam ‘sabda’ bahwa masyarakat yang ideal adalah yang sama seperti ‘kami’.

Dalam tatanan yang lebih luas, akan ada istilah pribumi dan nonpribumi yang sebenarnya sudah usang tetapi tetap dipergunakan hingga hari ini. Etnis tertentu yang kebetulan memiliki ciri fisik berbeda dengan kebanyakan orang disebut nonpribumi dan dianggap bukan bagian dari bangsa Indonesia. Padahal KTP mereka jelas Warga Negara Indonesia, bahkan mungkin kakek-kakek mereka berjuang memerdekakan Indonesia, bahkan mungkin rasa nasionalisme mereka lebih tinggi daripada yang mengaku-aku sebagai pribumi. Saya tidak bicara upacara bendera, menggunakan bahasa daerah, atau hal-hal remeh semacam pakaian. Bagi saya, nasionalisme itu adalah saat cintanya pada Indonesia diwujudkan dengan mendukung kemajuan bangsa; tidak korupsi, berkarya untuk bangsa bukan hanya menikmati kekayaan bangsanya saja, mendukung berkembangnya produk dalam negeri berkualitas bukan sekadar membabi buta menyuburkan produk-produk tidak bermutu.

Sebagian orang Indonesia ada yang secara terang-terangan membenci etnis yang berbeda ini karena berbagai alasan yang sesungguhnya tak bisa dibenarkan. Karena sejak kecil mereka diperkenalkan dengan ‘golongan kita’ dan ‘bukan golongan kita’ dengan cara yang tidak benar. Anak-anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang merasa mendapatkan pembenaran untuk membenci, karena orang-orang tua mereka juga membenci, meski mereka tak tahu alasan sesungguhnya.

Saya ingin percaya bahwa dunia kita (masih) baik-baik saja, bahwa cinta masih menang di atas kebencian. Bahwa para pembenci itu hanyalah sebagian kecil oknum saja. Kemudian di belahan dunia lain saya melihat orang-orang mengeluh tentang kebebasan dan kedamaian mereka. Ada orang-orang yang membantai orang lain karena agamanya. Ada negara-negara yang (katanya) beradab, tetapi saat negara memunculkan pilihan tentang masalah ekonomi dan politik, mereka memilih diri mereka sendiri. Ketika negara memberi pilihan untuk membatasi imigran, membatasi ras yang berbeda dengan mereka, membatasi gaya hidup yang berbeda, orang-orang ini merasa mendapatkan legitimasi, lalu mereka memunculkan sisi yang selama ini mereka sembunyikan.

Kebencian tak lagi disembunyikan, karena negara seolah memberi mereka hak untuk membenci.

Mungkin memang sulit untuk menanamkan bahwa manusia tak boleh dibedakan berdasarkan warna kulit atau ciri fisik lainnya. Nyatanya, di negara yang heterogen sekalipun, orang masih bisa membenci saat diberi kesempatan untuk itu. Mereka mampu secara terang-terangan menebarkan teror untuk orang lain saat mereka menjadi mayoritas, saat mereka merasa kebanyakan orang berada di posisi yang sama dengan mereka. Yang lebih menyakitkan adalah, sebagian dari mereka adalah orang yang selama ini (kita kira) kita kenal.

Saya jadi ingat sejarah. Mungkin revolusi, renaisans, atau apapun yang terjadi abad lalu juga seperti ini. Mereka beralih dari idealisme A ke idealisme B, dunia kemudian menganut idealisme B dan orang-orang yang bertahan dengan idealisme A akan menyembunyikan ide mereka. Hari ini, mungkin orang-orang dengan idealisme A sudah cukup kuat untuk bangkit kembali, menggeser idealisme B yang dulu begitu diagungkan, dan mungkin besok akan menjadi usang. Bumi ini berputar, sejarah berulang. Ah, bahkan bentuk bumi pun sekarang diperdebatkan kembali.

 
Leave a comment

Posted by on November 11, 2016 in My Thoughts

 

Hidup Ini Masalah Persepsi

Beberapa hari lalu saya memeriksakan kembali mata minus saya setelah sekitar sepuluh tahun tidak membeli kacamata baru. Sebelumnya saya sudah merasakan keanehan mengenai persepsi saya akan jarak, saya pikir ini karena pengaruh silindris. Setelah dilakukan pemeriksaan kembali, pandangan saya menjadi lebih jelas dengan perubahan (bertambah sebelah dan berkurang sebelah) seperempat minus dan pergeseran sudut lensa silinder.

geometric-1204384_960_720

Ada yang aneh saat memakai kacamata baru ini, memang suatu hal yang lumrah, dan biasanya dalam beberapa jam saya sudah bisa beradaptasi. Namun setelah dua hari, saya tidak bisa meninggalkan perasaan aneh ini. Saya merasakan perubahan persepsi kembali, kali ini persepsi jarak yang berkebalikan dengan kacamata yang lama. Lalu saya berpikir, normal itu seperti apa? Di saat visus sudah sama-sama mendekati 6/6, ternyata tidak menjamin persepsi jarak yang sama, dan saya tidak tahu apakah ada ukuran yang pasti tentang itu. Hal yang hampir mirip pernah saya tulis dalam post tentang buku yang mengubah pandangan saya tentang persepsi di sini.

Mungkin hidup juga seperti itu. Saat kita melihat dengan kacamata kita masing-masing, kita mempersepsikan sesuatu yang normal itu seperti yang kita lihat. Padahal, belum tentu ukuran kita sama. Sebagian mempersepsikan cantik itu adalah pipi yang tirus, sebagian yang lain merasa pipi berisi lebih menawan. Padahal tak ada ukuran pasti tentang tirus dan berisi itu, tak ada patokan berapa sentimeter pipi dikatakan tembam, semuanya relatif.

a_woman_looking_in_the_mirror_at_her_wrinkled_face_royalty_free_clipart_picture_100224-119323-928053

Seperti juga saat kita memandang orang lain, mungkin bagi kita dia baik, tulus, tetapi orang yang melihatnya dari sisi yang berbeda akan menemukan kelemahannya dan menghakiminya sebagai orang yang suka memanfaatkan orang lain. Atau mungkin sebuah permasalahan, yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, bergantung pada latar belakang dan pola pikir si pengamat. Masalah naiknya harga daging mungkin menjadi anugerah bagi peternak dan penjual daging, masalah bagi konsumen dan pengusaha restoran, tetapi tidak berpengaruh banyak pada vegetarian. Namun perubahan sudut pandang lagi, jika mahalnya harga daging menyebabkan penurunan konsumsi, masalah kembali muncul di pihak peternak dan penjual daging.

Era sosial media hari-hari ini seringkali membuat perbedaan persepsi ini menjadi besar, debat tak berujung yang ujung-ujungnya malah mempermasalahkan perbedaan alih-alih masalah itu sendiri. Sosial media saat ini, yang kiranya merupakan perpanjangan dari kebebasan berpendapat pasca reformasi, membuat kita belajar, tak hanya membuat argumentasi cerdas, tetapi tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Berbeda itu biasa, siapa tahu ada astigmatisma di mata normal kita yang membuat pergeseran beberapa derajat saja memberi persepsi yang berbeda tentang hidup yang sama.

2013-03-23-18.30.50.jpg.jpeg

 
Leave a comment

Posted by on May 29, 2016 in My Thoughts

 

The Abominable Moriarty and the Final Problem

CSFeqfXWEAAdS4W.0

Sudah sebulan lebih sejak Sherlock Special: The Abominable Bride tayang perdana, dan hingga hari ini saya sulit move on. Oke, kalau mau jujur, sebenarnya saya tidak pernah move on dari serial Sherlock. Bahkan hingga hari ini, kejeniusan dari season satu masih membayang-bayangi saya. Sudah lama saya berniat menuliskan banyak hal tentang serial favorit saya ini, tetapi terkendala satu dan lain hal. Namun hari ini, saya ingin memfokuskan pada si jenius Professor Moriarty.

Dalam serial Sherlock yang diproduksi oleh BBC, James Moriarty zaman modern disebut Jim Moriarty dan diperankan oleh Andrew Scott. Di buku, Moriarty pertama kali muncul di The Memoirs of Sherlock Holmes, tepatnya di cerita terakhir: The Final Problem. The Final Problem menjadi salah satu cerpen favorit saya, karena, siapa yang tidak terpana dengan duel antara dua jenius?

Dikatakan bahwa Scott tidak membaca seluruh buku Sherlock Holmes, jadi interpretasinya atas karakter tersebut murni didasarkan naskah yang dibuat oleh Steven Moffat dan Mark Gatiss. Lalu, lihatlah apa yang terjadi, sebuah adegan yang terus menghantui saya sejak kemunculannya pertama di The Great Game (S1E3), dan bahkan masih ada sampai The Abominable Bride (S4E0)

m1 m2 m3 m4 m5 m6 m7

His appearance was quite familiar to me. He is extremely tall and thin, his forehead domes out in a white curve, and his two eyes are deeply sunken in this head. He is clean-shaven, pale, and ascetic-looking, retaining something of the professor in his features. His shoulders are rounded from much study, and his face protrudes forward, and is forever slowly oscillating from side to side in a curiously reptilian fashion. He peered at me with great curiosity in his puckered eyes. (The Final Problem, Sir Arthur Conan Doyle)

Saya senang, setidaknya gambaran Moriarty yang mengerikan ini ikut diadaptasikan. Setiap kali melihat kepala Moriarty berputar, rasanya saya ingin memekik keras, saking bersemangat sekaligus merinding.

Saya mungkin akan membuat beberapa post lagi semacam ini, karena rasanya ini adalah cara melampiaskan histeria saya pada adaptasi brillian ini. Sebagai penutup, ada bonus reptilian fashion untuk kalian kita.

mor

“‘All that I have to say has already crossed your mind,’ said he.

“‘Then possibly my answer has crossed yours,’ I replied.

(The Final Problem, Sir Arthur Conan Doyle)

 
Leave a comment

Posted by on February 13, 2016 in Motion's Space

 

Goresan Mentari Senja

“Bagaimana jika salah satu di antara kita mati?”

Empat puluh tahun yang lalu, mungkin keduanya tak pernah memikirkan hal itu. Memilih untuk hidup bersama dengan jarak usia tiga belas tahun bukan sesuatu yang luar biasa. Dulu. Tapi sekarang, di usia senja Sam yang hampir delapan puluh tahun dengan tubuhnya yang melemah, serta Ros yang juga sudah tak bisa disebut muda lagi, ketakutan itu menjelma atas nama kesendirian.

Sudah lima belas tahun kedua pasangan ini hidup berdua saja, di sebuah rumah mungil di pedesaan, sebagaimana angan-angan Ros sejak dulu. Setiap pagi, saat matahari baru menorehkan guratan-guratan jingga di langit, keduanya sudah duduk bersisian di teras timur. Terkadang Sam membacakan beberapa bab buku, kebiasaannya sejak anak-anak mereka masih kecil, kebiasaan yang sangat disukai Ros. Tiga puluh tahun lalu, Ros menikmati saat-saat menidurkan putra-putrinya, demi mendengarkan Sam membacakan dongeng, kemudian tidur sejam lebih terlambat karena pekerjaan rumah yang ditundanya untuk itu. Setelah anak-anak mereka sudah terlalu besar untuk didongengi, Sam akan membaca untuk Ros saat mereka berdua saja.

Di teras timur ini juga, jika sedang tidak membaca, keduanya masih suka berbincang mengenai mimpi. Bukan mimpi-mimpi masa muda yang ingin mereka gapai, hanya mimpi tentang dunia, dunia tempat anak-anak dan cucu-cucu mereka hidup. Akan tetapi, pada akhirnya mereka lebih sering diam. Berkomunikasi melalui sentuhan tangan, gesekan lengan, atau tatapan mata sudah cukup memberi rasa aman dan damai.

“Sam, bagaimana jika salah satu di antara kita mati? Aku tak bisa membayangkan hidup tanpamu.”

Sam merangkulkan lengannya ke bahu istrinya. Matahari sudah cukup tinggi, menerangi ladang yang hijau di bawah kehangatannya. Cericip burung mengisi kesunyian di antara mereka.

“Aku tak tahu, Ros. Lima belas tahun, dan aku masih tak tahu.”

Bayangan lima belas tahun yang lalu hadir di antara kesunyian yang tersisa pagi itu. Sam terbaring di ruang perawatan intensif di rumah sakit. Hari-hari itu, jika sedang tidak ada dokter atau perawat yang melakukan pemeriksaan atau tindakan medis, hanya suara mesin, dan terkadang isak Ros, yang terdengar. Sam yang sejak muda adalah seorang pekerja keras, yang tak pernah terlihat lelah, yang selalu bergerak, saat itu terbaring lemah karena infeksi di parunya.

“Kau terlalu memaksakan diri,” kata Ros suatu ketika. “Kau sudah tak muda lagi.”

“Aku hanya sakit,” jawabnya terengah.

“Kau tak perlu sesakit ini,” Ros kembali terisak pelan.

Sam membayangkan kematian. Tubuhnya panas, dadanya sesak, dan dia bisa merasakan jantungnya memukul-mukul dinding dadanya. Tapi dia merasakan genggaman kuat istrinya, dan membayangkan wanita itu duduk sendirian di rumah besar mereka. Putra sulungnya tak akan pulang sebelum tengah malam, sementara putrinya berjarak lima puluh kilometer darinya, sibuk dengan tugas mengajar di sekolah dasar dan anaknya yang masih kecil. Putra bungsunya akan berkutat di laboratorium pribadinya, dengan kabel-kabel dan komputer yang selalu menyala.

“Kemarin anak-anak ke sini, tapi mereka tak bisa berlama-lama. Kau masih tidur dan aku tak tega membangunkanmu. Mereka janji akan datang lagi hari ini, tapi entahlah.”

“Tak apa, biarkan mereka dengan hidup mereka.”

“Aku tahu kau akan bicara begitu. Kurasa mereka juga tahu, bagaimanapun juga, mereka anak-anakmu.”

“Mereka bahagia.”

Ros ingat bagaimana Sam membebaskan putra sulungnya untuk memilih sekolah tinggi di luar kota. Itu perpisahan pertama Ros dengan anaknya, dan Sam melarangnya menangis di depan putra-putrinya. Satu per satu Sam mendewasakan keturunannya dan menguatkan ibu mereka. Hingga satu per satu ketiganya menunjukkan prestasi, menjalani hidup yang luar biasa, dan meraih apa yang mereka inginkan.

“Sam, istirahatlah.”

Sore itu, hanya putri dan putra bungsunya yang datang. Sam bicara sedikit dan terpatah-patah, meyakinkan bahwa mereka tak harus menungguinya setiap saat. Ros tak mengeluarkan air mata setitik pun.

“Kewajiban kalian terhadap generasi orang tua kalian adalah hidup yang bermanfaat, membuktikan bahwa kalian adalah hasil didikan terbaik. Lemah, sakit, dan kematian akan datang pada waktunya. Tak ada gunanya ratapan dan belas kasihan kalian.”

Sam berusaha tak terlihat lemah, dan Ros mempersembahkan senyumnya yang paling tenang.

Setelah mereka pulang, Ros sudah tak ingin menangis. Dia hanya menggenggam erat lengan suaminya dengan kedua tangannya hingga keduanya tertidur. Beberapa hari kemudian, kondisi Sam dinyatakan membaik, dan dia bisa pulang.

Sejak saat itu, atas permintaan Ros, Sam berhenti dari segala kesibukannya—yang sebenarnya hanya lima jam per minggu untuk mengabdikan sisa energinya—dan menikmati masa pensiun di rumah peristirahatan yang jauh dari putra-putri mereka. Sekali dalam beberapa minggu, akan ada yang mengunjungi mereka. Kadang-kadang keduanya yang akan berkunjung ke tempat anak-anak mereka.

Matahari mulai terik, kedua cangkir kopi mereka telah kosong. Ros masuk dan bekerja di depan mesin ketik kuno kesayangannya, peninggalan kakeknya yang seumur-umur belum pernah dipergunakannya sebelum meninggalkan segala teknologi di kota. Sedangkan Sam membaca lembaran-lembaran yang sudah selesai diketik, sambil sesekali memberi komentar. Suara ketukan mesin ketik semakin teratur seiring berlalunya pagi. Sekali dua kali terdengar goresan pensil yang menari di antara jari-jari Sam. Nanti, saat cahaya bulan sudah menembus jendela rumah mungil itu, menemani angin sejuk yang membelai kedua pasangan itu di sofa, keduanya akan mendiskusikan hasil tulisan itu.

***

Pertemuan Sam dan Ros empat puluh tahun yang lalu bukanlah pertemuan romantis yang meyakinkan mereka bahwa keduanya akan mengisi hidup satu sama lain. Sam sudah hampir berusia empat puluh tahun dan, agak menimbulkan spekulasi bagi pria semapan dia, belum menikah. Ros tahu pasti bahwa Sam pernah menjalin hubungan dengan wanita-wanita yang lebih cantik dan menarik daripada dirinya, dan gagal entah dengan alasan apa dan atas keputusan siapa.

“Kenapa kau memilihku? Apakah aku salah satu dari eksperimenmu?”

Sam tertawa, “Eksperimen! Dari mana kau mendapat ide itu?”

Kemudian wajahnya berubah serius, “Ros, kau bisa menanyakan pada siapa pun dan tak akan menemukan jawabannya. Kau hanya perlu menatap mataku dan percaya bahwa aku ingin kau yang menjadi istriku.”

Ros jatuh cinta, tapi memutuskan pernikahan bukan perkara mudah baginya saat itu. Dia sudah tak memiliki orang tua yang bisa dimintai pertimbangan, tak ada kerabat kecuali bibinya yang sudah sakit selama bertahun-tahun dan berada dalam perawatannya. Dia juga sudah tak bergaul dengan banyak orang. Bibinya yang seorang janda tanpa anak sudah menganggap Ros seperti anaknya sendiri, terlebih saat Ros kehilangan orang tua dan saudara satu-satunya saat usianya dua belas tahun. Sang bibi menyukai Sam, meski itu tak banyak mempengaruhi keputusan Ros. Bagaimanapun, Ros sudah jatuh cinta, dan cintanya semakin besar seiring waktu yang mereka lewatkan.

“Ros, aku sadar aku sudah tidak muda lagi.”

“Kau bicara apa?”

“Saat kau memutuskan untuk mengiyakan permintaanku, kau harus memastikan bahwa kau tak akan menyesal jika suatu saat kau bertemu dengan pria seusiamu yang jauh lebih menarik daripada aku.”

“Aku yang harus khawatir dengan wanita-wanita yang lebih menarik di luar sana.”

Sam tersenyum simpul, “Tampaknya kita sudah mencapai kesepakatan.”

Sebulan kemudian mereka menikah, dan dua bulan kemudian, bibi Ros meninggal dunia karena sakitnya.

“Dulu aku tak pernah memikirkan risiko ini, bahwa aku harus melihatmu lemah terlebih dahulu. Sedangkan sekarang aku sudah sangat tergantung padamu, terlalu mencintaimu,” kata Ros suatu pagi di teras timur.

Sam tak mengomentari kalimat istrinya, dia terus membacakan sebuah kisah detektif favoritnya. Bagian yang dibacanya menceritakan pertemuan sang detektif dengan musuh bebuyutannya. Di akhir kisah, sang detektif meninggalkan kawannya yang juga menjadi narator kisah itu, menghilang bersama musuhnya. Ros selalu merasa dicurangi oleh kisah ini, bagaimana mungkin sang detektif tega meninggalkan kawan baiknya dengan cara seperti itu Konon, beratus-ratus tahun yang lalu, penggemar kisah detektif ini juga merasa dicurangi oleh sang penulis.

Teras timur seolah menjadi saksi percakapan pagi mereka. Dan percakapan pagi itu seolah berulang seperti musim-musim sepanjang tahun. Hamparan rumput yang mengering, dedaunan yang menghijau, dahan-dahan yang meneteskan air hujan semalam, dan bunga-bunga yang membawa aroma pagi, memiliki kisahnya masing-masing.

Di suatu pagi yang dingin dan mendung, Sam dan Ros menanti segaris sinar matahari yang tak tampak juga. Mereka duduk merapat dalam balutan jaket tebal dan selembar selimut. Dua cangkir kopi masih mengepul panas, tapi suasana hati keduanya terlalu kelabu untuk menyesapnya sampai habis. Keduanya memutuskan untuk beranjak ke dalam rumah saat rintik pertama hujan turun. Sam menutup pintu dan jendela rapat-rapat, tanpa menguncinya. Di rumah kecil itu mereka tak pernah mengunci pintu. Ros duduk di tepi tempat tidur dalam kamar mereka yang hangat, membaca lembar-lembar kisah hidupnya yang sudah selesai direvisi dan diketik ulang. Sam duduk di sampingnya, mengikuti ritme baca Ros yang semakin cepat.

Hujan sudah mereda ketika mereka tiba di halaman terakhir. Ros berhenti sesaat, membuka tirai jendela kamarnya dan menemukan sesuatu yang diharapkannya, cahaya matahari. Sam masih memegang lembar terakhir ketikan Ros, sambil mencari-cari alat tulis di meja samping tempat tidurnya.

“Aku lelah,” kata Ros.

“Berbaringlah.” Sam meletakkan lembaran-lembaran hasil ketikan Ros di meja, dan meletakkan penanya di atas lembaran-lembaran itu, masih dalam kondisi terbuka.

“Bagaimana sakit kepalamu?” tanya Ros saat Sam ikut berbaring di sampingnya.

“Parah,” jawabnya sambil mendekat dan memeluk istrinya.

Mereka tertidur. Hingga matahari terbenam dan hujan kembali turun, lampu-lampu di rumah itu belum dinyalakan.

Keesokan paginya langit cerah, matahari menembus jendela di kamar yang tirainya masih terbuka. Di tempat tidur, dua orang penghuninya masih terpejam sambil berpelukan. Tak ada tanda kelelahan atau kesakitan di wajah mereka. Seberkas sinar matahari yang masuk membuat wajah mereka seperti sedang tersenyum. Sementara di meja samping tempat tidur, lembaran-lembaran kertas masih tertumpuk rapi. Di baris terbawah, sebuah kalimat terketik:

“Bagaimana jika salah seorang di antara kita mati?”

Kemudian di bawahnya, dengan tinta biru yang sudah mengering, sebuah tulisan tangan yang tegak tampak ditambahkan:

”Kita akan mati bersama-sama.”

*****

Solo, November 2014

PS: Ini adalah cerpen X yang pernah saya singgung di sini. Butuh waktu lama untuk terbit di sini karena sempat saya kirimkan ke media massa. Do me a favour by commenting.

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2015 in My Short Stories

 
 
%d bloggers like this: