RSS

Category Archives: My Thoughts

Random thoughts, inspirations, ideas, and all kind of things that want to come out from my brain :)

Berberes Kamar dengan Konmari Modifikasi (Part 1)

Beberapa waktu yang lalu, buku-buku saya mendapat rumah baru, di luar kamar dengan lemari yang lebih luas dan layak. Buku-buku yang selama ini tersusun rapat di lemari pakaian dan tersembunyi di berbagai sudut, kini sudah mendapatkan rumah baru. Tapi, masih ada yang salah dengan proses ini, alih-alih menjadi lebih lapang, kamar saya masih saja terkesan berantakan. Lalu entah angin dari mana, mungkin saat itu kebetulan saya membaca review tentang buku Marie Kondo ini, dan saya terfokus pada mengubah hidup, saya memutuskan mulai membaca buku itu.

Illustration by Andrew Joyner (source)

Setelah membaca sendiri bukunya, saya sadar bahwa ada banyak hal di kehidupan saya yang harus dibuang. Segala detail yang saya simpan tak akan ada habisnya memakan waktu yang terasa semakin sempit. Segala yang selama ini saya pikir sebagai teratur dan sempurna harus diubah. Saya siap untuk mengubah hidup, jadi saya membulatkan tekad menuntaskan buku itu dan segera mulai berberes.

Di metode Konmari, berberes dimulai dari mengumpulkan barang sejenis, memilah mana yang harus dibuang dan mana yang perlu disimpan. Kata kuncinya adalah pada perlu, bukan ingin. Barang yang mulai dibuang-buang juga sistematis, mulai dari yang mudah hingga yang sulit. Semakin ke belakang semakin sulit bagi saya, hanya dengan membayangkannya saja. Namun, karena saya sudah bertekad, saya tidak mau menyerah dengan bayangan, saya perlu mencobanya sendiri.

Pertama pakaian. Saya pikir memang ini yang paling mudah. Saya sudah mempunyai catatan batin pakaian mana saja yang akan saya buang dan akan disumbangkan. Saya mengumpulkan semua pakaian di satu tempat, kecuali yang masih kotor dan dicuci. Di Konmari, kita harus memegang satu per satu pakaian itu, dan merasakan apakah kita merasa bahagia saat memegangnya.

Saya tidak bisa merasakannya.

Entah karena terburu-buru, atau memang saya jarang memiliki ikatan batin dengan pakaian saya. Hanya beberapa saja pakaian yang saya miliki yang membuat saya bahagia saat memakainya, yang terasa pas dengan postur saya, dan membuat saya merasa cantik saat memakainya. Sisanya, ya, entah itu seragam yang mau tak mau harus dipakai, pakaian yang warna dan modelnya saya butuhkan untuk momen tertentu tetapi tidak menimbulkan perasaan apa-apa, atau sebenarnya tidak terlalu saya suka, tapi tidak ada pilihan lain karena saya memang punya masalah sendiri dengan belanja pakaian. Kalau saya suka modelnya, yang tersedia hanya ukuran Hobbit, kalau ada ukuran manusia, modelnya sangat membosankan. Jadi, saya berakhir memilih baju yang memang benar-benar perlu saya simpan meski tidak menimbulkan kebahagiaan, juga menyingkirkan baju-baju tua yang sudah bertahun-tahun saya pakai meski masih bagus dan masih saya suka, untuk alasan sosial. Hasilnya lumayan, saya menyingkirkan dua plastik besar pakaian, sebagian masih layak dipakai, sebagian memang harus dibuang.

Di buku, Kondo menyebutkan bahwa proses membuang harus diselesaikan sebelum mulai menata. Namun, tidak dijelaskan apakah yang dimaksud per kategori atau semua sekaligus. Dengan pertimbangan ruang yang terbatas, dan pakaian harus dipakai setiap hari, sedangkan untuk menyelesaikan proses Konmari dikatakan bisa memakan waktu sekitar enam bulan, maka saya menata dulu pakaian di tempatnya semula. Masalah baru muncul saat saya tidak bisa mengikuti metode penyimpanan pakaian Konmari, karena karakteristik lemari maupun pakaian kami berbeda. Sempat saya coba paksakan, tetapi tidak berhasil dan malah terkesan berantakan. Saat proses itu berjalan, saya sudah mulai berberes untuk dua kategori selanjutnya, jadi begitu ada ruang kosong di tempat yang lebih cocok untuk pakaian, saya menata ulang di tempat tersebut dengan penyesuaian, dan hasilnya jauh lebih baik.

Kategori kedua dari metode Konmari adalah buku. ‘Membuang’ buku sebenarnya sudah saya lakukan sejak tahun lalu, bukan membuang dalam arti sebenarnya, hanya memindahkan sebagian koleksi saya ke tempat yang bisa dibaca banyak orang. Jadi secara status itu masih koleksi saya, tetapi secara manfaat bisa bebas dipergunakan orang lain, dan secara tempat agak membantu melonggarkan lemari saya. Dan sejak saya menata ulang buku di tempat yang baru, ada beberapa buku yang saya putuskan bisa benar-benar keluar dari koleksi saya, yaitu buku yang tampaknya tidak akan/ingin saya baca, atau kalaupun ingin membacanya, saya lebih memilih edisi yang lain dari yang saya miliki itu (biasanya yang terjemahan), dan relatif mudah didapat kembali suatu saat nanti. Jumlahnya tidak signifikan sebenarnya, tetapi saya memang tidak bertujuan merampingkan koleksi saya seperti yang disarankan Konmari.

Saat Konmari menyuruh pembacanya membayangkan ruang seperti apa yang diinginkan, yang tidak saya hilangkan adalah sebuah perpustakaan besar dengan koleksi yang sudah saya cicil hari ini. Saya ingin punya lebih banyak waktu membaca dan mengkajinya. Jadi hendak merampingkan koleksi menjadi seratus dua ratus itu sudah tidak perlu menjadi pertimbangan. Karena alasan itu, saya tidak terlalu selektif untuk kategori buku ini, asal mereka mendapat tempat saja, toh jumlah dan posisinya masih sangat dinamis karena saya menempatkannya berdasar sudah dan belum dibaca. Saya menyatukan buku-buku dari berbagai kolong dan sudut, meski ada yang belum mendapat tempat karena alasan kedinamisan tadi, saya melanjutkan ke kategori berikutnya.

Saya langsung menuju ke kertas. Dan ini memakan waktu paling lama, setidaknya sampai saat ini, lebih dari tiga minggu setelah saya mulai, belum selesai. Cerita lebih detailnya, lanjut ke post berikutnya ya.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on June 4, 2017 in My Thoughts

 

[Spoiler-Free] Mengapa Harus Nonton Fantastic Beasts

Sebelum kecewa, saya peringatkan bahwa ini bukan resensi film Tapi kalau kalian perlu pertimbangan untuk menonton film Fantastic Beasts and Where to Find Them, silakan baca sampai akhir, karena saya jamin tulisan ini bebas spoiler. Sebagai informasi, standar spoiler saya tinggi, jadi jangan khawatir.

Pertama-tama, saya harus mengakui bahwa saya bukan Potterhead. Ya, saya sukaaa sekali buku Harry Potter, saya juga menonton semua filmnya. Saya memahami dan mengagumi konsep besar dunia Harry Potter, saya masih sesak dan menangis membaca/menonton kematian karakter-karakter di buku kelima dan seterusnya. Namun, jika ditanya buku atau film terfavorit, bukan Harry Potter jawaban nomor satu saya. Saya juga tidak hafal detail isi bukunya karena saya baru membaca dua kali.

Saya adalah fans berat madam Rowling, hampir semua karya utamanya sudah saya baca, dan saya suka semuanya. Saya suka gaya penulisannya, saya suka karakter-karakter rekaannya, saya suka dunia yang dibangunnya, saya suka dunia yang digambarkannya, saya suka jalan ceritanya, saya suka dikejutkan dengan segala plot twistnya, saya puas dengan bagaimana dia mengakhiri buku-bukunya. Singkat cerita, saya adalah fans karya-karya J.K.Rowling. Dan, saya rasa ini adalah alasan yang lebih dari cukup mengapa saya harus menonton Fantastic Beasts. Terlebih naskahnya langsung ditulis oleh J.K.Rowling, tak perlu berpikir dua kali.

Hal pertama yang saya rasakan saat memasuki bioskop adalah bersemangat, gugup, tidak sabar, penasaran, yah, rasanya mungkin seperti hendak bertemu cinta pertama yang belum pupus. Antara bersemangat karena sudah rindu, gugup apakah masih sekeren yang dulu, tidak sabar untuk menghabiskan waktu bersama lagi, dan penasaran akan seperti apakah dia saat ini.

Sepanjang film, saya merasa seperti berada di acara reuni teman yang sudah lamaaa sekali tidak berjumpa. Mereka membawa kisah-kisah baru yang membuat saya terpesona, tetapi sekali waktu ada kisah lama atau orang-orang yang familiar juga, yang membuat saya ingin menyeletuk, “Ah, iya…, pasti itu dia…. ya, aku ingat…”, dan seterusnya.

Setelah film berakhir, saya merasa bahagia, saking bahagianya hingga saya ingin menangis. Saya menangisi keindahan cinta lama bersemi kembali ini. Perasaan yang hampir sama seperti saat saya kembali menengok dunia Harry Potter, baik melalui buku atau film, seperti terperangkap dalam sihir sang penulisnya.

Baiklah, itu perasaan saya, sekarang coba kita bahas sedikit saja filmnya.

Nama Newt Scamander, sang penulis buku pelajaran tentang hewan-hewan ajaib yang berjudul sama seperti film ini beberapa kali muncul dalam buku Harry Potter. Namun, saya tidak membayangkan bahwa Scamander bisa semenawan itu. Mungkin karena Newt muda, penyayang binatang, dan gelagatnya yang canggung itu memang cukup menggemaskan. Selain Newt, karakter lain juga sama kuatnya dalam hal meninggalkan kesan. Masing-masing karakter bisa langsung kita nilai sifat permukaannya. Pun ikatan antarkarakter sudah mulai nampak cukup kuat. Kita bisa melihat bibit persahabatan dan percintaan tumbuh di sini.

Namun, bukan J.K.Rowling kalau tidak penuh kejutan. Para karakter itu bisa saja berbeda dari apa yang terlihat di awal, mereka punya luka, punya masa lalu, punya rahasia. Oleh karena film ini masih akan ada empat sekuel lagi, jadi masih banyak yang bisa dan akan digali dan diungkapkan oleh mereka. Seperti masa lalu dan posisi Newt yang masih banyak sekali belum diungkapkan. Termasuk karakter-karakter kejutan yang dimunculkan, baik itu nama yang familiar, atau wajah yang familiar.

Secara visual, film ini cukup memanjakan mata. Terutama bagian-bagian yang menunjukkan fantastic beasts and where to find them in this movie.

Secara plot dan alur, film ini sudah menjanjikan kisah kompleks yang penuh dengan twist. Khas madam Rowling, kita bisa melihat realitas sosial melalui bingkai kecilnya. Konflik besarnya sendiri belum muncul. Jika dianalogikan dengan Harry Potter, film ini seperti seri pertama atau kedua yang sudah mulai memunculkan tanda-tanda jahat Voldemort, tetapi suasana kisah masih relatif menyenangkan. Dan memang film ini menyenangkan, lucu, masih ada humor di sana-sini, walaupun tidak mengurangi ketegangan yang muncul saat ada tanda-tanda kegelapan.

Film ini menurut saya menyasar penonton remaja-dewasa, tetapi anak-anak (terutama pembaca Harry Potter) dengan bimbingan mungkin masih bisa. Labelnya 13+, adegan seksual hanya ciuman, tidak ada kata-kata kotor, adegan kekerasan sedang.

Yang jelas, jangan berharap banyak karena tampaknya sang kreator masih menyimpan banyak ‘amunisi’ untuk dikeluarkan di film-film berikutnya. Bersiaplah untuk bernostalgia, terkagum-kagum, tergelak geli, serta terharu dengan para teman baru kita.

 
1 Comment

Posted by on November 23, 2016 in My Thoughts

 

Legitimasi untuk Membenci

Pekan ini, sebuah kejadian penting terjadi di sebuah negara (yang katanya) adikuasa. Negara (yang katanya) menjunjung kebebasan dan demokrasi, Namun, bukan hanya itu, sudah bertahun-tahun sebenarnya saya merasa bahwa kebanyakan manusia tidak hidup dengan idealismenya sendiri, kebanyakan kita hidup dengan apa yang dianggap banyak orang sebagai benar atau layak.

Contoh kecil saja, di tingkat lingkungan tempat tinggal, seberapa banyak orang mau mendobrak kebiasaan atau tradisi yang dirasanya tak perlu dan menghadapi omongan orang/tetangga? Terlebih jika seseorang itu ‘berbeda’, dalam artian asal-usul, status sosial, ataupun kondisi ekonomi, tantangan yang dihadapinya semakin berat. Orang membangun rumah dengan pagar tinggi untuk menghindari pencuri justru dibilang tak mau bersosialisasi. Orang tak mau hadir arisan dengan alasan pekerjaan dikatakan sombong tak mau bergaul. Cap semacam ini biasanya muncul sepihak, praduga, asumsi, lalu disebarluaskan dan menjadi semacam ‘sabda’ bahwa masyarakat yang ideal adalah yang sama seperti ‘kami’.

Dalam tatanan yang lebih luas, akan ada istilah pribumi dan nonpribumi yang sebenarnya sudah usang tetapi tetap dipergunakan hingga hari ini. Etnis tertentu yang kebetulan memiliki ciri fisik berbeda dengan kebanyakan orang disebut nonpribumi dan dianggap bukan bagian dari bangsa Indonesia. Padahal KTP mereka jelas Warga Negara Indonesia, bahkan mungkin kakek-kakek mereka berjuang memerdekakan Indonesia, bahkan mungkin rasa nasionalisme mereka lebih tinggi daripada yang mengaku-aku sebagai pribumi. Saya tidak bicara upacara bendera, menggunakan bahasa daerah, atau hal-hal remeh semacam pakaian. Bagi saya, nasionalisme itu adalah saat cintanya pada Indonesia diwujudkan dengan mendukung kemajuan bangsa; tidak korupsi, berkarya untuk bangsa bukan hanya menikmati kekayaan bangsanya saja, mendukung berkembangnya produk dalam negeri berkualitas bukan sekadar membabi buta menyuburkan produk-produk tidak bermutu.

Sebagian orang Indonesia ada yang secara terang-terangan membenci etnis yang berbeda ini karena berbagai alasan yang sesungguhnya tak bisa dibenarkan. Karena sejak kecil mereka diperkenalkan dengan ‘golongan kita’ dan ‘bukan golongan kita’ dengan cara yang tidak benar. Anak-anak ini tumbuh menjadi orang dewasa yang merasa mendapatkan pembenaran untuk membenci, karena orang-orang tua mereka juga membenci, meski mereka tak tahu alasan sesungguhnya.

Saya ingin percaya bahwa dunia kita (masih) baik-baik saja, bahwa cinta masih menang di atas kebencian. Bahwa para pembenci itu hanyalah sebagian kecil oknum saja. Kemudian di belahan dunia lain saya melihat orang-orang mengeluh tentang kebebasan dan kedamaian mereka. Ada orang-orang yang membantai orang lain karena agamanya. Ada negara-negara yang (katanya) beradab, tetapi saat negara memunculkan pilihan tentang masalah ekonomi dan politik, mereka memilih diri mereka sendiri. Ketika negara memberi pilihan untuk membatasi imigran, membatasi ras yang berbeda dengan mereka, membatasi gaya hidup yang berbeda, orang-orang ini merasa mendapatkan legitimasi, lalu mereka memunculkan sisi yang selama ini mereka sembunyikan.

Kebencian tak lagi disembunyikan, karena negara seolah memberi mereka hak untuk membenci.

Mungkin memang sulit untuk menanamkan bahwa manusia tak boleh dibedakan berdasarkan warna kulit atau ciri fisik lainnya. Nyatanya, di negara yang heterogen sekalipun, orang masih bisa membenci saat diberi kesempatan untuk itu. Mereka mampu secara terang-terangan menebarkan teror untuk orang lain saat mereka menjadi mayoritas, saat mereka merasa kebanyakan orang berada di posisi yang sama dengan mereka. Yang lebih menyakitkan adalah, sebagian dari mereka adalah orang yang selama ini (kita kira) kita kenal.

Saya jadi ingat sejarah. Mungkin revolusi, renaisans, atau apapun yang terjadi abad lalu juga seperti ini. Mereka beralih dari idealisme A ke idealisme B, dunia kemudian menganut idealisme B dan orang-orang yang bertahan dengan idealisme A akan menyembunyikan ide mereka. Hari ini, mungkin orang-orang dengan idealisme A sudah cukup kuat untuk bangkit kembali, menggeser idealisme B yang dulu begitu diagungkan, dan mungkin besok akan menjadi usang. Bumi ini berputar, sejarah berulang. Ah, bahkan bentuk bumi pun sekarang diperdebatkan kembali.

 
Leave a comment

Posted by on November 11, 2016 in My Thoughts

 

Hidup Ini Masalah Persepsi

Beberapa hari lalu saya memeriksakan kembali mata minus saya setelah sekitar sepuluh tahun tidak membeli kacamata baru. Sebelumnya saya sudah merasakan keanehan mengenai persepsi saya akan jarak, saya pikir ini karena pengaruh silindris. Setelah dilakukan pemeriksaan kembali, pandangan saya menjadi lebih jelas dengan perubahan (bertambah sebelah dan berkurang sebelah) seperempat minus dan pergeseran sudut lensa silinder.

geometric-1204384_960_720

Ada yang aneh saat memakai kacamata baru ini, memang suatu hal yang lumrah, dan biasanya dalam beberapa jam saya sudah bisa beradaptasi. Namun setelah dua hari, saya tidak bisa meninggalkan perasaan aneh ini. Saya merasakan perubahan persepsi kembali, kali ini persepsi jarak yang berkebalikan dengan kacamata yang lama. Lalu saya berpikir, normal itu seperti apa? Di saat visus sudah sama-sama mendekati 6/6, ternyata tidak menjamin persepsi jarak yang sama, dan saya tidak tahu apakah ada ukuran yang pasti tentang itu. Hal yang hampir mirip pernah saya tulis dalam post tentang buku yang mengubah pandangan saya tentang persepsi di sini.

Mungkin hidup juga seperti itu. Saat kita melihat dengan kacamata kita masing-masing, kita mempersepsikan sesuatu yang normal itu seperti yang kita lihat. Padahal, belum tentu ukuran kita sama. Sebagian mempersepsikan cantik itu adalah pipi yang tirus, sebagian yang lain merasa pipi berisi lebih menawan. Padahal tak ada ukuran pasti tentang tirus dan berisi itu, tak ada patokan berapa sentimeter pipi dikatakan tembam, semuanya relatif.

a_woman_looking_in_the_mirror_at_her_wrinkled_face_royalty_free_clipart_picture_100224-119323-928053

Seperti juga saat kita memandang orang lain, mungkin bagi kita dia baik, tulus, tetapi orang yang melihatnya dari sisi yang berbeda akan menemukan kelemahannya dan menghakiminya sebagai orang yang suka memanfaatkan orang lain. Atau mungkin sebuah permasalahan, yang bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, bergantung pada latar belakang dan pola pikir si pengamat. Masalah naiknya harga daging mungkin menjadi anugerah bagi peternak dan penjual daging, masalah bagi konsumen dan pengusaha restoran, tetapi tidak berpengaruh banyak pada vegetarian. Namun perubahan sudut pandang lagi, jika mahalnya harga daging menyebabkan penurunan konsumsi, masalah kembali muncul di pihak peternak dan penjual daging.

Era sosial media hari-hari ini seringkali membuat perbedaan persepsi ini menjadi besar, debat tak berujung yang ujung-ujungnya malah mempermasalahkan perbedaan alih-alih masalah itu sendiri. Sosial media saat ini, yang kiranya merupakan perpanjangan dari kebebasan berpendapat pasca reformasi, membuat kita belajar, tak hanya membuat argumentasi cerdas, tetapi tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam.

Berbeda itu biasa, siapa tahu ada astigmatisma di mata normal kita yang membuat pergeseran beberapa derajat saja memberi persepsi yang berbeda tentang hidup yang sama.

2013-03-23-18.30.50.jpg.jpeg

 
Leave a comment

Posted by on May 29, 2016 in My Thoughts

 

Tersangka Penipuan

Masa kecil itu ditandai dengan buku-buku manis dan lucu; beruang yang terbang dengan balon udara, gadis yang berjuang meraih mimpinya, petualangan di laut penuh keajaiban, detektif cilik yang menangkap penjahat dengan kecerdasannya, dan detektif besar yang jenius. Para detektif cilik itu mencari kaus kaki yang hilang, melacak pencuri di minimarket, dan memecahkan sandi-sandi rahasia. Sedangkan sang detektif besar tampaknya dicurangi karena kisah yang sebenarnya disimpan dari masa kecil, disembunyikan dalam kata-kata yang lebih sederhana.

Namun, segalanya berubah saat masa kecil yang tidak terlalu kecil didatangi oleh sesosok buku bersampul gelap, yang katanya punya detektif juga. Masa kecil yang tidak terlalu kecil masih asing dengan pembunuhan. Masa kecil yang tidak terlalu kecil juga terlalu polos untuk tahu bahwa manusia itu bisa sangat jahat, bahwa menipu dan berbohong itu hanyalah cara kecil untuk menutupi kejahatan yang lebih besar. Masa kecil yang tidak terlalu kecil masih naif untuk percaya bahwa yang dibacanya adalah kenyataan. Hingga pada akhirnya, dia beberapa kali ditipu. Masa kecil yang tidak terlalu kecil tertipu oleh pembunuh yang tidak terlihat, oleh orang mati yang ternyata tidak mati, oleh kesaksian palsu, dan oleh jebakan karakter.

Kemudian tibalah masa dewasa yang belum terlalu dewasa, yang menyadari bahwa penipuan-penipuan kecil itu seru juga. Meski dia belum juga belajar apa artinya ditipu itu.

Hanya masa dewasa yang mengerti, bahwa dia tidak ditipu. Masa dewasa menyadari bahwa yang disangkanya sebagai penipu ulung hendak menunjukkan padanya warna dunia yang sesungguhnya. Masa dewasalah yang tahu bahwa dunia ini tak semanis yang dibayangkannya sampai masa kecil yang tak terlalu kecil. Masa dewasa kini masih menyimpan apa yang dulu disangkanya sebagai penipuan, dalam hati dan lemari bukunya.

Tersangka penipuan itu (yang kini terbukti tak bersalah) berinisial AC. Begitulah bagaimana sang (mantan) tersangka sangat berjasa dalam memperkenalkan dunia bagi si calon dewasa.

image

Details here

 
Leave a comment

Posted by on October 14, 2015 in My Thoughts

 

Kenapa Dunia Harus Berjalan Singular?

Beberapa hari yang lalu, pasca menonton Interstellar, terlepas dari hal-hal mencengangkan yang membuat saya kagum dan terpesona, ada beberapa hal yang mengganjal di benak saya mengenai film ini. Mungkin memang masih ada yang terlewatkan oleh saya, tetapi dalam satu kali menonton, ada salah satu kesan penting yang tidak saya dapatkan di film itu: seantero bumi sedang dalam bahaya kelaparan. Memang disebutkan, lalu ditunjukkan ladang-ladang yang gagal panen, tetapi bagi saya terkesan hanya di sebagian Amerika saja. Kenyataannya, seluruh dunia ini tidak hanya ada satu iklim dan satu jenis ladang, bukan?

Karena hal itu pula, saya jadi tidak melihat signifikansi kenapa NASA harus ditutup. Kenapa pengembangan teknologi luar angkasa seolah-olah hanya membuang sumber daya manusia dan sumber dana. Enam milyar manusia! Kalau memang tinggal sedikit lahan yang bisa ditanami, mengapa enam milyar manusia harus menjadi petani?

Di sini saya tidak akan membahas filmnya, tetapi aspek itu mengingatkan saya pada suatu ketika saya pernah membaca komentar seseorang di internet (lupa tepatnya di mana dan sedang membahas apa). Seseorang itu berkomentar pada berita tentang perkembangan ilmu dan teknologi medis, dia bilang–intinya–untuk apa mengembangkan ini (kalau tidak salah sesuatu yang berhubungan dengan kosmetik), membuang-buang uang saja sementara di luar sana orang sekarat karena kanker dan HIV. Dan pikiran saya saat itu sama dengan saat melihat adegan Interstellar yang sebut di atas.

Constellation Fornax, EXtreme Deep Field

Mengapa dunia harus berjalan singular? Sekian milyar manusia punya bidangnya masing-masing. Ada orang yang mengembangkan hal yang bagi seseorang penting, tetapi sia-sia untuk sebagian orang yang lain. Tetapi kepentingan sebagian orang yang lain itu pasti ada yang mengembangkan juga, oleh orang-orang yang lain. Mengapa memaksakan semua manusia mengurus hal-hal yang penting untuk standar pribadi, padahal kepentingan orang bermacam-macam?

Itulah mengapa saya tidak suka dengan komentar orang-orang di internet, sebagian besar mereka tidak peka, hanya asal bicara tanpa tanggung jawab. Padahal di sisi lain komputer mereka adalah manusia juga yang punya perasaan dan emosi. Dengan berkomentar seperti itu mereka seolah menggampangkan teknologi bedah plastik, misalnya, padahal para pengembang ilmu itu tak hanya mengurusi orang-orang yang ingin cantik. Ada orang-orang yang hidupnya terselamatkan berkat kulit tambahan yang dipasangkan pada luka bakar mereka, ada anak-anak yang masa depannya kembali terang karena mereka sudah tak dipandang aneh secara fisik, banyak hal di luar pemikiran sempit orang-orang yang hanya bisa bicara saja.

Saya sendiri juga pernah mendapatkan komentar tak menyenangkan mengenai pilihan pekerjaan saya. Saya memang terlihat berada di zona nyaman dengan pilihan saya ini, dibandingkan jalur-jalur ‘umum’ yang dilalui para teman sejawat saya, tetapi ada beberapa alasan yang tak akan pernah saya sebutkan, apalagi pada orang-orang sinis yang hanya bisa bicara. Saya tidak marah, karena saya tahu orang itu tidak bermaksud buruk (saya cukup mengenalnya), tetapi bukan berarti saya tidak boleh sakit hati. Saya punya pilihan, saya punya tujuan, saya punya prioritas, latar belakang dan konsekuensi yang berbeda dengan orang-orang lain.

Rasanya sulit sekali menghargai perbedaan, menyadari bahwa kreativitas berarti menembus batas-batas yang ‘biasa’ atau ‘sewajarnya’ dilakukan oleh orang-orang. Bayangkan seandainya semua orang menghabiskan waktunya untuk mengurusi hal yang sama, untuk memikirkan masalah yang sama, entahlah, rasanya sulit dibayangkan. Kembali ke Interstellar, semua orang harus menjadi petani, insinyur dianggap tidak penting, padahal insinyur bisa mengembangkan teknologi pertanian untuk mengakali lahan yang tidak subur lagi. Sebagian orang yang lain bisa saja mendistribusikan hasil pangan dari satu tempat ke tempat yang lain, mungkin juga perlu pengolahan hasil pangan yang lebih memadai untuk membuat hasil yang sedikit menjadi cukup untuk dikonsumsi, dan lain sebagainya.

Walaupun posting ini tidak dimaksudkan untuk mereview Interstellar, tetapi karena saya membahas kelemahannya, agak kurang adil jika saya cukupkan sampai di situ. Sejujurnya, sampai hari ini saya masih mengalami ‘movie hangover’, saya masih terbayang-bayang dengan film itu, adegan-adegannya, settingnya, efek audiovisualnya dan dialognya. Tema antariksa itulah yang membuat saya tetap cinta pada film ini. Dan satu hal yang paling membuat saya terkesima adalah planet ini:

Miller's Planet

Miller’s Planet

Yah, bagaimana cara membayangkan sebuah dunia di luar dunia kita? Dan sebuah gambaran planet ‘sederhana’ itu saja bisa membuat saya terbayang-bayang hingga berhari-hari. Berbagai ‘bagaimana jika…’ dan beragam ‘apa yang ada di…’.

Bahkan di film ini pun, yang saya kritik karena terlalu terpaku pada satu hal, sebenarnya menunjukkan keberagaman yang sangat. Para pencinta antariksa seperti saya boleh kagum dengan ketelitian ilmiah dan imajinasi perjalanan antarplanet ini, para penyuka drama bisa menikmati konflik keluarga yang mewarnai keputusan manusia dalam masa-masa sulit itu, para penggemar aktor dan aktris pemerannya bisa memuaskan hasrat melihat akting hebat idola mereka, para pegiat lingkungan bisa bertepuk tangan dengan sebuah bahan kampanye baru, para fisikawan bisa meramu sebuah hipotesis untuk dikaji, dan lain sebagainya.

Betapa kayanya satu hal jika kita bisa melihatnya secara paralel.

A Different Point of View

 
Leave a comment

Posted by on November 14, 2014 in My Thoughts

 

Tulisan Baru

Sejak dulu saya suka membaca dan menulis. Saya sering meninggalkan draf-draf cerpen dan novel tanpa menyelesaikannya. Saya juga memiliki banyak potongan-potongan ide dan pemikiran di catatan pribadi maupun mini dan mikro blog saya. Semakin lama, saya bisa menyelesaikan beberapa cerpen, hingga akhirnya ada sebuah titik jenuh, dan saya kembali membaca saja. Membaca dan menulis bagaikan dua kebutuhan yang sulit dipisahkan. Membaca diperlukan untuk memperkaya bahan tulisan, sedangkan menulis diperlukan untuk ‘mendamaikan’ isi otak setelah diisi berbagai macam bacaan. Hal ini baru saya sadari beberapa tahun belakangan ini, seiring bertambahnya bacaan saya.

Sejak mulai menetapkan target bacaan di goodreads, dan aktif di BBI pada awal 2012, kegiatan menulis saya bisa dikatakan terhenti sebatas menulis review. Bukan hal yang buruk, karena semakin banyak dan bervariasi buku yang saya baca, kedalaman review saya—yang artinya juga pemahaman saya terhadap bacaan—semakin terasah. Pun jenis bacaan yang saya lahap semakin kaya, semakin banyak, dan semakin dalam. Saya rasa pada titik itu saya juga mencapai sebuah kesimpulan bahwa tulisan-tulisan saya harus mulai berubah. Saya tahu yang ingin saya tulis, tetapi saya belum mampu dan belum terdorong untuk mengeksplorasi diri.

Kemudian beberapa waktu lalu, saya sampai pada suatu titik baru. Saya punya sebuah ide kisah, saya punya plot, saya punya karakter, dan saya punya pesan. Mulailah saya menulis, entah lebih bagus dari yang dulu, sama saja, atau justru lebih buruk, yang jelas saya butuh menuliskan ide itu. Buku catatan saya menjadi sebuah tempat yang tenang untuk melampiaskannya, sampai beberapa paragraf, tulisan itu terhenti. Tulisannya belum selesai, idenya masih mengambang, saya masih harus melanjutkannya, saya hanya merasa salah menyampaikannya. Kemudian hari-hari berlalu dengan rutinitas, membuat saya melupakan tulisan saya, hingga beberapa waktu berselang, ide itu masih mengganggu saya.

Saya mulai lagi dari awal, menuliskannya dengan cara yang berbeda. Memulai lembaran baru buku catatan saya, menuliskannya kembali selama beberapa jam, dan kemudian kisah itu selesai. Saya menyelesaikan sebuah cerpen lagi setelah jangka waktu yang begitu lama. Tetapi bukan hanya itu, saya merasa mencapai sebuah pencerahan. Saya merasa menemukan ‘nyawa’ yang baru usai menuliskannya, nyawa dari karya itu sendiri.

Selama ini, tulisan-tulisan saya sangat berbau pribadi. Saya begitu protektif pada sang protagonis, karena merasa bahwa dia adalah perwujudan dari kepribadian saya, alter ego saya, sisi ideal saya, pokoknya segala sesuatu yang ingin saya citrakan positif. Namun di cerpen ini (selanjutnya saya sebut cerpen X), saya merasa mulai bisa membebaskan sang karakter untuk bertindak sesuai dengan apa yang akan dilakukannya. Mungkin saya belum sepenuhnya melepaskan sang karakter, tapi setidaknya saya tidak memberikan berbagai macam pembenaran untuk membelanya. Hal ini saya sadari saat saya tiba di satu adegan yang bisa dimaknai ganda. Saat membaca ulang adegan tersebut, saya merasakan sebuah dorongan untuk menambahkan satu-dua kalimat yang akan menegaskan maksud baik sang tokoh tersebut, untuk menghapuskan prasangka negatif yang bisa timbul dari kalimat ambigu yang diucapkannya. Batin saya bergejolak dengan dorongan itu hingga saya memutuskan bahwa saya tidak akan menambahkannya, saya akan membiarkan pembaca menilai dan menghakimi tokoh saya. Keputusan itu menyadarkan saya akan apa yang sudah saya pelajari hampir tiga tahun ini, tentang penilaian saya terhadap suatu karakter saat meresensi sebuah buku, betapa penilaian itu bisa amat sangat subjektif. Dan kini saya tahu mengapa.

Dulu saya juga selalu menghindar topik-topik atau detail-detail yang mirip dengan kehidupan saya, terlebih jika saya tidak ingin dihakimi karena keputusan yang mungkin kontroversial, memalukan, atau rahasia. Namun di cerpen X saya menepiskan semuanya. Segala unsur-unsur itu tak terelakkan menginspirasi saya. Dan karena itu adalah sebuah inspirasi, saya tidak bisa menghilangkan atau menyamarkannya begitu saja. Karena sebuah ide dasar, jika dipaksakan untuk dihilangkan, akan kehilangan esensinya. Karya saya akan jadi terlalu dipaksakan, seperti yang sudah-sudah. Saya membiarkan cerpen X berkisah sesuai yang diinginkannya, tanpa peduli apa nanti kata orang tentang saya dan pandangan hidup saya. Cerpen X adalah sebuah karya fiksi, dan karya fiksi tidak pernah terjadi. Fiksi hanya perlu untuk logis, dan untuk menjadi logis, dia harus mengandung unsur-unsur yang nyata, terlepas dari dia memang benar-benar terjadi atau tidak.

Saya belum bisa mengatakan bahwa cerpen X adalah karya terbaik saya sejauh ini, yang jelas, cerpen X menyampaikan saya pada sebuah pemahaman baru tentang menulis. Sebuah titik balik, sebuah pencapaian dan memiliki sesuatu yang selama ini saya cari. Apa adanya, tidak bermakna tunggal, tidak bebas dari prasangka dan penghakiman. Hanya satu yang masih perlu saya capai dengan cerpen X, yaitu keberanian untuk mempublikasikannya, keberanian untuk dinilai, keberanian untuk dihakimi. Kemudian bagaimana berlalu dengan X-X lain yang lebih berkembang.

 
1 Comment

Posted by on November 10, 2014 in My Thoughts

 
 
%d bloggers like this: