RSS

Category Archives: Zee's Space

My thought, my writing ‘n anything from me.

Tentang Penulis, Katanya

​Sehubungan dengan ramainya permasalahan pajak penulis yang diletupkan seorang penulis bestseller, saya tergelitik sesuatu yang saya baca di media sosial. Sebenarnya bukan hal besar dan tidak secara langsung berkaitan dengan permasalahan pokoknya. Awalnya saya hanya ingin nyinyir saja di twitter, tetapi saya sadar kalau saya menuangkannya dalam wadah terbatas 140 karakter, akan banyak potensi kesalahpahaman di situ. Karena sedikit banyak hal ini mungkin akan menyinggung para penulis dan calon penulis (dan mungkin juga orang-orang di penerbitan), yang merupakan profesi sebagian besar teman-teman saya, dan juga profesi yang sangat dekat di hati saya, karena saya adalah pembaca.

Akhirnya saya memilih menulis di blog ini, yang di samping memudahkan menyampaikan maksud saya sebenarnya, juga karena di sini lebih sedikit pembacanya, sehingga meminimalkan dibaca oleh orang-orang yang tidak saya harapkan membaca (contohnya yang bukan pembaca), yang kemungkinan besar akan memaknainya dengan berbeda dari yang saya maksudkan. Dari pembaca blog saya yang sudah sedikit ini, mungkin sampai baris ini juga sudah berkurang karena pendahuluannya yang sangat panjang.

Baiklah, jadi ini bermula dari komentar yang saya baca di berbagai media sosial yang menyoal pajak penulis. Bukan hanya sekali saya membacanya, meski saya tidak menilik lebih lanjut apakah orangnya sama. Ada yang menyatakan, kurang lebihnya, pajak tinggi ini akan membuat para penulis menjadi malas menulis dan minat baca yang sudah rendah akan semakin rendah karena sedikitnya penulis yang mau menerbitkan buku. Ada yang tertawa? Saya tertawa.

Ada banyak hal yang bisa dikritisi dari kalimat itu, tetapi saya akan berfokus pada satu hal, supaya tidak terlalu panjang. Penulis yang sesungguhnya, menulis karena panggilan hati. Dari dulu memang tak ada anggapan bahwa pekerjaan menulis adalah pekerjaan yang bisa menghidupi orang, mungkin baru beberapa dekade terakhir saja menulis menjadi profesi yang begitu populer serta memunculkan para jutawan dan miliuner yang lahir dari buku-buku yang laris di pasaran. Sejak zaman sejarah, manusia menulis untuk mengikat ilmu, untuk menyampaikan pesan, untuk menyebarkan ideologi, untuk mengekalkan eksistensi. Para penulis zaman dahulu sudah kenyang dengan ancaman, celaan, pengekangan, bahkan dipenjara karena apa yang mereka tulis. Namun, apakah hal itu menjadikan mereka berhenti menulis? Tidak, mereka tetap menulis dalam diam, dalam kurungan, dalam ketidakamanan, menyembunyikan idenya dalam alegori dan satir, semata-mata karena mereka perlu menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Sebagian tidak melihat karya mereka dikagumi, apalagi menerima royalti atau penghasilan dari situ.

Bukan hanya penulis zaman dahulu, penulis saat ini pun mengalami tantangan yang sama. Jangankan royalti dipotong pajak penghasilan sampai empat layer (eh, ini ilmu baru yang didapat dari keramaian kemarin, ada manfaatnya juga), yang royaltinya setelah diberikan masih di bawah PTKP pasti ada juga, tapi mereka tidak berhenti menulis. Ada yang bukunya berakhir di obralan, yang otomatis tidak ada lagi royalti, tapi mereka tidak patah semangat. Ada yang menerbitkan bukunya sendiri meski keuntungan tak sebanding dengan modalnya, ada yang mencuri waktu menulis di tengah kesibukan profesi utama yang lain, ada yang riset dan kerja kerasnya dikalahkan oleh penulis ala-ala yang hanya memanfaatkan tema dan judul sensasional, tetapi mereka tak pernah mati, mereka selalu menghasilkan karya meski tahu (saat ini) mungkin tak banyak yang akan membacanya. Bahkan penulis bestseller yang protes dan memutuskan menghentikan penerbitan bukunya pun, menyatakan tak akan berhenti menulis.

Jadi, komentar di atas adalah komentar yang layak ditertawakan, argumen tidak berdasar yang hanya menunjukkan bahwa dirinya tak mengerti betapa sudah sangat banyaknya buku di muka bumi ini, betapa penerbit saat ini sudah membuat pembaca seperti saya menangis meraba dompet setiap ada buku baru terbit, dan bahwa seorang penulis yang sesungguhnya tidak cengeng seperti yang dipikirkannya.

PS: Soal pajak penulis sendiri sepertinya sudah mulai dijernihkan dan sudah mendapat solusi yang (semoga) cukup adil.

PSS: Terlepas dari kenyataan yang ada di Indonesia dan di dunia tentang penulis, saya mendukung penuh peningkatan kesejahteraan penulis dan pekerja penerbitan (juga pembaca, berkenaan dengan beban pajak yang dimasukkan ke harga buku).

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 8, 2017 in Zee's Space

 

Berberes Kamar dengan Konmari Modifikasi (Part 2)

Setelah menceritakan proses berberes pakaian dan buku di sini berakhir dengan berberes kertas, sebelumnya masih ada yang terlewat, yaitu tas. Menurut Konmari, tas termasuk dalam pakaian, bersama dengan sepatu dan aksesoris lainnya. Namun, karena sepatu dan aksesoris saya lebih sedikit dan terpisah, saya belum mulai mengumpulkannya. Salah satu alasan utama saya tidak bisa mengikuti sistematika Konmari adalah ruang yang terbatas. Sebisa mungkin saya mengembalikan barang ke tempatnya sekali sudah terkumpul dan terpilah, karena saya hanya punya satu kamar untuk melakukan itu semua sekaligus beraktivitas dengan normal. Saya tidak bisa menggunakan ruangan lain di rumah karena semua digunakan bersama, jangankan di ruang lain, di kamar saya sendiri saja yang melihat sudah protes. Sulit dibayangkan memang ternyata segala sesuatu yang tertumpuk rapi di sudut, bila dikeluarkan ke lantai bisa terlihat begitu banyak dan memakan tempat. Mungkin hampir mirip dengan kota di saat musim liburan, tiba-tiba jalanan, mal, restoran, dan pusat perbelanjaan penuh dalam waktu yang bersamaan.

Little schoolgirl in a messy room royalty-free stock vector art

Kembali ke tas, setelah saya kumpulkan, ada beberapa tas yang masih saya pertahankan untuk menyimpan beberapa barang koleksi. Sebenarnya ini sangat terlarang pada Konmari. Semua barang diharapkan punya tempat yang terlihat. Namun, untuk sementara, saya biarkan saja dulu, saya tangguhkan proses membuangnya terakhir, atau, kalau toh nantinya tidak terbuang, barang koleksi ini memang sudah tidak akan saya tambah lagi. Tas yang masih bisa dipakai untuk sehari-hari saya kumpulkan, ternyata banyak tote bag yang saya beli, hadiah, atau properti acara tertentu yang rasanya sayang dibuang. Kondo mengatakan bahwa barang dari perusahaan, universitas, atau promosi tidak akan membawa kebahagiaan, tetapi dia tidak menyebutkan barang dari komunitas atau fandom, yang pastinya akan selalu bertambah dan sulit dibuang. Sedangkan tote bag dari pabrik obat maupun seminar biasanya punya kelebihan masing-masing, entah ukuran yang sangat berdaya guna, bahan yang bagus, atau model yang unik, yang membuat saya ingin sekali waktu memakainya, atau memang sekali waktu saya perlukan, serta toh tas seperti itu akan rusak dan usang dalam waktu relatif lebih cepat. Jadi, sekali lagi, modifikasi Konmari saya mungkin bisa membuat Kondo frustrasi, yah, inilah ternyata kelemahan kalau berberes tidak disupervisi langsung oleh konsultan ini.

Akhirnya, beberapa tas memang ada yang saya singkirkan, sisa yang lain saya kumpulkan dalam kategori seperti yang disarankan Konmari. Yang jelas sebisa mungkin semua tas muat dalam satu rak saja, kecuali tas kondangan yang terpaksa masuk ke rak bersama pakaian kondangan, dan tas yang sedang saya pakai sehari-hari masih selalu di luar. Dalam proses berberes berikutnya, saya menemukan beberapa pouch yang tersembunyi, jadi nanti di rak khusus tas rencananya akan ada yang dikeluarkan kembali. Lagi-lagi menyalahi aturan, sehingga tampaknya saya memang harus mereview kembali proses pembuangan setelah semua proses pembuangan dan penataan kasar dilakukan (kecuali pakaian mungkin). Saya membayangkannya lebih mudah, karena sebagian sudah saya buang, dan rasanya juga tidak akan memakan waktu lama.

Masuk ke kertas, bagian ini menjadi sangat sulit karena Konmari menyarankan untuk membuang semua makalah dan berkas seminar maupun pelatihan yang sudah dilakukan. Alasannya masuk akal, karena kita bisa mendapatkan informasinya di sumber lain—buku teks, jurnal, internet—dan inti dari kegiatan itu adalah saat kita mendapatkan ilmu langsung dari pakarnya. Saya sempat mengalami kegalauan dan berkonsultasi pada beberapa teman. Akhirnya saya putuskan untuk mempertahankannya terlebih dahulu. Alasannya, profesi saya menuntut saya untuk menjadi pembelajar seumur hidup, sumber informasi memang banyak, tetapi yang terpilih sudah di tangan saya, kenapa mencari masalah lagi dengan melepaskannya. Saya kumpulkan kertas materi menjadi satu, dan sebenarnya tak terlalu banyak juga, jadi saya menempatkannya di lemari buku dalam kamar.

messy-room-cartoon-s-33e44d7c0d46d30b

Setumpuk kertas yang tersimpan atas nama keteraturan dan dokumentasi yang sudah tidak penting saya buang. Sebagian bisa langsung masuk ke tempat sampah, sebagian saya kelompokkan menjadi dua lagi, yang akan dibuang ke tempat daur ulang (rosok), dan yang perlu dimusnahkan karena mengandung informasi rahasia. Satu lagi alasan saya tidak bisa mengikuti metode Konmari secara total adalah masalah sampah. Sistem pengolahan sampah di Indonesia tidak sebaik di Jepang, ini menjadi beban mental bagi saya untuk membuang sampah begitu saja. Biasanya memang saya suka mendaur ulang sendiri, membuat-buat barang DIY, yang berakhir dengan setumpuk sampah di sudut. Kali ini, bahan DIY itu bisa dimanfaatkan sambil berberes, dan nanti terakhir akan benar-benar saya buang jika masih ada sisa. Kecuali beberapa kardus dan plastik, masih saya pertahankan untuk mengirim paket yang masih rutin saya lakukan, baik untuk berjualan, atau untuk teman. Bahan ini sudah saya pisahkan di tempat tersendiri dan tidak tersebar lagi seperti sebelumnya.

Masih ada sisa beberapa pernak-pernik catatan, hasil karya yang bertebaran di sembarang kertas yang ingin saya salin dulu, lalu dokumen-dokumen yang belum dipilah, dan barang-barang acak lainnya. Secara keseluruhan, lebih dari separuh barang saya sudah terpilih. Sisanya memang tinggal barang sulit yang membutuhkan waktu sedikit lebih lama. Saya cukup optimis bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari sebulan, sehingga saya tidak harus dengan terpaksa menumpuk barang tak tersortir lagi dan menumpuk sampah lagi. Saya sudah merasakan sedikit kelegaan, sembari membuang dan menata, ruangan yang saya bayangkan mulai mewujud. Selanjutnya akan saya ceritakan di post berikutnya, jika sudah ada perkembangan yang signifikan.

 
Leave a comment

Posted by on June 4, 2017 in Zee's Space

 

Giveaways!

Hi, a quick note about The Great Book Giveaway Bonanza that’s happening here. There are 8 blogs and the books they’re giving away are really, really interesting. I’ve entered Hamlette’s giveaway, and guess what, you have chances to win one or two books from her awesome 20 books (yes! TWENTY!). From classics to mysteries, poetry and even beautiful blank books.

Don’t hesitate to enter, it is a great chance in a great time from the great bloggers. May the odds be ever in your favors.

 
Leave a comment

Posted by on June 18, 2015 in Zee's Space

 

Giveaway

Just want to inform you that currently, Reading in the Dark is having an exciting giveaway. There are FOUR books waiting for 4 lucky winners to have them. Go and try your luck before March, 23rd.

 
Leave a comment

Posted by on March 11, 2015 in Zee's Space

 

Hai, Kamu

Hai, kamu yang di ujung jalan
Dua malam ini kau telah datang.
Aku tahu, cepat atau lambat kau pasti menjemputku
Atau aku yang akan tiba di ujung jalan itu, langsung menuju pelukanmu.
Tapi malam yang lalu, bukan aku yang kaujemput, dan aku takut.
Sungguh aku takut jika kau menjemput yang lain, yang ada di sisiku saat ini.
Hai, kamu yang di ujung jalan
Jangan membuatku bertanya-tanya selamanya
Kalau kau belum akan datang, diam sajalah di ujung sana, jangan menakutiku seperti ini.
Tanpa kau takuti pun, aku tahu kau ada di sana
Kamu yang di ujung jalan.

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2014 in Zee's Space

 
 
%d bloggers like this: