RSS

Category Archives: My Short Stories

Goresan Mentari Senja

“Bagaimana jika salah satu di antara kita mati?”

Empat puluh tahun yang lalu, mungkin keduanya tak pernah memikirkan hal itu. Memilih untuk hidup bersama dengan jarak usia tiga belas tahun bukan sesuatu yang luar biasa. Dulu. Tapi sekarang, di usia senja Sam yang hampir delapan puluh tahun dengan tubuhnya yang melemah, serta Ros yang juga sudah tak bisa disebut muda lagi, ketakutan itu menjelma atas nama kesendirian.

Sudah lima belas tahun kedua pasangan ini hidup berdua saja, di sebuah rumah mungil di pedesaan, sebagaimana angan-angan Ros sejak dulu. Setiap pagi, saat matahari baru menorehkan guratan-guratan jingga di langit, keduanya sudah duduk bersisian di teras timur. Terkadang Sam membacakan beberapa bab buku, kebiasaannya sejak anak-anak mereka masih kecil, kebiasaan yang sangat disukai Ros. Tiga puluh tahun lalu, Ros menikmati saat-saat menidurkan putra-putrinya, demi mendengarkan Sam membacakan dongeng, kemudian tidur sejam lebih terlambat karena pekerjaan rumah yang ditundanya untuk itu. Setelah anak-anak mereka sudah terlalu besar untuk didongengi, Sam akan membaca untuk Ros saat mereka berdua saja.

Di teras timur ini juga, jika sedang tidak membaca, keduanya masih suka berbincang mengenai mimpi. Bukan mimpi-mimpi masa muda yang ingin mereka gapai, hanya mimpi tentang dunia, dunia tempat anak-anak dan cucu-cucu mereka hidup. Akan tetapi, pada akhirnya mereka lebih sering diam. Berkomunikasi melalui sentuhan tangan, gesekan lengan, atau tatapan mata sudah cukup memberi rasa aman dan damai.

“Sam, bagaimana jika salah satu di antara kita mati? Aku tak bisa membayangkan hidup tanpamu.”

Sam merangkulkan lengannya ke bahu istrinya. Matahari sudah cukup tinggi, menerangi ladang yang hijau di bawah kehangatannya. Cericip burung mengisi kesunyian di antara mereka.

“Aku tak tahu, Ros. Lima belas tahun, dan aku masih tak tahu.”

Bayangan lima belas tahun yang lalu hadir di antara kesunyian yang tersisa pagi itu. Sam terbaring di ruang perawatan intensif di rumah sakit. Hari-hari itu, jika sedang tidak ada dokter atau perawat yang melakukan pemeriksaan atau tindakan medis, hanya suara mesin, dan terkadang isak Ros, yang terdengar. Sam yang sejak muda adalah seorang pekerja keras, yang tak pernah terlihat lelah, yang selalu bergerak, saat itu terbaring lemah karena infeksi di parunya.

“Kau terlalu memaksakan diri,” kata Ros suatu ketika. “Kau sudah tak muda lagi.”

“Aku hanya sakit,” jawabnya terengah.

“Kau tak perlu sesakit ini,” Ros kembali terisak pelan.

Sam membayangkan kematian. Tubuhnya panas, dadanya sesak, dan dia bisa merasakan jantungnya memukul-mukul dinding dadanya. Tapi dia merasakan genggaman kuat istrinya, dan membayangkan wanita itu duduk sendirian di rumah besar mereka. Putra sulungnya tak akan pulang sebelum tengah malam, sementara putrinya berjarak lima puluh kilometer darinya, sibuk dengan tugas mengajar di sekolah dasar dan anaknya yang masih kecil. Putra bungsunya akan berkutat di laboratorium pribadinya, dengan kabel-kabel dan komputer yang selalu menyala.

“Kemarin anak-anak ke sini, tapi mereka tak bisa berlama-lama. Kau masih tidur dan aku tak tega membangunkanmu. Mereka janji akan datang lagi hari ini, tapi entahlah.”

“Tak apa, biarkan mereka dengan hidup mereka.”

“Aku tahu kau akan bicara begitu. Kurasa mereka juga tahu, bagaimanapun juga, mereka anak-anakmu.”

“Mereka bahagia.”

Ros ingat bagaimana Sam membebaskan putra sulungnya untuk memilih sekolah tinggi di luar kota. Itu perpisahan pertama Ros dengan anaknya, dan Sam melarangnya menangis di depan putra-putrinya. Satu per satu Sam mendewasakan keturunannya dan menguatkan ibu mereka. Hingga satu per satu ketiganya menunjukkan prestasi, menjalani hidup yang luar biasa, dan meraih apa yang mereka inginkan.

“Sam, istirahatlah.”

Sore itu, hanya putri dan putra bungsunya yang datang. Sam bicara sedikit dan terpatah-patah, meyakinkan bahwa mereka tak harus menungguinya setiap saat. Ros tak mengeluarkan air mata setitik pun.

“Kewajiban kalian terhadap generasi orang tua kalian adalah hidup yang bermanfaat, membuktikan bahwa kalian adalah hasil didikan terbaik. Lemah, sakit, dan kematian akan datang pada waktunya. Tak ada gunanya ratapan dan belas kasihan kalian.”

Sam berusaha tak terlihat lemah, dan Ros mempersembahkan senyumnya yang paling tenang.

Setelah mereka pulang, Ros sudah tak ingin menangis. Dia hanya menggenggam erat lengan suaminya dengan kedua tangannya hingga keduanya tertidur. Beberapa hari kemudian, kondisi Sam dinyatakan membaik, dan dia bisa pulang.

Sejak saat itu, atas permintaan Ros, Sam berhenti dari segala kesibukannya—yang sebenarnya hanya lima jam per minggu untuk mengabdikan sisa energinya—dan menikmati masa pensiun di rumah peristirahatan yang jauh dari putra-putri mereka. Sekali dalam beberapa minggu, akan ada yang mengunjungi mereka. Kadang-kadang keduanya yang akan berkunjung ke tempat anak-anak mereka.

Matahari mulai terik, kedua cangkir kopi mereka telah kosong. Ros masuk dan bekerja di depan mesin ketik kuno kesayangannya, peninggalan kakeknya yang seumur-umur belum pernah dipergunakannya sebelum meninggalkan segala teknologi di kota. Sedangkan Sam membaca lembaran-lembaran yang sudah selesai diketik, sambil sesekali memberi komentar. Suara ketukan mesin ketik semakin teratur seiring berlalunya pagi. Sekali dua kali terdengar goresan pensil yang menari di antara jari-jari Sam. Nanti, saat cahaya bulan sudah menembus jendela rumah mungil itu, menemani angin sejuk yang membelai kedua pasangan itu di sofa, keduanya akan mendiskusikan hasil tulisan itu.

***

Pertemuan Sam dan Ros empat puluh tahun yang lalu bukanlah pertemuan romantis yang meyakinkan mereka bahwa keduanya akan mengisi hidup satu sama lain. Sam sudah hampir berusia empat puluh tahun dan, agak menimbulkan spekulasi bagi pria semapan dia, belum menikah. Ros tahu pasti bahwa Sam pernah menjalin hubungan dengan wanita-wanita yang lebih cantik dan menarik daripada dirinya, dan gagal entah dengan alasan apa dan atas keputusan siapa.

“Kenapa kau memilihku? Apakah aku salah satu dari eksperimenmu?”

Sam tertawa, “Eksperimen! Dari mana kau mendapat ide itu?”

Kemudian wajahnya berubah serius, “Ros, kau bisa menanyakan pada siapa pun dan tak akan menemukan jawabannya. Kau hanya perlu menatap mataku dan percaya bahwa aku ingin kau yang menjadi istriku.”

Ros jatuh cinta, tapi memutuskan pernikahan bukan perkara mudah baginya saat itu. Dia sudah tak memiliki orang tua yang bisa dimintai pertimbangan, tak ada kerabat kecuali bibinya yang sudah sakit selama bertahun-tahun dan berada dalam perawatannya. Dia juga sudah tak bergaul dengan banyak orang. Bibinya yang seorang janda tanpa anak sudah menganggap Ros seperti anaknya sendiri, terlebih saat Ros kehilangan orang tua dan saudara satu-satunya saat usianya dua belas tahun. Sang bibi menyukai Sam, meski itu tak banyak mempengaruhi keputusan Ros. Bagaimanapun, Ros sudah jatuh cinta, dan cintanya semakin besar seiring waktu yang mereka lewatkan.

“Ros, aku sadar aku sudah tidak muda lagi.”

“Kau bicara apa?”

“Saat kau memutuskan untuk mengiyakan permintaanku, kau harus memastikan bahwa kau tak akan menyesal jika suatu saat kau bertemu dengan pria seusiamu yang jauh lebih menarik daripada aku.”

“Aku yang harus khawatir dengan wanita-wanita yang lebih menarik di luar sana.”

Sam tersenyum simpul, “Tampaknya kita sudah mencapai kesepakatan.”

Sebulan kemudian mereka menikah, dan dua bulan kemudian, bibi Ros meninggal dunia karena sakitnya.

“Dulu aku tak pernah memikirkan risiko ini, bahwa aku harus melihatmu lemah terlebih dahulu. Sedangkan sekarang aku sudah sangat tergantung padamu, terlalu mencintaimu,” kata Ros suatu pagi di teras timur.

Sam tak mengomentari kalimat istrinya, dia terus membacakan sebuah kisah detektif favoritnya. Bagian yang dibacanya menceritakan pertemuan sang detektif dengan musuh bebuyutannya. Di akhir kisah, sang detektif meninggalkan kawannya yang juga menjadi narator kisah itu, menghilang bersama musuhnya. Ros selalu merasa dicurangi oleh kisah ini, bagaimana mungkin sang detektif tega meninggalkan kawan baiknya dengan cara seperti itu Konon, beratus-ratus tahun yang lalu, penggemar kisah detektif ini juga merasa dicurangi oleh sang penulis.

Teras timur seolah menjadi saksi percakapan pagi mereka. Dan percakapan pagi itu seolah berulang seperti musim-musim sepanjang tahun. Hamparan rumput yang mengering, dedaunan yang menghijau, dahan-dahan yang meneteskan air hujan semalam, dan bunga-bunga yang membawa aroma pagi, memiliki kisahnya masing-masing.

Di suatu pagi yang dingin dan mendung, Sam dan Ros menanti segaris sinar matahari yang tak tampak juga. Mereka duduk merapat dalam balutan jaket tebal dan selembar selimut. Dua cangkir kopi masih mengepul panas, tapi suasana hati keduanya terlalu kelabu untuk menyesapnya sampai habis. Keduanya memutuskan untuk beranjak ke dalam rumah saat rintik pertama hujan turun. Sam menutup pintu dan jendela rapat-rapat, tanpa menguncinya. Di rumah kecil itu mereka tak pernah mengunci pintu. Ros duduk di tepi tempat tidur dalam kamar mereka yang hangat, membaca lembar-lembar kisah hidupnya yang sudah selesai direvisi dan diketik ulang. Sam duduk di sampingnya, mengikuti ritme baca Ros yang semakin cepat.

Hujan sudah mereda ketika mereka tiba di halaman terakhir. Ros berhenti sesaat, membuka tirai jendela kamarnya dan menemukan sesuatu yang diharapkannya, cahaya matahari. Sam masih memegang lembar terakhir ketikan Ros, sambil mencari-cari alat tulis di meja samping tempat tidurnya.

“Aku lelah,” kata Ros.

“Berbaringlah.” Sam meletakkan lembaran-lembaran hasil ketikan Ros di meja, dan meletakkan penanya di atas lembaran-lembaran itu, masih dalam kondisi terbuka.

“Bagaimana sakit kepalamu?” tanya Ros saat Sam ikut berbaring di sampingnya.

“Parah,” jawabnya sambil mendekat dan memeluk istrinya.

Mereka tertidur. Hingga matahari terbenam dan hujan kembali turun, lampu-lampu di rumah itu belum dinyalakan.

Keesokan paginya langit cerah, matahari menembus jendela di kamar yang tirainya masih terbuka. Di tempat tidur, dua orang penghuninya masih terpejam sambil berpelukan. Tak ada tanda kelelahan atau kesakitan di wajah mereka. Seberkas sinar matahari yang masuk membuat wajah mereka seperti sedang tersenyum. Sementara di meja samping tempat tidur, lembaran-lembaran kertas masih tertumpuk rapi. Di baris terbawah, sebuah kalimat terketik:

“Bagaimana jika salah seorang di antara kita mati?”

Kemudian di bawahnya, dengan tinta biru yang sudah mengering, sebuah tulisan tangan yang tegak tampak ditambahkan:

”Kita akan mati bersama-sama.”

*****

Solo, November 2014

PS: Ini adalah cerpen X yang pernah saya singgung di sini. Butuh waktu lama untuk terbit di sini karena sempat saya kirimkan ke media massa. Do me a favour by commenting.

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2015 in My Short Stories

 

Jendela Dunia (Ultah GPU 38)

23 Maret 2012 01:38 AM

Perpustakaan di rumah besar itu sudah gelap sejak satu jam yang lalu. Lampu-lampu dimatikan, tirai ditutup, sehingga tak secercah cahaya pun bisa masuk. Dari sela pintu yang langsung menuju ke ruang tengah hanya terlihat seberkas cahaya tipis dari lampu lima watt, tak cukup besar untuk menerangi bagian dalam perpustakaan.

Tiba-tiba, seperti ada yang menyalakan saklar, cahaya berwarna-warni muncul dari seluruh rak buku yang menutupi dinding perpustakaan. Cahaya ini berbeda, bukan dari lampu, tetapi dari buku-buku. Setiap buku memancarkan cahayanya masing-masing. Ada yang berwarna putih terang, ada yang kehijauan, ada yang biru pucat, merah hati, bahkan ada pula yang hitam menyilaukan.

“Selamat pagi, Teman-teman,” sapa buku Frankenstein edisi pertama berbahasa Inggris terbitan F-Books, yang meskipun sudah lusuh termakan usia, tetapi memancarkan sinar hijau kecoklatan yang cantik.

“Pagi, Frankie Tua. Hei, Frankie Muda, kau kenapa?” tanya buku Golden Compass bahasa Indonesia terbitan Gramedia yang sinar keemasannya menular ke buku-buku di sampingnya, kepada buku Frankenstein berbahasa Indonesia terbitan Pustaka-F.

Buku yang dipanggil sebagai Frankie Muda itu tampak tersedu di meja baca. Dia baru saja dibaca, tetapi sinarnya tampak redup dan kontras dengan sampul barunya yang masih rapi.

“Dia membacaku…” katanya sambil mengatur napas, “Tapi sepertinya tidak akan selesai.” Tangisnya meledak lagi.

“Kenapa? Ada yang salah?” sahut buku Harry Potter and The Prisoner of Azkaban berbahasa Inggris.

Frankie Muda yang mulai tenang karena dihibur oleh buku Brida terbitan Gramedia di sampingnya menjawab, “Dia menggumamkan masalah bahasa, typo, dan kertasku.”

“Ah, tak apa. Aku dulu juga seperti itu. Tapi dia tetap menyelesaikanku,” kata buku The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde berbahasa Indonesia terbitan Pustaka-T dengan tenang.

“Itu kan sebelum dia membeli Jeky Tua,” jawab Frankie Muda menunjuk buku The Strange Case of Dr. Jekyll and Mr. Hyde berbahasa Inggris terbitan T-Books. Dia tampak ingin menangis kembali, “Apalagi setelah dia membeli Jeky Kecil dia sudah tak pernah menyentuhmu lagi kan, Jeky Muda,” lanjutnya menunjuk buku dengan judul yang sama berbahasa Indonesia terbitan Gramedia.

“Ah, kenapa ya, kita selalu dianaktirikan seperti ini. Aku juga merasa akan dibuang sebentar lagi, setelah dia membeli Olie Kecil,” kata buku Oliver Twist berbahasa Indonesia terbitan Pustaka-O.

“Syukurlah, dia hanya memiliki aku sebagai satu-satunya edisi bahasa Indonesia,” bisik buku Animal Farm terbitan Pustaka-A yang dengan cepat disikut oleh kakaknya yang berbahasa Inggris terbitan A-Books.

“Kenapa ya, nasib kita yang berbahasa Indonesia tidak menentu seperti ini. Kupikir kalau kakak-kakak kita sudah berjaya, kita juga bisa seperti mereka,” kata buku The Hunger Games terbitan Gramedia berempati.

“Bahkan kami, buku lokal pun juga bernasib sama,” kata buku panduan memasak terbitan Pustaka-M yang bersampul kue-kue kering.

“Dia membacaku sampai habis, tapi setelah itu tak menyentuhku lagi. Apakah itu juga buruk? Dia seperti tak menikmatiku,” tambah buku motivasi terbitan Pustaka-F.

Mereka semua merenung. Masing-masing memikirkan nasibnya dan teman-temannya, tak ada yang bersuara. Hingga kemudian fajar merekah dan cahaya mereka meredup, seseorang masuk ke dalam perpustakaan dan sinar mereka mati sama sekali.

24 Maret 2012 02:12 AM

Suasana perpustakaan hari itu redup sekali. Mereka merasa enggan untuk bangun pagi seperti biasanya. Pikiran mereka masih berkecamuk pada pembicaraan di malam sebelumnya. Akan tetapi, diam-diam beberapa dari mereka sudah tahu jawabannya. Terdengar bisik-bisik di antara beberapa buku. Hari ini berlangsung sangat cepat.

24 Maret 2012 11:55 PM

Pada malam minggu, pemilik rumah biasa tidur lebih awal tanpa membaca di perpustakaan terlebih dahulu. Sudah setengah jam berlalu semenjak lampu-lampu dipadamkan. Dan kini buku-buku mulai menampakkan cahaya-cahaya. Berbeda dengan hari sebelumnya, warna-warni yang ditampilkan oleh beberapa buku tampak lebih ceria.

Sudah tak nampak lagi kesedihan di buku-buku dalam rak yang berderet. Bisikan-bisikan yang tersebar hari sebelumnya tampaknya membuat mereka lebih lega.

“Beruntung kalian para buku terbitan Gramedia, jarang ada yang mengeluh dengan kualitas kalian,” kata Wuthering Heights bahasa Indonesia terbitan Pustaka-W.

“Ah, jangan merendah seperti itu. Setiap buku kan punya kelebihan dan kekurangan,” kata buku Negeri 5 Menara terbitan Gramedia.

“Tak apa, Wuthie Muda benar. Tapi kami sudah tak sedih lagi, karena kita bersama-sama di sini,” tambah Frankie Muda sambil tersenyum.

25 Maret 2012 00:00 AM

Tiba-tiba beberapa buku terlepas dari raknya, mereka memancarkan cahaya warna-warni yang terang dan gemerlapan, menyatu dalam deretan, melayang-layang di tengah-tengah perpustakaan.

“Wow, lihat!” teriak Ollie Tua bersemangat.

Ada tiga puluh delapan buku yang berjajar di tengah ruangan itu.

  1. Harry Potter series (J. K. Rowling)
  2. Antologi Rasa (Ika Natassa)
  3. Pride and Prejudice (Jane Austen)
  4. Perfect Match (Jodi Picoult)
  5. Yobel Colter and The Curse of The Dream (Shine Cyrus)
  6. 3 Cinta 1 Pria (Arswendo Atmowiloto)
  7. 86 (Okky Madasari)
  8. Three Act Tragedy (Agatha Christie)
  9. Holiday in Death (J. D. Robb)
  10. Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer)
  11. Ingo (Helen Dunmore)
  12. Reckless (Cornelia Funke)
  13. Therese Raquin (Emile Zola)
  14. Heretic (Sarah Singleton)
  15. Darren Shan series (Darren Shan)
  16. Autumn in Paris (Ilana Tan)
  17. Yogyakarta (Damien Dematra)
  18. On The Way to The Wedding (Julia Quinn)
  19. Great Expectations (Charles Dickens)
  20. Ranah 3 Warna (Ahmad Fuadi)
  21. A Gift From A Friend (Merry Riana)
  22. Momo (Michael Ende)
  23. Eleven Minutes (Paulo Coelho)
  24. Dear John (Nicholas Sparks)
  25. Interworld (Neil Gaiman)
  26. A Woman Scorned (Liz Carlyle)
  27. Pompeii (Robert Harris)
  28. Utukki (Clara Ng)
  29. Smash Cut (Sandra Brown)
  30. Twilight (Stephanie Meyer)
  31. Abadilah Cinta (Andrei Aksana)
  32. Karmaka Surjandaja (Dahlan Iskan)
  33. Ayahku (Bukan) Pembohong (Tere Liye)
  34. Untouched (Anna Campbell)
  35. Three Weddings and Jane Austen (Prima Santika)
  36. A Passionate Revenge (Sara Wood)
  37. Mockingjay (Suzanne Collins)
  38. Aku Ini Binatang Jalang (Chairil Anwar)

“Cantiknya, coba baca huruf awal masing-masing buku,” kata buku The Host edisi bahasa Inggris terbitan H-Books.

“Terima kasih, Teman-teman,” seru buku-buku Gramedia yang masih di dalam rak buku. Mereka mendapatkan selamat dari buku-buku terbitan penerbit lain. Sementara itu, setiap buku Gramedia tersebut memancarkan cahaya yang semakin terang, mencerahkan buku-buku lain di sekitarnya.

SEKIAN

*****

 
Leave a comment

Posted by on March 25, 2012 in My Short Stories

 

Tags: ,

Mentari Musim Semi

Tempat ini membuatku frustasi. Aku menyesali keputusanku untuk pindah kemari. Awalnya aku tertarik pada bunga-bunga yang mekar saat musim semi. Beberapa kawanku sudah memperingatkanku akan tempat ini. Mereka tak bisa mengatakan dengan pasti padaku akan apa yang ada di tempat ini. Peringatan mereka hanya satu: tempat ini dekat dengan kutub utara, perubahan cuacanya sangat ekstrim.

Tapi aku tak peduli, saat itu belahan duniaku sedang berkabut dan mendung. Tawaran pindah ke tempat ini sangat menggodaku. Matahari bersinar sejuk, bunga-bunga mekar dengan warna-warni keperakan yang indah. Saat angin bertiup, maka aroma padang rumput membelai lembut wajahku. Aku memanjakan diriku, duduk di dekat jendela, menanti saatnya bisa berlarian di padang hijau di depanku. Hari yang kunanti-nantikan tak kunjung tiba.

“Bersabarlah dulu, mungkin musim semi berikutnya.”

Itu kata mereka. Aku tak tahu musim ini akan berganti menjadi apa, tapi saat daun-daun mulai berguguran, entah mengapa aku sadar, mereka tak akan menepati janji. Tak akan pernah ada musim semi berikutnya, semua harapanku telah dihancurkan oleh angin yang tak lagi lembut, kehangatan yang hilang, serta kesejukan yang mulai menusuk. Sungguh, janji itu tak akan pernah datang.

“Musim semi tak akan lama.”

“Apakah kalian yakin musim semi tahun depan?” kataku

Keraguan tampak di wajah mereka.

“Sudahlah, tak ada gunanya lagi semua ini, musim semi tak akan datang bersama kalian,” kataku berusaha tetap ramah.

Lalu mereka pergi, mereka mengambil daun terakhir dari ranting yang rapuh itu. Tanda bahwa mereka tak akan kembali lagi.

Entah sudah berapa lama aku duduk di jendela ini. Memandang es dan salju yang tak kunjung mencair, mengharapkan sedikit kehangatan dari sinar matahari. Tapi yang ada hanyalah kegelapan. Seberkas cahaya yang menandakan siang tak lagi cukup menghiburku. Padahal mentari sudah begitu baik menengokku meski sejenak, tapi aku terlalu dingin. Mungkin aku terlalu lelah memandang salju. Mungkin juga aku mendamba mentari yang lebih hangat, yang bisa menghangatkanku, mencairkan es dalam hatiku.

Kemudian, sebuah mentari hadir suatu saat, melepaskan salju terakhir dari pucuk ranting. Ya, inilah musim yang kunantikan, pikirku dalam hati. Aku belum bisa mengatakan apa-apa, hari masih terlalu pagi, gelap belum juga tertelan seluruhnya.

“Selamat pagi,” sapa mereka pertama kali.

“Pagi,” jawabku sambil tersenyum.

“Kami membawa musim semi yang tak akan mengecewakanmu.”

“Kapan musim itu datang?”

“Pada waktunya, kau akan melihatnya saat mentari ingin menunjukkannya.”

Aku pun menyambut mereka, aku percaya pada mereka. Aku tak tahu apakah keputusasaanku yang membuatku percaya, atau karena mentari hari itu begitu hangat. Hari demi hari aku menantikan saat itu, saat aku bisa berlarian di tempat yang sudah kuimpikan selama ini. Aku menanti janji, menanti janji musim semi.

Hari itu, sebuah bunga berwarna jingga muncul bersamaan dengan sinar jingga mentari. Aku menyambutnya, aku keluar dari jendela yang telah menemani penantianku selama bertahun-tahun. Pertama kali aku merasakan sensasi yang begitu aneh di telapak kakiku, sejuk tapi hangat, membelai lembut, mengalirkan darah hingga ke seluruh tubuhku. Hingga kehangatan itu menjalar ke setiap sel di tubuhku.

Inikah padang rumput itu, batinku. Hamparan hijau, merah, kuning, jingga, ungu, dan putih, aku berlari di sepanjang warna-warninya. Rasanya sejuk dan hangat.

“Musim semi telah datang,” kata sebuah suara yang tiba-tiba muncul di belakangku.

“Aku tidak menunggu musim semi, aku menunggumu,” kataku.

Lalu dia membawaku menuju hamparan padang rumput yang lebih luas. Meninggalkan jendela itu, tempat aku memupuk harap dan putus asa di setiap musim. Terus menuju padang rumput yang lebih hijau, menuju tempat di mana seluruh warna ada dan semakin berwarna. Menuju pelangi, dimana musim semi abadi berada.

***

Special for my best friend, Hanie. Yang telah mendapatkan ‘musim semi abadi’nya (12022012), hope it will last forever.

 
Leave a comment

Posted by on January 25, 2012 in My Short Stories

 

Teman Kecilku

Sudah lama sekali ingin menulis cerita anak-anak, akhirnya jadi juga cerita ini. Cerita ini sangat bermakna buatku. Semoga inspirasi yang kuberikan tidak menyesatkan anak-anak yang membacanya 🙂

Teman Kecilku (by B-Zee)

Namaku Chira, umurku tujuh tahun, dan aku suka sekali bersepeda bersama ayahku. Tapi itu dulu, sebelum ayah menjadi sangat sibuk. Beruntung aku memiliki teman yang baik, namanya Mimi. Dia juga senang sekali mengajakku bersepeda. Dulu kami bertetangga, tetapi sekarang dia sudah pindah. Meski begitu dia masih sering menjemputku untuk bersepeda bersama. Kami sudah berteman sejak kecil, aku tidak ingat saat itu umurku berapa, yang jelas dia termasuk salah satu teman bermainku yang pertama.

Lima bulan sejak kepindahan Mimi, aku mendapat tetangga baru yang juga seumuran denganku, namanya Rara. Dia juga suka bersepeda, dan sepedanya bagus sekali. Awalnya kami sering bersepeda bertiga, tapi Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on May 19, 2011 in My Short Stories

 

Tags: ,

Tujuh Belas Tahun

By : B-Zee (08 May 2011)

Aku tak percaya aku mengemudi ke tempat itu. Tujuh belas tahun yang pernah kami janjikan datang hari ini. Saat dia pergi jauh dari tempat kami dibesarkan bersama, kami berjanji akan bertemu di tempat ini, sebuah bangunan pencakar langit tempat kami sering menghabiskan sore hari menatap matahari tenggelam ditelan cakrawala kota dengan lampu berwarna-warni. Dan sesekali datang di pagi-pagi buta melihat dari sisi yang lain, menunggu matahari terbit dari balik bangunan-bangunan tinggi di seberang sana.

Sebenarnya aku telah melupakannya, kalau bukan karena Read the rest of this entry »

 
3 Comments

Posted by on May 9, 2011 in My Short Stories

 

Tags:

Cerpen Pertama

Hobiku menulis ternyata jarang menghasilkan karya yang utuh. Keajaiban cerpen ini kuselesaikan karena ada deadline, hoho, diikutkan ke sebuah kompetisi, tapi sayang hanya lolos penyisihan… Berbaik hatilah untuk membaca dan berkomentar… ^^

Wajah Masa Lalu

Oleh : Busyra (Des 07)

Ini adalah pertama kalinya aku masuk ke rumah ini. Rumah yang besar dan nyaman. Rumah yang diisi oleh perabot-perabot mahal yang tampak terawat. Rumah yang dinding-dindingnya dihiasi oleh wajah yang tidak asing. Wajah yang menemani masa-masaku di bangku sekolah. Wajah yang selalu ada untukku dalam suka, duka, sampai … .

”Hei, ngelamun…itu lho kakakku, Linda, yang sering kuceritakan. Yang di samping fotoku itu,” kata Meta mengagetkanku.

“Ya, aku tahu,” sahutku sambil mengambil buku yang diberikannya kepadaku.

Lho, kok bisa tahu?” katanya dengan nada tak percaya.

”Ehm, ya, kan mirip,” kataku agak kikuk, aku hampir lupa peranku di sini.

”Ah, kamu sok tahu aja, masa mirip sih. Orang juga sering bilang kami mirip, tapi menurutku ya nggak juga….Eh, duduk dulu ya, kuambilin minum dulu.”

Nggak usah, Met. Aku langsung aja. Mau bersih-bersih rumah. Dah ya, bukunya minggu depan kubalikin, thanks.”

”Ok. Hati-hati ya, Sher,” katanya, yang kubalas dengan senyum dan lambaian tangan.

* * *

Fuuh, aku menghela napas panjang. Aku terduduk di tempat tidurku, pikiranku melayang kemana-mana. Aku masih merasa baru kemarin aku bermain, jalan-jalan, belanja dan pergi sepanjang hari dengan Linda. Linda sahabatku di masa lalu. Yang membuat jiwaku berakhir di panti rehabilitasi. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on August 13, 2009 in My Short Stories

 

Tags:

 
%d bloggers like this: