RSS

Tersangka Penipuan

Masa kecil itu ditandai dengan buku-buku manis dan lucu; beruang yang terbang dengan balon udara, gadis yang berjuang meraih mimpinya, petualangan di laut penuh keajaiban, detektif cilik yang menangkap penjahat dengan kecerdasannya, dan detektif besar yang jenius. Para detektif cilik itu mencari kaus kaki yang hilang, melacak pencuri di minimarket, dan memecahkan sandi-sandi rahasia. Sedangkan sang detektif besar tampaknya dicurangi karena kisah yang sebenarnya disimpan dari masa kecil, disembunyikan dalam kata-kata yang lebih sederhana.

Namun, segalanya berubah saat masa kecil yang tidak terlalu kecil didatangi oleh sesosok buku bersampul gelap, yang katanya punya detektif juga. Masa kecil yang tidak terlalu kecil masih asing dengan pembunuhan. Masa kecil yang tidak terlalu kecil juga terlalu polos untuk tahu bahwa manusia itu bisa sangat jahat, bahwa menipu dan berbohong itu hanyalah cara kecil untuk menutupi kejahatan yang lebih besar. Masa kecil yang tidak terlalu kecil masih naif untuk percaya bahwa yang dibacanya adalah kenyataan. Hingga pada akhirnya, dia beberapa kali ditipu. Masa kecil yang tidak terlalu kecil tertipu oleh pembunuh yang tidak terlihat, oleh orang mati yang ternyata tidak mati, oleh kesaksian palsu, dan oleh jebakan karakter.

Kemudian tibalah masa dewasa yang belum terlalu dewasa, yang menyadari bahwa penipuan-penipuan kecil itu seru juga. Meski dia belum juga belajar apa artinya ditipu itu.

Hanya masa dewasa yang mengerti, bahwa dia tidak ditipu. Masa dewasa menyadari bahwa yang disangkanya sebagai penipu ulung hendak menunjukkan padanya warna dunia yang sesungguhnya. Masa dewasalah yang tahu bahwa dunia ini tak semanis yang dibayangkannya sampai masa kecil yang tak terlalu kecil. Masa dewasa kini masih menyimpan apa yang dulu disangkanya sebagai penipuan, dalam hati dan lemari bukunya.

Tersangka penipuan itu (yang kini terbukti tak bersalah) berinisial AC. Begitulah bagaimana sang (mantan) tersangka sangat berjasa dalam memperkenalkan dunia bagi si calon dewasa.

image

Details here

 
Leave a comment

Posted by on October 14, 2015 in My Thoughts

 

[QS] Konsekuensi Pribadi

Detail here

41:46

Whoever works righteousness benefits his own soul; whoever works evil, it is against his own soul: nor is thy Lord ever unjust (in the least) to His Servants.

Barangsiapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-(Nya).

Qur’an Surah Fuşşilat (41). Ayat 46.

 
Leave a comment

Posted by on October 5, 2015 in QS

 

[QS] Syukur

Bertepatan di malam kelima Ramadhan 1436 H ini, rasanya tepat sekali saya memulai post tentang ini. Sebenarnya sejak lama saya ingin menulis sekilas hikmah Al-Qur’an di blog ini, terutama yang sudah saya alami dan rasakan. Selain berbagi, sebenarnya yang utama adalah sebagai pengingat bagi diri sendiri. Post tentang ini akan saya beri tanda [QS], yang bisa diartikan Qur’an Series, Qur’an Stories, atau apa pun.

Ayat Qur’an saya copy dari quran.com, terjemahan saya ambil dari mushaf terbitan Qomari (bahasa Indonesia mengacu pada Mushaf Al-Qur’an dan Terjemahnya Departemen Agama RI, bahasa Inggris dari Mushaf Al-Qur’an Terjemah Yusuf Ali).

31:12

We bestowed (in the past) Wisdom on Luqman: “Show (thy) gratitude to Allah.” Any who is (so) grateful does so to the profit of his own soul: but if any is ungrateful, verily Allah is free of all wants, worthy of all praise.

Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barang siapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa tidak bersyukur (kufur), maka sesunguhnya Allah Mahakaya, Maha Terpuji.

Qur’an, Surah Luqmaan (31), Ayat 12.

Bab mengenai syukur adalah salah satu pengingat akan titik balik saya di masa lalu. Di saat berbagai macam tekanan sebegitu besarnya, saya menemukan sendiri bahwa syukur adalah kunci untuk bahagia. Sebagaimana yang disebutkan ayat di atas, bersyukur adalah untuk diri kita sendiri. Saat bersyukur, saya merasakan sendiri ketenangan, pada akhirnya diri saya sendiri lah yang merasakannya. Begitupun sebaliknya, menjadi kufur/tidak bersyukur juga pada akhirnya berimbas pada kebahagiaan dan ketenangan diri kita sendiri.

Allah yang Maha Kaya tidak membutuhkan rasa syukur kita, tanpa kita bersyukur pun Allah tetap Kaya dan tetap Terpuji. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

 
1 Comment

Posted by on June 21, 2015 in QS

 

Giveaways!

Hi, a quick note about The Great Book Giveaway Bonanza that’s happening here. There are 8 blogs and the books they’re giving away are really, really interesting. I’ve entered Hamlette’s giveaway, and guess what, you have chances to win one or two books from her awesome 20 books (yes! TWENTY!). From classics to mysteries, poetry and even beautiful blank books.

Don’t hesitate to enter, it is a great chance in a great time from the great bloggers. May the odds be ever in your favors.

 
Leave a comment

Posted by on June 18, 2015 in Zee's Space

 

Menghindari Risiko Demi Masa Depan

Bertepatan dengan Hari Bumi, hari ini saya ingin melanjutkan sedikit ‘ocehan’ dan banyak kutipan dari buku Billions & Billions by Carl Sagan. Pada post sebelumnya, saya menyebutkan tentang kerugian yang dikhawatirkan akan ditanggung oleh industri jika ‘memakan’ isu pemanasan global. Ternyata bukan hanya itu, pada mulanya, para politisi di Amerika Serikat (negara sang penulis), juga menentang adanya pemanasan global. Hal itu disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang harus diambil akan merugikan mereka. Pembatasan produksi dan konsumsi akan membuat mereka kurang populer di masyarakat, karena tak ada bukti nyata yang bisa dilihat pada masa jabatan mereka, efek fatal dari pemanasan global yang diprediksi oleh para ilmuwan baru bisa dilihat puluhan tahun kemudian.

Interior Secretary Donald Hodel, a conservative Reagan appointee averse to government controls, reportedly suggested that, instead of limiting CFC production, we all wear sunglasses and hats. This option is unavailable to the microorganisms at the base of the food chains that sustain life on Earth. (p.110)

It’s hard to understand how “conservatives” could oppose safeguarding the environment that all of us—including conservatives and their children—depend on for our very lives. What exactly is it conservatives are conserving? (p.115)

Di kalangan ilmuwan, tentu saja kebijakan itu konyol. Namun dilihat dari sisi lain, sudah kodrat manusia untuk percaya pada apa yang bisa mereka lihat saja. Butuh suatu kepercayaan yang luar biasa untuk meyakini sesuatu yang abstrak, yang tak mereka ketahui, pun sesuatu yang tak terbayangkan. Dalam hal apa pun, dalam bidang apa pun, selalu ada kendala ini.

We’re not smart enough to predict everything. That’s certainly clear. I think it’s unlikely that the sum of what we’re too ignorant to figure out will save us. Maybe it will. But would we want to bet our lives on it. (p.138)

Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi, tetapi apakah itu menjadikan alasan untuk melakukan sesuatu yang berisiko? Bukankah seharusnya kita sebisa mungkin menjamin bahwa tindakan kita akan membawa kebaikan bagi masa depan?

Invest now in fossil fuel efficiency or alternative energy sources, and the payoff comes years in the future. But industry and consumers and politicians, as I’ve mentioned, often seem focused only on the here and now. (p.157)

Citizens will have to educate industries and governments. (p.161)

Berbicara tentang keyakinan, ternyata ada satu golongan yang paling percaya akan sesuatu yang belum terjadi tetapi bisa terlihat tanda-tandanya. Siapa lagi kalau bukan para pemuka agama dan kelompok spiritual, orang-orang yang bahkan mempercayai hal-hal yang tidak bisa dibuktikan oleh sains. Dalam buku ini disebutkan bahwa pada masa-masa awal peperangan terhadap pemanasan global, kelompok agama dan spiritual yang pertama merangkul ide para ilmuwan tanpa perlu banyak tawar-menawar.

Science and religion may differ about how the Earth was made, but we can agree that protecting it merits our profound attention and loving care. (p.172)

Pada akhirnya, saya mengutip pernyataan dari seorang dari golongan spiritual yang cocok untuk menjadi bahan perenungan kita.

Several speakers quoted the Native American saying, “We have not inherited the Earth from our ancestors, but have borrowed it from our children.” (p.168)

 
Leave a comment

Posted by on April 22, 2015 in BookShelf

 

Tags:

Giveaway

Just want to inform you that currently, Reading in the Dark is having an exciting giveaway. There are FOUR books waiting for 4 lucky winners to have them. Go and try your luck before March, 23rd.

 
Leave a comment

Posted by on March 11, 2015 in Zee's Space

 

Sampai Kapan Bumi Kita Kuat Menanggungnya

Masih terinspirasi dari Billions & Billions karya Carl Sagan, kali ini saya akan menyinggung isu lingkungan yang dibahas di buku tersebut. Bumi kita adalah suatu sistem tertutup yang ‘mendaur ulang’ dirinya sendiri, secara alami. Hewan menghirup oksigen, mengeluarkan karbon dioksida; tumbuhan, dengan energi dari matahari, mengubah karbon dioksida menjadi oksigen; ada rantai makanan yang menjaga keseimbangan ekosistem; dan seterusnya. Namun, sistem ini berubah saat manusia ikut campur.

Those organisms that did not cooperate, that did not work with one another, died. Cooperation is encoded in the survivors’ genes. It’s their nature to cooperate. It’s a key to their survival.
But we humans are newcomers, arising only a few million years ago. Our present technical civilization is just a few hundred years old. We have not had much recent experience in voluntary interspecies (or even intraspecies) cooperation. We are very devoted to the short-term and hardly ever think about the long-term. There is no guarantee that we will be wise enough to understand our planetwide closed ecological system, or to modify our behavior in accord with that understanding.
(p.80)

Salah satu isu yang masih hangat saat buku ini ditulis di tahun 1990an adalah CFC yang berperan sangat besar pada pemanasan global. Molekul yang merupakan penemuan besar yang menjadikan alat pendingin dalam bentuk apapun dapat diproduksi secara murah dan menguntungkan, ternyata membawa bencana tersendiri bagi bumi kita. Unsur klorida yang dibebaskan dari proses penggunaannya mengikat molekul ozon dan, berdasarkan perhitungan para ilmuwan, akan membawa malapetaka dalam beberapa dekade saja. Molekul-molekul yang pada saat itu tersebar di atmosfer tak akan hilang dalam satu abad, yang artinya, jika penggunaannya diteruskan, kita tak akan sempat menghentikan kerusakan yang sedang berjalan.

Namun, pada masa itu, ketergantungan akan teknologi ternyata menimbulkan sikap acuh tak acuh, atau mungkin denial akan prediksi para ilmuwan tersebut. Industri akan rugi besar, pemangku kebijakan akan kehilangan popularitas, dan konsumen akan kesulitan mendapatkan produk yang terjangkau. Siapa yang peduli dengan prediksi jika kita sudah merasa nyaman dengan sesuatu hal?

So what? Who cares? Some invisible molecules, somewhere high up in the sky, are being destroyed by some other invisible molecules manufactured down here on Earth. Why should we worry about that? (p.103)

Yah, sejujurnya, hal seperti ini sering sekali terjadi, dan sangat sering saya temui. Tidak hanya tentang lingkungan, bahkan tentang kesehatan dan keselamatan diri mereka sendiri. Banyak yang tidak mengerti pentingnya pencegahan. Banyak yang tidak tahu bahwa pada banyak hal, kata terlambat itu ada. Mungkin mereka berpikir, mengapa harus meninggalkan kenyamanan atas sesuatu yang tidak bisa dilihatnya (atau dipahaminya), mereka butuh bukti yang bisa mereka lihat (dan pahami). Di situlah letak masalahnya, tak semua orang bisa memahami hal-hal teknis yang ditekuni oleh orang-orang tertentu. Seperti tak semua orang bisa memahami reaksi molekul ozon, meski mereka sudah diberi tahu. Kemudian semua orang berlagak pandai, berlagak tahu, padahal sejatinya mereka hanya ingin memuaskan diri mereka sendiri, menghibur diri dalam penyangkalan atas sesuatu yang mengancam kenikmatan hidup mereka.

In all these cases, the lesson is clear: We are not always smart or wise enough to foresee all the consequences of our actions. The invention of CFCs was a brilliant achievement. But as smart as those chemists were, they weren’t smart enough. Precisely because CFCs are so inert, they survived long enough to reach the ozone layer. The world is complicated. The air is thin. Nature is subtle. Our capacity to cause harm is great. We must be much more careful and much less forgiving about polluting our fragile athmosphere. (p.116)

Mungkin, kita memang makhluk pandai, tetapi seringkali, kita kurang bijaksana. Di saat kita menciptakan suatu teknologi, ternyata imbasnya buruk untuk bumi kita. Di waktu kita mencoba memanfaatkan kekayaan alam kita, ternyata perhitungan kita meleset. Kita berkembang, jumlah manusia berlipat-lipat, yang artinya, berlipat pula kerusakan yang kita timbulkan. Kini saat CFC sudah dihentikan, masih ada bahan bakar fosil yang mengancam atmosfer kita. Pembakaran minyak yang menghasilkan karbon dioksida, pada mulanya masih bisa ditanggung bumi kita. Hingga semakin lama, semakin banyak ladang minyak dikeruk, semakin banyak penggunaan bahan bakar fosil, semakin banyak karbon dioksida dilepaskan, dan gawatnya, semakin banyak juga pohon dan hutan yang dimusnahkan. Bagaimana keseimbangan bisa tercapai?

It should not be impossibly difficult. Birds—whose intelligence we tend to malign—know not to foul the nest. Shrimps with brains the size of lint particles know it. Algae know it. One-celled microorganisms know it. It is time for us to know it too. (p.81)

Kita butuh rehat sejenak, berpikir sejenak, apa yang bisa terjadi beberapa dekade ke depan jika kita terus seperti ini. Jika tak bisa mengubah dunia, setidaknya kita bisa mengubah diri kita, sedikit saja. Terkadang, saya berpikir bahwa satu alat saja (yang saya gunakan), tak akan berefek besar pada lingkungan. Tetapi, bagaimana jika semua orang berpikir demikian?

We’ve benefitted from our global civilization; can’t we modify our behavior slightly to preserve it? (p.147)

 
1 Comment

Posted by on February 15, 2015 in BookShelf

 

Tags:

 
%d bloggers like this: