RSS

Category Archives: BookShelf

Any books.. love reading..

Hujan Bulan Juni di November

Selama ini, tak banyak buku sastra Indonesia diangkat menjadi film layar lebar (tanpa mendebat definisi ‘sastra’ yang mungkin berbeda-beda). Hujan Bulan Juni, yang dirilis pada 2 November 2017 lalu ini, adalah salah satunya. Pada saat membaca novel karya Sapardi Djoko Damono ini, saya merasa berada di tengah pertunjukan sastra yang ‘memamerkan’ bentuk-bentuk narasi. Hal ini membuat saya penasaran, ke mana adaptasi filmnya akan dibawa.

Di detik pertama, film ini sudah menyuguhkan pemandangan bunga sakura Jepang yang sangat indah, awal yang cukup menjanjikan, pikir saya saat itu. Menyusul kemudian muncul ketiga tokoh sentral dalam kisah ini; Sarwono (Adipati Dolken), Pingkan (Velove Vexia), dan Katsuo (Koutaro Kakimoto) dalam beberapa adegan perkenalan yang sudah memancarkan chemistry kuat di antara mereka. Hujan Bulan Juni berkisah mengenai Sarwono dan Pingkan yang saling jatuh cinta terhalang oleh perbedaan. Mulai dari perbedaan latar belakang keluarga, hingga jarak yang pada suatu ketika terancam memisahkan mereka. Pingkan yang seorang dosen sastra Jepang akan ditugaskan ke Negeri Sakura itu selama dua tahun, ditemani Katsuo, yang pernah berkuliah di UI juga, dan tampak memendam rasa pada dosen cantik itu. Porsi terbesar kisah ini terjadi sebelum keberangkatan Pingkan, yaitu saat Sarwono memintanya menemani tugasnya ke Manado, tempat asal ayah gadis itu.

Secara garis besar, kisah dalam film ini cukup setia dengan bukunya. Meski demikian, tentunya ada perbedaan dalam alur dan detail, karena bagaimanapun, kisah Sarwono dan Pingkan dalam film sudah menjadi milik sang sutradara, Reni Nurcahyo Hestu Saputra, yang—seperti pernah dikatakan Pak Sapardi sendiri dalam sebuah acara yang saya hadiri—bebas menjadikan film ini seperti apa saja yang dimauinya. (Meski saya agak heran mengapa nama keluarga Pingkan harus diganti). Alur film ini sangat rapi, mudah diikuti, dengan banyak kalimat serta dialog yang cukup familiar yang diambil dari bukunya—tanpa terasa kaku ataupun berlebihan. Salut untuk sang penulis naskah, Titien Wattimena, yang juga berhasil memasukkan kalimat-kalimat dalam bahasa Jawa, Jepang, dan Manado dengan cukup natural. Perasaan para karakternya sangat tersampaikan, ada bagian yang mengharukan, ada bagian yang mengundang senyum sampai tawa, dan untuk hal ini, pujian saya untuk akting para karakternya yang pas sekali. Bahkan peran Pak Tumbelaka (Surya Saputra), yang menjadi salah satu ‘pengincar’ Pingkan, meski menurut saya terlalu komikal sehingga tak terlalu menjadi ‘ancaman’ bagi Sarwono, mungkin dimaksudkan menjadi penyeimbang yang tak berlebihan juga.

Dari segi visual, film ini sangat memanjakan mata, mulai dari bunga sakura di Jepang–yang saya sampaikan di awal tadi, perpustakaan UI, keindahan alam di Manado dan Gorontalo—meliputi pegunungan, pantai, sungai, bahkan ladang—dan hujan. Ya, hujan tak digambarkan dengan main-main di sini, ada hujan rintik-rintik, ada hujan deras, yang masing-masing membawa suasana yang berbeda, menyampaikan perasaan yang tak perlu diucapkan.

Selain hujan, Hujan Bulan Juni tak bisa dipisahkan dari puisi. Sarwono memang gemar menulis puisi, tapi Hujan Bulan Juni sendiri awalnya adalah sebuah puisi yang ditulis oleh penulis yang sama. Puisi berjudul sama ini diterjemahkan menjadi kisah cinta Sarwono dan Pingkan.
Novel Hujan Bulan Juni sendiri dimaksudkan menjadi trilogi, sehingga dia belum memiliki ending. Sedangkan film—yang sulit dipastikan akan lanjut atau tidak—harus memiliki ending. Seperti sudah saya singgung, keindahan dari film ini ada pada chemistry antar karakter, visualisasi, dialog, dan narasi, sedangkan kisahnya sendiri tidak memiliki banyak plot twist yang mencengangkan. Memberikan sebuah akhir yang klise bukanlah dosa besar untuk film ini, tetapi ending semacam itu tampaknya akan mempersulit peluang memfilmkan buku lanjutannya. Meski demikian, saya agak kagum juga dengan adanya (paling sedikit) dua adegan yang memiliki napas Pingkan Melipat Jarak, buku kedua trilogi ini. Entah disengaja atau tidak, atau mungkin sebenarnya itu hanyalah terjemahan dari bagian lain yang tidak saya sadari.

Terlepas dari buku dan puisinya, film ini menampilkan makna perbedaan yang cukup dalam. Perbedaan suku dan agama dari dua sejoli ini ditampakkan dengan cukup apik, tanpa terkesan merendahkan satu sama lain. Dalam satu bagian, Benny (Baim Wong)–saudara sepupu Pingkan berusaha menekankan perbedaan ini untuk mengubah pikiran Pingkan, dan di bagian lain Pingkan yang mengkonfrontasi Sarwono mendapat jawaban yang (mungkin) bisa menghangatkan hati gadis itu. Meski saya bukan pendukung pernikahan beda agama, saya rasa sebuah pesan persahabatan (dalam arti luas) tercakup dengan baik pada dialog-dialog riskan ini.

Akhirnya, saya harus mengakui bahwa film ini di atas ekspektasi saya. Dialog yang kadang terlalu gombal tapi sangat natural, setting yang memukau, para pemain yang cukup mendalami perannya, penampilan Pak Sapardi sendiri sebagai ayah Sarwono, dan, yah, kecuali ending-nya.

Katsuo, apa itu cinta?

Aku tidak tahu, …

Advertisements
 
2 Comments

Posted by on November 12, 2017 in BookShelf

 

Menghindari Risiko Demi Masa Depan

Bertepatan dengan Hari Bumi, hari ini saya ingin melanjutkan sedikit ‘ocehan’ dan banyak kutipan dari buku Billions & Billions by Carl Sagan. Pada post sebelumnya, saya menyebutkan tentang kerugian yang dikhawatirkan akan ditanggung oleh industri jika ‘memakan’ isu pemanasan global. Ternyata bukan hanya itu, pada mulanya, para politisi di Amerika Serikat (negara sang penulis), juga menentang adanya pemanasan global. Hal itu disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang harus diambil akan merugikan mereka. Pembatasan produksi dan konsumsi akan membuat mereka kurang populer di masyarakat, karena tak ada bukti nyata yang bisa dilihat pada masa jabatan mereka, efek fatal dari pemanasan global yang diprediksi oleh para ilmuwan baru bisa dilihat puluhan tahun kemudian.

Interior Secretary Donald Hodel, a conservative Reagan appointee averse to government controls, reportedly suggested that, instead of limiting CFC production, we all wear sunglasses and hats. This option is unavailable to the microorganisms at the base of the food chains that sustain life on Earth. (p.110)

It’s hard to understand how “conservatives” could oppose safeguarding the environment that all of us—including conservatives and their children—depend on for our very lives. What exactly is it conservatives are conserving? (p.115)

Di kalangan ilmuwan, tentu saja kebijakan itu konyol. Namun dilihat dari sisi lain, sudah kodrat manusia untuk percaya pada apa yang bisa mereka lihat saja. Butuh suatu kepercayaan yang luar biasa untuk meyakini sesuatu yang abstrak, yang tak mereka ketahui, pun sesuatu yang tak terbayangkan. Dalam hal apa pun, dalam bidang apa pun, selalu ada kendala ini.

We’re not smart enough to predict everything. That’s certainly clear. I think it’s unlikely that the sum of what we’re too ignorant to figure out will save us. Maybe it will. But would we want to bet our lives on it. (p.138)

Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, tetapi apakah itu menjadikan alasan untuk melakukan sesuatu yang berisiko? Bukankah seharusnya kita sebisa mungkin menjamin bahwa tindakan kita akan membawa kebaikan bagi masa depan?

Invest now in fossil fuel efficiency or alternative energy sources, and the payoff comes years in the future. But industry and consumers and politicians, as I’ve mentioned, often seem focused only on the here and now. (p.157)

Citizens will have to educate industries and governments. (p.161)

Berbicara tentang keyakinan, ternyata ada satu golongan yang paling percaya akan sesuatu yang belum terjadi tetapi bisa terlihat tanda-tandanya. Siapa lagi kalau bukan para pemuka agama dan kelompok spiritual, orang-orang yang bahkan mempercayai hal-hal yang tidak bisa dibuktikan oleh sains. Dalam buku ini disebutkan bahwa pada masa-masa awal peperangan terhadap pemanasan global, kelompok agama dan spiritual yang pertama merangkul ide para ilmuwan tanpa perlu banyak tawar-menawar.

Science and religion may differ about how the Earth was made, but we can agree that protecting it merits our profound attention and loving care. (p.172)

Pada akhirnya, saya mengutip pernyataan dari seorang dari golongan spiritual yang cocok untuk menjadi bahan perenungan kita.

Several speakers quoted the Native American saying, “We have not inherited the Earth from our ancestors, but have borrowed it from our children.” (p.168)

 
Leave a comment

Posted by on April 22, 2015 in BookShelf

 

Tags:

Sampai Kapan Bumi Kita Kuat Menanggungnya

Masih terinspirasi dari Billions & Billions karya Carl Sagan, kali ini saya akan menyinggung isu lingkungan yang dibahas di buku tersebut. Bumi kita adalah suatu sistem tertutup yang ‘mendaur ulang’ dirinya sendiri, secara alami. Hewan menghirup oksigen, mengeluarkan karbon dioksida; tumbuhan, dengan energi dari matahari, mengubah karbon dioksida menjadi oksigen; ada rantai makanan yang menjaga keseimbangan ekosistem; dan seterusnya. Namun, sistem ini berubah saat manusia ikut campur.

Those organisms that did not cooperate, that did not work with one another, died. Cooperation is encoded in the survivors’ genes. It’s their nature to cooperate. It’s a key to their survival.
But we humans are newcomers, arising only a few million years ago. Our present technical civilization is just a few hundred years old. We have not had much recent experience in voluntary interspecies (or even intraspecies) cooperation. We are very devoted to the short-term and hardly ever think about the long-term. There is no guarantee that we will be wise enough to understand our planetwide closed ecological system, or to modify our behavior in accord with that understanding.
(p.80)

Salah satu isu yang masih hangat saat buku ini ditulis di tahun 1990an adalah CFC yang berperan sangat besar pada pemanasan global. Molekul yang merupakan penemuan besar yang menjadikan alat pendingin dalam bentuk apapun dapat diproduksi secara murah dan menguntungkan, ternyata membawa bencana tersendiri bagi bumi kita. Unsur klorida yang dibebaskan dari proses penggunaannya mengikat molekul ozon dan, berdasarkan perhitungan para ilmuwan, akan membawa malapetaka dalam beberapa dekade saja. Molekul-molekul yang pada saat itu tersebar di atmosfer tak akan hilang dalam satu abad, yang artinya, jika penggunaannya diteruskan, kita tak akan sempat menghentikan kerusakan yang sedang berjalan.

Namun, pada masa itu, ketergantungan akan teknologi ternyata menimbulkan sikap acuh tak acuh, atau mungkin denial akan prediksi para ilmuwan tersebut. Industri akan rugi besar, pemangku kebijakan akan kehilangan popularitas, dan konsumen akan kesulitan mendapatkan produk yang terjangkau. Siapa yang peduli dengan prediksi jika kita sudah merasa nyaman dengan sesuatu hal?

So what? Who cares? Some invisible molecules, somewhere high up in the sky, are being destroyed by some other invisible molecules manufactured down here on Earth. Why should we worry about that? (p.103)

Yah, sejujurnya, hal seperti ini sering sekali terjadi, dan sangat sering saya temui. Tidak hanya tentang lingkungan, bahkan tentang kesehatan dan keselamatan diri mereka sendiri. Banyak yang tidak mengerti pentingnya pencegahan. Banyak yang tidak tahu bahwa pada banyak hal, kata terlambat itu ada. Mungkin mereka berpikir, mengapa harus meninggalkan kenyamanan atas sesuatu yang tidak bisa dilihatnya (atau dipahaminya), mereka butuh bukti yang bisa mereka lihat (dan pahami). Di situlah letak masalahnya, tak semua orang bisa memahami hal-hal teknis yang ditekuni oleh orang-orang tertentu. Seperti tak semua orang bisa memahami reaksi molekul ozon, meski mereka sudah diberi tahu. Kemudian semua orang berlagak pandai, berlagak tahu, padahal sejatinya mereka hanya ingin memuaskan diri mereka sendiri, menghibur diri dalam penyangkalan atas sesuatu yang mengancam kenikmatan hidup mereka.

In all these cases, the lesson is clear: We are not always smart or wise enough to foresee all the consequences of our actions. The invention of CFCs was a brilliant achievement. But as smart as those chemists were, they weren’t smart enough. Precisely because CFCs are so inert, they survived long enough to reach the ozone layer. The world is complicated. The air is thin. Nature is subtle. Our capacity to cause harm is great. We must be much more careful and much less forgiving about polluting our fragile athmosphere. (p.116)

Mungkin, kita memang makhluk pandai, tetapi seringkali, kita kurang bijaksana. Di saat kita menciptakan suatu teknologi, ternyata imbasnya buruk untuk bumi kita. Di waktu kita mencoba memanfaatkan kekayaan alam kita, ternyata perhitungan kita meleset. Kita berkembang, jumlah manusia berlipat-lipat, yang artinya, berlipat pula kerusakan yang kita timbulkan. Kini saat CFC sudah dihentikan, masih ada bahan bakar fosil yang mengancam atmosfer kita. Pembakaran minyak yang menghasilkan karbon dioksida, pada mulanya masih bisa ditanggung bumi kita. Hingga semakin lama, semakin banyak ladang minyak dikeruk, semakin banyak penggunaan bahan bakar fosil, semakin banyak karbon dioksida dilepaskan, dan gawatnya, semakin banyak juga pohon dan hutan yang dimusnahkan. Bagaimana keseimbangan bisa tercapai?

It should not be impossibly difficult. Birds—whose intelligence we tend to malign—know not to foul the nest. Shrimps with brains the size of lint particles know it. Algae know it. One-celled microorganisms know it. It is time for us to know it too. (p.81)

Kita butuh rehat sejenak, berpikir sejenak, apa yang bisa terjadi beberapa dekade ke depan jika kita terus seperti ini. Jika tak bisa mengubah dunia, setidaknya kita bisa mengubah diri kita, sedikit saja. Terkadang, saya berpikir bahwa satu alat saja (yang saya gunakan), tak akan berefek besar pada lingkungan. Tetapi, bagaimana jika semua orang berpikir demikian?

We’ve benefitted from our global civilization; can’t we modify our behavior slightly to preserve it? (p.147)

 
1 Comment

Posted by on February 15, 2015 in BookShelf

 

Tags:

Semesta yang Padat, Semesta yang Lengang

Membaca Billions & Billions karya Carl Sagan (review di sini) menimbulkan perasaan ‘penuh’ yang sangat menyenangkan. Saya suka bagaimana penulis mencakupkan ide-ide besarnya, kalimat-kalimat menusuknya, dan seluruh alam semesta dalam buku yang tebalnya kurang dari 300 halaman itu. Setiap halaman dalam buku itu merangsang otak saya untuk membuat satu post panjang, yang rasanya entah bagaimana harus kutuangkan tanpa menyalin seisi buku tersebut. Alternatifnya, saya mungkin akan membuat beberapa post terpisah yang mencakup sedikit ide yang terbersit dari membaca buku tersebut.

Salah satu hal yang menimbulkan perasaan yang tak asing ada dalam bagian pertama buku itu. Penulis membuka babnya dengan menunjukkan kepentingan sebuah angka. Angka bisa merangkum seluruh alam semesta dalam satu deret saja. Pertumbuhan manusia yang semakin berlipat-lipat, bagaimana kita menghitung jarak bintang yang ternyata sangat jauh, dan, jumlah bintang-bintang di luar sana (atau matahari-matahari berukuran raksasa dalam tata surya lain).

Bukan informasi baru bahwa ada jutaan trilyun, bahkan lebih, bintang-bintang, yang tersebar di sekian juta galaksi di alam semesta ini. Jika kita asumsikan setiap bintang memiliki beberapa planet yang mengitarinya, maka kita temukan beberapa kali lipat planet lebih banyak daripada bintang-bintang. Planet yang mungkin tidak bisa kita lihat karena jaraknya yang sangat jauh. Namun, ternyata para ilmuwan dunia tidak menyerah untuk terus mengembangkan pencarian terhadap benda angkasa nun jauh di sana.

Meanwhile, a range of other techniques are coming along. Besides pulsar timing glitches and Doppler measurements of the radial velocities of stars, interferometers on the ground or, better, in space; ground-based telescopes that cancel out the turbulence of the Earth’s atmosphere; ground-based observations using the gravitational lens effect of distant massive objects; and very accurate space-borne measurements of the dimming of a star when one of its planets passes in front of it all seem ready in the next few years to yield significant results. We are now on the verge of trolling through thousands of nearby stars, searching for their companions. To me it seems likely that in the coming decades we will have information on at least hundreds of other planetary systems close to us in the vast Milky Way Galaxy—and perhaps even a few small blue worlds graced with water oceans, oxygen atmospheres, and the telltale signs of wondrous life. (p.70-71)

Perasaan ini pernah muncul saat saya menonton Interstellar beberapa waktu lalu. Rasanya, jika mengingat seberapa kecilnya kita dibandingkan keseluruhan alam semesta, sangat mungkin bahwa kita tidak sendirian di semesta ini. Mungkin saja ada beberapa planet-mirip-bumi, tempat kehidupan yang sama, atau dunia dengan aturan dan hukum alam yang berbeda, seperti yang sedikit disinggung oleh Hawking di The Grand Design. Mungkin ada tata surya lain yang memiliki karakteristik fisik dan kimia yang berbeda, tetapi memungkinkan juga adanya kehidupan, sehingga menghasilkan bumi yang berbeda.

A Zoo of Galaxies

Galaksi Bima Sakti, tempat Tata Surya kita berada, hanya satu di antara sekian galaksi raksasa (image source)

Sebuah penangkap gelombang radio—yang merupakan salah satu spektrum gelombang cahaya—pernah menangkap suara yang diperkirakan dari makhluk ‘pandai’. Tetapi sayangnya tidak terulang lagi, mungkin saat gelombang itu mencapai kita, makhluk tersebut sudah musnah—mengingat trilyunan tahun cahaya yang ditimbulkannya. Atau mungkin pendekatan kita berbeda, teknologi kita belum bisa mencapai perbedaan tersebut.

Kita memiliki makhluk yang hidup di darat dan di air, dalam satu planet yang sama. Masing-masing memiliki organ dan sistem tubuh yang sesuai dengan lingkungan mereka, dan mereka bisa hidup. Tidak mustahil jika analogi ini diberlakukan untuk planet-planet dengan karakteristik yang berbeda. Kita kecil, kita tak pernah tahu. Kita belum tahu.

Semesta kita yang luas, yang dipadati oleh bintang-bintang, benarkah begitu lengang akan kehidupan?

 
Leave a comment

Posted by on February 8, 2015 in BookShelf

 

Tags:

Protected: Book Haul : October – December 2014

This content is password protected. To view it please enter your password below:

 
Enter your password to view comments.

Posted by on January 1, 2015 in Buying Monday

 

Protected: Buying Monday #10 : September 2014

This content is password protected. To view it please enter your password below:

 
Enter your password to view comments.

Posted by on October 6, 2014 in Buying Monday

 

Friday’s Recommendation #1

FR

Sebenarnya meme ini sudah lama banget ada, dan saya sendiri sudah lama juga mau posting, tetapi karena banyak hal di hari Jumat jadi selalu gagal. Kali ini akhirnya menyempatkan untuk posting, semoga bisa rutin. Oiya, walaupun tentang buku, saya sengaja meletakkan meme ini di blog Bzee’s Inner Space, karena di samping mengurangi persentase meme di Bacaan B.Zee, kebanyakan rekomendasi sudah tercantum dalam review. Jadi di sini tujuannya mempertegas aja.

Baiklah, buku pertama yang saya rekomendasikan adalah:

down and out in paris and london

Down and Out in Paris and London by George Orwell (review saya di sini)

Saya pernah tanpa sengaja menemukan edisi terjemahan buku ini di sebuah perpustakaan unik. Tetapi terbitnya sudah lamaa sekali, oleh Bentang Budaya. Saat ini Bentang Pustaka sudah menerbitkan ulang ‘1984’ karya penulis yang sama, mungkin ada tempat untuk menerbitkan kembali buku ini.

Mengapa saya rekomendasikan? Buku ini merupakan autobiografi sang penulis ketika dia mengalami masa-masa sulit sebelum menjadi penulis terkenal. Pengalaman jatuh bangunnya hanya demi bisa mengisi perut dan berpakaian layak. Jika saya mempersempit sasaran untuk Indonesia saja, saat ini kesenjangan sosial di negara kita masih tinggi. Menurut saya, buku ini bisa membuka mata kalangan atas, dan memberi semangat kalangan bawah. Banyak masyarakat menengah ke atas yang masih memandang sebelah mata pejuang-pejuang kalangan bawah–sebagaimana yang dialami Orwell dalam bukunya. Di sisi lain, masih banyak juga kalangan menengah ke bawah yang masih gengsi dalam perjuangan, masih memilih-milih pekerjaan atas dasar kebanggaan diri, hingga membuat mereka sulit untuk maju.

Saya rasa ada masanya manusia harus berjuang tanpa mempedulikan apa pun. Selain itu, buku ini juga menunjukkan bahwa Paris dan London abad lalu tak berbeda jauh dengan negara kita. Dinamika kedua kota besar ini memberikan wawasan yang mungkin tak baru, tetapi mengingatkan akan posisi kita, memberi sudut pandang baru, dan mungkin juga inspirasi baru. Satu lagi yang tak kalah penting, bahwa kemewahan bukanlah segala-galanya.

Ingin ikut Friday’s Recommendation? Ini rulesnya :
1. Tulis buku yang ingin kamu rekomendasikan. Kategori buku yang akan direkomendasikan bisa memilih dari kategori di bawah ini :
a. Buku yang ingin diterjemahkan di Indonesia 
b. Buku yang sudah terbit di Indonesia, dan ingin kamu rekomendasikan ke pembaca.
Jangan lupa menulis alasan kamu merekomendasikan buku itu ya
2. Jika kamu sudah pernah me-review buku yang ingin kamu rekomendasikan itu, taut balikkan ke link reviewmu ya
3. Pasang button Friday’s Recommendation, jangan lupa di taut balikkan ke blog Ren’s Little Corner
4. Masukkan link Friday’s Recommendation ke kolom komen yaaa 😀
5. Jangan lupa untuk blogwalking ke blog – blog lain 🙂
6. Waktu meme adalah bi-weekly.Jadi, meme berikutnya akan dipost di hari Jum’at, dua minggu setelah meme yang terakhir :).
 
2 Comments

Posted by on October 3, 2014 in BookShelf

 
 
%d bloggers like this: